Jumat, 20 Agustus 2010

Waspada Thailand!

Bulutangkis.com - Negara-negara raksasa bulutangkis saat ini seperti Malaysia, Denmark, China, Korea dan tentunya Indonesia harus mulai waspada karena dominasinya sangat mungkin segera ditenggelamkan kekuatan lama yang bangkit kembali, Thailand.

Di masa lalu Thailand pernah menjadi runner-up ajang bergengsi Piala Thomas pada tahun 1961. Ketika itu negeri Gajah Putih dihentikan kekuatan Indonesia yang diantaranya bermaterikan Tan Joe Hok dan Ferry Sonneville dengan skor 3-6. Setelah itu hanya sesekali nama-nama pemain Thailand mengejutkan seperti Bonsak Polsana, Pramote T, Sudket. P, Songphon Anugritayawon dan beberapa pemain putri. Namun mereka belum sampai ke level tertinggi bulutangkis dunia.

Beberapa tahun mendatang, Thailand diprediksi akan mampu mengusai bulutangkis dunia kembali dengan diidintifikasikan oleh jayanya para yunior Thailand saat ini. Ajang olahraga yunior terbesar dunia, Youth Olympic telah membuktikan keperkasaan Thailand dimana dua emas bulutangkis disikat habis. Bahkan Pemain tunggal putri, Sapsiree Taerattanachai menekuk putri China, Deng Xuan 21-14, 21-17 di pertandingan final yang berlangsung di Singapura kemarin (19/8). Sedangkan pemain putranya, Pisit Poodchalat menggenggam emas setelah mengalahkan pemain India, H.S. Pranoy 21-15, 21-16. Sebuah prestasi yang luar biasa buat pemain-pemain Yunior.

Prestasi Thailand tersebut, sebelumnya didahului dengan prestasi-prestasi dunia lainnya. Thailand masih menyimpan Ratchanok Intanon yang tidak bisa berlaga di Youth Olympic karena usianya terlalu muda yakni 15 tahun sedangkan peserta cabang bulutangkis berumur 17-18 tahun. Di usianya yang sangat belia tersebut, Ratchanok telah menjadi yunior terbaik dunia setelah memenangkan kejuaraan dunia yunior 2010. Bahkan, pemain inilah yang menjadi pemain putri Thailand pertama yang berhasil menjuarai kejuaraan dunia junior dua kali berturut-turut. Ia mampu menundukkan pemain-pemain tunggal putri China pada kejuaraan dunia junior.

Jika di tahun 2009, Ratchanok menjadi juara dengan menundukkan rekan senegaranya Porntip Buranaprasertsuk, maka di tahun 2010 ia mampu menjadi juara dengan menundukkan juara Asia Junior 2010 Suo Di dari China. Di kejuaraan Vietnam International Challenge 2009, sebelum ia menggondol gelar juara, empat tunggal putri Indonesia di hajarnya. Linda Weni Fanetri dikalahkannya di babak kedua. Dibabak perempat final, ganti Aprilia Yuswandari. Di semifinal, Maria Febe Kusumastuti menyerah. Di partai puncak Maria Elfira Christina pun tidak dapat berbuat banyak. Maria Elfira kalah dua set dengan 18-21, 14-21. Sementara rekor pertemuannya dengan Febby Angguni masih imbang 1-1. Febby menang di turnamen Smiling Fish International series 2008, sementara Ratchanok menang pada kejuaraan Singapore Asian Satelite 2008 dengan 21-15, 16-21, 21-15. Saat ini Ratchanok berada pada peringkat 76 dunia, per 13 Agustus 2010.

Pemain yunior putri lainnya Porntip Buranaprasertsuk menjadi pemain peringkat kedua tertinggi di negaranya. Per 13 Agustus 2010, ia bercokol di peringkat 31 BWF. Porntip merupakan jebolan kejuaraan dunia junior tahun 2008, saat itu prestasi terbaiknya menjadi semifinalis dan hanya kalah dari Wang Shixian, pemain China yang telah mentas lebih dulu di dunia bulutangkis. Di kejuaraan yang sama, pemain harapan Indonesia Ana Rovita pernah menyerah di babak kedua dengan 13-21, 20-22. Di tahun 2009, prestasinya di kejuaraan dunia Junior meningkat. Ia berhasil menyodok di partai puncak sebelum di tundukkan rekan senegaranya Ratchanok Intanon.

Sementara di bagian putra, selain Pisit, Thailand masih mempunyai amunisi pemain Yunior, Prinyawat Thongnuam. Pemain inilah yang mengalahkan dua yunior terbaik Indonesia saat ini pada turnamen Internasional Tangkas Alfamart Open 2010. Di semifinal, Prinyawat mengalahkan Riyanto Subagja dengan 21-16, 21-11 dan kemudian di final mengalahkan Evert Sukamta 21-15 13-21 21-11.

Kehadiran lima pemain pemain yunior Thailand tersebut ke pentas dunia menjadi catatan penting bagi negara lain. Bukan tidak mungkin mereka akan berjaya di Olimpiade 2012 atau 2016. Indonesia sendiri sebagai tetangga dekat Thailand harus segera berbenah untuk tetap menancapkan kukunya sebagai yang terbaik di Asia Tenggara, Asia maupun dunia. (Hendri Kustian / Arief Rachman)

Sumber : http://www.bulutangkis.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=6488

Selasa, 23 Maret 2010

Pemain Yunior Putri Berprestasi Tahun 2009

Bulutangkis.com - Indonesia kembali tertinggal dalam prestasi Internasional di bagian putri. Kita tidak perlu membandingkan dengan China yang pemain lapis ketiganya sudah bisa meraih gelar juara Super Series tetapi dengan negara tetangga seperti Thailand saja sudah kedodoran. Thailand malah berhasil menciptakan ''ALL Thailand Final'' di nomor tunggal putri Kejuaraan Dunia Yunior antara Ratchanok Intanon dan Portip Buranaprasertsuk.

Namun demikian kita tidak boleh berputus harapan karena beberapa pemain masih bisa mencatat prestasi yang baik.

1. Della Destiara Haris
Dengan prestasinya sebagai runner-up ganda campuran Kejuaraan Dunia Yunior maka Della layak didaulat sebagai pemain yunior paling berprestasi. Pemain yang tergabung dalam skuat Pelatnas Pratama ini juga meraih gelar juara turnamen Internasional Tangkas ALfamart Open nomor ganda putri berpasangan dengan Gebby Rityani Imawan. Sebelum bergabung di Pelatnas Pratama, Della menjuarai Pertamina Open II dan Sirnas Kalimantan berpasangan dengan Claudia Ayu pada awal tahun 2009.

2. Suci Rizky Andini
Posisi runner-up ganda putri kejuaraan dunia yunior bersama Tiara Rosalia membuat Suci ditempatkan dinomor dua. Disamping itu Suci berhasil masuk babak semifinal Tangkas Alfamart Open disektor ganda campuran berpasangan dengan Kevin Alexander.

3. Tiara Rosalia Nuraidah
Gelar juara dunia yunior belum dapat diraih Tiara dan Suci setelah dikalahkan andaalan China Tan Jinhua/Huang Xia 9-21 dan 18-21. Tetapi keberhasilan mereka menembus final layak mendapat apresiasi ditengah minimnya prestasi pemain putri Indonesia.

4. Jenna Gozalli
Pemain klub Djarum Kudus ini meraih gelar Internasional pada sektor ganda campuran Dutch Open Junior bersama Muhammad Ulinnuha. Pekan berikutnya pasangan ini hanya menempati runner-up German Open Yunior setelah dikalahkan pasangan Korea Kang Ji Wook/Hye In Choi 20-22, 17-21. Di ganda putri, Jenna bersama Rufika Olivta menempati posisi empat besar pada Dutch Open Junior

5. Dian Fitriani
Satu gelar juara Singapore Youth International U-19 dipersembahkan Dian Fitriani/Eri Octaviani dinomor ganda putri. Pasangan ini juga memborong tiga gelar juara Sinas mulai dari Sirnas Jateng, Bali dan Sumatera. Semenara di Tangkas Alfamart Open mereka menduduki posisi runner-up. Di Tangkas Alfamart Open ini, Dian Fitriani juga bermain ditunggal putri dengan hasil sebagai semifinalis setelah dikalahkan pemain Malaysia, Sonia Su Ya Cheah 21-15, 14-21, 3-21.

6. Eri Octaviani
Berpasangan Dian Fitriani menjuarai Singapore Youth International dan runner-up Tangkas Alfamart Open. Di level nasional, mereka meraih tiga gelar juara Sirnas.

7. Yayu Rahayu
Yayu merupakan pemain klub Djarum Kudus lainnya yang berhasil meraih gelar Internasional. Yayu bermain diganda campuran bersama Didit Juang Indrianto berhasil menjuarai ganda campuran Tangkas Alfamart Open. Didit/Yayu juga menjuarai Sirnas Kalimantan kemudian Yayu sendiri juara campuran Sirnas Jateng dan Jatim (+Jones Rafly Jansen) serta ganda putri Sirnas Jatim (+Lidya Pradipta)

8. Gebby Rityani Imawan
Merupakan anggota skuat Pelatnas Pratama yang menjadi pasangan Della saat menjuarai Tangkas Alfamart Open.

9. Anna Rovita
Kejutan dibuatnya dengan berhasil menembus semifinal kejuaraan Asia Yunior. Langkahnya ke final dihentikan sang juara Chen Xiaojia (China) 22-24, 17-21. Sementara dilevel nasional, Anna menjuarai Sirnas DKI dan turnamen Surabaya Open.

10. Febby Angguni
Pemain ini membuat prestasi yang sama dengan Anna Rovita sebagai semfinalis Kejuaraan Asia Yunior. Di kancah nasional sebenarnya Febby mencatat prestasi lebih baik dengan meraih tiga gelar juara tunggal putri sirnas kelompok dewasa. Tetapi karena catatan ini hanya melihat prestasi di kelompok taruna maka Febby ditempatkan diposisi kesepuluh.

Demikian sepuluh pemain yunior paling berprestasi di tahun 2009. Tantangan kelompok putri tahun-tahun mendatang akan lebih besar. Kemajuan negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Thailand harus diantisipasi dengan meningkatkan prestasi pemain putri Indonesia. Semoga tahun 2010 ini prestasi pebulutangkis Indonesia menjadi lebih baik.

Pemain Yunior Putra Berprestasi tahun 2009

Bulutangkis.com - Seiring dengan catatan pemain bulutangkis terbaik 2009, saya ingin melanjutkan catatan tersebut terhadap pemain-pemain yunior Indonesia yang berprestasi sepanjang tahun 2009. Sepuluh pemain berprestasi ini dirangkum dari pertandingan nasional dan internasional untuk kelompok usia 19 tahun atau yang juga dikenal dengan kelompok taruna. Meskipun beberapa pemain yunior sudah berhasil meraih gelar juara di kelompok senior tetapi tidak diikutkan dalam catatan ini.

1. Angga Pratama
Angga Pratama layak menempati urutan teratas atas prestasinya di dua turnamen yunior Internasional bergengsi yakni Kejuaraan Asia dan Kejuaraan Dunia. Di kejuaraan Asia, Angga yang berpasangan dengan Rendy Sugiarto berhasil meraih gelar juara setelah mengalahkan pasangan tuan rumah Malaysia, Yew Hong Kheng /Ow Yao Han difinal dengan 21-16, 21-15.

Kemudian pasangan ini menembus semifinal kejuaraan dunia yunior yang berlangsung di Alor Setar, Malaysia. Catatan prestasi Angga ditambah lagi dengan menjadi runner-up nomor ganda campuran kejuaraan dunia tersebut berpasangan dengan Della Destiara Harris.

2. Rendy Sugiarto
Pemain asal Djarum Kudus ini merupakan pasangan Angga Pratama di nomor ganda putra yang berprestasi sebagai juara Asia dan semifinalis kejuaraan dunia. Namun dilevel dewasa pemain Pelatnas pratama ini lebih sering dipasangkan dengan Muhammad Rizky Delinugraha.

3. Muhammad Ulinnuha
Pemain spesialis ganda ini sering kali diturunkan bermain rangkap ganda putra dan ganda campuran. Meskipun begitu beberapa gelar juara di kedua nomor berhasil diraihnya. Di sektor ganda putra, Ulinnuha berpasangan dengan Berry Angriawan berhasil menjuarai Dutch Open Junior dan German Open Junior. Pasangan ini juga meraih prestasi runner-up Kejuaraan dunia. Sementara di nomor ganda campuran, Ulinnuha bersama Jenna Gozali menjuarai Dutch Open Junior dan runner-up German Open Junior.

4. Berry Angriawan
Bersama Ulinnuha hampir saja berhasil menjadi juara dunia yunior. Sayang difinal mereka dikalahkan pasangan tuan rumah Malaysia, Kah Ming Chooi/Yao Han Ow difinal dalam pertarungan tiga set 21-19, 12-21 dan 21-23. Tetapi dua gelar juara di Belanda dan Jerman telah memberikan harapan bahwa Berry/Ulinnuha bisa menjadi ganda kuat di masa depan.

5. Ricky Karanda
Dua medali emas berhasil dipersembahkan Ricky Karanda dalam ASEAN School Games I di Suphanburi, Thailand. Dalam pesta Olahraga pelajar negara se-Asia Tenggara tersebut, Ricky memenangkan nomor ganda putra bersama Imam Hoerudin dan ganda campuran berpasangan dengan Ayu Pratiwi. Gelar internasional lainnya dipersembakan Ricky pada turnamen Tangkas Alfamart Open. Difinal ganda putra Ricky dan rekannya Budi Hartono berhasil mengalahkan pasangan Djarum Kudus, Dandi Prabudita/Jones Ralfy Jansen 21-15 dan 21-17. Ricky/ Budi juga menjuarai Sirnas Bali. Sebelumnya Ricky berpasangan dengan Ali Akbar memenangkan Sirnas Kalimantan. Sementara di ganda campuran, Ricky/Ayu Pratiwi mendapat tambahan gelar juara Sirnas DKI dan Sirnas Sumatera.

6. Didit Juang Indrianto
Pemain ini meraih gelar Internasional dari sektor ganda campuran Tangkas Alfamart Open. Berpasangan dengan rekan satu klubnya Yayu Rahayu, pasangan ini mengalahkan Jones Ralfy Jansen/ Nurbeta Kwanrico 21-16, 21-14. Dilevel nasional, Didit/ Yayu meraih gelar juara Sirnas Kalimantan. Sementara dinomor ganda putra Didit yang dipasangkan dengan Seiko Wahyu memborong tiga gelar juara sirnas pada Sirnas DKI, Jawa Barat dan Jawa Timur.

7. Subhan Hasan
Pemain asal klub Jaya Raya ini menjadi kampium ganda putra Youth Singapore International U-19 berpasangan dengan Agripinna Prima Putera. Difinal mereka mengalahkan pasangan tuang rumah Robin Gonansa/Huang Chao 21-19 dan 21-14. Subhan Hasan juga handal bermain di tunggal yang dibuktikan dengan menjuarai Sirnas Kalimantan dan Sumatera

8. Riyanto Subagja
Harapan tunggal putra Indonesia masa depan dapat ditumpukan pada nama ini. Meskipun baru masuk kelompok taruna, Riyanto berhasil mensejajarkan diri dengan angkatan diatasnya. Ini terbukti dengan persembahan gelar juara Tangkas Alfmart Open setelah difinal mengalahkan pemain unggulan asal India, Sai Praneet Bhamidipati 21-16, 21-16. Keperkasaan Riyanto dilengkapi dengan menjuarai Sirnas Bali.

9. Agripinna Prima Putra
Putera mantan pebulutangkis Sigit Pamungkas ini memiliki ciri permainan aktraktif. Selain gelar juara ganda putra bersama Subhan Hasan, Agripinna juga mampu menjadi Kampiun di tunggal putra Sirnas DKI.

10. Jones Ralfy Jansen
Jansen memang tidak meraih gelar internasional sepanjang tahun 2009. Tetapi runner-up di dua nomor sekaligus pada Tangkas Alfamart Open merupakan prestasi tersendiri. Hasil sebagai finalis didapatnya dengan pasangannya Dandi Pramudita di ganda putra dan Nurbeta Kwanrico di ganda campuran. Sementara gelar sirnas diperolehnya pada nomor ganda putra sirnas Jateng (+Darmiko) dan ganda campuran Sirnas Jateng serta Jatim (+Yayu Rahayu).

