Thursday, September 24, 2009

PERSAINGAN KLASIK INDONESIA DAN CHINA


KOLOM HENDRI KUSTIAN
Copy dari Majalah Jurnal Bulutangkis Edisi II

Kejuaraan dunia selalu menjadi pertaruhan gengsi negara-negara besar bulutangkis. Hasil yang dicapai negara-negara kuat bulutangkis bisa dijadikan tolak ukur keberhasilan dalam pembinaan atlet-atletnya. Fakta menunjukkan bahwa China dan Indonesia telah menunjukkan konsistensi pada perburuan gelar juara dunia. Keberhasilan kedua negara ini dapat dikatakan merupakan keberhasilan dalam melakukan regenerasi pembinaan pemainnya.

Jika ditotal, jumlah gelar yang dikumpulkan China dan Indonesia sebanyak 57 gelar atau sekitar 71 persen dari total gelar juara. Ini berarti hanya 29 persen gelar juara yang terselip dari kedua negara tersebut. Bahkan pada penyelenggaraan terakhir dua tahun lalu di Kuala Lumpur, Indonesia dan China tidak menyisakan gelar juara bagi negara lain. China unggul dengan tiga gelar juara, sedangkan Indonesia merebut dua gelar juara.

Persaingan antara Indonesia dan China ditunjukkan dari jumlah gelar juara dunia yang dikumpulkan. China unggul dalam pengumpulan gelar juara sebanyak 39 gelar juara sedangkan Indonesia memperoleh 18 gelar juara. Perolehan tersebut jauh diatas negara lain seperti Korea (9), Denmark (8,5) dan Inggris (2,5).

Beberapa negara yang sempat mencuri satu kali juara adalah Jepang, Amerika Serikat dan Swedia. Uniknya, Swedia memperoleh gelar juara tersebut dua kali di partai ganda campuran dimana atilt Swedia berpasangan dengan atlit non-Swedia. Sementara negara adidaya bulutangkis lainnya, Malaysia masih memendam rasa penasarannya karena belum pernah sekalipun menjadi juara dunia.

Pada nomor paling bergengsi tunggal putra, Indonesia dan China sama-sama mencatatkan enam nama pemainnya dalam daftar juara dunia. China diwakili oleh Han Jian, Yang Yang, Zhao Jianhua, Sun Jun, Xia Xuanze dan Lin Dan. Sedangkan Indonesia melalui Rudy Hartono, Icuk Sugiarto, Joko Suprianto, Hariyanto Arbi, Hendrawan dan Taufik Hidayat. Hanya terselip dua nama pemain Denmark, Flemming Delfs dan Peter Rasmussen di antara persaingan Indonesia dan China.

Walaupun secara jumlah, pemain Indonesia dan China sama banyaknya tetapi China lebih unggul dalam jumlah gelar. Peta pertarungan tahun 2009 ini menjadi menarik karena China dan Indonesia sama-sama berpeluang menorehkan pemain terbanyak meraih juara dunia tunggal putra. Peluang ini bisa diperoleh pemain yang sudah pernah juara dunia seperti Taufik Hidayat dan Lin Dan atau bisa juga dari pemain angkatan di bawahnya seperti Sony Dwi Kuncoro (Indonesia) atau Chen Jin (China). Tentunya di antara kedua negara itu terselip Malaysia yang berharap meraih gelar juara tunggal putra untuk pertama kalinya dari pemain nomor satu dunia, Lee Chong Wei.

Ganda campuran menjadi satu-satunya nomor dengan kekuatan dan regenerasi yang merata. China, Indonesia, Korea, Denmark, Swedia dan Inggris secara bergantian menjadi juara. Pada nomor ini Indonesia dan China bernasib sama dengan masing-masing tiga kali juara. Indonesia meraihnya melalui Christian Hadinata/Imelda Kurniawan (1980) dan Nova Widianto/Lilyana Natsir (2005 dan 2007). Sementara kubu China menikmatinya dari Wang Fengreng/Si Fangjing (1987), Li Yong/Ge Fei (1997) dan Zhang Jun/Gao Ling (2001). Pada nomor ini, Korea menjadi pengumpul juara terbanyak dengan lima gelar juara.

Ganda Putra, Kekuatan Indonesia selama Bertahun-tahun
Indonesia mempunyai keunggulan dalam regenerasi nomor ganda putra. Tujuh pasang ganda Indonesia berhasil menjadi juara dunia setelah mengungguli China dan Korea . Keperkasaan Indonesia di nomor ini seperti sudah melegenda. Siapa yang tidak kenal kehebatan para juara dunia merah-putih ini? Sebutlah, Tjun Tjun/Johan Wahyudi (1977), Christian Hadinata/Ade Chandra (1980), Ricky Subagja/Rudy Gunawan (1993), Ricky Subagja/Rexy Mainaky (1994), Candra Wijaya/Sigit Budiarto (1995), Tony Gunawan/Halim Haryanto (2001) serta Markis Kido/Hendra Setiawan (2007). Kita pun tidak melupakan Tony Gunawan yang juga meraih gelarnya saat membela Amerika Serikat tahun 2005 berpasangan dengan Howard Bach.

Sementara China hanya meraih gelar melalui Li Yongbo/Tian Bingyi (1987 dan 1989) dan Fu Haifeng/Cai Yun (2006); Korea melalui Park Joo Bong/Kim Moon Soo (1985 dan 1991) dan Kim Dong Moon/Ha Tae Kwon (1999); serta Denmark dari Steen Faldberg/Jasper Helledie (1983) dan Lars Paaske/Jonas Rasmussen (2003).

Putri Masih Bercapkan China

Nomor-nomor putri telah menjadi trademark China. China meraih dua belas kali juara dunia tunggal putri melalui delapan pemainnya yaitu Li Lingwei, Han Aiping, Tan Jiuhong, Ye Zhaoying, Gong Ruina, Zhang Ning, Xie Xingfang dan Zhu Lin. Hanya Indonesia dan Denmark yang bisa menyelah pemain-pemain China tersebut. Indonesia menjadi juara dunia melalui Verawati Fajrin (1980) dan Susi Susanti (1993) sedangkan Denmark melalui Lenne Koppen (1977) dan Camilla Martin (1999).

Keperkasaan China juga ditunjukkan pada nomor ganda putri dengan lima belas kali juara dunia. Bahkan sejak China mulai ikut serta sejak tahun 1983 sampai dengan penyelenggaraan terakhir dua tahun lalu, hanya sekali saja gelar juara dunia dicuri negara lain. Itu terjadi pada tahun 1995 ketika gelar juara jatuh ke tangan pasangan Korea Selatan Gil Young Ah/Jang Hye Ock.

