Wednesday, October 8, 2008

Perjalanan Panjang Bersama Turnamen All England

Kerinduan Indonesia akan nostalgia prestasi emas di arena All England akan diuji pada tanggal 3-8 Maret ini. Taufik Hidayat diharapkan merebut gelar juara tunggal putra bagi Indonesia yang merupakan penantian 14 tahun lamanya. Terakhir Indonesia berhasil merebut juara tunggal putra pada tahun 1994 melalui Hariyanto Arbi. Harapan lain ditumpukan pada pundak pasangan campuran Nova Widianto / Lilyana Natsir dan Flandy Limpele / Vita marissa. Jika mereka berhasil maka nomor ganda campuran ini menyembahkan gelar juara setelah terakhir 29 tahun yang lalu melalui Christian Hadinata / Imelda Wiguna. Nomor yang paling anyar mempersembahkan gelar buat Indonesia adalah ganda putra ketika Chandra Wijaya / Sigit Budiarto menjadi kampium tahun 2003. Pada nomor ini tumpuan diharapkan datang dari pasangan terbaik kita Markis Kidho / Hendra Setiawan. Dari nomor manapun yang direbut Indonesia akan menjadi gelar bergengsi bagi yang berhasil menjadi pemenang.

Turnamen All England merupakan salah satu turnamen bulutangkis Internasional yang tertua didunia. Bagi pemain bulutangkis merupakan kebanggaan tersendiri menjadi juara pada turnamen ini. Turnamen yang disebut-sebut sebagai kejuaraan dunia tidak resmi ini sudah mulai diselenggarakan sejak tahun 1899 atau seabad lebih. All England sempat terhenti saat terjadi perang dunia kesatu tahun 1915-1919 dan perang dunia kedua 1940-1946. Awalnya turnamen ini hanya diperuntukkan bagi pemain-pemain Inggris raya yang kemudian berubah menjadi kejuaraan bulutangkis Internasional yang bergengsi.

Pemain Indonesia, Rudy Hartono berhasil mencatat rekor sebagai pemain tunggal putra dengan gelar juara tunggal putra terbanyak. Bahkan rekor tersebut tercatat dalam Guiness Book of Record. Rudy menjuarai turnamen ini sebanyak delapan kali dari tahun 1968-1976 kecuali tahun 1975 yang dimenangkan pemain Denmark Svend Pri. Prestasi Rudy ini melampui rekor lama yang dipegang oleh pemain Denmark, Erland Kops yang merebut gelar juara sebanyak 7 kali. Tercatat pula pada pengumpulan rekor gelar juara, pemain Inggris George Alan Thomas yang berhasil menjuarai 4 kali turnamen ini. Nama George Alan Thomas inilah yang akhirnya diabadikan menjadi nama kejuaraan dunia beregu putra, Thomas Cup.

Bagi Indonesia sendiri, Rudy bukanlah pemain pertama Indonesia yang menjadi juara tetapi dia merupakan pemain kedua. Pemain Indonesia yang mencatat sejarah sebagai pemain pertama Indonesia yang menjadi juara All England adalah Tan Joe Hoek yang juga dikenal dengan nama lain, Hendra Kertanegara yang menjadi juara pada tahun 1959. Pemain lain yang layak disebut sebagai bintang Indonesia adalah Liem Swie King yang menjuarai turnamen ini sebanyak tiga kali. Liem Swie King dengan senjata smash keras nya yang dijuluki "King Smash" meraup gelar juara tahun 1978, 1979 dan 1981. Sejak era 80-an sampai sekarang bergabung negara raksasa bulutangkis, China dalam turnamen ini yang membuat persaingan semakin sengit. Hanya dua pemain tunggal putra Indonesia yang mampu meraih gelar juara setelah bergabungnya China yaitu Hariyanto Arbi dan Ardi Wiranata. Bandingkan dengan China sendiri yang 13 kali juara melalui 8 pemainnya mulai dari Luan Jin, Yang Yang, Zhao Jianhua, Liu Jun, Dong Jiong, Sun Jun, Xia Xuanxe, Cheng Hong dan sampai Lin Dan. Bahkan prestasi tunggal putra Denmark juga lebih baik dari Indonesia. Sejak taun 1980, Denmark merebut 8 gelar juara melalui empat pemainnya, Morten Frost Hansen, Ib Fredriksen, Poul Erik Hoyor Larsen dan Peter Gade Christiansen