Kesepuluh pebulutangkis putra tersebut sebagian diantaranya sudah meniti karir dikelompok dewasa pada tahun ini. Dari pundak mereka mereka disandangkan harapan prestasi Indonesia yang sedang mengalami krisis regenerasi. Sementara bagi mereka yang masih bertarung dikelompok taruna maka terdapat tantangan untuk menunjukkan eksistensi Indonesia di level Internasional seperti Kejuaraan Asia Yunior, Kejuaraan Dunia Yunior dan puncaknya Youth Olympic I di Singapura.

Pemain Terbaik 2009




Bulutangkis.com - Kolom Hendri Kustian di situs ini sudah memulai tradisi untuk menentukan pemain terbaik dunia sejak tahun 2007. Metode yang digunakan berdasarkan jumlah dan level gelar juara yang dikumpul oleh seorang pebulutangkis. Tahun 2007 ditentukan Gao Ling sebagai pemain tebaik dunia dan Lilyana Natsir untuk Indonesia. Tahun berikutnya menjadi milik Lee Yong Dae (terbaik dunia) dan pasangan Markis Kido/Hendra Setiawan (terbaik Indonesia). Siapakah yang terbaik di tahun 2009?

Terbaik Dunia

Persaingan pebulutangkis sepanjang tahun 2009 terlihat lebih merata. Beberapa negara yang belum pernah meraih juara di era Super Series, berhasil merebutnya pada tahun 2009 ini seperti Taipei, India, Inggris dan Polandia. Wakil Taipei, Cheng Wen Hsing/ Chin Yu Chin menjuarai ganda putri Korea Open, Saina Nehwal dari India memenangkan tunggal putri Indonesia Open, Nathan Robertson/ Anthony Clark (Inggris) berjaya di Singapore Open dan Robert Mateuziak/ Nadiedza menjadi kampiun ganda campuran Hongkong Open. Demikian juga dengan Thailand, meskipun pernah satu kali merebut juara Singapore Open Super Series 2007 melalui Bonsak Ponsana tetapi prestasi rekannya Songphon Anugritawayan/ Kuchala Voravitchitchaikul menjuarai ganda campuran Japan Open 2009 merupakan kejutan tersendiri.

Ditengah mulai meratanya kekuatan bulutangkis dunia, atlet Korea Lee Yong Dae menjadi pengumpul gelar juara terbanyak dibagian putra. Pemain andalan Korea tersebut meraih empat gelar juara ganda putra super series dan satu super series master bersama rekannya Jung Jae Sung. Gelar ganda putra tersebut masih ditambah satu gelar juara turnamen Grand Prix yakni German Open berpasangan dengan Shin Baek Cheol. Lee Yong dae melengkapi prestasinya dengan menjuarai ganda campuran Korea Open, China Open dan Kejuaraan Asia. Pemain Malaysia Lee Chong Wei tampil konsisten sepanjang tahun 2009 dengan merebut empat kali juara Superseries, satu super series master dan dua kali turnamen Grand Prix Gold. Berikutnya pemain China, Lin Dan membuat catatan sebagai juara dunia dan empat gelar super series lainnya termasuk All England.

Di bagian putri, pemain muda China Ma Jin begitu perkasa dengan enam gelar juara super series yang masing-masing tiga dinomor ganda putri bersama Wang Xiaoli dan tiga disektor ganda campuran berpasangan dengan seniornya, Zheng Bo. Ma Jin melengkapi gelarnya dengan tiga kali juara di turnamen kelas Grand Prix Gold. Mengikuti prestasi Ma Jin, pemain muda lainnya Wang Yihan merebut lima gelar juara tunggal putri Super series dan satu dari Grand Prix Gold. Pemain yang tergolong senior Zhang Yawen berada di posisi ketiga dengan empat gelar juara superseries dan juara dunia ganda putri. Kehebatan Zhang Yawen tidak sekedar catatan tersebut tetapi dia bisa juara baik berpasangan dengan pemain berpengalaman seperti Zhao Tingting maupun dengan yuniornya seperti Pan Pan dan Tian Qin.

Terbaik Indonesia

Indonesia masih bertumpu pada pasangan Nova Widianto/Lilyana Natsir dan Markis Kido/Hendra Setiawan pada pagelaran turnamen sekelas superseries di tahun 2009. Kedua pasangan ini masing-masing mengumpulkan dua gelar juara superseries dan medali emas Sea Games. Diluar keempat nama tersebut yang sedikit mencuat adalah Simon Santoso yang merebut gelar super series pertama-nya di Denmark serta meraih emas tunggal putra Sea Games. Beberapa pemain harus puas mencicipi gelar turnamen kelas Grand Prix Gold seperti Taufik Hidayat, Bona Septano/Muhammad Ahsan dan Flandy Limpele/Vita Marissa

Terbaik

Berdasarkan catatan prestasi yang dibuat para pemain maka dapat disimpulkan Lee Yong Dae merupakan pemain putra dan Wang Yihan pemain putri terbaik dunia 2009. Sementara untuk pemain putra terbaik Indonesia 2009 disematkan pada Nova Widianto dan Lilyana Natsir dibagian putri.
(Contributed by: Hendri Kustian, hendri_kustian@yahoo.com)