Tahun ini, India akan menjadi saksi apakah duel China dan Indonesia kembali terjadi dan sektor putri masih bernuansa China. Yang pasti, negara-negara lain juga bersiap diri untuk menghadapi keperkasaan Indonesia dan China.

Rekor


KOLOM HENDRI KUSTIAN
copy dari Majalah Jurnal Bulutangkis Edisi I

REKOR

Mengejar rekor sedang menggeliat di tanah air. Gejala ini semakin marak sejak dibentuknya Museum Rekor Indonesia (MURI). Berbagai rekor lebih banyak meliputi bidang sosial kemasyarakatan. Elemen masyarakat dan institusi berlomba-lomba membuat rekor seperti masak nasi goreng terbanyak, kue terbesar dan ter-ter lainnya. Pemecahan bermacam-macam rekor menjadi kebanggaan tersendiri bagi yang dapat mencapainya.

Bidang olahraga sudah sepatutnya menggagas Museum Rekor Olahraga Indonesia. Rekor prestasi olahraga Indonesia belum terdata dengan baik terutama untuk olahraga permainan seperti bulutangkis. Padahal dunia saja mencatat seorang pebulutangkis Indonesia, Rudy Hartono dalam buku Guiness Book of Record atas prestasi-nya sebagai pemain tunggal putra terbanyak menjuarai turnamen All England. Rekor lain yang sempat dikenal daalam dunia perbulutangkisan adalah rekor kecepatan smash. Pemegang rekor tersebut adalah pemain ganda putra China dengan kecepatan 332 km / jam yang dibuatnya pada Piala Sudirman tanggal 3 Juni 2005. Khusus untuk tunggal putra rekor kecepatan smash milik Taufik Hidayat dengan kecepatan 305 km / jam.

Menjelang digelarnya turnamen bulutangkis Indonesia Open membuat saya tertarik untuk menggali rekor turnamen ini. Rekor yang paling mudah dilihat amati adalah pemegang gelar juara terbanyak. Ada lima nama pemain yang perolehan gelarnya sama. Mulai dari singelar Ardi Wiranata meraih juara tahun 1990, 1991, 1992, 1994, 1995 dan 1997. Prestasi Ardi bersaing dengan yuniornya Taufik Hidayat yang menjadi juara tahun 1999, 2000, 2002, 2003, 2004 dan 2006. Nomor tunggal putri diwakili Susi Susanti yang memenangkan Indonesia terbuka tahun 1989, 1991, 1994, 1995, 1996 dan 1997. Dua nama lagi merupakan pasangan ganda campuran Trikus Haryanto / Minarti Timur yang juara lima kali berturut-turut tahun 1995-1999. Trikus melengkapi menjadi enam gelar setelah juara ganda campuran 2001 berpasangan dengan Emma Ermawati. Sedangkan Minarti Timur menambah gelarnya setahun kemudian bersama Bambang Suprianto. Dari lima pemain dengan perolehan gelar juara yang sama tersebut, hanya Taufik Hidayat yang berpeluang memecahkan rekor meraih gelar juara terbanyak dari pemain lainnya. Hal ini disebabkan pemain-pemainnya lainnya sudah gantung raket.

Ivana Lie membuat rekor tersendiri sebagai pemain pertama yang mampu juara di tiga nomor sekaligus. Walaupun tidak dalam tahun yang sama, Ivana Lie menjuarai tunggal putri, ganda putri dan ganda campuran. Juara tunggal putri diperolehnya pada tahun 1983 sekaligus Ivana Lie merebut juara ganda campuran berpasangan dengan Christian Hadinata. Sedangkan gelar ganda putri dicatatnya pada tahun 1996 bersama Verawati Pajrin. Prestasi Ivana tersebut hanya mampu diikuti oleh satu pemain saja selama 17 tahun penyelenggaraan Indonesia Open. Pemain tersebut adalah rekannya sendiri Verawati yang sebelum meraih juara ganda putri bersama Ivana, telah meraih juara tunggal putri tahun 1982. Verawati melengkapi koleksi juara pada nomor ganda campuran tahun 1989 berpasangan dengan Eddy Hartono.

Sebenarnya banyak rekor yang bisa digali dari sebuah turnamen seperti Indonesia Open. Sebagai contoh rekor pemain tampil paling sering, pertandingan terlama, pertandingan tercepat, pemakaian suttle cock terbanyak dalam satu pertandingan dan masih banyak lagi. Rekor-rekor tersebut sebagaimana rekor-rekor dalam bidang lain bukan sekedar pencatatan belaka. Terdapat nilai kebanggaan atas sebuah rekor prestasi bagi sang pemain. Sedangkan bagi penonton dan penggemar, rekor menimbulkan rasa penasaran tersendiri untuk pecahnya rekor berikutnya. Jadi minat penggemar bulutangkis bisa dipancing dari sisi ini. Semoga diwaktu yang akan datang terdapat sebuah lembaga yang melakukan pencatatan dan penilaian terhadap rekor-rekor dari arena bulutangkis.

Thursday, April 23, 2009

Dedikasi Sang Legenda Buat Ganda Putra Indonesia

Sang legenda hidup bulutangkis Indonesia, Chandra Wijaya memperkenalkan turnamen khusus ganda putra pada jumpa pers rabu 15 April 2009. Turnamen berlabel "Candra Wijaya Men's Double Championship" yang berhadiah total 200 juta ini merupakan turnamen Internasional pertama khusus ganda putra. Chandra Wijaya menggelar turnamen ini sebagai sumbangsih tiada henti bagi perbulutangkisan Indonesia agar tetap berprestasi. Tiga kelompok yang dipertandingkan yaitu kelompok dewasa, taruna (U-19) dan remaja (U-16). Pentas ini rencananya akan diramaikan oleh beberapa nama terkenal seperti pasangan Taufik Hidayat / Flandy Limpele dan Alven Yulianto / Hendra Gunawan serta diikuti pula pemain dari Singapura, Malaysia, Jepang, India dan Ceska.

Berbicara khusus ganda putra, Kolom HK pada situs ini pernah membahas khusus dimana nomor ini telah memberikan prestasi luar biasa bagi negeri ini. Tiga dari enam emas olimpiade Indonesia persembahan dari sabetan raket pasangan ganda putra melalui Ricky Subagya / Rexy Mainaky (1996), Candra Wijaya / Tony Gunawan (2000) dan Markis Kido / Hendra Setiawan (2008). Hal serupa terjadi diarena bergengsi lainnya Kejuaraan dunia dimana ganda putra telah meraup tujuh kali juara dunia yang lebih banyak dibandingkan tunggal putra dengan lima kali juara dunia. Demikian pula dari arena All England dimana ganda putra telah menyumbangkan 17 gelar juara untuk Indonesia yang berarti lebih banyak dari tunggal putra dengan 15 kali. Diantara para juara tersebut tercatat nama Tjun Tjun / Johan Wahyudi yang meraih enam kali juara All England plus juara dunia tahun 1977. Pasangan lainnya Christian Hadinata / Ade Chandra menjuarai dua kali All England dan menjadi juara dunia tahun 1980. Kedua pasang legendaris Indonesia akan mendapat penghargaan khusus dari panitia turnamen ini.

Candra Wijaya sendiri sebagai pemain andalan ganda putra Indonesia telah mempersembahkan prestasi luar biasa buat negeri ini. Hampir semua gelar bergengsi sudah digengamnya mulai dari Olimpiade, kejuaraan dunia, All England, Asian Games, Grand Prix Final, Indonesia terbuka, China terbuka dan turnamen terbuka lainnya. Gelar-gelar Internasional Candra diperoleh tidak hanya dari satu pasangan. Ini menjadi penegas bahwa Candra spesialis ganda yang bisa dipasangkan dengan siapa saja. Tercatat nama-nama seperti Ade Sutrisna, Sigit Budiarto, Tony Gunawan dan Halim Haryanto pernah menjadi mitra Candra dalam meraih gelar Internasional. Belum lagi pemain-pemain lainya yang dipasang even lainnya seperti bersama Markis Kido di Piala Sudirman dan Nova Widianto di Piala Thomas. Prestasi dan pengalaman Candra inilah yang merupakan modal dasar baginya untuk ikut memajukan kelanjutan prestasi ganda putra Indonesia yang dimulai dari "Candra Wijaya Men's Double Championship". Bahkan Candra berencana mendirikan pusat pelatihan dan pendidikan atlet bulutangkis Internasional atau Candra Wijaya Internasional Badminton Centre (CWIBC).

Kembali pada pembahasan "Candra Wijaya Men's Double Championship" yang menurut Candra salah satunya didedikasikan untuk mengangkat gengsi nomor ganda putra sejajar dengan nomor tunggal. Belajar dari berhasilnya kesetaraan hadiah antara nomor putra dengan putri, suatu saat diharapkan hadiah nomor ganda bisa setara dengan nomor tunggal. Sebenarnya untuk kasus di Indonesia, nomor ganda putra lebih banyak dimainkan masyarakat umum. Demikian juga dengan turnamen-turnamen skala lokal dan amatir yang lebih banyak memainkan nomor ganda. Terobosan Candra menggelar turnamen khusus ganda putra ini merupakan cerminan dari budaya bulutangkis di negara ini.

Pada penyelenggaraan tahun-tahun berikutnya Candra mencanangkan turnamen ini menjadi bagian dari kalender BWF. Disamping mengejar poin tersebut, kolom HK mengusulkan Candra membuat terobosan baru dengan menggelar nomor khusus dengan memasangkan pemain-pemain kelompok usia yang berbeda. Misalnya seorang pemain dewasa wajib berpasangan dengan pemain taruna selain mereka mengikuti nomor kelompok umurnya masing-masing dengan pasangan tetap-nya. Nomor khusus ini dimaksudkan untuk mengangkat level permainan para pemain yang lebih muda ke tingkat yang lebih tinggi. Ini terinspirasi dengan model yang sudah berhasil ketika Liem Swie King yang sempat berjaya bersama yuniornya Eddy Hartono. Demikian pula ketika Eddy Hartono sukses dengan pemain yang lebih muda lagi Rudy Gunawan dan dilanjutkan dengan Rudy Gunawan dengan Bambang Suprianto. Tidak sampai disitu Bambang sempat juara dengan pemain angkatan dibawahnya Trikus Hariyanto. Bahkan Cina sesekali memecah ganda terkuatnya saat ini Fu Haifeng / Cai Yun untuk mengangkat level permainan Cheng Xu dan Shen Ye.

Dari berbagai ulasan diatas yang paling menarik tentu-nya adalah menunggu penyelenggaraan turnamen ini sendiri. Gedung Asia Afrika Senayan Jakarta pada tanggal 29 April - 2 Mei 2009 akan menjadi saksi dedikasi seorang legenda bulutangkis Indonesia dalam bentuk lain. Semoga penyelenggaraan turnamen ini akan menjadi pemicu prestasi bulutangkis Indonesia secara umum maupun nomor ganda putra secara khusus.

Hendri Kustian
hendri_kustian@yahoo.com

Olimpiade Yunior dan Klub Djarum Kudus

Atlet-atlet yunior akan menghadapi tantangan baru. Sebuah pesta akbar antar atlet yunior terbaik dunia akan terjadi pada Youth Olympic Games 2010. Event multi cabang yang diterjemahkan sebagai Olimpiade Yunior akan menggelar edisi perdana di negeri tetangga Singapura. Diperkirakan lebih dari 3500 atlet dari 205 negara akan menjadi peserta.

Bulutangkis sebagai cabang yang dipertandingkan pada olimpiade 2012 di London berhak menjadi salah satu cabang peserta Olimpiade Yunior. Tetapi dalam olimpiade yunior hanya dua nomor yang memperebutkan medali yaitu tunggal putra dan tunggal putri. Peserta masing-masing nomor akan diisi oleh 32 atlet yang lolos kualifikasi. Pemain yang bisa berlaga pada cabang bulutangkis dibatasi atlet kelahiran 1 Januari 1992 sampai 31 Desember 1993. Kualifikasi sendiri dihasilkan dari hasil turnamen continental untuk masing-masing benua dan kejuaraan dunia yunior. Bagi Indonesia perebutan tempat mulai dari Kejuaraan Yunior Asia 2010. Pada turnamen ini peringkat terbaik masing-masing negara otomatis lolos dengan catatan untuk Asia dibatasi lima pemain terbaik. Peluang berikutnya untuk meloloskan pemain melalui kejuaraan dunia Yunior 2010. Pada kejuaraan dunia yunior ini, setiap negara berpeluang memperoleh jatah maksimal 2 pemain per nomor untuk setiap negara dengan catatan kedua pemain tersebut berhasil masuk peringkat 1 sampai 7.

Indonesia sebagai negara besar dalam bulutangkis tentu berharap meraih medali pada cabang ini. Apalagi Indonesia merupakan satu-satunya negara yang selalu meraih medali emas bulutangkis sejak cabang ini resmi dipertandingkan Olimpiade Barcelona 1992. Dengan kebesaran nama-nya itu sudah sepantasnya Indonesia menjejakkan tradisi emas pada Olimpiade Yunior. Namun untuk mencapainya bukanlah seperti membalikkan telapak tangan. Sudah 16 tahun lamanya, pemain Indonesia tidak pernah lagi meraih gelar juara dunia yunior. Terakhir Indonesia meraihnya pada tahun 1992 melalui Kristin Yunita (tunggal putri) dan Santoso / Kusno (ganda putra). Pada penyelenggaraan terakhir tahun lalu, hasil terbaik pemain Indonesia hanya sebagai semifinalis ganda putri melalui pasangan Aneke Feinya / Annisa Wahyuni. Sementara itu pada ajang kejuaraan yunior Asia sepanjang 10 tahun terakhir, hanya empat gelar yang diboyong ke bumi pertiwi. Empat gelar tersebut dipersembahkan Hendry Saputra / Enny Erlangga (ganda campuran, 1999), Ardiansyah (tunggal putra, 2001), Markis Kido / Lilyana Natsir (ganda campuran, 2002) dan Dilli Pusupita Richi / Debby Susanto (ganda putri 2007). Sedangkan pada gelaran terakhir 2008, Indonesia mencatat prestasi menyedihkan karena tidak satu-pun pemainnya mampu menembus babak perempat final.

Prestasi yang kurang mentereng dari pemain-pemain yunior Indonesia dalam beberapa tahun terakhir cukup menyedihkan. PBSI memang sudah mencanangkan pelatnas Pratama di Magelang untuk menggemleng pemain menghadapi Olimpiade Yunior, akan tetapi belum terdengar realisasinya. Pada sisi lain klub Djarum Kudus yang sangat memperhatikan prestasi pebulutangkis Indonesia, telah membawa pemainnya berlaga dalam turnamen yunior di Eropa. Dua ajang diikuti pada awal Maret ini yaitu Yunior Dutch Open dan Yunior German Open. Pada ajang yang pertama Djarum membawa pulang dua gelar juara melalui Muhammad Ulinuha / Gerry Angriawan (ganda putra) dan Muhammad Ulinuha / Jenna Gozali (ganda campuran). Kemudian Muhammad Ulinuha / Gerry Angriawan melengkapinya dengan gelar ganda putra Yunior German Open.

Keikutsertaan Djarum pada laga Eropa sangat bernilai positif bagi pemain-pemain muda menimbah pengalaman bertanding. Akan tetapi bila dihubungkan dengan Olimpiade Yunior maka Klub Djarum perlu mengikutkan pemain-pemain yang punya peluang pada event tersebut. Memang PB Djarum mengikut sertakan dua pemain tunggal putri dan tiga tunggal putra pada tur ini yaitu Risca Meisiani, Ayu Wanda Wulandari, Kho Hnedriko Wibowo, Arif Gifar Ramadhan dan Riyanto Subagja. Namun hanya Risca dan Riyanto yang memenuhi persyaratan tahun kelahiran yang dapat berlaga di Olimpiade yunior (tahun lahir 1992-1993). Kho dan Arif kelahiran tahun 1994, sedangkan Ayu kelahiran tahun 1991. Prestasi Riyanto sendiri pada dutch open sampai babak 1/4 final setelah kalah dari Iskandar Zulkarnain Zainuddin (MAS) 21-17 16-21 11-21 dan babak 1/8 final german open setelah takluk dari Ji Wook Kang (KOR) 18-21 13-21. Sedangkan Risca di tunggal putri dihentikan di babak ketiga Yunior Dutch Open oleh Lianne Tan (BEL) 18-21 20-22 dan babak pertama Yunior German Open oleh So Hee Lee (KOR) 16-21 21-12 17-21.

Berdasarkan catatan prestasi tersebut masih diperlukan kerja keras bagi klub Djarum khususnya maupun PBSI secara keseluruhan untuk meningkat kemampuan atletnya dalam menghadapi Olimpiade Yunior ini. Klub Djarum sebagai gudangnya pemain yunior diharapkan dapat menjadi pelopor. Meskipun kualifikasi sendiri baru digelar tahun depan tetapi pemain-pemain yunior Indonesia harus menempa pengalaman internasional agar kemudian bisa diandalkan untuk lolos ke Olimpiade Yunior sekaligus mempersembahkan medali dalam even tersebut.

Hendri Kustian
(hendri_kustian@yahoo.com)

Thursday, January 15, 2009

Pertamina dan Bulutangkis Menuju Kebanggaan Bangsa


Awal tahun 2009 ini, Pertamina memberikan sumbangsihnya kepada perbulutangkisan Indonesia dengan menggelar sebuah turnamen terbuka. Turnamen dengan label Pertamina Open ini diselenggarakan untuk kedua kalinya. Usia turnamen yang tergolong balita ini memperebutkan hadiah total 200 juta. Ketika menyaksikan partai final Pertamina Open, saya mencatat beberapa hal yang menarik.

Pertama, kesediaan Direktur Utama Pertamina dan direksi lainnya hadir menyaksikan partai final sekaligus penutupan turnamen. Hal ini menjadi menarik karena di tengah kesibukan yang cukup tinggi dan tuntutan masyarakat akan peningkatan kinerja Pertamina, Pejabat Pertamina tetap menyempatkan diri memperhatikan olahraga kebanggaan bangsa yaitu bulutangkis.

Yang kedua, pernyataan dari pihak Pertamina yang berkomitmen membantu kemajuan prestasi bulutangkis Indonesia. Sebuah kabar gembira disaat kesulitan dana PBSI dalam mengirimkan pemainnya keluar negeri. Seandainya saja logo Pertamina tertempel di kaos pemain sebagai salah satu sponsor pemain Pelatnas maka akan menjadi kebanggaan tersendiri. Sebagaimana tim nasional malaysia yang selalu yang selalu didukung perusahaan nasionalnya, Proton dalam setiap aksi di lapangan pertandingan. Kalau mau lebih jauh lagi Pertamina bisa mengejar aksi perusahaan sejenis di negeri Jiran, Petronas yang menjadi sponsor event-event besar olahraga dunia. Kalau Pertamina memang berniat ke arah itu berarti untuk mencapai-nya maka terdapat sebuah semangat agar Pertamina sebagai perusahaan bisa satu level dengan perusahaan seperti Petronas.