Pada nomor tunggal putri, pebulutangkis Indonesia Susi Susanti menjadi satu-satunya pemain yang berhasil menjadi juara. Dengan empat gelar juara yang direbutnya pada tahun 1990, 1991, 1993 dan 1994 membuatnya tercatat pada urutan ke-4 dari daftar perolehan gelar juara terbanyak bersama pemain Inggris Kitty Mc Kane dan jagoan Jepang, Hiroe Yuki. Pada nomor ini pemain Amerika, Judy Devlin mencatat rekor gelar juara terbanyak dengan 10 kali menjadi yang terbaik. Prestasi Judy sebenarnya sama dengan pemain Inggris Ethel B Thomson tetapi saat Ethel juara ketika turnamen masih belum diikuti pemain luar Inggris.

Prestasi lebih konsisten ditunjukkan ganda putra Indonesia. Sejak Christian / Ade Chandra menjadi juara tahun 1972 sampai tahu lalu, hampir separuh dari total gelar mejadi milik Indonesia. Bahkan Tjun Tjun / Johan Wahyudi berada diurutan terdepan dalam pengumpulan gelar juara bersama pasangan Denmark, Fin Kaberro / Jorgen H Hansen dan pasangan tuan rumah, Frank Devlin / Gordon Curly Mark. Pasangan Indonesia yang berhasil menjadi juara lebih dari satu kali selain Tjun Tjun / Johan Wahyudi adalah Christian Hadinata / Ade Chandra, Rudy Heryanto / Kartono, Ricky Subagya / Rexy Mainaky yang masing-masing dua kali juara. Sedangkan Rudy Gunawan, Chandra Wijaya dan Tony Gunawan merebut dua kali juara dengan pasangan yang berbeda

Dua nomor lainnya ganda putri dan ganda campuran, prestasi Indonesia kurang memuaskan. Pada nomor ganda putri, kekuatan China tidak tertandingi sejak keikutsertaannya pada tahun 1982. China berhasil merebut 16 gelar juara dari total 25 gelar juara, Sedangkan enam gelar sisanya disabet Korea Selatan. Ini berarti selama 25 tahun, hanya dua negara yang berhasil menjadi pemuncak nomor ganda putri. Prestasi China semakin lengkap dengan rekor gelar juara terbanyak yang diperoleh pasangan Gao Ling / Huang Sui sebanyak enam kali yang disusul Ge Fei / Gu Jun dengan empat kali juara. Prestasi mengkilap Korea Selatan, selain mengimbangi China di ganda putri juga merajai nomor ganda campuran. Dua pasangannya menguasai perolehan gelar terbanyak melaui Park Joo Bong / Chung Myung Hee dan Kim Dong Moon / Ra Kyung Min dengan empat kali menjadi kampium. Dari perolehan gelar terbanyak ini juga tercatat nama Betty Uber yang berpasangan dengan rekan senegaranya Donald C Hume yang juga merebut gelar juara sebanyak empat kali. Nama Betty Uber inilah yang diabadikan menjadi nama piala beregu putri dunia, Uber Cup.