Rangkuman :
Pemain Putra Terbaik Dunia:
1. Lee Yong Dae :
1 gelar MD-SS Master, 6 gelar SS (MD-Mas Open, MD-INA Open, MD-HKG Open, MD-CHN Open, XD-KOR Open, XD-CHN Open), 1 gelar XD-Asia dan 1 gelar Grand Prix (MD-GER Open)
2. Lee Chong Wei :
1 gelar MS-SS Master, 4 gelas SS (MAS Open, SUI Open, INA Open, HKG Open) dan 2 gelar Grand Prix Gold (MAS OPen GPG, MAC Open)
3. Lin Dan :
Juara Dunia dan 4 gelar SS (All England, CHN Master, FRA Open, CHN Open)

Pemain Putri Terbaik Dunia :
1. Ma Jin :
6 gelar juara SS (WD-JPN Open, WD-Fra Open, WD-HKG Open, XD SUI Open, XD SIN Open & XD INA Open), 3 GPG (XD-IND Open, XD-MAS Open & WD MAS Open) dan Juara WD-Asia
2. Wang Yihan :
5 gelar SS (All England, SUI, JPN, FRA & HKG), 1 GPG (MAC Open) & 1 GP (German Open)
3. Zhang Yawen :
Juara Dunia ganda putri & 4 SS (All England, SIN, DEN & CHN)

Pemain Putra Terbaik Indonesia :
1. Nova Widianto : Juara Malaysia Open SS, France Open SS, Runner-Up Kejuaraan Dunia dan SEA Games)
2. Markis Kido/Hendra Setiawan : Juara Japan Open SS, French Open SS, juara Asia dan SEA Games)
3. Simon Santoso : Juara Denmark Open dan SEA Games

Pemain Putri Terbaik Indonesia :
1. Lilyana Natsir : Juara Malaysia Open SS, French Open SS, Runner-Up Kejuaraan Dunia dan SEA Games)
2. Vita Marissa : Juara India Open GPG dan Juara Indonesia Challenge
3. Greysia Polii/Nitya Krishinda : Runner-up Singapore Open, Semifinalis Japan Open & Semifinalis French Open).


Sumber : http://www.bulutangkis.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=6097

Selasa, 29 September 2009

INDONESIA MASIH ADA DAN ADA DIMANA-MANA

CATATAN KECIL HENDRI KUSTIAN

Akhir minggu lalu (27/09) perhatian pecinta bulutangkis Indonesia tertuju pada penampilan pemain-pemain Indonesia yang tampil di Japan Open Superseries. Dahaga gelar juara superseries selepas Nova Widianto/Lilyana Natsir menjuarai Malaysia Open Superseries bulan Januari lalu akhirnya terobati pada Japan Open Superseries ini. Pasangan Markis Kido/Hendra Setiawan menyiram dahaga itu dengan gelar juara ganda putra. Apresiasi juga layak disematkan pada pasangan Rian Sukmawan/Yonathan Suryatama yang berhasil menembus final setelah menaklukkan juara dunia 2005, Tony Gunawan/Howard Bach (USA) di semifinal. Demikian halnya dengan Simon Santoso yang walaupun kalah dari Taufik Hidayat di semifinal tetapi sebelumnya mampu menundukkan pemain peringkat satu dunia Lee Chong Wei (MAS). Pencapaian ini menjadi sinyal bahwa Indonesia masih ada di tataran bulutangkis dunia walaupun tidak sehebat masa jaya-nya.

Berbicara eksistensi Indonesia maka marilah kita melirik ke sebuah turnamen kecil di daratan Eropa, Czech International 2009. Turnamen yang finalnya berlangsung pada hari yang sama dengan final Japan Open ini telah mengantarkan Indonesia merebut satu gelar juara melalui Indra Viki Okvana/Gustiani Megawati dinomor ganda campuran. Pasangan ini berhasil menundukkan seterunya Mads Conrad Petersen/Anne Skelbaek dari Denmark dengan skor 21-11, dan 21-13. Sekeping gelar juara turnamen kecil sekelas 'International Series' memang tidak menggaung beritanya tetapi yang patut dicatat bahwa mereka juara bukan dikirim oleh naungan pebulutangkis Indonesia, PBSI. Mereka bermain di Eropa dengan perjuangan sendiri dalam meniti karir sekaligus membawa nama Indonesia. Apalagi kedua pemain ini bukanlah pemain yang sudah terkenal yang menarik sponsor-sponsor besar untuk membiayai tur-nya.

Hal menarik juga dari turnamen ini adalah serbuan nama-nama Indonesia yang tetap berbendera Indonesia atau negara asal klub yang dibelanya. Dari nomor tunggal putra terdapat nama juara Asia Yunior 2001, Ardiansyah yang kandas dibabak kualifikasi. Dari babak utama ada nama Wisnu Haryo putro yang membela Italia yang bertahan sampai babak kedua. Terdapat pula nama Rizky Kurniawan yang meskipun tetap menggunakan bendera Indonesia tetapi berpasangan dengan pemain tuan rumah Ceko, Alzbeta Basova di ganda campuran dan pemain Denmark Tore Vilhemsen di sektor ganda putra.

Nama-nama pemain diatas menambah daftar pemain Indonesia yang lebih dulu berlaga baik untuk klub maupun negara Eropa. George Rimarcdi merupakan salah satu pemain Indonesia yang sukses menjadi juara nasional Swedia tahun 2006 dan Vidre Wibowo runner-up kejuaraan nasional Swedia tahun 2005. Dari negeri kincir angin, Belanda tercatat keturunan Indonesia, Dicky Palyama yang menjuarai kejurnas negeri setempat dari tahun 2005 sampai 2008. Ditambah lagi mantan bintang Indonesia, Mia Audina yang juara nasional Belanda 2006 ini telah menyumbangkan prestasi Internasional buat negara barunya termasuk medali perak Olimpiade 2004. Perancis memiliki Weny Rahmawati yang menjadi juara nasional Parancis dari sektor ganda putri tahun 2005 dan 2007 serta ganda campuran 2005. Pemain-pemain lainnya yang sempat membela negara Eropa antara lain pasangan Flandy Limpele/Eng Hian (Inggris), Darma Gunawi (Jerman), Ruben Gordown Khosadalina (Spanyol), Stenny Kusuma (Spanyol), Cynthia Tuwankota (Swiss) dan Yohannes Hogianto (Swiss). Bahkan nama terakhir menemukan tambatan hatinya dari gadis asli Swiss seperti yang termuat dalam profilnya di Majalah Jurnal Bulutangkis edisi ketiga.

Bukan hanya benua Eropa saja yang tertarik menggunakan jasa pemain Indonesia. Benua Amerika terutama Amerika Serikat bahkan meraih juara dunia melalui sabetan tangan seorang Tony Gunawan. Selain Tony, masih ada pemain lain yang membela negara paman Sam tersebut diantaranya Halim Haryanto, Chandra Kowi dan Mona Santoso. Singapura merupakan negara tetangga yang paling getol menarik pemain Indonesia. Singapura dibela pemain sekelas Ronald Susilo, Hendri Kurniawan, Hendra Saputra, Sari Shinta Mulia sampai pemain yunior, Ivannaldy Febrian. Sebenarnya pemain Indonesia yang telah memperkuat Singapura jauh lebih banyak tetapi sebagian memilih pulang kampung karena keharusan memilih kewarganegaraan yang ditetapkan pemerintah Singapura padahal sebelumnya cukup dengan status 'permanent resident'. Sementara itu mantan pemain nasional Minarti Timur memilih melanjutkan karirnya di Pilipina, sedangkan Yohan Hadikusuma masih aktif membela Hongkong.

Petualangan pemain-pemain Indonesia menunjukkan citra sebagai negara bulutangkis yang mempunyai dua sisi positif dan negatif. Sisi positifnya adalah menunjukkan eksistensi Indonesia sebagai negara bulutangkis semakin diakui. Tetapi dapat sisi negatifnya terdapat gejala pemain-pemain yunior potensial ikut dilirik negara lain yang tentunya mengurangi bibit-bibit bintang masa depan Indonesia. Disinilah perlu kejelian dari kompenen bulutangkis untuk mencermati baik buruknya eksodus pemain untuk perkembangn bulutangkis Indonesia di masa depan.

Sebagai kalimat penutup bahwa keberhasilan Markis Kido/Hendra Setiawan menunjukkan Indonesia masih ada, sementara banyaknya eksodus pemain keluar negeri menunjukkan Indonesia ada dimana-mana. Semoga kedua peristiwa akan membawa bulutangkis Indonesia selalu berjaya.

Hendri Kustian (hendri_kustian@yahoo.com)
Kolomnis 'Majalah Jurnal Bulutangkis'

LITBANG, GALILAH ILMU CHINA

CATATAN KECIL HENDRI KUSTIAN
LITBANG, GALILAH ILMU CHINA

Turnamen China Master yang berakhir minggu lalu (20/09), mengukuhkan dominasi dan regenerasi pebulutangkis China. Tuan rumah menguasai empat nomor final sesama pemain China. Bahkan dua diantaranya dijuarai oleh muka-muka baru ditunggal putri melalui Wang Shixian dan pasangan ganda campuran, Tao Jiaming/Wang Xiaoli. Negeri tirai bambu ini seakan tidak terputus melahirkan pebulutangkis-pebulutangkis handal.

Khusus untuk tunggal putri, China seakan telah membuat berlapis-lapis generasi. Masih ingat di benak pecinta bulutangkis ketika ajang superseries tahun pertama di gelar tahun 2007, China merebut sembilan dari dua belas gelar tunggal putri yang terdistribusi pada Xie Xingfang (5 gelar), Zhang Ning (2), Zhu Lin (1) dan Lu Lan (1). Tahun 2008 lalu ketika prestasi pemain-pemain papan atas seperti Xie Xingfang, Lu Lan dan Zhu Lin masih diperhitungkan, Wang Yihan menggebrak dengan menjuarai Japan Open Superseries yang diikuti oleh rekannya Wang Lin yang menggenggam Denmark dan France Open SS serta Jiang Yanjiao berjaya di China Open SS. Tahun ini muncul lagi talenta-talenta baru yang langsung menyeruak keatas. Wang Shixian yang baru saja menjuarai China Master sebelumnya telah meraih gelar Malaysia Open GPG. Dua rekannya lainnya Wang Xin menjadi kampiun di Philippine Open GPG dan Liu Jian memenangkan Thailand Open GPG. Sekarang China setidaknya memiliki tiga lapis generasi tunggal putri yang berprestasi dalam waktu bersamaan yaitu lapis pertama Xie Xingfang, Zhu Lin dan Lu Lan. Kemudian Wang Yihan, Wang Lin dan Jiang Yanjiao lalu disusul Wang Shixian, Wang Xin dan Liu Jian. Lapis ini belum dihitung pemain-pemain yunior lainnya yang sudah siap merangkak keatas seperti juara Asia Yunior 2008 Li Xuaerui dan juara Asia Yunior 2009, Chen Xiaojia.

