Wednesday, October 8, 2008

Antara Indonesia, Swiss dan Swiss Open

Pada turnamen superseries keempat tahun ini di Swiss, pemain top dunia berduyun-duyun mengikutinya. Swiss Open Superseries menjadi sangat penting karena merupakan salah satu turnamen akhir yang pointnya mempengaruhi perebutan tiket menuju Olimpiade Beijing. Kekuatan klasik bulutangkis dunia seperti China, Indonesia, Malaysia, Korea dan Demark menurunkan pemain terbaiknya. Menjelang turnamen yang berlangsung tanggal 11-16 Maret ini, kolom ini mengangkat tema hubungan segitiga antara Indonesia, Swiss dan Swiss Open.

Indonesia dengan Swiss memang tidak ada kerja sama formal yang terjalin antara kedua negara dalam hal bulutangkis. Tetapi ternyata Swiss menjadi tambatan hati beberapa pemain Indonesia dalam berkarir. Pada drawing turnamen babak kualifikasi terdapat tiga nama Indonesia tampil dengan bendara Swiss. Mereka adaalah Yohannes Hogianto yang tampil dinomor ganda putra berpasangan dengan Hafiz Shaharudin (SWZ) dan ganda campuran yang berpasangan dengan Alexandra Walaszek (POL), Agung Rohanda yang berpasangan dengan pemain Swiss, Simon Erkerli serta mantan pemain pelatnas, Cynthia Tuwankotta yang tampil dinomor ganda putri.

Selain pemain yang tampil di Swiss Open 2008, pada daftar WBF masih terdapat nama Indonesia lainnya yang berbendera Swiss yaitu Dwi Aryanto, Gita Djayawasito, dan Santi Wibowo. Nama terakhir merupakan pemain asal Indonesia yang paling banyak membela Swiss dalam berbagai turnamen. Sepanjang 2002 - 2004, Santi sudah mewakili Swiss dalam 32 turnamen resmi WBF dengan prestasi terbaik menjadi Semifinalis Iran Fajr Internasional 2004 di nomor tunggal putri. Namun berbicara prestasi maka Cynthia Tuwankotta yang paling berprestasi selama membela Swiss. Di nomor ganda putri, Chyntia yang berpasangan dengan Atu Rosalina berhasil menjadi juara Austrian Internasional 2004 dan semifinalis Norwegian Internasional 2004 bersama Huwaina Razi. Sedangkan dinomor ganda campuran, Cynthia menjadi juara Swedian Internasional 2006 dan semifinalis Van Zundert Veto Dutch Open International 2006 berpasangan dengan Imam Sodikin .

Hubungan antara Swiss dan Swiss Open tidak hanya sekedar hubungan turnamen dan negara penyelenggaranya tetapi Swiss Open merupakan ajang bagi pemain Swiss untuk masuk ke jajaran atas bulutangkis dunia. Prestasi Swiss pada turnamen ini cukup baik pada awal penyelenggaraan tahun 1955 dengan merebut tunggal putri melalui pemainnya E Muller. Pada tahun tersebut yang hanya mempertandingkan tiga nomor, gelar juara lainnya diborong Malaysia melalui Eddy Chong (tunggal putra) dan Eddy Choong / L.T Lee (ganda putra). Tahun berikutnya 1956, Swiss merebut dua gelar juara melalui E Muller (tunggal putri) dan T. Haberfeld / D. Hager (ganda campuran). Setelah vakum juara beberapa tahun, Swiss kembali berhasil merebut gelar juara melalui Heinz Honegger yang berpasangan dengan pemain Denmark Tage Nilesen pada tahun 1964-1965 yang dilanjutkan dengan pemain tunggal putri Jose Carrel tahun 1971. Prestasi terbaik yang dicapai peroleh oleh pemain Swiss melalui pemain tunggal putri lainnya Liselotte Blumer yang menjuarai turnamen ini sebanyak enam kali (1975, 1977, 1979, 1980, 1981 dan 1984). Pencapaian tersebut masih merupakan rekor gelar juara terbanyak dalam turnamen ini.

Indonesia sendiri dalam Swiss Open baru mulai mencatatkan diri sebagai juara mulai era 90-an. Diawali oleh Joko Suprianto yang menjadi juara tunggal putra tahun 1992, dilanjutkan dengan dua gelar tahun berikutnya melalui Fung Permadi (tunggal putra) daan Yuliani Sentosa (tunggal putri). Pada tahun 1999, Indonesia kembali menempatkan pemain tunggal putrinya sebagai juara melalui Chindana Hartono lalu tunggal putra Marleve Mainaky pada tahun 2002. Terakhir Indonesia meraih gelar juara tahun 2003 melalui pasangan ganda putra Chandra Wijaya / Sigit Budiarto. Tahun lalu, ketika pertama kali Swiss Open menjadi bagian dari turnamen superseries, Indonesia hanya berhasil merebut dua posisi runner up yang diperoleh oleh Simon Santoso dan pasangan M. Rizal / Greysia Polli. Pada pertandingan final Simon harus mengakui keunggulan pemain China, Chen Jin. Sedangkan Rizal / Polli menderita kekalahan dari pasangan Korea, Lee Young Dae / Lee Hyo Jung.

Sedikit keunikan terjadi bagi pemain Indonesia yang eksodus ke luar negeri. Selain menjadi juara pada tahun 1993 saat memperkuat Indonesia, Fung Permadi juga menjadi juara tahun 1999 saat berbendera China Taepei. Jejak Fung kemudian diikuti oleh Mia Audina yang menjadi juara dengan memperkuat tim Belanda tahun 2002. Satu lagi gelar juara yang diperoleh pemain Indonesia saat tidak memperkuat skuat tanah kelahirannya terjadi pada nomor ganda putra. Pasangan Flandy Limpele / Eng Hian berhasil menjadi juara padaa tahun 2003 ketika turun dengan bendera Inggris.

Published :
www.bulutangkis.com (10 Maret 2008)
www.badminton-indonesia.com (12 Maret 2008)

Perjalanan Panjang Bersama Turnamen All England

Kerinduan Indonesia akan nostalgia prestasi emas di arena All England akan diuji pada tanggal 3-8 Maret ini. Taufik Hidayat diharapkan merebut gelar juara tunggal putra bagi Indonesia yang merupakan penantian 14 tahun lamanya. Terakhir Indonesia berhasil merebut juara tunggal putra pada tahun 1994 melalui Hariyanto Arbi. Harapan lain ditumpukan pada pundak pasangan campuran Nova Widianto / Lilyana Natsir dan Flandy Limpele / Vita marissa. Jika mereka berhasil maka nomor ganda campuran ini menyembahkan gelar juara setelah terakhir 29 tahun yang lalu melalui Christian Hadinata / Imelda Wiguna. Nomor yang paling anyar mempersembahkan gelar buat Indonesia adalah ganda putra ketika Chandra Wijaya / Sigit Budiarto menjadi kampium tahun 2003. Pada nomor ini tumpuan diharapkan datang dari pasangan terbaik kita Markis Kidho / Hendra Setiawan. Dari nomor manapun yang direbut Indonesia akan menjadi gelar bergengsi bagi yang berhasil menjadi pemenang.

Turnamen All England merupakan salah satu turnamen bulutangkis Internasional yang tertua didunia. Bagi pemain bulutangkis merupakan kebanggaan tersendiri menjadi juara pada turnamen ini. Turnamen yang disebut-sebut sebagai kejuaraan dunia tidak resmi ini sudah mulai diselenggarakan sejak tahun 1899 atau seabad lebih. All England sempat terhenti saat terjadi perang dunia kesatu tahun 1915-1919 dan perang dunia kedua 1940-1946. Awalnya turnamen ini hanya diperuntukkan bagi pemain-pemain Inggris raya yang kemudian berubah menjadi kejuaraan bulutangkis Internasional yang bergengsi.

Pemain Indonesia, Rudy Hartono berhasil mencatat rekor sebagai pemain tunggal putra dengan gelar juara tunggal putra terbanyak. Bahkan rekor tersebut tercatat dalam Guiness Book of Record. Rudy menjuarai turnamen ini sebanyak delapan kali dari tahun 1968-1976 kecuali tahun 1975 yang dimenangkan pemain Denmark Svend Pri. Prestasi Rudy ini melampui rekor lama yang dipegang oleh pemain Denmark, Erland Kops yang merebut gelar juara sebanyak 7 kali. Tercatat pula pada pengumpulan rekor gelar juara, pemain Inggris George Alan Thomas yang berhasil menjuarai 4 kali turnamen ini. Nama George Alan Thomas inilah yang akhirnya diabadikan menjadi nama kejuaraan dunia beregu putra, Thomas Cup.