Yang ketiga, Pertamina bertekad konsisten menggelar turnamen ini setiap tahun dan meningkatkan kualitasnya. Suatu hal yang positif dimana pemain-pemain muda bisa menempah diri dalam berbagai turnamen dalam negeri. Terpuruknya prestasi pemain yunior Indonesia baik tingkat Asia maupun dunia dituding karena kurangnya pengalaman bertanding. Maka dengan semakin berkualitas dan meningkatnya kuantitas turnamen dalam negeri bisa menjadi solusinya. Bahkan diharapkan lebih banyak perusahaan-perusahaan yang menggelar turnamen sebagai wujud tanggung jawab sosial kepada bangsa. Perusahaan-perusahaan itu diharapkan menyisihkan sebagian program marketing dan CSR (Corporate Social Responsibility) pada bulutangkis. Sejauh ini baru beberapa perusahaan saja yang melakukan hal tersebut antara lain turnamen Gudang Garam Jawa Pos, Tangkas Alfamart, Astec Open atau Djarum yang tahun lalu menjadi sponsor utama Indonesia Open Super Series.

Dari arena pertandingan sendiri, pada kelompok dewasa terlihat pemain dan mantan pemain pelatnas masih terlalu tangguh buat pemain muda. Sebagai contoh, meskipun tampil sebagai pasangan dadakan Flandy Limpele / Sigit Budiarto berhasil menjadi juara ganda dewasa putra setelah mengalahkan Ade Lukas / Hadi Saputra 21-11 21-17. Kiprah pasangan muda yang sempat melaju babak 16 besar Indonesia Open tahun lalu, Albert Saputra / Rizky Yanu terhenti di semi final juga dari Flandy / Sigit dengan pertarungan ketat 16-21 21-13 21-12. Demikian pula di nomor tunggal, pemain muda Djarum, Dionysius Hayom Rumbaka yang mempunyai kelebihan smash yang keras ternyata belum mampu mengatasi pemain yang lebih senior, Ahmad Rivai. Pertarungan final tersebut dimenangkan Rivai dengan mudah 21-13 21-9. Jika dibandingkan dengan pemain seusia para yunior Indonesia seperti Saina Nehwal (India) atau Yao Lei (Singapura) yang sudah mencetak prestasi di arena senior maka hasil Pertamina Open bisa menjadi tolak ukur prestasi pemain muda Indonesia. Tetapi dengan kehadiran para senior untuk menghadang pemain muda merupakan tantangan tersendiri buat pemain muda dan semakin menambah pengalaman mereka. Inilah sisi positif lainnya dari turnamen seperti Pertamina Open ini.

Dalam turnamen yang dikomandani mantan bintang bulutangkis Rosiana Tendean ini juga menghadirkan pertandingan eksebisi antara ketua MPR Hidayat Nur Wahid dengan pasangan dari Pertamina melawan Wakil ketua umum PBSI Sabar Yudho yang juga dipasangkan dengan pemain dari pertamina. Dihadapan para penonton para pejabat tersebut melakukan pertandingan dengan serius. Kepedulian mereka bukan hanya dalam tataran kebijakan saja tetapi juga dalam masalisasi bulutangkis itu sendiri. Bahkan Bapak Hidayat Nur Wahid pernah menggelar turnamen sendiri, Hidayat Nur Wahid Open. Memang pak Hidayat tidak sendiri, tokoh nasional lainnya seperti Megawati dan Sutiyoso pernah menggelar acara serupa. Terlepas dari masalah politik, terjunnya tokoh-tokoh nasional ke bulutangkis menjadi poin tersendiri. Apalagi seperti kita ketahui banyak tokoh lebih memilih mengurus sepak bola yang lebih mendatangkan banyak massa.

Kembali pada Pertamina Open, seperti dibahas sebelumnya publik bulutangkis berharap Pertamina berperan lebih besar dalam memajukan bulutangkis Indonesia. Sama seperti harapan publik agar Pertamina lebih maju sebagai perusahaan milik negara. Kalau negara tetangga sangat bangga dengan bulutangkis dan Petronas-nya maka sudah saatnya Indonesia mempunyai kebanggaan terhadap bulutangkis dan Pertamina.

Hasil Lengkap Final Pertamina Open 2009

Tunggal Remaja Putra : Ari Jauhari (Tangkas Alfamart) - Putra Eka (Jaya Raya) 21-18 21-12
Tunggal Remaja Putri : Sella Devi Aulia (Jaya Raya) - Anggia Sitta (Jaya Raya) 21-17 21-18

Tunggal Taruna Putra : Evert Sukamta (Tangkas Alfamart) - Tunggul Mursito (Aufa) 23-21 21-10
Tunggal Taruna Putri : Renna Suwarno (Jaya Raya) - Novalia (Tangkas Alfamart) 21-9 21-7
Ganda Taruna Putra : M. Ulinuha / Berry Angriawan (Djarum) - Alvin Iqsandy / Didit (Djarum) 21-17 21-17
Ganda Taruna Putri : Claudia Ayu / Della Destiara (Jaya Raya) - Ganis / Gebby (Ratih/ Ragunan) 21-11 21-14

Tunggal Dewasa Putra : Achmad Rivai (Ratih) - Dionisius Hayom (Djarum) 21-13 21-9
Tunggal Dewasa Putri : Bellaetrix Mannuputy (Jaya Raya) - Yuli Marpuah (SGE) 21-12 21-16
Ganda Dewasa Putra : Flandy Limpele / Sigit Budiarto (SGE/Djarum) - Ade Lukas / Hadi Saputra (MFP) 21-11 21-17
Ganda Dewasa Putri : Devi Tika P / Kesha (SGE) - Anneke Feinya / Wenny S (Jaya Raya) 21-8 21-23 21-19

Ganda Veteran A : Reony Mainaky / Effendy (MFP) - Didin Rahmat / Tatang Mulyana (KTB) 21-14 21-16
Ganda Veteran B : Imam / Bambang Setiaji (Pertamina) - Yoyada / Bambang (Pertamina) 21-14 20-22 22-20

Sumber hasil pertandingan : Panita Turnamen Pertamina Open

PEMAIN TERBAIK 2008



Seperti tahun sebelumnya, Kolom HK yang dimuat beberapa web site memilih pebulutangkis terbaik. Metode yang digunakan adalah menghitung perolehan gelar juara dari sang pemain dengan mengurutkan level turnamen yang dijuarai tersebut. Sebenarnya menentukan pemain terbaik dilakukan banyak cara seperti pooling atau dari rangking dunia. Penentuan dari pooling memiliki kelemahan karena terkadang faktor popularitas lebih menentukan ketimbang prestasi. Sedang sistem rangking dalam bulutangkis memiliki kelemahan karena tidak di hitungnya nilai beberapa turnamen seperti super series master dalam sistem ranking dunia versi BWF.

Pada bagian putri, pemain China Yu Yang menempati urutan terbaik. Sepanjang tahun 2008 Yu Yang meraih medali emas Olimpiade di nomor ganda putri dan perunggu di ganda campuran. Pada ajang Super series, Yu Yang menjadi juara sebanyak 6 kali ditambah satu gelar juara Grand Prix Gold. Bersama dengan pasangannya Du Jing, Yu Yang menjuarai ganda putri Korea Open SS, Singapore Open SS dan France Open SS. Sedangkan gelar juara ganda campuran bersama He Hanbing disabet pada Malaysia Open SS, Swiss Open SS, France Open SS dan GPG India Open. Yu Yang menjadi salah satu andalan tim bulutangkis China ketika merebut Piala Uber di Jakarta.

Peringkat kedua putri ditempati pemain Korea Lee Hyo Jung yang meraih medali emas ganda campuran dan medali perak ganda putri Olimpiade. Selain itu Lee Hyo Jung juga meraih juara di turnamen super series sebanyak tiga kali dan grand prix dua kali. Gelar-gelar itu diperoleh di dua nomor yaitu ganda putri dengan Lee Kyung Won dan ganda campuran bersama Lee Yong Dae. Menyusul ditempat ketiga pemain China Du Jing. Pemain yang hanya tampil di nomor ganda putri ini merupakan pasangan Yu Yang. Du Jing meraih satu emas Olimpiade, tiga kali juara super series dan anggota tim juara Piala Uber. Pemain terbaik keempat disematkan pada Zhang Ning. Pemain yang diakhiri karir di tahun 2008 meraih prestasi yang mengagumkan dengan merebut medali emas Olimpiade dua kali berturut-turut tahun 2004 dan 2008. Konsistensi pemain yang sudah senior ini patut dicontoh pebulutangkis-pebulutangkis muda. Terakhir peringkat kelima menjadi milik Zhou Mi. Pemain yang mengaku sering dikorbankan untuk mengalah dari rekannya saat membela China ini, akhirnya hijrah ke Hongkong. Kepindahan ke Hongkong membuat prestasi-nya kembali mencuat hingga menempati peringkat satu BWF nomor tunggal putri. Gelar juara yang dikumpulkan Zhou Mi dengan menjuarai Super Series Master, Korea Open SS, China Master SS, GPG India Open, GPG Macau Open dan GP New Zealand Open

Pada bagian putra, posisi teratas milik pemain muda Korea Selatan Lee Yong Dae. Peraih emas ganda campuran olimpiade ini membawa Korea Selatan menembus final Piala Thomas Cup untuk pertama kali sepanjang sejarah. Selain Emas Olimpiade dan runner up Piala Thomas, Yong Dae berhasil mendapatkan lima gelar juara Super Series (MD All England, MD Swiss, MD Hongkong, MD China, XD China dan XD Korea), 1 GPG (MD Asian Championships), 1 GP (XD German Open) dan 1 Challenge (MD Korea Challenge). Yong Dae berprestasi di ganda campuran bersama Lee Hyo Jung dan ganda putra dengan Jung Jae Sung. Jung Jae Sung sendiri ditempatkan di posisi kelima terbaik dunia tahun ini dengan perolehan empat gelar juara super series, satu grand prix gold dan satu Challenge series yang semuanya bersama Yong Dae.

Terbaik kedua dan ketiga pada bagian putra ditempati bersama oleh pasangan Markis Kido / Hendra Setiawan. Selama tahun 2008 ini kedua selalu mencatat prestasi bersama. Kido / Hendra menjadi pahlawan Indonesia dengan mempertahankan tradisi emas olimpiade buat bangsa tercinta. Kido / Hendra juga meraih juara super series di tiga turnamen berturut-turut dari empat gelar yang dicapai tahun ini. Awal tahun Kido / Hendra menjuarai Malaysia Open dan kemudian tiga gelar berturut-turut tersebut diraih pada China Master, Denmark Open dan France Open. Peringkat keempat tahun ini disandangkan ke pemain China, Lin Dan. Pemain yang dijuluki super Dan ini akhirnya melengkapi semua gelar yang dimilikinya dengan medali emas Olimpiade tunggal putra. Meskipun jarang diturunkan bertanding, Lin Dan sempat mencicipi gelar juara lainnya yaitu Swiss Open SS, China Open SS dan GPG Thailand Open.

Untuk tingkat nasional, metode yang dipakai untuk menentukkan yang terbaik berdasarkan prestasi di ajang turnamen Internasional. Peringkat dua teratas bagian putra sudah tentu milik Markis Kido / Hendra Setiawan yang prestasi nya termasuk lima besar dunia. Menyusul diperingkat ketiga Sony Dwi Kuncoro yang menciptakan hatrik di ajang super series. Sony menjuarai Indonesia Open, Japan Open dan China Open. Peringkat keempat menjadi milik Nova Widianto yang meraih perak Olimpiade dan juara Singapore Open SS nomor ganda campuran. Tahun 2008 ini Nova yang berpasangan dengan Lilyana Natsir lebih banyak terjebak sebagai runner up. Selain runner up Olimpiade, mereka juga menjadi runner up All England SS, Japan Open SS, China Master SS dan GPG Asia Championships. Bahkan di GPG Asia Championships, Nova tidak hanya runner up di ganda campuran tetapi juga di ganda putra bersama Chandra Wijaya. Pencapaian Muhamad Rizal meraih juara Japan Open SS saat pertama kali berpasangan dengan Vita Marissa menempatkannya meraih posisi kelima.

Untuk pemain nasional bagian putri, pemain nomor satu menjadi milik Lilyana Natsir. Selain berprestasi bersama Nova Widianto, Lilyana juga mencatat prestasi dinomor ganda putri bersama Vita Marissa dengan menjuarai Indonesia Open. Vita Marissa sendiri ditempatkan di posisi kedua. Selain juara Indonesia Open, Vita menjadi juara Japan Open bersama. M. Rizal dan GPG Asian Championships bersama Flandy Limpele. Peraih perunggu Olimpiade, Maria Kristin menempati posisi ketiga. Maria telah menunjukkan prestasi mengesankan pada ajang Olimpiade dan Indonesia Open SS. Meskipun tidak diunggulkan, Maria berhasil mengalahkan pemain-pemain besar dunia dan kemudian merebut salah satu medali olimpiade dan menembus final Indonesia Open SS. Tempat keempat diberikan kepada Lita Nurlita. Meskipun secara kualitas individu masih dibawah pemain lainnya seperti Greysia Polii tetapi secara prestasi Lita mampu merebut gelar juara turnamen sekelas Grand Prix Gold di Taipei Open. Lita bersama pasangan Devin Lahardi melengkapi gelar juara GPG Taipei Open dengan medali emas PON. Terakhir di peringkat kelima menjadi milik Shendy Puspa. Pemain yang lebih banyak dikirim oleh klub Djarum ini, meraih dua gelar juara Grand Prix di turnamen yang sama, Vietnam Open. Nomor ganda putri di juarai-nya bersama Meliana Jauhari dan ganda campuran berpasangan dengan Ahmad Tantowi. Di ajang Grand Prix lainnya Shendy bersama Meliana berturut-turut menjadi runner up di GP Bittburger Open, GP Bulgaria Open dan GP Dutch Open. Bahkan di Bulgaria Open dan Dutch Open, Shendy juga meraih runner up di ganda campuran bersama Fran Kurniawan. Prestasi lain Shendy / Meliana di ganda putri adalah menembus semi final turnamen super series di Indonesia. Pada level yang lebih rendah Shendy / Meli juara di beberapa turnamen Challenge seperti Polish Open, Spanish Open, Touluse Open dan Indonesia Challenge. Untuk ganda campuran Shendy bersama Fran Kurniawan menjuarai turnamen Challenge di Finnish Open, Toulose Open dan Indonesia Challange.

Seperti tahun sebelumnya dipilih best of the best dunia dan Indonesia. Untuk tingkat dunia pemain terbaik putra Lee Yong Dae lebih mengungguli perolehan gelar juara dari pemain terbaik putri Yu Yang. Dengan alasan tersebut Kolom HK memilih Lee Yong Dae sebagai pemain terbaik dunia 2008 menggantikan yang terbaik 2007 Gao Ling (Baca Kolom HK : Pemain Tebaik 2007). Sedangkan untuk tingkat Indonesia peraih emas Olimpiade Markis Kido dan Hendra Setiawan tidak terbantahkan menjadi yang terbaik sepanjang 2008. Mereka menggeser pemain putri Indonesia nomor satu 2008 sekaligus pemain terbaik 2007, Lilyana Natsir. Akhirnya, seperti disampaikan tahun-tahun sebelumnya bahwa pemilihan ini bisa berbeda-beda tergantung cara penilaian dan analisa dalam menentukkannya.

Rangkuman :

Pemain Dunia Terbaik Putra :
1. Lee Yong Dae, KOR (1 emas Olimpiade, 6 juara SS, 1 juara GPG, 1 juara GP, 1 juara Challenge)
2-3. Markis Kido dan Hendra Setiawan, INA ( 1 emas olimpiade dan 4 juara SS)
4. Lin Dan, CHN (1 emas Olimpiade, 2 juara SS dan 1 juara GPG)
5. Jung Jae Sung, KOR (4 juara SS, 1 juara GPG dan 1 juara Challenge)

Pemain Dunia Terbaik Putri :
1. Yu Yang, CHN (1 emas + 1 perunggu Olimpiade, 6 juara SS dan 1 juara GPG)
2. Lee Hyo Jung, KOR (1 emas + 1 perak Olimpiade, 3 juara SS dan 2 juara GP)
3. Du Jing, CHN (1 emas Olimpiade dan 3 juara SS)
4. Zhang Ning, CHN ( 1 emas Olimpiade)
5. Zhou Mi, HKG (1 Super series Master, 2 juara SS dan 1 juara GP)

Best of Best tingkat dunia : Lee Yong Dae (KOR)

Pemain Indonesia Terbaik Putra :
1-2. Markis Kido dan Hendra Setiawan ( 1 emas olimpiade dan 4 juara SS)
3. Sony Dwi Kuncoro (3 juara SS)
4. Nova Widianto (1 juara SS, perak Olimpiade, 3 runner up SS, 1 runner up SS Master, 2 runner up GPG)
5. Muhamad Rizal (1 juara SS)

Pemain Indonesia Terbaik Putri :
1. Lilyana Natsir (2 juara SS, perak Olimpiade, 3 runner up SS, 2 runner up SS Master, 1 runner up GPG)
2. Vita Marissa (2 juara SS, 1 juara GPG, 1 runner up SS dan 1 runner up SS Master)
3. Maria Kristin (Perunggu Olimpiade dan 1 runner up SS)
4. Lita Nurlita (1 juara GPG dan emas PON)
5. Shendy Puspa (2 juara GP, 7 juara Challenge dan 5 runner up GP)

Wednesday, December 3, 2008

Tahun Kedua Rangkaian Turnamen Superseries

Rangkaian turnamen bulutangkis bergengsi Superseries tahun 2008 berakhir. Dimulai dengan turnamen Malaysia Open pertengahan Januari dan diakhiri dengan Hongkong Open akhir November ini. Para pemenang tidak saja menambah pundi-pundi dolar mereka tetapi mencatatkan diri dalam sejarah perbulutangkisan antar bangsa. Enam puluh gelar juara telah dibagikan dari dua belas turnamen yang diselenggarakan. China kembali menjadi pengumpul juara terbanyak sepanjang tahun ini. Bila tahun lalu China meraih 38 gelar juara maka tahun ini terjadi penurunan menjadi 27 gelar juara atau 45 % dari total juara yang diperebutkan. Indonesia tetap berada di tempat kedua dengan 10 gelar juara yang berarti meningkat dari tahun lalu yang hanya 7,5 gelar juara. Ini berarti Indonesia meraih 17 % tempat juara pada tahun ini. Peningkatan prestasi juga dibuat tim Korea yang tahun ini meraih 8 gelar juara, padahal tahun lalu hanya dua gelar saja. Demikian juga dengan Denmark dari 2 juara tahun lalu menjadi 7 juara tahun ini. Penurunan justru dialami Malaysia yang tahun lalu meraih 7 gelar juara sedangkan tahun ini hanya 5 juara saja.

Pemain putra Korea Selatan Lee Young Dae dan pemain putri China Yu Yang menjadi pemain paling berprestasi dalam rangkaian Superseries tahun ini. Kedua pemain muda tersebut sama-sama mengumpulkan enam gelar juara. Lee Young Dae meraih juara ganda putra empat kali bersama Jung Jae Sung di All England, Swiss, China Open dan Hongkong. Dua gelar lainnya diraih pada nomor ganda campuran yang berpasangan dengan Lee Hyo Jung pada Korea dan China Open. Sedangkan Yu Yang meraih 3 gelar diganda putri bersama Du Jing dan 3 gelar di ganda campuran bersama He Hanbing. Nomor ganda putri dijuarai-nya pada Korea, Singapura dan Perancis sedangkan untuk ganda campuran pada Malaysia, Swiss dan Perancis Superseries. Bila juara diibaratkan dengan medali emas, runner up dengan perak dan semifinalis dengan perunggu maka Lee Young Dae menjadi yang terbaik. Lee Young Dae mengumpulkan 6 emas, 2 perak dan 1 perunggu. Bandingkan dengan Yu Yang yang meraih 6 emas, 1 perak dan 4 perunggu.

Sony Dwi Kuncoro mencatatkan diri sebagai pemenang tunggal putra terbanyak dengan tiga kali juara. Hebatnya Sony meraihnya pada tiga turnamen superseries berturut-turut pada Indonesia, Jepang, dan China Master superseries. Dibawah Sony terdapat 5 pemain yang masing-masing merebut dua gelar juara yaitu Lee Chong Wei (MAS), Lin Dan (CHN), Chen Jin (CHN) dan Peter Gade Christiansen (DEN). Satu gelar juara lagi diraih pemain Korea Lee Hyun Ill ketika turnamen digelar dinegaranya. Prestasi cukup baik ditunjukkan pemain Indonesia lainnya, Simon Santoso. Meskipun gagal meraih juara tetapi Simon berhasil menembus final pada dua seri saat bertanding di Singapura dan Indonesia SS. Pemain senior Indonesia Taufik Hidayat meraih final pertama-nya sepanjang seri superseries pada Perancis SS. Hal ini berarti Taufik baru mencapai final setelah 21 kali turnamen SS atau final satu-satunya selama dua tahun turnamen SS diselenggarakan.

Maria Kristin mencatat sensasi tersendiri bagi perbulutangkisan putri Indonesia. Maria meraih runner up Indonesia Open SS setelah ditaklukkan Zhu Lin (CHN). Sebelumnya Maria maju ke final setelah mengkandaskan dua pemain bintang Zhang Ning (CHN) di semifinal dan Zhou Mi (HKG) di perempatfinal. Prestasi Maria menjadi satu-satu bagi Indonesia untuk menembus empat besar sepanjang 24 kali turnamen SS yang sudah dilaksanakan dalam dua tahun ini. Pada nomor ini pemain Denmark, Tine Rasmussen menjadi peraih juara terbanyak dengan 3 kali juara (Malaysia, All England & Singapura). Menyusul pemain Hongkong Zhou Mi dengan dua gelar juara (Korea & China Master SS) dan Wang Lin dari China juga dengan dua kali juara (Denmark & Perancis SS). Sisa gelar juara dibagi rata masing-masing satu gelar buat empat pemain China (Xie Xingfang, Zhu Lin, Wang Yihan, Jiang Yanjiao) satu pemain Hongkong (Wang Chen).

Pasangan Indonesia Markis Kido / Hendra Setiawan dan pasangan Korea Lee Young Dae / Jung Jae Sung bersaing ketat menjadi yang paling berprestasi. Kedua pasangan sama-sama meraih empat kali juara. Kido / Hendra meraihnya pada Malaysia SS dan tiga kali berturut-turut pada China Master, Denmark dan Perancis SS. Pasangan lain yang berhasil juara adalah M. Zakry / M. Fairuzizuan dari Malaysia (Singapura & Indonesia SS), Lars Paske / Jonas Rasmussen dari Denmark (Jepang SS) dan andalan China Fu Haifeng / Cai Yun (Korea SS). Adik kandung Markis Kido, Bona Septano yang berpasangan dengan M. Aksan berhasil membuat kejutan ketika mencapai final Jepang SS. Sayangnya pasangan non-unggulan ini takluk dari Paske/ Rassmussen di final.

Nomor ganda putri masih didominasi China. Raihan terbanyak diraih Du Jing / Yu Yang dengan tiga kali juara. Disusul rekan-rekannya yang meraih dua gelar yakni Su Cheng / Zhao Yunlei, Yang Wei / Zhang Jiwen dan Zhao Tingting / Zhang Yawen. Indonesia, Malaysia dan Korea masing-masing mencuri satu gelar melalui Vita Marissa / Lilyana Natsir, Wong Pei Tty / Chin Eun Hui dan Lee Kyung Won / Lee Hyo Jung. Pasangan hasil rombakan pasca Olimpiade dari Indonesia Jo Novita / Rani Mundiasti berhasil menunjukkan taji-nya dengan menembus final Denmark Open SS.

Meskipun bertengger pada nomor satu dunia dalam beberapa bulan, pasangan Nova Widianto / Lilyana Natsir hanya meraih satu juara SS tahun ini. Nova / Lilyana menjuarai singapura SS serta menjadi runner up di All England, Jepang daan China Master SS. Pemain Indonesia lainnya M. Rizal yang pertama kali dipasangkan dengan Vita Marissa langsung menjadi juara pada turnamen pertamanya. Rizal / Vita menjuarai Jepang SS. Sayangnya setelah itu prestasi pasangan ini menurun. Pasangan China He Hanbing / Yu Yang menjadi peraih juara ganda campuran terbanyak dengan 3 gelar dan disusul pasangan Korea Lee Young Dae / Lee Hyo Jung yang meraih 2 gelar. Dua pasangan China lainnya juga meraih dua gelar juara yaitu Xie Xongbo / Zhang Yawen dan Zheng Bo / Gao Ling. Satu gelar lagi jatuh ke tangan pasangan Denmark Jaochim Fisher Nielsen / Christina Pedersen.

Pesta belum usai. Memang rangkaian superseries sudah diakhiri pada Hongkong Open. Tetapi sebuah turnamen bergengsi dengan hadiah terbesar dalam bulutangkis dunia disediakan dalam Final Superseries. Delapan peringkat teratas dan memenuhi kreteria lainnya berhak bertarung pada turnamen di Kinabalu, Malaysia tersebut. Bagi pemain yang gagal ke Final Superseries maka rangkaian tahun ketiga Superseries telah menunggu untuk mencari yang terbaik. Malaysia Open yang dilaksanakan bulan Januari 2009 akan menjadi awal arena pertarungan superseries tahun depan. Selamat mengejar prestasi buat pemain dunia di arena Superseries yang bergelimang hadiah.