Walaupun tidak sehebat di tunggal putri, nomor-nomor lain China tetap terdepan dalam regenerasi. Pemain tunggal putra, Chen Long mulai menebar ancaman bagi pebulutangkis lainnya dengan menjuarai Philippine Open GPG dan menaklukkan maestro bulutangkis Indonesia, Taufik Hidayat. Sektor ganda putri diwakili oleh perkasanya Cheng Su / Zhao Yunlei sejak akhir tahun lalu disamping pasangan Du Jing/Yu Yang yang lebih dulu mapan. Demikian pula di ganda campuran ketika Ma Jin berhasil memerankan pengganti Gao Ling untuk menjadi pasangan Zheng Bo dan meraih juara dibeberapa turnamen. Disamping itu China mengandalkan pasangan lainnya He Hanbing/Yu Yang serta juara China Master 2009 Tao Jiaming/Wang Xiaoli. Wang Xiaoli sendiri juga berprestasi diganda putri bersama Ma Jin. Satu-satunya regenerasi China yang terbilang lemah adalah nomor ganda putra dimana belum terlihat pengganti sekuat pasangan Fu Haifeng/Cai Yun.

"Belajarlah sampai ke negeri China". Sebuah kalimat bijak pantas menjadi pembelajaran bagi insan bulutangkis Indonesia. Kita harus mengakui bahwa China lebih baik dari Indonesia dalam pembinaan bulutangkis. Jadi tidak ada salahnya mempelajari kunci-kunci sukses China. Tetapi itu sulit dilakukan karena China sendiri belum tentu mau berbagi resep kepada negara lain dalam sistem pembinaannya. Minimal Indonesia bisa melihat keseriusan China dengan menggelar dua turnamen sekelas superseries yaitu China Master dan China Open selain ajang Piala Sudirman. Dari turnamen seperti ini pemain-pemain muda akan memperoleh pengalaman bertemu dengan pemain level atas dunia yang sulit didapatkan kalau turnamen itu berlangsung diluar negeri. Ketika China Master kurang diminati pebulutangkis kelas atas dari Indonesia dan Korea, tuan rumah masih mempunyai keuntungan lain dengan naiknya peringkat pemainnya karena mendulang poin yang besar di superseries. Sebagai contoh sang juara, Wang Shixian naik dari peringkat ke-64 menjadi ke-39. Demikian pula rekannya Wang Xin yang menembus semifinal naik dari peringkat 72 pekan sebelumnya menjadi peringkat ke-48. Bukan tidak dengan bekal tersebut, keduanya bisa peringkat 20 besar dunia pada akhir tahun ini.

Berbicara mengenai turnamen Internasional, Indonesia tidak hanya tertinggal dari China tetapi juga dari negeri tetangga Malaysia. Tahun ini Malaysia menggelar turnamen Malaysia Open Superseries dan Malaysia Open Grand Prix Gold. Padahal Malaysia harus menggelar hajatan lainnya yakni Kejuaraan dunia Yunior dan Kejuaraan Asia Yunior serta sebuah turnamen kelas Challenge yang belum ditentukan kepastiannya November mendatang. Indonesia hanya sebanding dengan Korea yang menggelar satu turnamen superseries, satu turnamen Challenge dan satu turnamen International lainnya yakni kejuaraan Asia untuk Korea dan Tangkas Alfamart Open untuk Indonesia. Dalam sebuah acara Ka. Bid. Turnamen PBSI, Mimi Irawan mengatakan bahwa kemungkinan baru tahun 2011, Indonesia bisa menggelar turnamen Grand Prix Gold sebagai tambahan Indonesia Open Superseries.

Keseriusan dalam peningkatan prestasinya diperlihatkan pula oleh India dimana mereka menggelar kejuaraan dunia, India Open Grand Prix Gold dan India Open Grand Prix. Prestasi pemain-pemain India telah memperlihatkan peningkatan yang cukup baik. Pemain putri, Saina Nehwal berhasil menggengam juara Indonesia Open SS, kemudian pasangan ganda putra Rapesh Kummar/Thomas Sanave memenangkan New Zealand Open GP dan teranyar pasangan ganda campuran Diju V/Jwala Gutta menjuarai Taepei Open GPG setelah difinal mengalahkan pasangan Indonesia Hendra A Gunawan/Vita Marissa.

Ilmu China lainnya yang perlu diteliti oleh PBSI adalah masalah cedera pemain. Kita jarang sekali mendengar pemain Pelatnas-nya China absen turnamen karena cedera. Kalaupun ada yang cedera lebih banyak di pertandingan sesama China yang dengan kata lain bahwa cedera-nya pemain China patut dipertanyakan kebenarannya. Pemain Pelatnas Indonesia banyak sekali yang rentan cedera seperti yang pernah dialami Sonny Dwi Kuncoro, Maria Kristin, Firdasari Andrianti, Markis Kido, Muhammad Ahsan dan pemain-pemain papan atas lainnya. Disinilah peran Divisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) seharusnya berperan menemukan pola latihan yang tepat bagi atlet Indonesia untuk menghindari cedera. Pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi sudah menjadi keharusan bagi bulutangkis Indonesia.

Kalau banyak organisasi di Indonesia menganggap Litbang sebagai pelengkap atau pemanis organisasi. Seringkali Litbang dipelesetkan sebagai singkatan dari "sulit berkembang". Maka sudah saatnya paradigma itu berubah. Divisi Litbang PBSI diharapkan menjadi garda terdepan untuk menggali ilmu-ilmu China lainnya untuk ditelaah menjadi pola yang tepat bagi Indonesia. Dengan berperannya Litbang diharapkan pemain-pemain tidak hanya dituntut latihan yang keras tetapi juga latihan yang tepat.

Hendri Kustian, hendri_kustian@yahoo.com
Kolomnis Majalah Jurnal Bulutangkis

Kamis, 24 September 2009

Bulutangkis Bersama Sejarah Bangsa


KOLOM HENDRI KUSTIAN
Copy dari Majalah Jurnal Bulutangkis Edisi III

Bulan Agustus selalu meriah dengan berbagai macam kegiatan dalam menyemarakkan peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia (RI). Suka-cita masyarakat merayakan ulang tahun (ultah) hasil perjuangan para pahlawan juga disemarakkan dengan kegiatan olahraga.

Bulan Agustus bak sebuah turnamen olahraga berskala besar yang dilaksanakan secara swadaya dari masyarakat. Cabang favorit seperti sepakbola, bola voli, tenis meja dan bulutangkis dipertandingkan secara massal mulai dari tingkat RT, RW, desa / kelurahan, kecamatan sampai kabupaten. Pertandingan juga dimainkan dalam bentuk komunitas lainnya seperti karyawan kantor, antar sekolah maupun kelompok-kelompok masyarakat lainnya hampir di seluruh pelosok negeri.

Seharusnya rasa nasionalisme dan kecintaan pada olahraga dapat dikampanyekan dalam pesta rakyat ini karena perjuangan rakyat Indonesia bukan lagi dengan mengangkat senjata tetapi dengan menegakkan nama Indonesia di antara bangsa-bangsa lain melalui kelebihan sang Ibu Pertiwi; dan bulutangkis termasuk di dalamnya sebagai satu bentuk ‘senjata baru’ perjuangan bangsa Indonesia.

Sebuah kemenangan pebulutangkis merah-putih di turnamen bergengsi tentunya akan menjadi kado tersendiri bagi Sang Republik. Emas pertama Olimpiade oleh Susi Susanti dan Alan Budikusuma direbut pada bulan Agustus 1992.

Alangkah bangganya kalau momen kemenangan pada bulan Agustus selalu terjadi setiap tahunnya. Sayang, momen tersebut absen tahun ini. Nova Widianto/Lilyana Natsir yang menjadi tumpuan terakhir Indonesia di Kejuaraan Dunia tahun ini gagal mempersembahkan kado pada ultah RI ke-64. Sama halnya saat mereka tahun lalu gagal mempersembahkan medali emas di Olimpiade Beijing setelah sukses mencapai final pada tanggal 17 Agustus tahun 2008.

Beruntung saat itu di Beijing Indonesia masih mendapat kado ultah dari pasangan ganda putra, Markis Kido/Hendra Setiawan yang meraih emas ganda putra. Bahkan pasangan ini dengan bangga mengikuti upacara peringatan kemerdekaan RI ke-63 di Kedutaan Besar Indonesia di China dengan kalungan emas di leher.


₪ ₪ ₪

Proklamasi kemerdekaan telah membuat sejarah terbagi menjadi dua fase, yakni, sebelum dan sesudah hari kemerdekaan.

Pada fase sebelum kemerdekaan, Indonesia belum bisa berdiri tegak sebagai suatu bangsa karena terkungkung oleh kekuasaan asing. Tetapi pada masa tersebut, bulutangkis sebenarnya telah menjadi olahraga rakyat selain sepakbola. Bulutangkis dimainkan dimana saja asal terdapat tanah lapang, dan memakai alat-alat sederhana seperti raket kayu dan kok bulu angsa.

Dalam buku Sejarah Bulutangkis Indonesia disebutkan bahwa hanya rakyat biasa yang suka bermain bulutangkis, sedangkan penjajah Belanda maupun orang Eropa yang tinggal di Indonesia lebih senang membuat klub tenis dan sepakbola yang dinilai lebih elit.

Ketika pendudukan beralih dari Belanda ke bangsa ras kuning, Jepang pada tahun 1942, bulutangkis pun didandani ulang. Istilah badminton yang sebelumnya digunakan akhirnya diganti karena berbau kebarat-baratan. Ketua Ikatan Sport Indonesia (ISI) melontarkan gagasan nama “bulutangkis” yang kemudian digunakan pada kejuaraan tahun 1942 di Solo. Akhirnya istilah bulutangkis menjadi istilah bahasa Indonesia yang dipergunakan hingga sekarang.

Masa sesudah kemerdekaan tidak diragukan lagi telah mengantarkan Indonesia sebagai negara raksasa bulutangkis dunia. Secara umum, hanya China yang mampu melebihi prestasi Indonesia berdasarkan jejak Indonesia di turnamen besar seperti Piala Thomas, Piala Uber, Olimpiade dan Kejuaraan Dunia.

Tetapi catatan sejarah tidak datang dengan sendirinya. Tonggak itu bermula dari perjuangan para tokoh-tokoh bulutangkis yang mendirikan Persatuan Bulutangkis Indonesia (PBSI) pada tanggal 5 Mei 1951.

Bersamaan dengan pendirian PBSI, digelarlah pertandingan bulutangkis beregu yang mempertemukan tim Jakarta melawan tim Bandung di final. Tim Jakarta yang diperkuat Ferry Sonneville, Tjan Tjin Ho, The Giok Soey memenangkan pertandingkan atas tim Bandung yang diperkuat oleh Eddy Yusuf dan Rusdi.

Ferry Sonneville dan Eddy Yusuf kemudian menjadi tulang punggung bersama rekan-rekannya yang lain memperkuat regu Piala Thomas Indonesia yang merebut piala tersebut untuk pertama kalinya pada tahun 1958. Sejak itu, Indonesia dikenal dunia karena kehebatan pebulutangkisnya.

Dan inilah tugas mulia para generasi penerus bangsa: terus berjuang agar keperkasaan Indonesia di cabang bulutangkis dapat kekal dan abadi laiknya kemerdekaan bangsa ini.