Bagi Indonesia sendiri, Rudy bukanlah pemain pertama Indonesia yang menjadi juara tetapi dia merupakan pemain kedua. Pemain Indonesia yang mencatat sejarah sebagai pemain pertama Indonesia yang menjadi juara All England adalah Tan Joe Hoek yang juga dikenal dengan nama lain, Hendra Kertanegara yang menjadi juara pada tahun 1959. Pemain lain yang layak disebut sebagai bintang Indonesia adalah Liem Swie King yang menjuarai turnamen ini sebanyak tiga kali. Liem Swie King dengan senjata smash keras nya yang dijuluki "King Smash" meraup gelar juara tahun 1978, 1979 dan 1981. Sejak era 80-an sampai sekarang bergabung negara raksasa bulutangkis, China dalam turnamen ini yang membuat persaingan semakin sengit. Hanya dua pemain tunggal putra Indonesia yang mampu meraih gelar juara setelah bergabungnya China yaitu Hariyanto Arbi dan Ardi Wiranata. Bandingkan dengan China sendiri yang 13 kali juara melalui 8 pemainnya mulai dari Luan Jin, Yang Yang, Zhao Jianhua, Liu Jun, Dong Jiong, Sun Jun, Xia Xuanxe, Cheng Hong dan sampai Lin Dan. Bahkan prestasi tunggal putra Denmark juga lebih baik dari Indonesia. Sejak taun 1980, Denmark merebut 8 gelar juara melalui empat pemainnya, Morten Frost Hansen, Ib Fredriksen, Poul Erik Hoyor Larsen dan Peter Gade Christiansen

Pada nomor tunggal putri, pebulutangkis Indonesia Susi Susanti menjadi satu-satunya pemain yang berhasil menjadi juara. Dengan empat gelar juara yang direbutnya pada tahun 1990, 1991, 1993 dan 1994 membuatnya tercatat pada urutan ke-4 dari daftar perolehan gelar juara terbanyak bersama pemain Inggris Kitty Mc Kane dan jagoan Jepang, Hiroe Yuki. Pada nomor ini pemain Amerika, Judy Devlin mencatat rekor gelar juara terbanyak dengan 10 kali menjadi yang terbaik. Prestasi Judy sebenarnya sama dengan pemain Inggris Ethel B Thomson tetapi saat Ethel juara ketika turnamen masih belum diikuti pemain luar Inggris.

Prestasi lebih konsisten ditunjukkan ganda putra Indonesia. Sejak Christian / Ade Chandra menjadi juara tahun 1972 sampai tahu lalu, hampir separuh dari total gelar mejadi milik Indonesia. Bahkan Tjun Tjun / Johan Wahyudi berada diurutan terdepan dalam pengumpulan gelar juara bersama pasangan Denmark, Fin Kaberro / Jorgen H Hansen dan pasangan tuan rumah, Frank Devlin / Gordon Curly Mark. Pasangan Indonesia yang berhasil menjadi juara lebih dari satu kali selain Tjun Tjun / Johan Wahyudi adalah Christian Hadinata / Ade Chandra, Rudy Heryanto / Kartono, Ricky Subagya / Rexy Mainaky yang masing-masing dua kali juara. Sedangkan Rudy Gunawan, Chandra Wijaya dan Tony Gunawan merebut dua kali juara dengan pasangan yang berbeda

Dua nomor lainnya ganda putri dan ganda campuran, prestasi Indonesia kurang memuaskan. Pada nomor ganda putri, kekuatan China tidak tertandingi sejak keikutsertaannya pada tahun 1982. China berhasil merebut 16 gelar juara dari total 25 gelar juara, Sedangkan enam gelar sisanya disabet Korea Selatan. Ini berarti selama 25 tahun, hanya dua negara yang berhasil menjadi pemuncak nomor ganda putri. Prestasi China semakin lengkap dengan rekor gelar juara terbanyak yang diperoleh pasangan Gao Ling / Huang Sui sebanyak enam kali yang disusul Ge Fei / Gu Jun dengan empat kali juara. Prestasi mengkilap Korea Selatan, selain mengimbangi China di ganda putri juga merajai nomor ganda campuran. Dua pasangannya menguasai perolehan gelar terbanyak melaui Park Joo Bong / Chung Myung Hee dan Kim Dong Moon / Ra Kyung Min dengan empat kali menjadi kampium. Dari perolehan gelar terbanyak ini juga tercatat nama Betty Uber yang berpasangan dengan rekan senegaranya Donald C Hume yang juga merebut gelar juara sebanyak empat kali. Nama Betty Uber inilah yang diabadikan menjadi nama piala beregu putri dunia, Uber Cup.

Rekor Gelar Terbanyak Tunggal Putra :
1. Rudy Hartono (Indonesia) : 8 gelar (1968, 1969, 1970, 1971, 1972, 1973, 1974, 1976)
2. Erlan Kops (Denmark) : 7 Gelar Juara (1958, 1960, 1961, 1962, 1963, 1965, 1967)
3. Raph F Nicholas (Inggris) : 5 gelar juara (1932, 1934, 1936, 1937, 1938)
4. Frank Devlin (Irlandia ) : 5 gelar juara (1925, 1926, 1927, 1928, 1929, 1931)
5. George Alan Thomas (Inggris), Eddy Chong (Malaysia), Wong Pek Song (Malaysia) dan Morten Frost Hansen (Denmark) : 4 gelar juara

Rekor Gelar Terbanyak Tunggal Putri :
1. Judy Devlin (Amerika Serikat) : 10 Gelar (1954, 1957, 1958, 1960, 1961, 1962, 1963, 1964, 1966, 1967)

2. Ethel B Thomson (Inggris) : 10 Gelar (1900, 1901, 1903, 1904, 1905, 1906, 1907, 1908, 1909, 1910)
3. F.G Barret (Inggris) : 5 kali (1926, 1927, 1929, 1930, 1931)
4. Susi Susanti (Indonesia), Kitty Mc Kane (Inggris) dan Hiroe Yuki (Jepang) : 4 kali

Rekor Gelar Juara Ganda Putra :
1. Tjun Tjun / Johan Wahyudi (Indonesia) : 6 kali (1974, 1975, 1977, 1978, 1979, 1980)
2. Fin Kaberro / Jorgen H Hansen (Denmark) : 6 kali (1955, 1956, 1961, 1962, 1963,1964)
3. Frank Devlin / Gordon Curly Mark (Inggris) : 6 kali (1923, 1926, 1927, 1929, 1930, 1931)
4. Hendry Norman / George A Thomas (Inggris) dan Donald C Hume / RM White (Inggris) : 4 kali

Rekor Gelar Juara Ganda Putri :
1. Gao Ling / Huang Sui (China) : 6 kali (2001, 2002, 2003, 2004, 2005, 2006)
2. Ge Fei / Gu Jun (China) : 4 kali (1996, 1997, 1998, 2000)
3. Margereth L Rivers / Hazel Hogarth (Inggris) : 4 kali (1922, 1923, 1925, 1927)
4. Ethel B Thomson / Muriel Lucas (Inggris) : 4 kali (1902, 1904, 1905, 1906)

Rekor Gelar Juara Ganda Campuran :
1. Kim Dong Moon / Ra kyung Min (Korea) : 4 kali (1998, 2000, 2002, 2004)
2. Park Jo Bong / Chung Myung Hee (Korea) : 4 kali (1986, 1989, 1990, 1991)
3. Donald C Hume / Betty Uber (Inggris) : 4 kali (1933, 1934, 1935, 1936)
4. George A Thomas / Hazel Hoogarth (Inggris) : 4 kali (1914,1920, 1921, 1922)

Gelar Juara Yang berhasil direbut pemain Indonesia :
1. Rudy Hartono : 8 gelar (1968, 1969, 1970, 1971, 1972, 1973, 1974, 1976)
2. Tjun Tjun / Johan Wahyudi : 6 kali (1974, 1975, 1977, 1978, 1979, 1980)
3. Susi Susanti : 4 kali (1990, 1991, 1993, 1994)
4. Liem Swie King : 3 kali (1978, 1979, 1981)
5. Hariyanto Arbi : 1993 dan 1994
6. Christian Hadinata / Ade Chandra : 1972 dan 1973
7. Rudy Heryanto / Kartono : 1981 dan 1984
8. Ricky Subagya / Rexy Mainaky : 1995 dan 1996
9. Ardy Wiranata (1991), Tan Joe Hoek (1959), Eddy Hartono / Rudy Gunawan, Rudy Gunawan / Bambang Suprianto, Chandra Wijaya / Tony Gunawan (1999), Chandra Wijaya / Sigit Budiarto (2003), Tony Gunawan / Halim Haryanto (2001), Retno Kustija / Minarni (1968), Verawati Pajrin / Imelda Wiguna (1979) dan Christian Hadinata / Imelda Wiguna (1979)


Published :
www.bulutangkis.com (04 Maret 2008)
www.badminton-indonesia.com (03 Maret 2008)

Posisi Tuan Rumah Sebagai Penunjang Prestasi

Ajang kompetisi bulutangkis Internasional mulai menggeliat di awal tahun 2008 ini. Aroma persaingan merebut gelar juara akan dimulai besok hari pada turnamen Malaysia Open Superseries. Sementara persaingan-persaingan dramatis tahun lalu belum pupus dari ingatan kita. Sekedar memanaskan aroma perbulutangkisan diawal tahun ini, kami mengangkat kembali kisah yang tahun lalu yang masih menarik untuk disimak.

Kisah kesuksesan China yang merajai gelaran turnamen bulutangkis 2007 diikuti juga dengan kesuksesan mereka menjadi tuan rumah berbagai turnamen yang diselenggarakan. China melalui dua turnamen Superseries yaitu China Open dan China Master menyediakan hadiah terbesar setahunan lalu dengan total 500 ribu dolar AS. China Open dan China Master masing-masing menyediakan hadiah sebesar 250 ribu US Dolar atau sekitar 2,5 Milyar rupiah. Sedangkan kalau dihitung dari satu turnamen, rekor masih dipegang Korea Superseries dengan hadiah 300 ribu US Dolar.

China dan Korea menyelenggarakan turnamen dengan hadiah sebesar itu tentu dengan harapan bisa menaikkan prestasi pemainnya atau paling tidak memberikan tempat yang lebih banyak buat pemain-pemainnya bertanding di kancah internasional yang sekaligus menaikkan poin rangking sejumlah pemainnya. Dengan hadiah yang besar tentu level turnamen pun menjadi tinggi yang otomatis point yang diperoleh menjadi lebih tinggi. Masih dalam rangka memperbanyak kesempatan bertanding bagi pemainnya, beberapa negara juga menyelenggarakan lebih dari satu turnamen bertaraf Internasional.

Disebutkan sebelumnya China menyelenggarakan dua event yang berkelas Superseries. Tim China berhasil memanfaatkan turnamen tersebut dengan maksimal meskipun mereka tetap kecolongan dari Indonesia. Pada China Master, tuan rumah menyabet empat gelar sekaligus melalui Lin Dan (MS), Xie Xingfang (WS), Fu Haifeng / Cai Yun (MD) dan Zheng Bo / Gao Lin (XD). Satu-satunya gelar yang lepas adalah nomor ganda putri yang direbut pasangan Indonesia Vita Marissa/ Lilyana Natsir. Kemudian pada China Open hanya tiga gelar yang mereka peroleh dari Bao Chunlai (MS), Xie Xingfang (WS) dan Gao Ling / Zhao Tingting (WD), sedangkan dua gelar juara lagi kembali lepas ke tangan Indonesia melalui Markis Kidho / Hendra Setiawan (MD) dan Nova Widianto / Lilyana Natsir (XD). Disamping dua turnamen resmi tersebut China menyelenggarakan turnamen Invitational sebagai ajang uji coba Olimpiade Beijing 2008 dengan title turnamen "Good Luck to Beijing". Sejumlah pemain non China diundang dalam turnamen ini seperti Nguyen Tien Minh (Vietnam), Koo Kean Keat dan Wong Pty Ty dari Malaysia serta beberapa pemain dari negara lainnya. Pada turnamen ini China menyapu bersih semua gelar juara melalui Lin Dan (MS), Xie Xingfang (WS), FU Haifeng / Cai Yun (MD), Yang Wei / Zhang Jiwen (WD) dan Xie Xongbo / Zhang Yawen (XD)

Malaysia sebagai salah satu kekuatan bulutangkis dunia mencatatkan diri sebagai penyelenggara turnamen Internasional terbanyak selama tahun 2007. Turnamen tertinggi yang diselanggarakan adalah Kejuaraan Dunia. Pada turnamen ini, Malaysia gagal memanfaatkan kesempatan untuk meraih gelar juara dunia. Gelar juara justru berhasil diraih dua negara China dan Indonesia. Sebelumnya pada awal tahun 2007, pencapaian sedikit lebih baik pada Malaysia Open Superseries. Dalam turnamen yang berhadiah total 200 ribu dolar Amerika tersebut, pasangan Koo Kean Keat / Tan Boon Heong berhasil menjadi kampium nomor ganda putra. Hasil yang sama diperoleh saat penyelenggaraan Kejuaraan Asia dengan level turnamen setara dengan Grand Prix Gold yang berhadiah total 125 ribu dolar AS. Pasangan veteran Choon Tan Fook / Lee Wan wah berhasil menyingkirkan rekannya Koo Kean Keat / Tan Boon Heong dalam pertarungan All Malaysia Final. Gelarnya lainnya terbang ke China melalui Jiang Yanjiao (WS), Yang Wei / Zhao Tingting (WD), He Hanbing / Yu Yang (XD) dan Indonesia melalui Taufik Hidayat (MS). Selanjutnya pada level yang lebih rendah, Malaysia berhasil memborong empat gelar juara sekaligus pada Malaysia Challanger melalui Ayub Sairul Amar (MS), Chan Peng Song / Chang Hun Ping (MD), Haw Chiu Wee / Lim Pek Sia (WD) dan Lim Khim Wah / Ng Hu Lin (XD). Nomor tunggal putri lepas ke pemain Thailand, Buranaprasertsuk Porntip. Turnamen Internasional lainnya yang diselenggarakan Malaysia adalah Kejuaraan Asia Junior yang menempatkan ganda campuran mereka, Tan Wee Kiong/Woon Khe Wei, MAS sebagai pemenang.

Indonesia merupakan negara berikutnya yang menyelenggarakan lebih dari satu turnamen Internasional yaitu Indonesia Open Superseries, Surabaya Challange, Jakarta Open Satelitte dan Indonesia Open Junior. Pada Indonesia Open Superseries merupakan ajang gigit jari bagi tim tuan rumah. Prestasi terbaik hanya sebagai runner up melalui Nova Widianto / Lilyana Natsir di nomor ganda campuran. Pada pertandingan final turnamen yang menyediakan hadiah total 250 ribu dolar AS itu, mereka harus menelan kekalahan dari pasangan China Zheng Bo / Gao Ling. Pada level yang lebih rendah, Surabaya Challange dengan hadiah total 15 ribu dolar AS dicapai hasil lebih baik dengan merebut tiga gelar juara melalui Rian Sukmawan / Yonathan S (MD), Yulianti / Richi Dili Puspita (WD) dan Ahmad Tantowi / Yulianti (XD). Sementara itu Lima gelar juara dicapai pemain Indonesia pada turnamen Jakarta Open Satelitte. Gelar-gelar juara tersebut dihasilkan oleh pemain-pemain Djarum Kudus, Ari Yuli Wahyu (MS), Maria Elfira (WS), Frans K / Yonathan (MD), Meliana / Shendy (WD) dan Frans K / Rintan Aprillia (XD). Di kelompok Yunior diselenggarakan Milo Junior Indonesia Open di Bandung yang hanya mempersembahkan satu gelar buat tuan rumah melalui Febby Angguni, sedang empat gelar juara lainnya diboyong negeri Jiran, Malaysia

Negara-negera lainnya yang menyelenggarakan dua atau lebih turnamen Internasional antara lain Korea, Thailand, Jepang, Singapura, Vietnam dan Belanda. Korea dengan turnamen Korea SS dan Korea Challenger mampu meraih satu gelar di ajang Korea superseries melalui Jung Jae Sung / Lee Young Dae (MD) dan memborong semua gelar Korea Challanger dari pemainnya Seung Shon Mo (MS), Lee Yun Hwa (MS), Kwon Yi Goo / Ko Sung Hyun (MD), Yoo Hyung Yun / Jung Kyung Eun (WD) dan Shin Beek Choel / Yoo Hyun Young (XD)

Jepang juga berhasil meraih manfaat menjadi tuan rumah. Meskipun gagal meraih juara di Jepang Open Superseries, mereka menyapu empat gelar juara Osaka International Challanger dari pemainnya Sho Sasaki (MS), Enriko Hirose (WS), Aki Akao / Tomomi Matsuda (WD) dan Keita Masuda / Miyuki Maeda (XD). Satu-satunya pemenang diluar Jepang adalah nomor ganda putra yang dimenangkan pasangan Korea, Han Shoon Hoon / Cho Gun Woo. Hasil yang mirip juga diperoleh oleh Thailand yang gagal meraih gelar pada GP Gold Thailand Open tetapi berhasil meraih 2 gelar pada Thailand International melalui Pompat. S (MS) dan Salakjit Polsana (WD). Sedangkan dua gelar juara lainnya di boyong Indonesia melalui Yulianti / Richi P (WD), Ahmad Tantowi / Yulianti (XD) serta satu gelar terbang ke Hongkong. Satu lagi perhelatan bulutangkis yang di gelar di Thailand adalah Sea Games yang semua medali emas - nya diraih tim Indonesia.

Bila beberapa negara diatas berhasil merebut Juara saat menjadi tuan rumah maka lain halnya dengan Vietnam. Meskipun mereka menyelenggarakan tiga turnamen yaitu GP Vietnam Open, Vietnam International dan Kejuaraan Asia Usia 16 tahun, tetapi tidak satu pun gelar juara yang berhasil direbut. Hasil serupa juga terjadi pada Singapura yang menyelenggarakan turnamen Singapore Superseries dan Cheer Singapore International serta Belanda yang menggelar turnamen GP Dutch Open dan Holland International.

Terlepas dari apapun hasil yang diperoleh para tuan rumah tersebut tetapi negara penyelenggara lebih dari satu turnamen Internasional tetap akan mendapat nilai positif buat kemajuan bulutangkis di negara nya. Pemain-pemain lokal berkesempatan mengukur kemampuannya dengan pemain-pemain dari negara lain yang kesempatan tersebut sulit diperoleh pemain yang masih pada peringkat level bawah. Kegagalan Indonesia pada Indonesia Open Superseries dan Malaysia pada Kejuaraan dunia juga menjadikan pelajaran bagi para tuan rumah bahwa pembebanan terlalu tinggi pada pemainnya bisa memberikan hasil sebaliknya. Mengacu hasil baik maupun buruk selama tahun lalu, semoga tidak menjadikan para negara-negara tersebut mengurangi kuantitas dan kualitas kompetisi Internasional yang diselenggarakan di negaranya.

Published :
www.bulutangkis.com (14 Januari 2008)

Pemain Terbaik 2007

Ritual akhir tahun dari berbagai organisasi dan media Olahraga tingkat internasional dan regional salah adalah menentukan atlet terbaik dari berbagai cabang Olahraga. Sebagai contoh induk organisasi sepak bola dunia, FIFA menetapkan pesepakbola asal Brazil, Kaka sebagai yang terbaik sepanjang 2007. Dari cabang Tenis terpilih Roger Federer dan Justine Henin sebagai petenis terbaik pria daan wanita. Lain halnya dengan cabang bulutangkis, sampai saat ini organisasi bulutangkis dunia WBF belum menetapkan yang terbaik di cabang ini, bahkan penerima penghargaan 2006 pun tidak diadakan. Pebulutangkis terbaik tahunan versi BWF (dulu IBF) akan mendapat penghargaan "Eddy Choong Award". Selama penyelenggaraan Award ini, Indonesia menjadi negara terbanyak meraih gelar tersebut. Award buat Indonesia diperoleh oleh Chandra Wijaya (2000) dan Taufik Hidayat (2004-2005) disusul Korea dengan sebanyak dua kali melalui Kim Dong Moon (2002), Kim Dong Moon / Ra Kyung Min (2003) dan Denmark melalui Peter Gade Christiansen (1998) dan Camilla Martin (1999). Negara bulutangkis lainnya China meraih gelar melalui Gao Ling (2001)

Pada tingkat nasional, belum ada lembaga yang memberikan penghargaan khusus untuk pebulutangkis terbaik. Kalaupun ada masih digabung dengan cabang lain dengan label "Atlet Terbaik Indonesia". Dua lembaga yang paling konsisten memberikan penghargaan tersebut adalah Tabloid Olahraga "Bola" dan PWI SIWO Jaya. Pada penyelenggaraan oleh Tabloid BOLA tahun 2006 yang perhargaan diberikan setiap Maret tahun berikutnya, cabang bulutangkis gagal mendominasi penghargaan seperti saat tahun-tahun kejayaan bulutangkis Indonesia. Atlet terbaik Putra 2006 jatuh ke tangan Cris Jhon dari cabang tinju, sedangkan atlet terbaik putri diperoleh peboling Putty Armein. Atlet catur putri, Irene Kharisma terpilih sebagai atlet muda harapan. Penghargaan lainnya Pelatih dan tim terbaik jatuh ke cabang sepak bola melalui pelatih Benny Dollo dan tim sepak Bola Arema Malang. Satu-satunya penghargaan yang diterima cabang bulutangkis adalah "Life Time Achiement" yang dinobatkan kepada tokoh bulutangkis sekaligus pembina klub Jaya Raya, Ciputra. Penghargaan yang sama dengan yang diberikan kepada tokoh Sepak Bola, LH Tanoto

Memilih pemain pebulutangkis terbaik dunia akan lebih mudah jika dipilih untuk masing-masing nomor tunggal putra-putri, ganda putra-putri dan campuran karena cukup melihat peringkat dunia. Tentunya gelar terbaik akan berada ditangan peringkat terbaik masing-masing nomor yaitu Lin Dan ditunggal putra, Xie Xingfang di tunggal putri, Koo Kean Keat /Tan Boon Heong di ganda Putra, Zhang Yawen / Wi Yili di ganda putri dan Zheng Bo / Gao Lin di ganda campuran. Namun cerita akan berubah jika hanya memilih satu nama saja untuk putra dan satu untuk nama putri bahkan akan lebih akan menjadi perdebatan jika yang dipilih satu orang terbaik tanpa membedakan putra dan putri seperti yang biasanya dilakukan dalam penghargaan Eddy Choong Award.

Pada akhir tahun 2007 ini, Kolom ini yang dipublikasikan oleh web site www.bulutangkis.com akan memilih tiga pemain terbaik putra dan tiga pemain terbaik putri. Dari keenam pemain terbaik tersebut akan ditetapkan pemain yang berhak menjadi "best of the best" tahun ini baik untuk tingkat dunia maupun tingkat nasional. Dari kelompok Putra penghargaan pertama jatuh kepada pebulutangkis tunggal putra China, Lin Dan. Prestasi fenomenal yang dibuat Lin Dan tahun ini dengan menjadi Juara dunia, 5 gelar juara Super series dan 1 gelar grand Prix. Peringkat kedua jatuh ke Pemain China lainnya Zheng Bo yang tampil di nomor ganda campuran berhasil meraih gelar 7 gelar juara. Pencapaian Zheng Bo memang sama banyaknya dengan Lin Dan tetapi Lin Dan menjadi nomor wahid karena statusnya sebagai juara dunia. Tempat ketiga terpilih salah satu dari pasangan ganda putra Malaysia Koo Kean Keat / Tan Boon Heong yang merupakan pasangan ganda putra peraih gelar tebanyak tahun ini dengan 4 gelar Superseries dan dua gelar juara Grand Prix Gold. Mereka juga berada di peringkat satu dunia ganda putra di penghujung tahun 2007 ini. Pertanyaannya siapa yang berhak ditempatkan pada peringkat ketiga karena mereka membuat prestasi bersama-sama? Penulis memutuskan Koo Kean Keat yang berhak lebih unggul dari rekannya, karena Koo Kean Keat mempunyai prestasi tambahan di nomor ganda campuran. Berpasangan dengan pemain putri Wong Pty Ty, Koo berhasil masuk babak 8 besar ganda campuran Super Series Korea Terbuka sebelum akhirnya Koo berkonsentrasi penuh di nomor ganda putra. Selain tampil di Korea, Koo / Wong sempat diundang untuk tampil di turnamen Uji Coba Olimpiade di Beijing China. Sebenarnya pasangan Indonesia Markis Kidho / Hendra Setiawan layak dilirik sebagai 3 besar dengan prestasi nya sebagai Juara Dunia. Sayangnya Pencapaian Kidho / Hendra kurang sempurna karena mereka belum sekalipun bisa menundukkan pasangan terbaik Malaysia itu dalam berbagai turnamen.

Pada bagian Putri, nama Gao Ling tetap menjadi ratu dunia. Tampil di dua nomor ganda putri dan campuran menjadikannya sebagai pemain dengan gelar juara terbanyak tahun ini. Dinomor ganda putri bersama Huang Sui, Gao Ling meraih 2 gelar Super Series dan 2 gelar grand Prix Gold ditambah satu gelar Supeseries lagi ketika berpasangan dengan Zhao Tingting menjuarai turnamen China Open. Pada nomor ganda campuran yang berpasangan dengan Zheng Bo, meraih 6 gelar super series dan gelar grand Prix. Total gelar juara yang dikumpulkan Gao Ling dari dua nomor tersebut sebanyak 12 gelar juara. Peringkat kedua juga masih milik pemain China Xie Xingfang yang mengumpulkan tujuh gelar juara yang terdiri dari lima super series, satu grand prix gold dan satu grand prix. Peringkat ketiga milik pemain China lainnya, Yang Wei yang menjadi juara dunia ganda putri bersama Zhang Jiwen yang dilengkapi dengan 2 gelar juara Super series dan 2 gelar juara grand Prix. Gelar juara tersebut masih ditambah 1 gelar super series dan gelar juara Asia berpasangan dengan Zhao Tingting menjadikannya perebut 6 gelar juara.

Khusus pemain putra Indonesia, ada tiga pemain yang paling menonjol sepanjang tahun ini yaitu Nova Widianto, Markis Kidho dan Hendra Setiawan. Mereka mengumpulkan gelar juara juara turnamen resmi WBF sama banyaknya yaitu sama-sama menjadi juara dunia, 2 gelar superseries dan 1 gelar juara Grand Prix. Satu-satunya keunggulan Markis dan Hendra dari Nova adalah pada turnamen level Sea Games yang lalu dimana Markis / Hendra meraih emas sedangkan Nova meraih perunggu di nomor ganda campuran. Markis / Hendra juga berperan mengantarkan Indonesia dalam meraih medali medali emas nomor beregu dalam event tersebut. Dengan pertimbangan tersebut maka Nova cukup ditempatkan di posisi ketiga. Pertanyaannya siapa yang berhak menjadi pemain terbaik putra terbaik Indonesia antara Markis Kidho dan Hendra Setiawan. Prestasi mereka tidak dapat dipisahkan satu sama lain sehingga keduanya layak menempati nomor wahid. Kalaupun akhirnya terpaksa memilih salah satu dari keduanya maka penulis lebih memilih Markis Kidho menempati nomor satu. Satu-satu keunggulan Markis dari pasangannya adalah Markis lebih banyak dimainkan pada Piala Sudirman lalu. Berpasangan dengan seniornya Chandra Wijaya, Markis menjadi penyumbang point yang mengantarkan tim Sudirman Indonesia ke babak Final.

Pada bagian Putri hanya dua nama yang berhak memperebutkan posisi yang terbaik yaitu Vita Marissa dan Lilyana Natsir. Mereka sama-sama menjadi dua kali menjadi juara superseries dinomor ganda campuran dengan pasangannya masing-masing dan satu kali secara bersama-sama menjuarai nomor ganda putri. Pada turnamen grand Prix Gold Vita Marissa yang berpasangan dengan Flandy Limpele meraih satu gelar di Thaiwan Open, sedangkan Lilyana Natsir meraih juara bersama Nova Widianto di Philipina Open. Lilyana Natsir mempunyai keunggulan dengan merebut gelar juara dunia, sedangkan Vita mempunyai keunggulan meraih emas ganda campuran Sea Games. Dengan emas itu, Vita mejadi pebulutangkis yang meraih medali emas terbanyak sebanyak 3 emas (ganda putri, ganda campuran dan beregu putri). Namun dengan pertimbangan gelar juara dunia yang lebih bergengsi maka Lilyana Natsir ditempatkan sebagai nomor wahid dan Vita di posisi runner up. Tempat ketiga layak diberikan kepada peraih emas tunggal putri Sea Games, Maria Kristin.

Pemilihan "Best of The Best" tingkat dunia antara Lin Dan dan Gao Ling, maka penulis masih lebih memilih Gao Ling sehingga Gao Ling layak diusulkan menjadi peraih gelar "Eddy Chong Award" untuk kedua kalinya. Sedangkan untuk tingkat nasional memilih yang terbaik antara Markis Kidho dan Lilyana Natsir juga pemain putri yang lebih layak terpilih menjadi "Pebulutangkis Terbaik Indonesia 2007". Penulis juga mengusulkan kepada komunitas pecinta bulutangkis terbesar di Indonesia, MBI (Masyarakat Bulutangkis Indonesia) memberikan "MBI Award 2007" kepada Lilyana Natsir. Pemilihan ini lebih didasarkan kepada pengamatan penulis sepanjang tahun ini dan memungkinkan berbeda dengan pemilihan yang dilakukan oleh lembaga atau pihak lainnya.

Resume Pebulutangkis Terbaik versi Kolom Hendri Kustian :

Terbaik Putra Tingkat Dunia :
1. Lin Dan, China (Juara Dunia, 5 Superseries, 1 Grand Prix)
2. Zheng Bo, China (6 Gelar Superseries, 1 Grand Prix)
3. Koo Kean Keat, Malaysia (4 Gelar Superseries, 2 Grand Prix Gold)

Terbaik Putri Tingkat Dunia :
1. Gao Lin, China (9 Gelar Superseries, 2 Grand Prix Gold, 1 Grand Prix)
2. Xie Xingfang, China (5 Gelar Superseries, 1 Grand Prix Gold, 1 Grand Prix)
3. Yang Wei, China (Juara Dunia, Juara Asia, 2 Superseries, 2 Grand Prix)

Terbaik Putra Tingkat Nasional :
1. Markis Kidho (Juara Dunia, 2 Superseries, 1 GP Gold, 2 emas SEAG)
2. Hendra Setiawan (Juara Dunia, 2 Superseries, 1 GP Gold, 2 emas SEAG)
3. Nova Widianto (Juara Dunia, 2 Superseries, 1 GP Gold)

Terbaik Putri Tingkat Nasional :
1. Lilyana Natsir (Juara Dunia, 3 Superseries, 1 GP Gold, 2 emas SEAG)
2. Vita Marissa (3 Gelar Superseries, 1 GP Gold, 3 emas SEAG)
3. Maria Kristin (Juara tunggal putri Sea Games)

Pemain Indonesia Non Pelatnas Putra Terbaik :
1. Yonathan Suryatama (1 gelar GP Gold, 1 Challanger, 1 Satelitte)
2. Rian Sukmawan (1 gelar GP Gold, 1 Challanger)
3. Andre Kurniawan (1 Grand Prix)

Pemain Indonesia Non Pelatnas Putri Terbaik :
1. Meliana Jauhari (1 gelar Chalanger, 2 gelar satelitte)
2. Shendy Puspa (1 gelar Challanger, 1 gelar Sateliite)
3. Debby Susanto (Juara Asia Junior, Juara nasional Taruna, SF Dunia Junior)


Published :
www.bulutangkis.com (2 Januari 2008)

Membedah Tarkam Menjadi Potensi Positif

Tarkam merupakan suatu ajang pertandingan yang merupakan kepanjangan dari tarikan kampung atau antar kampung. Beberapa cabang olahraga yang populer di masyarakat menjadi cabang yang diminati dalam event ini seperti sepak bola dan bola volly. Sepintas tidak ada yang aneh dengan event tarkam ini. Namun ketika mengamati lebih dalam ditemukan hal menarik dari ajang ini karena terkadang yang tampil bukanlah pemain kelas kampung seperti nama ajangnya. Tidak jarang pemain sekelas Pelatda tingkat kabupaten, pelatda tingkat propinsi bahkan pemain pelatnas atau pemain nasional ikut meramaikannya.

Kenyataan tersebut juga terjadi dalam cabang bulutangkis. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pebulutangkis kita dari berbagai level sering terjun di arena tarkam. Alasan pemain-pemain tersebut pun beragam mulai sekedar refreshing sampai benar-benar tujuan untuk mencari uang. Bagi penyelenggara ajang tarkam juga memiliki beragam kepentingan. Tujuan yang umum bagi penyelenggara antara lain sarana promosi suatu produk. Promosi produk tertentu bahkan lebih efektif dan efisien di arena Tarkam. Efektif karena promosi produknya langsung sampai ke sasarannya dan efisien karena bisa memotong biaya-biaya birokrasi dibandingkan mengadakan turnamen resmi yang tercatat sebagai kalender PBSI. Image lain dari tarkam adalah adu gengsi tokoh daerah. Tidak jarang tokoh-tokoh daerah mengeluarkan uang pribadi nya sampai puluhan juta rupiah untuk menunjukkan eksistensinya di daerah tersebut. Ada juga sisi negatif kerap mengiringi arena tarkam karena dimanfaatkan oknum tertentu sebagai ajang judi.

Terdapat dua tipe pertandingan tarkam yang sering mengundang pemain hebat. Tipe yang pertama ada dalam bentuk suatu turnamen. Pemain bayaran untuk tarkam bisa saja tidak dibayar bila uang hadiahnya menggiurkan. Namun ada juga yang minta uang tampil disamping uang hadiah turnamen. Tipe kedua adalah sistem pertandingan persahabatan dimana pertandingan selesai dalam satu hari. Untuk tipe kedua ini pemain memang dibayar untuk tampil. Dari penelusuran penulis di lapangan, tarif untuk tarkam ini disesuaikan dengan level pemain-pemain tersebut. Pemain sekelas Pelatda biasa mendapat bayaran 250 ribu sampai 300 ribu, sedangkan untuk pemain pelatnas yunior tarifnya mencapai 600-700 ribu. Uang tampil untuk pemain senior lebih tinggi lagi mencapai lebih dari satu juta, bahkan pemain paling top negeri ini bisa mendapat bayaran sampai lima juta rupiah. Uang tampil ini cukup fantastis karena mereka hanya main satu sampai dua kali.

Ajang tarkam ini menjadi cukup menggiurkan dibandingkan ikut turnamen sekelas satelite. Seorang pemain yang ikut turnamen sekelas satelite atas biaya sendiri misalnya di Malaysia Satelitte. Untuk seorang juara akan mendapat hadiah sebesar 9 juta, runner up 4,5 juta dan semifinalis 2 juta. Pertandingan untuk mencapai babak semifinal selama lima hari dan peluang untuk juara-pun lebih sulit karena tantangan juga datang dari pemain asing. Bayangkan biaya yang dikeluarkan seperti transportasi dan penginanapan bila dibandingkan hadiah yang akan diperoleh. Atas alasan tersebut maka buat pemain yang tidak dibiayai oleh Pelatnas maupun klub maka berkarir di Tarkam akhirnya jadi pilihan. Sedangkan untuk sebagian pemain nasional yunior, hari libur latihan tidak sering dimanfaatkan sebagai penambah uang saku. Apalagi minimnya uang saku yang mereka terima dari Pelatnas dan jarangnya mendapat hadiah karena tidak diturunkan di turnamen-turnamen Internasional. Pemain seniorpun kadang juga tertarik ikut karena inilah saatnya mereka mengumpulkan modal sebanyak-banyaknya buat bekal setelah pensiun. Seperti yang kita ketahui pensiunan atlet dinegeri ini belum mendapat perhatian yang cukup.

Bagi pengurus olahraga negeri ini Tarkam merupakan momok yang harus dimusuhi. Ini sebenarnya bisa dimaklumi karena untuk pemain pelatnas akan mengambil waktu istirahat pemainnya, sedangkan untuk pemain yunior bisa menjadi terfokus untuk mencari uang dibandingkan prestasi di turnamen resmi. Tetapi apabila tarkam tersebut bisa dibuatkan suatu sistem untuk memfasilitasinya maka sebenarnya Tarkam adalah potensi bagi perbulutangkisan negeri ini. Bayangkan uang yang dikeluarkan oleh penyelenggara-penyelenggara Tarkam cukup besar. Seandainya ajang tarkam bisa sekaligus sebagai ajang pembinaan atlet-atlet muda maka tarkam akan menjadi lumbung calon-calon atlet. Misalnya seorang pemain level pelatda atau pelatnas harus berpasangan dengan pemain muda untuk bertanding dengan pemain pelatnas dengan pemain muda dari tim lawannya. Kesempatan seperti ini akan sangat berarti bagi pemain muda untuk meningkatkan kualitas permainannya.

Pengurus organisasi olahraga negeri perlu memikirkan lagi bagaimana Tarkam yang selama ini lebih dianggap sebagai musuh dapat dikreasikan sebagai mitra ajang pembinaan atlet muda. Solusi-solusi yang bisa mendukung seperti mempermudah birokrasi dan standarisasi menjadi suatu turnamen resmi PBSI, memberikan levelling turnamen sampai menyentuh level-level turnamen terendah dan menghapus monopoli sponsorships buat pemain nasional. PBSI sebagai induk olahraga bulutangkis Indonesia sudah selayaknya menjadi payung bagi semua elemen masyarakat perbulutangkisan Indonesia.

Published :
www.bulutangkis.com (17 Desember 2007)

Kilas Balik Tahun Pertama Turnamen Superseries

Keinginan kuat organisasi bulutangkis dunia yang sebelumnya bernama IBF untuk memajukan bulutangkis dalam dua tahun terakhir dilakukan dengan berbagai terobosan. Gebrakannya tidak tanggung-tanggung dari mengganti nama organisasi dari IBF ke WBF supaya masyarakat dunia tidak rancu dengan organisasi tinju dunia, berlanjut dengan pergantian logo organisasi, perubahan sistem skor dan banyak terobosan lainnya. Namun diantara itu semua yang paling berdampak langsung terhadap pemain dan penggemar bulutangkis adalah diselenggarakannya turnamen level tinggi yang hanya diperuntukkan bagi pemain kelas atas dunia. Turnamen ini menyediakan hadiah yang lebih besar dari turnamen-turnamen sebelumnya hanya diikuti oleh 32 peserta dibabak utama masing-masing nomor. Sistem unggulan hanya diberlakukan sampai unggulan kedelapan dan tidak mengenal pemisahan pemain dari satu negara. Jadi turnamen ini benar-benar sebagai suatu kompetisi baik antar negara maupun antar pemain dalam suatu negara. Tidak jarang pemain dalam satu negara bertemu langsung dibabak pertama karena satu pemain masuk unggulan dan satu pemain lainnya tidak termasuk unggulan. Standarisasi turnamen Super Series tidak hanya dari peningkatan hadiah. Penggemar pun dimanjakan dengan sistem siaran Live Score yang menyiarkan skoring pertandingan secara langsung via internet.

Pada tahun pertama penyelenggaraan tahun 2007 ini digelar 12 kali turnamen di sebelas negara yaitu malaysia, Korea Selatan, Inggris, Swiss, Singapura, Jepang, Denmark, Perancis, Hongkong, Indonesia dan China. China berkesempatan menjadi tuan rumah dua kali dengan label turnamen China Master Super Series dan China Open Super Series. Secara umum China tidak hanya unggul dalam kesempatan menjadi tuan rumah, tetapi juga unggul dalam perebutan gelar juara. Dari 60 gelar yang diperebutkan, China sukses meraup 38 gelar juara atau sebesar 63,33 %. Malaysia berada diurutan kedua dengan 8 gelar juara (13,33 %) dan disusul Indonesia ditempat ketiga dengan 7,5 gelar juara (12,4 %). Adanya hitungan 1/2 gelar juara buat Indonesia karena Chandra Wijaya yang menjadi juara di Jepang mewakili Indonesia berpasangan dengan Tony Gunawan yang mewakili Amerika Serikat. Diluar ketiga negara tersebut gelar juara hanya tersebar ke 5 negara lainnya yaitu Korea 2 gelar (3,33 %), Denmark 2 gelar (3,33%), Thailand 1 gelar (1,67 %), Hongkong 1 gelar (1,67%) dan Amerika Serikat 0.5 gelar (0,86%)

Nomor tunggal putra salah satu lumbung penghasil gelar juara bagi China. Bila diibaratkan sang juara meraih medali emas, runner up meraih medali perak dan Semifinalis meraih perunggu, maka untuk nomor tunggal putra ini pemain China Lin Dan menjadi nomor wahid dengan meraih 5 emas 3 perunggu. Pemain Malaysia Lee Chong Wei berada di posisi kedua dengan 3 emas + 2 perak + 2 perunggu dan disusul pemain China lainnya Bao Chunlai 1 emas + 4 perak + 4 perunggu. Diluar tiga besar tersebut pemain-pemain lain yang bisa merebut gelar juara yaitu Chen Jin (Swiss SS), Bonsak Polsana (Singapura SS) dan Peter Gade (Malaysia SS). Final antar sesama pemain dalam satu negara hanya bisa dibuat pemain China. Terjadi tiga kali All China Final yaitu di Korea SS (Lin Dan - Chen Jin), All England SS (Lin Dan - Chen Yu) dan Denmark SS (Lin Dan - Bao Chunlai). Prestasi terbaik Indonesia dinomor tunggal putra ini hanya sebatas runner Up yang didapat oleh Simon santoso (Swiss SS) dan Taufik Hidayat (Jepang SS). Kedua pemain ini juga sama-sama mencatat satu kali sebagai semifinalis yaitu Simon di Jepang SS dan Taufik di Indonesia SS. Andalan Indonesia lainnya Sony Dwi Kuncoro tercatat sebagai pemain langganan perempatfinalis tanpa satu kalipun berhasil tembus ke babak semifinal. Sebanyak 7 kali Sony kalah di perempat final mulai dari Korea SS, Swiss SS, All England SS, Indonesia SS, Denmark SS, China Open SS dan turnamen pamungkas Hongkong SS.

Dinomor tunggal putri, tiga besar ditempati pemain China. Xie Xinfang meraih 5 emas + 3 perak, disusul Zhang Ning 2 emas + 2 perak + 3 perunggu dan Zhu Lin 1 emas + 3 perak + 2 perunggu. Diluar nama tersebut pemain lain yang berhak atas gelar juara adalah Lu Lan, Wang Cheng, Tine Rasmussen dan Wong Mee Chow. China mencatat 6 kali final sesama pemain mereka yaitu di Korea SS (Xie - Zhu Lin), Swiss SS (Zhang Ning - Lu Lan), Singapore SS (Zhang Ning - Xie), China Master SS (Zhang Ning - Xie ), Denmark SS (Zhang Ning - Lu Lan) dan Hongkong SS (Xie - Zhu Lin). Prestasi fenomenal justru dibuat pemain asal Malaysia, Wong Mee Chow karena merebut gelar juara di kandang China (China Open) dengan mengalahkan 3 pemain China yang pernah menjadi juara dunia yaitu Zhu Lin, Zhang Ning dan Xie XIngfang. Prestasi fenomenal juga milik pemain putri Denmark, Tine Rasmussen yang juga menjadi juara Jepang SS dengan menundukkan 3 jagoan China Lu Lan, Zhang Ning dan Xie Xingfang. Tunggal putri Indonesia belum bisa berbicara banyak untuk turnamen sekelas Super Series ini. Prestasi terbaik diperoleh Maria Kristin yang maju ke babak 8 besar Indonesia SS yang akhirnya takluk ditangan pemain Bulgaria Petya Nedelcheva pada perebutan tempat ke Semi Final.

Wajah Indonesia terselamatkan dinomor ganda putra dengan keberhasilan Markis Kidho / Hendra Setiawan merebut gelar juara berturut-turut dalam 2 turnamen pamungkas China Open SS dan Hongkong SS. Dengan prestasi tersebut secara hitungan medali Markis / Hendra berada di posisi ketiga dengan 2 emas + 1 perak + 4 perunggu). Sebenarnya Markis / Hendra berpeluang merebut 1 gelar lagi pada China Master SS ketika mereka berhasil masuk final yang berhadapan denga pasangan tuan rumah Fu Haifeng / Cai Yun. Sayangnya mental mereka jatuh karena ulah hakim garis yang sangat merugikan pemain Indonesia tersebut. Fu / Cai sendiri akhirnya mengumpulkan terbanyak dengan 4 emas + 1 perak + 4 perunggu dan diikuti pasangan Malaysia Koo Kean Keat / Tan Boon Heong dengan 4 emas + 2 perunggu. Prestasi stabil juga ditunjukkan pasangan senior Indonesia / Amerika, Chandra wijaya dan Tony Gunawan yang berhasil meraih 1 emas + 2 perak + 5 perunggu. Ini suatu prestasi yang luar biasa buat pasangan yang jarang berlatih bersama ini. Diluar 4 besar tersebut gelar juara sempat dicuri pasangan muda Korea Lee Young Dae / Jung Jae Sung saat turnamen di gelar di negara mereka, Korea SS. Kalau di dua nomor sebelumnya China sering menempatkan final sesama mereka maka untuk nomor ganda putra hal itu tidak terjadi. Justru Korea yang berhasil menciptakan final sesama pasangan senegara ketika Jung Jae Sung / Lee Young Dae merebut gelar juara Korea SS dengan mengalahkan rekannya Lee Jae Jin / Hwang Ji Man. Bila Tony Gunawan dianggap dari Indonesia maka Indonesia dua kali menciptakan All Indonesia Final yaitu di Jepang SS (Chandra / Tony - Luluk / Alvent) dan Hongkong SS (Chandra / Tony - Markis / Hendra)

Berbicara nomor ganda putri memang perhatian pasti tertuju ke negeri tirai bambu, China. Dari dua belas gelar juara mereka hampir menyapu bersih. Satu-satunya gelar yang kecolongan justru di kandang mereka sendiri ketika pasangan Indonesia Vita Marissa / Lilyana Natsir dengan semangat baja berhasil menjadi kampium China Master SS. Selebihnya gelar juara dinomor ini benar-benar dikuasai China melalui Zhang Yawen / Wei Yili (3 gelar), Du Jing / Yu Yang (2), Gao Lin / Huang Sui (2), Yang Wei / Zhang Jiwen (2), Yang Wei / Zhao Tingting (1) dan Gao Lin / Zhao Tingting (1).Sebenarnya prestasi Indonesia dinomor ini tidak terlalu mengecewakan. Selain merebut satu gelar juara, pasangan Indonesia sekali menjadi finalis saat Vita Marissa masih berpasangan dengan greysia Polli di Malaysia SS dan semifinalis di Swiss SS. Greysia Polli sendiri ketika kembali bersatu dengan pasangan lama nya Jo Novita berhasil masuk semi final pada Perancis Super Series

Prestasi terbaik Indonesia justru diperoleh dinomor ganda campuran dengan total raihan 4 gelar juara melalui dua pasangan terbaiknya. Nova Widianto / Lilyana Natsir menjadi yang terbaik kedua dalam perolehan medali dengan 2 emas+ 1 perak + 3 perunggu. Kedua gelar juara Nova / lilyana, seperti halnya Markis / Hendra diperoleh dari dua turnamen pamungkas China Open SS dan Hongkong SS. Pasangan Indonesia lainnya Flandy Limpele / Vita Marissa berada di posisis berikutnya dengan 2 emas + 1 perunggu. Mereka berhasil merebut gelar juara pada Singapura SS dan Perancis SS. Satu pasang ganda campuran lagi M. Rizal / Greysia Polli sempat mencatat prestasi sebagai runner Up Swiss SS. Sayangnya prestasi tersebut tidak berlanjut ke jenjang yang lebih tinggi sampai akhirnya pasangan ini bubar. Penguasa nomor ganda campuran ini masih tetap berada ditangan pasangan China Zheng Bo / Gao Lin dengan meraup separuh gelar yang diperebutkan yaitu 6 gelar. Sisa gelar juara direbut oleh pasangan China He Hanbing / Yu Yang (Denmark SS) dan pasangan Korea Lee Young Dae / Lee Hyo Jun (Swiss SS)

Secara individu, pemain China Gao Lin merupakan meraup gelar terbanyak dengan 9 gelar juara (6 ganda campuran + 3 ganda putri) yang disusul pasangannya di ganda campuran Zheng Bo yang meraih 6 gelar juara yang semuanya bersama Gao Lin. Dibawah mereka terdapat pasangan kekasih Lin dan dan Xie Xingfang yang sama-sama berhasil mengumpulkan 5 gelar juara di nomornya masing-masing. Pemain Indonesia yang meraih gelar terbanyak adalah Vita Marissa dan Lilyana Natsir dengan 3 gelar. Keduanya bersama-sama mendapatkan gelar juara di nomor ganda putri dan menambah dua gelar juara lagi dinomor ganda campuran dengan pasangannnya masing-masing.

Pesta Super Series tahun ini sudah usai, hadiah uang yang cukup besar sudah dibagikan. Masih tersisa turnamen Final Super Series yang waktunya masih belum ditentukan. Sayangnya turnamen dengan hadiah terbesar di dunia ini terancam tidak diikuti pemain China karena tidak memberikan dampak terhadap peringkat menuju Olimpiade. Terlepas dari Final Super Series yang belum jelas, maka rangkaian Super series 2008 sudah menunggu. Bulan Januari nanti akan digelar Malaysia SS dan Korea SS yang mengawali tahun kedua rangkaian seri turnamen ini. Menarik untuk ditunggu, apakah Indonesia akan tertinggal lagi dari China dan Malaysia atau akan menjadi lebih baik. Bulan Januari nanti akan mulai terjawab kiprah para pendekar berpedang raket selanjutnya. Sampai bertemu rangkaian turnamen Superseries tahun 2008

Published :
www.bulutangkis.com (4 Desember 2007)

MENUNGGU PRESTASI VERTIKAL DARI KELUARGA EMAS BULUTANGKIS

Turnamen Grand Prix Vietnam Open berakhir tanggal 11 November kemarin. Indonesia yang menurunkan pemain muda nya berhasil merebut dua gelar juara dinomor ganda putri dan ganda Campuran. Yulianti yang berpasangan dengan Nathalia Poluakan berhasil mengalahkan pasangan Hongkong Hoi Wah Chau / Wai Chee Louisa Koon dengan 21-19 21-15. Keberhasilan Yulianti berlanjut dinomor ganda campuran yang berpasangan dengan Ahmad Tantowi yang di final kembali mengalahkan pasangan Hongkong Hoi Wah Chau / Wai Ho Hui 21-11 21-13. Sayangnya satu lagi wakil Indonesia di final yang bermain untuk klub Djarum, Andre Kurniawan gagal mereebut gelar Grand Prix keduanya tahun ini. Andre dikalahkan pemain gaek asal Malaysia, Roslin Hashim 12-21 21-23

Terlepas dari keberhasilan Indonesia merebut dua gelar juara, satu hal yang menarik untuk disimak dari pemain ganda putra Indonesia yang bertarung sampai babak perempat final vietnam Open ini yaitu pasangan Bona. S / M. Aksan dan Rendra. W / Frans. K. Dari kedua pasangan itu, tercatat dua nama yang merupakan adik kandung dari para Juara Dunia yaitu Rendra Wijaya yang merupakan adiknya juara dunia ganda putra 1997 Chandra Wijaya dan Bona Septano adik dari Markis Kidho yang merupakan juara dunia 10 tahun kemudian setelah Chandra Wijaya. Selain mereka, kedua keluarga ini masih mempunyai anggota keluarga lain yang masih berkarir sebagai pemain tunggal putri. Dari keluarga Wijaya, masih ada Sandrawati Wijaya yang pada peringkat tunggal putri nasional terbaru berada di posisi ke-13, sedangkan si bungsu dari keluarga Markis Kidho adalah Pia Zebadiah yang merupakan andalan putri yunior Indonesia dan menempati peringkat nasional nomor enam.

Menyimak lebih dalam prestasi keluarga Wijaya memang cukup membanggakan bagi sang ayah Hendra Wijaya. Indra Wijaya yang merupakan kakaknya Chandra memulai prestasi keluarga mereka dengan menjadi anggota pelatnas dan sempat menjadi salah satu andalan Indonesia pada Piala Thomas tahun 1996 dan 1998. Prestasi Indra sebenarnya sempat menjadi harapan besar Indonesia ketika menjuarai Invitasi dunia junior tahun 1991. Namun karena ketatnya persaingan dinomor tunggal putra, prestasi terbaiknya selain menjadi anggota Thomas Cup adalah menjuarai Grand Prix Polandia terbuka tahun 1994. Setelah tidak memperkuat Indonesia, Indra pindah bermain ke negeri Jiran, Singapura. Prestasi keluarga ini melambung setelah berbagai prestasi yang ditorehkan Chandra Wijaya. Semua gelar bergengsi berhasil di sabetnya mulai dari juara dunia, Olimpiade, All England, Japan Open, China Open, Indonesia Open dan banyak gelar juara lagi baik tingkat nasional maupun internasional. Saat usia yang sudah dianggap tua untuk seorang pebulutangkis, saat ini Chandra masih berprestasi sebagai pemain bulutangkis profesional. Hebatnya lagi seorang Chandra merebut berbagai gelar juara dengan banyak pasangan baik di ganda putra maupun Ganda Campuran. Pemain-pemain yang pernah mengecap gelar bersama Chandra adalah Ade Sutrisna, Sigit Budiarto, Tony Gunawan, Nova Widianto, Eliza Nathael dan Jo Novita. Seperti disebutkan diatas, Setelah Indra dan Chandra masih ada Rendra dan Sandrawati. Prestasi internasional terbaik Rendra adalah finalis Belanda terbuka bulan lalu sedangkan prestasinya Sandrawati masih dilevel nasional dan junior.

Prestasi keluarga Wijaya disaingi oleh keluarga Mainaky. Lima dari enam putra keluarga Mainaky berprofesi sebagai pemain bulutangkis. Mulai dari Richard Mainaky, Rexy Mainaky, Marleve Mainaky, Riony Mainaky dan Karel Mainaky. Tiga diantara mereka pernah mencatat prestasi bersamaan masuk semi final turnamen Indonesia Open 2001. Reony Mainaky yang berpasangan dengan pemain Jepang, Masafumi Hanada dan Karel Mainaky yang berpasangan dengan Davis Efraim menjadi semifinalis di nomor ganda. Sayangnya All Mainaky Final gagal terjadi karena Riony / Hanada harus kalah dari Chandra / Sigit sedangkan Karel / Davis tidak mampu menang dari Tony gunawan / Halim Haryanto. Prestasi lebih baik dicatat oleh anggota keluarga Mainaky lainnya di nomor tunggal putra, Marleve Mainaky yang berhasil menjadi Juara setelah menundukkan andalan Malaysia Lee Tsuen Tseng. Prestasi yang dibuat marleve lainnya adalah juara Swiss terbuka 2002 dan menjadi tulang punggung tim Thomas Cup Indonesia yang menjadi juara tahun 2000 dan 2002. Prestasi yang paling fenomenal tentunya dibuat oleh Rexy Mainaky yang berpasangan dengan Ricky Subagja menjadi salah satu pasangan legendaris Indonesia. Mereka berhasil menjuarai turnamen-turnamen besar seperti yang dibuat Chandra Wijaya antara lain juara Olimpiade, juara dunia dan juara All England. Setelah pensiun pun keluarga ini tetap berprestasi. Richard Mainaky sebagai pelatnas pelatih ganda campuran sukses membawa Nova Widianto / Lilyana Natsir menjadi juara dunia serta Flandy Limpele / Vita Marissa yang menjuarai beberapa gelar juara turnamen super series. Rexy Mainaky juga sukses menjadi pelatih di luar negeri. Saat melatih di Inggris, Rexy mengantarkan pasangan Nathan Robertson / Gail Emms menjadi juara dunia. Setelah pindah ke Malaysia juga sukses meracik pasangan Koo Kean Keat / Tan Boon Heong menjadi salah satu ganda putra nomor satu dunia. Kebangkitan tim ganda Inggris dan Malaysia secara keseluruhan tidak lepas dari tangan dingin Rexy.

Tiga bersaudara keluarga Arbi juga mencatat sejarah gemilang dalam sejarah perbulutangkisan Indonesia. Diawali oleh kiprah Hastomo Arbi yang di eluk-elukan publik saat menjadi pahlawan kemenangan Indonesia atas tim kuat China pada perebutan Piala Thomas tahun 1984. Gelar juara lainnya yang pernah dikecap Hastomo adalah juara PON (1981), Sea Games (1979) dan Thaiwan terbuka (1982). Adik Hastomo, Eddy Hartono yang dikenal dengan panggilan kempong juga mencatat prestasi mendunia di nomor ganda putra dan ganda campuran. Gelar juara beberapa turnamen internasional pernah ia raih termasuk juara ganda putra All England tahun 1992 bersama Rudy Gunawan. Masih bersama Rudy gunawan, Eddy Hartono juga menyumbangkan medali perak Olimpiade tahun 1992. Pemain lain yang pernah menjadi juara berpasangan dengan Eddy Hartono adalah Liem Swie King, Verawati Pajrin dan Emma Sulistyaningsih. Prestasi terbaik keluarga Arbi dicatat oleh si bungsu Hariyanto Arbi yang tampil di nomor tunggal putra. Dengan julukan smash 100 watt-nya, Hariyanto merebut gelar juara All England (1993-1994), juara dunia (1995) dan berbagai turnamen internasional lainnya.

Keluarga bulutangkis lainnya yang berprestasi adalah kakak-adik Rudy Hartono dan Utami Dewi. Rudy Hartono dengan prestasinya yang tercatat dalam Guinness Book of Record sebagai pemain tunggal putra yang menjuarai All England paling banyak yakni delapan kali. Sedangkan Utami Dewi pernah menjadi juara nasional dan juara PON. Juara Olimpiade 1992, Alan budi Kusuma juga meneruskan jejak atlet kepada adiknya Yohan Hadikusuma. Yohan sempat juara tunggal PON tahun 2000 yang kemudian bermain di nomor ganda setelah pindah ke Hongkong. Bersama pasangannya Albertus Njoto yang juga asal Indonesia, mereka menjuarai Grand Prix Philipina terbuka 2006.

Mengamati keluarga bulutangkis terlihat keluarga secara horizontal (kakak-adik) bukan secara vertikal (Orang tua-Anak). Hanya juara dunia 1983 Icuk Sugiarto yang mewariskan keahliannya kepada sang anak Tommy Sugiarto. Prestasi Tommy sendiri masih ditunggu apakah akan secemerlang ayahnya atau tidak. Padahal melihat banyaknya keluarga Indonesia yang berprestasi di bulutangkis seharusnya juga bisa diwariskan secara vertikal tidak sekedar horizontal. Sebuah pertanyaan menarik "mengapa para juara dunia dari Indonesia lainnya tidak mengarahkan buah hati mereka di jalur bulutangkis?" Jawaban yang paling mendasar bagi mereka karena tidak adanya jaminan masa depan mereka sebagai atlet di negeri ini setelah tidak berprestasi lagi. Berbeda dengan profesi lainnya seperti militer misalnya. Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono mungkin merasa masa depan di militer tetap cerah sehingga salah satu anaknya juga mengikuti jejak karir sang Ayah. Apalagi di dunia usaha, generasi-generasi konglomerat sudah berhasil mewariskan kepandaiannya kepada anaknya. Sebagai salah satu contoh Abu Rizal Bakrie yang bisnisnya diteruskan oleh Anindya Bakrie. Hal ini sangat berbeda dengan bulutangkis, generasi muda dari para juara dunia seperti Rudy Hartono, Liem Swie King, Tjun Tjun, Christian Hadinata, dan banyak lagi ternyata tidak ada yang mengikuti jejak sang ayah.

Pemerintah diharapkan mulai memikirkan kondisi ini dengan memberikan jaminan lebih baik buat seseorang yang akan menekuni dunia atlet khususnya bulutangkis. Salah satu solusinya seperti memberikan uang pensiun bagi atlet berprestasi. Misalnya seorang juara dunia yang sudah gantung raket diberikan pensiun setara PNS golongan IV, Juara tingkat Asia setara golongan III dan seterusnya. Disamping itu perlu dipikirkan sebuah solusi yang baik buat pemain-pemain yang sudah bertahun-tahun berlatih tapi gagal mencapai prestasi maksimal seperti membuat program pendidikan keahlian khusus sehingga menjadi atlet bukanlah menjadi suatu perjudian terutama bulutangkis yang nilai investasinya sangat tinggi. Orang tua yang menginvestasikan anaknya di dunia bulutangkis dihadapkan akan dua pilihan yaitu menjadi kaya raya bila berhasil dan menjadi melarat seandainya gagal. Disinilah diperlukan solusi jalan tengah seperti pendidikan khusus tersebut buat yang gagal sehingga para orang tua tidak ragu menganjurkan anaknya menjadi atlet bulutangkis. Bagaimanapun juga para pendekar bulutangkis Indonesia itu menjadi panutan sebagian besar orang tua di Indonesia buat memilihkan karir buat anaknya. Seorang juara dunia saja enggan mengarahkan anaknya berkarir di bulutangkis, lalu bagaimana dengan orang tua - orang tua lainnya. Insan perbulutangkisan Indonesia diharapkan berpikiran ke depan untuk selalu menjaga stok generasi penerus yang mengharumkan nama bangsa nya di arena bulutangkis.


Published :
www.bulutangkis.com (13 November 2007)