Rekor Gelar Terbanyak Tunggal Putra :
1. Rudy Hartono (Indonesia) : 8 gelar (1968, 1969, 1970, 1971, 1972, 1973, 1974, 1976)
2. Erlan Kops (Denmark) : 7 Gelar Juara (1958, 1960, 1961, 1962, 1963, 1965, 1967)
3. Raph F Nicholas (Inggris) : 5 gelar juara (1932, 1934, 1936, 1937, 1938)
4. Frank Devlin (Irlandia ) : 5 gelar juara (1925, 1926, 1927, 1928, 1929, 1931)
5. George Alan Thomas (Inggris), Eddy Chong (Malaysia), Wong Pek Song (Malaysia) dan Morten Frost Hansen (Denmark) : 4 gelar juara

Rekor Gelar Terbanyak Tunggal Putri :
1. Judy Devlin (Amerika Serikat) : 10 Gelar (1954, 1957, 1958, 1960, 1961, 1962, 1963, 1964, 1966, 1967)

2. Ethel B Thomson (Inggris) : 10 Gelar (1900, 1901, 1903, 1904, 1905, 1906, 1907, 1908, 1909, 1910)
3. F.G Barret (Inggris) : 5 kali (1926, 1927, 1929, 1930, 1931)
4. Susi Susanti (Indonesia), Kitty Mc Kane (Inggris) dan Hiroe Yuki (Jepang) : 4 kali

Rekor Gelar Juara Ganda Putra :
1. Tjun Tjun / Johan Wahyudi (Indonesia) : 6 kali (1974, 1975, 1977, 1978, 1979, 1980)
2. Fin Kaberro / Jorgen H Hansen (Denmark) : 6 kali (1955, 1956, 1961, 1962, 1963,1964)
3. Frank Devlin / Gordon Curly Mark (Inggris) : 6 kali (1923, 1926, 1927, 1929, 1930, 1931)
4. Hendry Norman / George A Thomas (Inggris) dan Donald C Hume / RM White (Inggris) : 4 kali

Rekor Gelar Juara Ganda Putri :
1. Gao Ling / Huang Sui (China) : 6 kali (2001, 2002, 2003, 2004, 2005, 2006)
2. Ge Fei / Gu Jun (China) : 4 kali (1996, 1997, 1998, 2000)
3. Margereth L Rivers / Hazel Hogarth (Inggris) : 4 kali (1922, 1923, 1925, 1927)
4. Ethel B Thomson / Muriel Lucas (Inggris) : 4 kali (1902, 1904, 1905, 1906)

Rekor Gelar Juara Ganda Campuran :
1. Kim Dong Moon / Ra kyung Min (Korea) : 4 kali (1998, 2000, 2002, 2004)
2. Park Jo Bong / Chung Myung Hee (Korea) : 4 kali (1986, 1989, 1990, 1991)
3. Donald C Hume / Betty Uber (Inggris) : 4 kali (1933, 1934, 1935, 1936)
4. George A Thomas / Hazel Hoogarth (Inggris) : 4 kali (1914,1920, 1921, 1922)

Gelar Juara Yang berhasil direbut pemain Indonesia :
1. Rudy Hartono : 8 gelar (1968, 1969, 1970, 1971, 1972, 1973, 1974, 1976)
2. Tjun Tjun / Johan Wahyudi : 6 kali (1974, 1975, 1977, 1978, 1979, 1980)
3. Susi Susanti : 4 kali (1990, 1991, 1993, 1994)
4. Liem Swie King : 3 kali (1978, 1979, 1981)
5. Hariyanto Arbi : 1993 dan 1994
6. Christian Hadinata / Ade Chandra : 1972 dan 1973
7. Rudy Heryanto / Kartono : 1981 dan 1984
8. Ricky Subagya / Rexy Mainaky : 1995 dan 1996
9. Ardy Wiranata (1991), Tan Joe Hoek (1959), Eddy Hartono / Rudy Gunawan, Rudy Gunawan / Bambang Suprianto, Chandra Wijaya / Tony Gunawan (1999), Chandra Wijaya / Sigit Budiarto (2003), Tony Gunawan / Halim Haryanto (2001), Retno Kustija / Minarni (1968), Verawati Pajrin / Imelda Wiguna (1979) dan Christian Hadinata / Imelda Wiguna (1979)


Published :
www.bulutangkis.com (04 Maret 2008)
www.badminton-indonesia.com (03 Maret 2008)

No comments: