Thursday, September 24, 2009

PERSAINGAN KLASIK INDONESIA DAN CHINA


KOLOM HENDRI KUSTIAN
Copy dari Majalah Jurnal Bulutangkis Edisi II

Kejuaraan dunia selalu menjadi pertaruhan gengsi negara-negara besar bulutangkis. Hasil yang dicapai negara-negara kuat bulutangkis bisa dijadikan tolak ukur keberhasilan dalam pembinaan atlet-atletnya. Fakta menunjukkan bahwa China dan Indonesia telah menunjukkan konsistensi pada perburuan gelar juara dunia. Keberhasilan kedua negara ini dapat dikatakan merupakan keberhasilan dalam melakukan regenerasi pembinaan pemainnya.

Jika ditotal, jumlah gelar yang dikumpulkan China dan Indonesia sebanyak 57 gelar atau sekitar 71 persen dari total gelar juara. Ini berarti hanya 29 persen gelar juara yang terselip dari kedua negara tersebut. Bahkan pada penyelenggaraan terakhir dua tahun lalu di Kuala Lumpur, Indonesia dan China tidak menyisakan gelar juara bagi negara lain. China unggul dengan tiga gelar juara, sedangkan Indonesia merebut dua gelar juara.

Persaingan antara Indonesia dan China ditunjukkan dari jumlah gelar juara dunia yang dikumpulkan. China unggul dalam pengumpulan gelar juara sebanyak 39 gelar juara sedangkan Indonesia memperoleh 18 gelar juara. Perolehan tersebut jauh diatas negara lain seperti Korea (9), Denmark (8,5) dan Inggris (2,5).

Beberapa negara yang sempat mencuri satu kali juara adalah Jepang, Amerika Serikat dan Swedia. Uniknya, Swedia memperoleh gelar juara tersebut dua kali di partai ganda campuran dimana atilt Swedia berpasangan dengan atlit non-Swedia. Sementara negara adidaya bulutangkis lainnya, Malaysia masih memendam rasa penasarannya karena belum pernah sekalipun menjadi juara dunia.

Pada nomor paling bergengsi tunggal putra, Indonesia dan China sama-sama mencatatkan enam nama pemainnya dalam daftar juara dunia. China diwakili oleh Han Jian, Yang Yang, Zhao Jianhua, Sun Jun, Xia Xuanze dan Lin Dan. Sedangkan Indonesia melalui Rudy Hartono, Icuk Sugiarto, Joko Suprianto, Hariyanto Arbi, Hendrawan dan Taufik Hidayat. Hanya terselip dua nama pemain Denmark, Flemming Delfs dan Peter Rasmussen di antara persaingan Indonesia dan China.

Walaupun secara jumlah, pemain Indonesia dan China sama banyaknya tetapi China lebih unggul dalam jumlah gelar. Peta pertarungan tahun 2009 ini menjadi menarik karena China dan Indonesia sama-sama berpeluang menorehkan pemain terbanyak meraih juara dunia tunggal putra. Peluang ini bisa diperoleh pemain yang sudah pernah juara dunia seperti Taufik Hidayat dan Lin Dan atau bisa juga dari pemain angkatan di bawahnya seperti Sony Dwi Kuncoro (Indonesia) atau Chen Jin (China). Tentunya di antara kedua negara itu terselip Malaysia yang berharap meraih gelar juara tunggal putra untuk pertama kalinya dari pemain nomor satu dunia, Lee Chong Wei.

Ganda campuran menjadi satu-satunya nomor dengan kekuatan dan regenerasi yang merata. China, Indonesia, Korea, Denmark, Swedia dan Inggris secara bergantian menjadi juara. Pada nomor ini Indonesia dan China bernasib sama dengan masing-masing tiga kali juara. Indonesia meraihnya melalui Christian Hadinata/Imelda Kurniawan (1980) dan Nova Widianto/Lilyana Natsir (2005 dan 2007). Sementara kubu China menikmatinya dari Wang Fengreng/Si Fangjing (1987), Li Yong/Ge Fei (1997) dan Zhang Jun/Gao Ling (2001). Pada nomor ini, Korea menjadi pengumpul juara terbanyak dengan lima gelar juara.

Ganda Putra, Kekuatan Indonesia selama Bertahun-tahun
Indonesia mempunyai keunggulan dalam regenerasi nomor ganda putra. Tujuh pasang ganda Indonesia berhasil menjadi juara dunia setelah mengungguli China dan Korea . Keperkasaan Indonesia di nomor ini seperti sudah melegenda. Siapa yang tidak kenal kehebatan para juara dunia merah-putih ini? Sebutlah, Tjun Tjun/Johan Wahyudi (1977), Christian Hadinata/Ade Chandra (1980), Ricky Subagja/Rudy Gunawan (1993), Ricky Subagja/Rexy Mainaky (1994), Candra Wijaya/Sigit Budiarto (1995), Tony Gunawan/Halim Haryanto (2001) serta Markis Kido/Hendra Setiawan (2007). Kita pun tidak melupakan Tony Gunawan yang juga meraih gelarnya saat membela Amerika Serikat tahun 2005 berpasangan dengan Howard Bach.

Sementara China hanya meraih gelar melalui Li Yongbo/Tian Bingyi (1987 dan 1989) dan Fu Haifeng/Cai Yun (2006); Korea melalui Park Joo Bong/Kim Moon Soo (1985 dan 1991) dan Kim Dong Moon/Ha Tae Kwon (1999); serta Denmark dari Steen Faldberg/Jasper Helledie (1983) dan Lars Paaske/Jonas Rasmussen (2003).

Putri Masih Bercapkan China

Nomor-nomor putri telah menjadi trademark China. China meraih dua belas kali juara dunia tunggal putri melalui delapan pemainnya yaitu Li Lingwei, Han Aiping, Tan Jiuhong, Ye Zhaoying, Gong Ruina, Zhang Ning, Xie Xingfang dan Zhu Lin. Hanya Indonesia dan Denmark yang bisa menyelah pemain-pemain China tersebut. Indonesia menjadi juara dunia melalui Verawati Fajrin (1980) dan Susi Susanti (1993) sedangkan Denmark melalui Lenne Koppen (1977) dan Camilla Martin (1999).

Keperkasaan China juga ditunjukkan pada nomor ganda putri dengan lima belas kali juara dunia. Bahkan sejak China mulai ikut serta sejak tahun 1983 sampai dengan penyelenggaraan terakhir dua tahun lalu, hanya sekali saja gelar juara dunia dicuri negara lain. Itu terjadi pada tahun 1995 ketika gelar juara jatuh ke tangan pasangan Korea Selatan Gil Young Ah/Jang Hye Ock.

Tahun ini, India akan menjadi saksi apakah duel China dan Indonesia kembali terjadi dan sektor putri masih bernuansa China. Yang pasti, negara-negara lain juga bersiap diri untuk menghadapi keperkasaan Indonesia dan China.

No comments: