Minggu ini perhatian pecandu bulutangkis tertuju kepada negeri kincir angin Belanda. Turnamen bulutangkis Belanda Terbuka yang digelar merupakan salah satu turnamen bulutangkis klasik. Turnamen ini sudah berlangsung sejak tahun 1932. Ini berarti salah satu turnamen bulutangkis tertua di dunia yang hanya kalah tua dari turnamen All England dan Perancis Terbuka.
Bagi Indonesia, turnamen Belanda Terbuka merupakan sejarah tersendiri. Dimana salah satu gelar Internasional Pertama Indonesia dicatat pada turnamen ini. Pemain legendaris Indonesia, Ferry Sonneville menjadi juara tunggal putra Belanda Terbuka tahun 1956. Sebelumnya Ferry merupakan juara Malaya Open 1955. Bandingkan dengan gelar pertama kali di Perancis Terbuka tahun 1957 dan Jerman Terbuka tahun 1958 oleh pemain yang sama atau gelar All England pertama oleh legendaris lainnya, Tan Joe Hoek 1959. Turnamen klasik lainnya, baru mencatatkan Indonesia sebagai juara di era 70-an. Rudy Hartono merupakan pemain Indonesia pertama juara Denmark Terbuka tahun 1970. Sedangkan di Swedia Terbuka, Indonesia meraih juara pertama kali tahun 1977 melalui Liem Swie King dan pasangan Christian Hadinata / Ade Chandra.
Indonesia yang pernah mengalami masa kelam sebagai kolonial Belanda berhasil menunjukkan prestasi lebih baik di negeri kincir angin tersebut. Ferry Sonneville bukan hanya mencatatkan diri sebagai pemain pertama Indonesia di Belanda Terbuka tetapi juga penyumbang gelar terbanyak buat Indonesia. Ferry meraup juara tahun 1956, 1958, 1960, 1961 dan 1962. Setelah itu, Indonesia meraih juara lagi pada era 80-an melalui pemain tunggal putri Sarwendah Kusuma Wardhani 1987. Sarwendah mengulangi prestasinya sebanyak dua kali tahun 1991-1992. Pemain tunggal putri Indonesia lainnya yang pernah juara Belanda Terbuka adalah Minarti Timur (1990), Susi Susanti (1993) dan Firdasari Andrianti (2006). Sedangkan untuk tunggal putra, keperkasaan Indonesia ditunjukkan oleh Alan Budi Kusuma (1989) dan Hermawan Susanto (1990, 1992). Nomor ganda menyumbang juara melalui Eddy Hartono / Gunawan (1989, 1991), Eddy Hartono / Verawati (1989), Finarsih / Lili Tampi (1992), Denny Kantono / Antonius (1994), Halim Haryanto / Sigit Budiato (2000), Rian Sukmawan / Eng Hian (2006), Endang N / Rani Mundiasti (2006) dan Rian Sukmawan / Yonathan S (2007). Jadi secara total sejak 1932, Indonesia telah meraih 22 gelar juara.
Tuan rumah Belanda justru jarang berpesta di negeri sendiri. Dengan hanya memperoleh sepuluh gelar sejak 1932 merupakan prestasi yang tidak terlalu bagus bagi mereka. Bahkan tiga dari sepuluh gelar tersebut disumbangkan pemain asal Indonesia, Mia Audina. Mia menjuarai nomor tunggal putri tahun 2001-2002 dan ganda putri 2005 bersama Lotte Bruil. Satu gelar juga dipersembahkan pemain imigrannya setelah pemain asal China Yao Jie juara tahun 2003. Enam gelar lainnya diperoleh dari EH Den Hoed Jr (1936), Joke Van Beusekom / Marjan Ridder (1977), Gillian Gilks, ENG / Marjan Ridden (1979), Eline Coone (1989) dan Eline Coone / Erica Van Heuvel (1996).
Perbandingan Indonesia dan Belanda dalam turnamen klasik ini menunjukkan Indonesia mampu lebih maju dari negara yang pernah menjajahnya. Alangkah bangga-nya bangsa ini bila terus menunjukkan prestasi seperti ini. Bahkan prestasi ini seharusnya menginspirasi anak bangsa untuk lebih maju pada bidang-bidang lainnya selain olahraga bulutangkis.
Published :
www.bulutangkis.com (14 Oktober 2008)
www.badminton-indonesia.com (14 Oktober 2008)
Ditulis Oleh : Hendri Kustian
Email : hendri_kustian@yahoo.com
Artikel Bulutangkis : http://kolombulutangkis.blogspot.com/
Catatan bulutangkis : http://catatanbulutangkis.blogspot.com/
Tuesday, October 21, 2008
Wednesday, October 8, 2008
Kiprah Generasi Baru Pasca Olimpiade
Written by Hendri Kustian (Email : hendri_kustian@yahoo.com)
Olimpiade sering kali dianggap sebagai puncak prestasi pebulutangkis dunia. Kebanggaan akan perolehan emas olimpiade merupakan medali yang paling diidamkan. Ketika olimpiade baru saja berakhir, negara-negara bulutangkis sudah mulai berpikir ajang berikutnya yang masih empat tahun lagi. Wujud dari persiapan itu terlihat dengan didorongnya regenerasi pada setiap negara. Pasca Olimpide diselenggarakan lima turnamen besar secara berturutan mulai dari GPG Thaiwan Open, Jepang SS, China Master SS dan dua turnamen secara bersamaan GPG Macau Open dan GP Bitburger Open. Dalam lima turnamen ini terlihat berbagai perubahan dan strategi dari berbagai negara. Generasi baru tampak mulai terbangun dari hasil kelima turnamen tersebut
Para juara dunia yunior dan Asia Yunior 2005 - 2007 mulai muncul ke permukaan. China merupakan negara terdepan dalam memunculkan generasi baru tersebut. Prestasi yang paling fenomenal ditunjukkan oleh pasangan ganda putri Cheng Su / Zhao Yunlei dengan menciptakan hatrik pada tiga turnamen yaitu Jepang Terbuka, China Master dan Macau Terbuka. Padahal pasangan ini sudah lama tidak membukukan prestasi maksimal. Terakhir mereka mencatat poin turnamen BWF pada November tahun lalu saat masuk babak pertama China Terbuka. Cheng Su merupakan juara ganda putri yunior Asia 2005 yang berpasangan dengan rekannnya Liao Jingmei. Sedangkan Zhao Yunlei adalah juara ganda putri yunior Asia 2004 bersama Ding Jiao. Jejak Cheng Su / Zhao Yunlei diikuti oleh yunior mereka Ma Jin / Wang Xiaoli. Juara Asia Yunior dan dunia Yunior 2006 tersebut mencatat prestasi yang baik dengan melaju ke babak final Macau Open
Kekuatan generasi baru China juga ditunjukkan pemain tunggal putri-nya. Andalan mereka adalah juara Asia dan dunia yunior 2006, Wang Yihan dan juara Asia Yunior 2005, Wang Lin. Wang Yihan berhasil meraih juara turnamen Superseries pertama nya di Jepang. Perjalanan Wang Yihan menuju tangga juara ditandai dengan menaklukkan pemain yang sering menjadi momok para pemain China, Tine Rasmussen (Denmark) serta pemain berpengalaman, Zhou Mi (Hongkong). Pemain lainnya Wang Lin, meskipun tidak tampil sebagai juara tetapi berhasil meraih finalis pertama-nya pada turnamen superseries di China Master.
Pada bagian putra, China berhasil mengangkat prestasi pasangan Xu Chen / Sun Jungjie menjadi finalis China Master. Meskipun mereka belum bisa menembus pasangan terbaik dunia Markis Kido / Hendra Setiawan tetapi mereka menaklukkan tiga besar dunia lainnya, Fu Haifeng / Cai Yun dan Koo Kean Kiat / Tan Boon Heong. Bahkan Xu Cheng juga bermain baik di nomor ganda campuran berpasangan dengan Zhao Yunlei menjadi juara Macau Terbuka.
Negara produsen raket Yonex, Jepang mengandalkan generasi baru-nya juara Asia Yunior 2006 Kenichi Tago. Pemain ulet ini terus dimatangkan dalam berbagai turnamen. Tago berhasil menembus semifinal turnamen Superseries untuk kedua kalinya di Jepang Terbuka. Sebelumnya bulan Juni lalu, Tago juga menembus semifinal Indonesia Terbuka. Prestasi yang dibuat juara Asia Yunior 2006 ini lebih baik ketimbang juara dunia yunior 2006, Hong Ji Hoon (Korea). Hoon langsung kandas dibabak pertama baik di GPG Taepei Terbuka maupun Jepang Terbuka.
Korea sendiri sebenarnya sudah cukup berhasil dengan generasi baru nya Lee Young Dae. Young Dae yang dipasangkan dengan senior-seniornya sudah lebih dulu menembus level atas dunia baik diganda putra maupun campuran. Bahkan di usia yang sangat muda, emas Olimpiade sudah digengamnya. Young Dae merupakan juara Asia Yunior 2005-2006 dan dunia yunior 2006 yang berpasangan dengan Gun Woo Choo pada ganda putra. Pada Campuran Yong Dae merebut juara Asia 2005 bersama Ha Jeung Eun dan berpasangan dengan Yoo Hyun Young memegang juara Asia dan dunia yunior 2006 . Prestasi Young Dae di level senior belum mampu diikuti oleh rekan-rekan seangkatannya. Pada turnamen pasca Olimpiade ini, mantan pasangan Young Dae, Choo Gun Woo hanya bertahan dibabak kedua Jepang Terbuka bersama Yeon Seong Yoo (ganda putra) dan perempat final besama Ha Jung Eun (ganda campuran). Prestasi lebih baik dicatat Yeon Seong Yo / Kim Min Jung yang menembus semifinal ganda campuran Jepang Terbuka.
Negeri jiran Malaysia belum terlihat memuncul prestasi generasi barunya. Padahal Malaysia memiliki juara dunia yunior ganda campuran 2007, Kim Wah Lim / Hui Ling Ng dan juara Asia yunior ganda campuran 2007 Tan Wee Kiong / Woon Khe Wei. Tan / Woon hanya bertahan dibabak kedua Taepei Terbuka. Demikian juga ketika pertukaran pasangan saat Kim Wah Lim bersama Woon Khe Wei maupun Hui Ling Ng bersama seniornya Koo Kean Keat yang tampil di Macau Terbuka. Satu-satunya kebanggaan Malaysia diperoleh Woon Khe Wei / Hui Ling Ng yang berhasil menembus semifinal ganda putri Macau Terbuka.
Bagaimana dengan generasi baru Indonesia?
Pada empat turnamen pasca Olimpiade ini dimanfaatkan untuk mencoba pasangan-pasangan baru dinomor ganda putri dan campuran serta memaksimalkan kemampuan stok yang ada. Kebangkitan stok lama seperti Simon Santoso, Sony Dwi Kuncoro, Devin Lahardi, Lita Nurlita dan M. Rizal menjadi harapan tersendiri bagi Indonesia. Pemain-pemain tersebut mampu meraih gelar-gelar juara yang mereka dambakan. Keberhasilan pemain senior ini juga mulai diikuti oleh generasi baru lainnya. Juara ganda putra Indonesia Open Yunior 2005 Bona Septano / M. Ahsan menunjukkan prestasi mengesankan dengan menjadi finalis Jepang Terbuka. Apalagi mereka mampu menundukkan pemegang juara Superseries Singapura dan Indonesia terbuka, M Zakri / M Tazari. Generasi dibawahnya, Fernando Kurniawan yang merupakan juara Indonesia Open Yunior 2007 bersama Subakti mulai unjuk gigi. Dengan pasangan baru-nya Lingga Lie, Fernando berhasil menembus Semifinal Macau Open. Prestasi yang bagus juga diperoleh pemain tunggal putri, Pia Zebadiah yang tampil sebagai semifinalis taepei terbuka. Kabar paling anyar ketika pemain muda klub Djarum Kudus, Maria Febe Kususmastuti menjuarai GP pertama-nya di Bitburger Terbuka. Secara umum, generasi baru China memang lebih unggul dari negara lainnya sejauh ini. Namun keberhasilan skuat senior Indonesia yang didukung mulai berprestasinya para yunior merupakan sinyal positif perbulutangkisan Indonesia.
Published :
www.bulutangkis.com (06 Oktober 2008)
www.badminton-indonesia.com (06 Oktober 2008)
Olimpiade sering kali dianggap sebagai puncak prestasi pebulutangkis dunia. Kebanggaan akan perolehan emas olimpiade merupakan medali yang paling diidamkan. Ketika olimpiade baru saja berakhir, negara-negara bulutangkis sudah mulai berpikir ajang berikutnya yang masih empat tahun lagi. Wujud dari persiapan itu terlihat dengan didorongnya regenerasi pada setiap negara. Pasca Olimpide diselenggarakan lima turnamen besar secara berturutan mulai dari GPG Thaiwan Open, Jepang SS, China Master SS dan dua turnamen secara bersamaan GPG Macau Open dan GP Bitburger Open. Dalam lima turnamen ini terlihat berbagai perubahan dan strategi dari berbagai negara. Generasi baru tampak mulai terbangun dari hasil kelima turnamen tersebut
Para juara dunia yunior dan Asia Yunior 2005 - 2007 mulai muncul ke permukaan. China merupakan negara terdepan dalam memunculkan generasi baru tersebut. Prestasi yang paling fenomenal ditunjukkan oleh pasangan ganda putri Cheng Su / Zhao Yunlei dengan menciptakan hatrik pada tiga turnamen yaitu Jepang Terbuka, China Master dan Macau Terbuka. Padahal pasangan ini sudah lama tidak membukukan prestasi maksimal. Terakhir mereka mencatat poin turnamen BWF pada November tahun lalu saat masuk babak pertama China Terbuka. Cheng Su merupakan juara ganda putri yunior Asia 2005 yang berpasangan dengan rekannnya Liao Jingmei. Sedangkan Zhao Yunlei adalah juara ganda putri yunior Asia 2004 bersama Ding Jiao. Jejak Cheng Su / Zhao Yunlei diikuti oleh yunior mereka Ma Jin / Wang Xiaoli. Juara Asia Yunior dan dunia Yunior 2006 tersebut mencatat prestasi yang baik dengan melaju ke babak final Macau Open
Kekuatan generasi baru China juga ditunjukkan pemain tunggal putri-nya. Andalan mereka adalah juara Asia dan dunia yunior 2006, Wang Yihan dan juara Asia Yunior 2005, Wang Lin. Wang Yihan berhasil meraih juara turnamen Superseries pertama nya di Jepang. Perjalanan Wang Yihan menuju tangga juara ditandai dengan menaklukkan pemain yang sering menjadi momok para pemain China, Tine Rasmussen (Denmark) serta pemain berpengalaman, Zhou Mi (Hongkong). Pemain lainnya Wang Lin, meskipun tidak tampil sebagai juara tetapi berhasil meraih finalis pertama-nya pada turnamen superseries di China Master.
Pada bagian putra, China berhasil mengangkat prestasi pasangan Xu Chen / Sun Jungjie menjadi finalis China Master. Meskipun mereka belum bisa menembus pasangan terbaik dunia Markis Kido / Hendra Setiawan tetapi mereka menaklukkan tiga besar dunia lainnya, Fu Haifeng / Cai Yun dan Koo Kean Kiat / Tan Boon Heong. Bahkan Xu Cheng juga bermain baik di nomor ganda campuran berpasangan dengan Zhao Yunlei menjadi juara Macau Terbuka.
Negara produsen raket Yonex, Jepang mengandalkan generasi baru-nya juara Asia Yunior 2006 Kenichi Tago. Pemain ulet ini terus dimatangkan dalam berbagai turnamen. Tago berhasil menembus semifinal turnamen Superseries untuk kedua kalinya di Jepang Terbuka. Sebelumnya bulan Juni lalu, Tago juga menembus semifinal Indonesia Terbuka. Prestasi yang dibuat juara Asia Yunior 2006 ini lebih baik ketimbang juara dunia yunior 2006, Hong Ji Hoon (Korea). Hoon langsung kandas dibabak pertama baik di GPG Taepei Terbuka maupun Jepang Terbuka.
Korea sendiri sebenarnya sudah cukup berhasil dengan generasi baru nya Lee Young Dae. Young Dae yang dipasangkan dengan senior-seniornya sudah lebih dulu menembus level atas dunia baik diganda putra maupun campuran. Bahkan di usia yang sangat muda, emas Olimpiade sudah digengamnya. Young Dae merupakan juara Asia Yunior 2005-2006 dan dunia yunior 2006 yang berpasangan dengan Gun Woo Choo pada ganda putra. Pada Campuran Yong Dae merebut juara Asia 2005 bersama Ha Jeung Eun dan berpasangan dengan Yoo Hyun Young memegang juara Asia dan dunia yunior 2006 . Prestasi Young Dae di level senior belum mampu diikuti oleh rekan-rekan seangkatannya. Pada turnamen pasca Olimpiade ini, mantan pasangan Young Dae, Choo Gun Woo hanya bertahan dibabak kedua Jepang Terbuka bersama Yeon Seong Yoo (ganda putra) dan perempat final besama Ha Jung Eun (ganda campuran). Prestasi lebih baik dicatat Yeon Seong Yo / Kim Min Jung yang menembus semifinal ganda campuran Jepang Terbuka.
Negeri jiran Malaysia belum terlihat memuncul prestasi generasi barunya. Padahal Malaysia memiliki juara dunia yunior ganda campuran 2007, Kim Wah Lim / Hui Ling Ng dan juara Asia yunior ganda campuran 2007 Tan Wee Kiong / Woon Khe Wei. Tan / Woon hanya bertahan dibabak kedua Taepei Terbuka. Demikian juga ketika pertukaran pasangan saat Kim Wah Lim bersama Woon Khe Wei maupun Hui Ling Ng bersama seniornya Koo Kean Keat yang tampil di Macau Terbuka. Satu-satunya kebanggaan Malaysia diperoleh Woon Khe Wei / Hui Ling Ng yang berhasil menembus semifinal ganda putri Macau Terbuka.
Bagaimana dengan generasi baru Indonesia?
Pada empat turnamen pasca Olimpiade ini dimanfaatkan untuk mencoba pasangan-pasangan baru dinomor ganda putri dan campuran serta memaksimalkan kemampuan stok yang ada. Kebangkitan stok lama seperti Simon Santoso, Sony Dwi Kuncoro, Devin Lahardi, Lita Nurlita dan M. Rizal menjadi harapan tersendiri bagi Indonesia. Pemain-pemain tersebut mampu meraih gelar-gelar juara yang mereka dambakan. Keberhasilan pemain senior ini juga mulai diikuti oleh generasi baru lainnya. Juara ganda putra Indonesia Open Yunior 2005 Bona Septano / M. Ahsan menunjukkan prestasi mengesankan dengan menjadi finalis Jepang Terbuka. Apalagi mereka mampu menundukkan pemegang juara Superseries Singapura dan Indonesia terbuka, M Zakri / M Tazari. Generasi dibawahnya, Fernando Kurniawan yang merupakan juara Indonesia Open Yunior 2007 bersama Subakti mulai unjuk gigi. Dengan pasangan baru-nya Lingga Lie, Fernando berhasil menembus Semifinal Macau Open. Prestasi yang bagus juga diperoleh pemain tunggal putri, Pia Zebadiah yang tampil sebagai semifinalis taepei terbuka. Kabar paling anyar ketika pemain muda klub Djarum Kudus, Maria Febe Kususmastuti menjuarai GP pertama-nya di Bitburger Terbuka. Secara umum, generasi baru China memang lebih unggul dari negara lainnya sejauh ini. Namun keberhasilan skuat senior Indonesia yang didukung mulai berprestasinya para yunior merupakan sinyal positif perbulutangkisan Indonesia.
Published :
www.bulutangkis.com (06 Oktober 2008)
www.badminton-indonesia.com (06 Oktober 2008)
TURNAMEN MASTER DALAM BULUTANGKIS INTERNASIONAL
Written by Hendri Kustian (Email : hendri_kustian@yahoo.com)
Menjelang turnamen China Master 2008, forum-forum diskusi bulutangkis dihangatkan dengan perbincangan mengenai sepinya pemain yang ambil bagian. Sebagai bagian turnamen superseries yang biasanya diserbu para atlet bulutangkis karena memberikan hadiah dan poin peringkat yang besar maka kurangnya peserta menjadi keanehan tersendiri. Sebagai contoh nomor tunggal putri memberikan 11 kemenangan bye pada babak 32 besar. Ini berarti hanya dilaksanakan lima dari seharusnya 16 pertandingan yang dimainkan babak pertama. Sedangkan nomor ganda putra memberikan 13 kemenangan bye atau hanya memainkan 3 partai. Bahkan untuk nomor ganda putri tidak memainkan babak 32 besar seperti layaknya sebuah turnamen superseries lainnya. Semua pemain langsung memainkan babak 16 besar, bahkan itupun cuma 2 partai. Berarti terdapat enam pasangan ganda putri yang langsung memasuki babak perempatfinal. Dengan kata lain jika dibandingkan dengan superseries normal maka keenam pasang tersebut mendapat kemenangan bye dua kali. Hampir serupa terjadi dinomor ganda campuran. Pemain langsung memasuki babak 16 besar, bedanya yang langsung ke perempatfinal hanya unggulan pertama dan kedua.
Melihat kondisi tersebut sangatlah aneh apalagi untuk nomor ganda putri, China merupakan gudangnya atlet. Mengapa China tidak mengisi tempat yang kosong dengan pemain yunior yang berperingkat diatas 100 besar dunia. Bukankah hal itu pernah dilakukan Indonesia pada Indonesia Superseries. Jawabannya ternyata karena label Master yang menjadi ikon turnamen ini diperuntukkan hanya pemain dengan peringkat yang terbaik. Sayangnya pemain terbaik yang diharapkan datang tersebut berhalangan hadir.
Melihat pada penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya, China Master dihadiri pemain sesuai harapan. Turnamen ini sendiri sudah dilaksanakan sejak tahun 2005. Pada tahun 2006, China Master memang hanya diikuti delapan pemain atau pasangan pada masing-masing nomor. Pada tahun 2007 mengalami perubahan dengan 32 pemain pada babak utama mengikuti standar Superseries. Dengan ada nya kondisi seperti tahun ini maka BWF sebaiknya mere-posisi kembali China master. Dimana saat BWF kesulitan menggelar turnamen antar pemain terbaik yaitu final superseries maka lebih baik memaksimalkan turnamen seperti China Master. Turnamen ini bisa digeser ke bulan Desember sedangkan turnamen China Open dimajukan pada bulan September. Dengan solusi ini maka turnamen China Master tidak kehilangan gengsinya dan BWF tidak kesulitan menggelar turnamen buat delapan pemain atau pasangan terbaik sepanjang superseries atau superseries final.
Disamping reposisi China Master, BWF juga perlu mendefinisikan ulang istilah turnamen master. Selain China Master, Denmark menggelar Kopenhagen Master sejak 1993. Turnamen ini mempunyai keunikan karena hanya menggelar tiga nomor pertandingan. Nomor tunggal putra dan ganda putra selalu dimainkan. Sedangkan satu nomor lagi berganti-ganti antara tunggal putri dan ganda campuran. Hanya pemain yang diundang yang bisa tampil diturnamen tersebut.
Indonesia pernah menggelar Batam Master tahun 2003 dimana memainkan dua nomor tunggal dan ganda putra. Taufik Hidayat dan pasangan Chandra Wijaya / Sigit Budiarto menjadi kampium. Sementara itu Malaysia pernah menggelar Ipoh Master tahun 1999 yang dijuarai Peter Gade Christiansen dan pasangan Chandra / Sigit. Berbeda dengan Kopenhagen yang konsisten dengan turnamennya, sedangkan Batam dan Ipoh sudah tidak pernah terdengar lagi.
Turnamen dengan label Master akan selalu menjadi tanda tanya dimata penggemar bulutangkis. BWF sebaiknya segera memberikan regulasi yang baku sebagai panduan terutama adanya dua jenis turnamen master yaitu superseries dan invitational. Minimal BWF bisa memberikan definisi yang jelas bedanya label turnamen "master" dan turnamen "open" . Kemajuan dalam mecermati regulasi tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan bagi kemajuan bulutangkis itu sendiri.
Published :
www.bulutangkis.com (18 September 2008)
www.badminton-indonesia.com (18 September 2008)
Menjelang turnamen China Master 2008, forum-forum diskusi bulutangkis dihangatkan dengan perbincangan mengenai sepinya pemain yang ambil bagian. Sebagai bagian turnamen superseries yang biasanya diserbu para atlet bulutangkis karena memberikan hadiah dan poin peringkat yang besar maka kurangnya peserta menjadi keanehan tersendiri. Sebagai contoh nomor tunggal putri memberikan 11 kemenangan bye pada babak 32 besar. Ini berarti hanya dilaksanakan lima dari seharusnya 16 pertandingan yang dimainkan babak pertama. Sedangkan nomor ganda putra memberikan 13 kemenangan bye atau hanya memainkan 3 partai. Bahkan untuk nomor ganda putri tidak memainkan babak 32 besar seperti layaknya sebuah turnamen superseries lainnya. Semua pemain langsung memainkan babak 16 besar, bahkan itupun cuma 2 partai. Berarti terdapat enam pasangan ganda putri yang langsung memasuki babak perempatfinal. Dengan kata lain jika dibandingkan dengan superseries normal maka keenam pasang tersebut mendapat kemenangan bye dua kali. Hampir serupa terjadi dinomor ganda campuran. Pemain langsung memasuki babak 16 besar, bedanya yang langsung ke perempatfinal hanya unggulan pertama dan kedua.
Melihat kondisi tersebut sangatlah aneh apalagi untuk nomor ganda putri, China merupakan gudangnya atlet. Mengapa China tidak mengisi tempat yang kosong dengan pemain yunior yang berperingkat diatas 100 besar dunia. Bukankah hal itu pernah dilakukan Indonesia pada Indonesia Superseries. Jawabannya ternyata karena label Master yang menjadi ikon turnamen ini diperuntukkan hanya pemain dengan peringkat yang terbaik. Sayangnya pemain terbaik yang diharapkan datang tersebut berhalangan hadir.
Melihat pada penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya, China Master dihadiri pemain sesuai harapan. Turnamen ini sendiri sudah dilaksanakan sejak tahun 2005. Pada tahun 2006, China Master memang hanya diikuti delapan pemain atau pasangan pada masing-masing nomor. Pada tahun 2007 mengalami perubahan dengan 32 pemain pada babak utama mengikuti standar Superseries. Dengan ada nya kondisi seperti tahun ini maka BWF sebaiknya mere-posisi kembali China master. Dimana saat BWF kesulitan menggelar turnamen antar pemain terbaik yaitu final superseries maka lebih baik memaksimalkan turnamen seperti China Master. Turnamen ini bisa digeser ke bulan Desember sedangkan turnamen China Open dimajukan pada bulan September. Dengan solusi ini maka turnamen China Master tidak kehilangan gengsinya dan BWF tidak kesulitan menggelar turnamen buat delapan pemain atau pasangan terbaik sepanjang superseries atau superseries final.
Disamping reposisi China Master, BWF juga perlu mendefinisikan ulang istilah turnamen master. Selain China Master, Denmark menggelar Kopenhagen Master sejak 1993. Turnamen ini mempunyai keunikan karena hanya menggelar tiga nomor pertandingan. Nomor tunggal putra dan ganda putra selalu dimainkan. Sedangkan satu nomor lagi berganti-ganti antara tunggal putri dan ganda campuran. Hanya pemain yang diundang yang bisa tampil diturnamen tersebut.
Indonesia pernah menggelar Batam Master tahun 2003 dimana memainkan dua nomor tunggal dan ganda putra. Taufik Hidayat dan pasangan Chandra Wijaya / Sigit Budiarto menjadi kampium. Sementara itu Malaysia pernah menggelar Ipoh Master tahun 1999 yang dijuarai Peter Gade Christiansen dan pasangan Chandra / Sigit. Berbeda dengan Kopenhagen yang konsisten dengan turnamennya, sedangkan Batam dan Ipoh sudah tidak pernah terdengar lagi.
Turnamen dengan label Master akan selalu menjadi tanda tanya dimata penggemar bulutangkis. BWF sebaiknya segera memberikan regulasi yang baku sebagai panduan terutama adanya dua jenis turnamen master yaitu superseries dan invitational. Minimal BWF bisa memberikan definisi yang jelas bedanya label turnamen "master" dan turnamen "open" . Kemajuan dalam mecermati regulasi tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan bagi kemajuan bulutangkis itu sendiri.
Published :
www.bulutangkis.com (18 September 2008)
www.badminton-indonesia.com (18 September 2008)
USIA EMAS BISA TERLAMBAT
Written by Hendri Kustian (Email : hendri_kustian@yahoo.com)
Pada sebuah Talk show tentang kebangkitan bulutangkis Indonesia, pelatih Pelatnas Hendrawan mengingatkan publik untuk tidak mudah memvonis seorang atlet dianggap mentok prestasi. Hal ini berkaitan dengan prestasi tunggal putra, seperti Sony dan Simon yang belum menunjukkan prestasi besar. Hendrawan menyatakan bahwa kematangan seorang pemain pada usia berbeda-beda.
Kematangan seorang pemain yang lebih dikenal dengan usia emas dalam bulutangkis lazimnya sudah terlihat dari umur 19 sampai 23 tahun. Sebagai contoh pasangan Markis Kido / Hendra Setiawan sudah mampu meraih gelar turnamen sekelas Indonesia Open di umur 21 tahun dilanjutkan dengan juara dunia dua tahun berikutnya dan berlanjut ke emas Olimpiade. Seorang yang sangat berbakat seperti Taufik Hidayat sudah mampu merebut gelar Grand Prix pertama-nya diusia 17 tahun dan menjuarai Indonesia Open 1999 saat menginjak usia 18 tahun. Demikian halnya dengan Susi Susanti yang kelahiran 11 Februari 1971 berhasil meraih gelar dilevel senior pada tahun 1989 dengan menjuarai invitasi Piala Dunia dan Indonesia Open. Bahkan Mia Audina sudah memulai masa emasnya diumur 15 tahun ketika menjadi tulang punggung tim Uber Cup Indonesia.
Kebanyakan pemain besar dunia sudah mulai meraih prestasi tinggi sebelum usia 23 tahun. Fenomena tersebut menjadikan anggapan umum bahwa tidak berprestasi di usia-usia tersebut maka dikatakan pemain tersebut sudah mentok alias tidak mungkin berprestasi lebih tinggi lagi. Bahkan banyak pemain pelatnas harus terbuang atau memilih jalan lain karena mitos tersebut.
Mitos yang tercipta karena pengalaman masa lalu tidak bisa disalahkan. Tetapi tidak bisa menganggap semua pemain tidak berpotensi karena usia-nya tidak muda lagi. Hendrawan semasa menjadi pemain mengalami masa-masa sulit dalam mencetak prestasi Internasional. Hendrawan meraih gelar Grand Prix diatas bintang Empat pertama-nya pada usia 25 tahun saat Thailand Open 1997. Sedangkan gelar juara dunia diraih pada usia 29 tahun. "Kalau kondisi seperti pelatnas sekarang belum bisa berprestasi sebelum umur 25 pasti sudah dikeluarkan", Ungkap Hendrawan. Pada kesempatan yang sama, Joko Suprianto mengungkapkan hal serupa. Untungnya saat itu, Joko Suprianto bisa bertahan walaupun prestasinya telat dibandingkan rekan-rekannya seangkatannya seperti Ardi Wiranata, Alan Budi Kusuma dan Hermawan Susanto. Apalagi dibandingkan dengan rekannya yang lebih muda Hariyanto Arbi. Seandainya Joko Supriyanto menyerah saat ketika itu maka kita tidak mungkin mengenalnya sebagai sang juara dunia. Dengan tekad yang kuat pemain-pemain seperti Joko dan Hendrawan bisa berprestasi maksimal walaupun diusia terlambat untuk memulai prestasi.
Kasus lain yang menguatkan bahwa usia bukanlah rintangan untuk menapaki level atas prestasi ditunjukkan oleh pemain putri Denmark Tine Rasmussen. Pemain kelahiran 21 Juli 1979 itu menghancurkan tembok putri-putri China dengan meraih gelar juara Japan Superseries 2007. Sebelumnya nama Tine kurang dikenal karena hanya mampu juara diturnamen-turnamen kecil. Hebatnya kemunculan Tine bukanlah prestasi sesaat. Tahun ini saja, diusia yang menjelang 30 tahun Tine sudah mengumpulkan tiga gelar juara turnamen Superseries termasuk gelar bergengsi All England. Prestasi diusia senja juga ditunjukkan Zhang Ning yang meraih emas Olimpiade bulan lalu. Namun Zhang tidak bisa dikategorikan sebagai pemain terlambat karena diusia muda sudah menunjukkan kehebatannya.
Belajar dari kasus Hendrawan, Joko maupun Tine Rasmussen ternyata ada pemain-pemain tertentu mencapai kematangannya diusia yang tidak muda lagi. Seharusnya ini menjadi pendorong bagi pemain-pemain bulutangkis agar tidak patah semangat meraih prestasi. Pemain seperti Sony (24 tahun) dan Simon (23 tahun) seharusnya terus berusaha untuk mencapai prestasi terbaik. Usia bukan segalanya sebagai penentu prestasi melainkan kerja keras dan tekad kuat seperti yang pernah ditunjukkan Hendrawan dan Tine Rasmussen.
Published :
www.bulutangkis.com (11 September 2008)
www.badminton-indonesia.com (10 September 2008)
Pada sebuah Talk show tentang kebangkitan bulutangkis Indonesia, pelatih Pelatnas Hendrawan mengingatkan publik untuk tidak mudah memvonis seorang atlet dianggap mentok prestasi. Hal ini berkaitan dengan prestasi tunggal putra, seperti Sony dan Simon yang belum menunjukkan prestasi besar. Hendrawan menyatakan bahwa kematangan seorang pemain pada usia berbeda-beda.
Kematangan seorang pemain yang lebih dikenal dengan usia emas dalam bulutangkis lazimnya sudah terlihat dari umur 19 sampai 23 tahun. Sebagai contoh pasangan Markis Kido / Hendra Setiawan sudah mampu meraih gelar turnamen sekelas Indonesia Open di umur 21 tahun dilanjutkan dengan juara dunia dua tahun berikutnya dan berlanjut ke emas Olimpiade. Seorang yang sangat berbakat seperti Taufik Hidayat sudah mampu merebut gelar Grand Prix pertama-nya diusia 17 tahun dan menjuarai Indonesia Open 1999 saat menginjak usia 18 tahun. Demikian halnya dengan Susi Susanti yang kelahiran 11 Februari 1971 berhasil meraih gelar dilevel senior pada tahun 1989 dengan menjuarai invitasi Piala Dunia dan Indonesia Open. Bahkan Mia Audina sudah memulai masa emasnya diumur 15 tahun ketika menjadi tulang punggung tim Uber Cup Indonesia.
Kebanyakan pemain besar dunia sudah mulai meraih prestasi tinggi sebelum usia 23 tahun. Fenomena tersebut menjadikan anggapan umum bahwa tidak berprestasi di usia-usia tersebut maka dikatakan pemain tersebut sudah mentok alias tidak mungkin berprestasi lebih tinggi lagi. Bahkan banyak pemain pelatnas harus terbuang atau memilih jalan lain karena mitos tersebut.
Mitos yang tercipta karena pengalaman masa lalu tidak bisa disalahkan. Tetapi tidak bisa menganggap semua pemain tidak berpotensi karena usia-nya tidak muda lagi. Hendrawan semasa menjadi pemain mengalami masa-masa sulit dalam mencetak prestasi Internasional. Hendrawan meraih gelar Grand Prix diatas bintang Empat pertama-nya pada usia 25 tahun saat Thailand Open 1997. Sedangkan gelar juara dunia diraih pada usia 29 tahun. "Kalau kondisi seperti pelatnas sekarang belum bisa berprestasi sebelum umur 25 pasti sudah dikeluarkan", Ungkap Hendrawan. Pada kesempatan yang sama, Joko Suprianto mengungkapkan hal serupa. Untungnya saat itu, Joko Suprianto bisa bertahan walaupun prestasinya telat dibandingkan rekan-rekannya seangkatannya seperti Ardi Wiranata, Alan Budi Kusuma dan Hermawan Susanto. Apalagi dibandingkan dengan rekannya yang lebih muda Hariyanto Arbi. Seandainya Joko Supriyanto menyerah saat ketika itu maka kita tidak mungkin mengenalnya sebagai sang juara dunia. Dengan tekad yang kuat pemain-pemain seperti Joko dan Hendrawan bisa berprestasi maksimal walaupun diusia terlambat untuk memulai prestasi.
Kasus lain yang menguatkan bahwa usia bukanlah rintangan untuk menapaki level atas prestasi ditunjukkan oleh pemain putri Denmark Tine Rasmussen. Pemain kelahiran 21 Juli 1979 itu menghancurkan tembok putri-putri China dengan meraih gelar juara Japan Superseries 2007. Sebelumnya nama Tine kurang dikenal karena hanya mampu juara diturnamen-turnamen kecil. Hebatnya kemunculan Tine bukanlah prestasi sesaat. Tahun ini saja, diusia yang menjelang 30 tahun Tine sudah mengumpulkan tiga gelar juara turnamen Superseries termasuk gelar bergengsi All England. Prestasi diusia senja juga ditunjukkan Zhang Ning yang meraih emas Olimpiade bulan lalu. Namun Zhang tidak bisa dikategorikan sebagai pemain terlambat karena diusia muda sudah menunjukkan kehebatannya.
Belajar dari kasus Hendrawan, Joko maupun Tine Rasmussen ternyata ada pemain-pemain tertentu mencapai kematangannya diusia yang tidak muda lagi. Seharusnya ini menjadi pendorong bagi pemain-pemain bulutangkis agar tidak patah semangat meraih prestasi. Pemain seperti Sony (24 tahun) dan Simon (23 tahun) seharusnya terus berusaha untuk mencapai prestasi terbaik. Usia bukan segalanya sebagai penentu prestasi melainkan kerja keras dan tekad kuat seperti yang pernah ditunjukkan Hendrawan dan Tine Rasmussen.
Published :
www.bulutangkis.com (11 September 2008)
www.badminton-indonesia.com (10 September 2008)
MENJELANG TURNAMEN INDONESIA CHALLENGE 2008
written by Hendri Kustian (email : hendri_kustian@yahoo.com)
Kota Pahlawan Surabaya kembali akan menjadi tuan rumah turnamen bulutangkis GGJP Indonesia Challenge yang berhadiah total 15.000 US dolar. Tahun ini merupakan penyelenggaraan kedua untuk turnamen berkelas Challenge di Surabaya. Sebelumnya menjadi bagian dari seri turnamen Challange, turnamen ini merupakan bagian dari seri Asia Satelitte. Dalam tingkatan seri turnamen Internasional, level Challenge berada ditingkatan keempat dibawah Superseries, Grand Prix Gold dan Grand Prix. Dibawah turnamen Challenge masih ada level International series dan future series. Istilah-istilah level turnamen seperti Superseries, Grand Prix Gold dan challenge mulai diperkenalkan sejak tahun lalu.
Turnamen kelas Challenge seperti yang akan berlangsung di Surabaya ini merupakan jembatan pemain-pemain pelapis untuk mencari pengalaman sekaligus mendongkrak peringkatnya. Kebanyakan pemain muda memanfaatkan kesempatan seperti ini walaupun beberapa pemain senior juga ikut berkompetisi. Tahun 2008 ini, organisasi bulutangkis dunia BWF menjadwalkan 23 turnamen kelas Challenge. Sampai akhir Juli ini seharusnya diselenggarakan 11 turnamen tetapi satu turnamen dibatalkan. Ini berarti 50 gelar juara dari sepuluh turnamen sudah didapatkan pemenangnya. Indonesia berada pada posisi peraih gelar juara terbanyak dengan 10 gelar juara disusul Jepang dengan delapan gelar juara. Negara-negara bulutangkis lainnya seperti Korea dan Malaysia sama-sama merebut empat gelar juara. Uniknya, negara raksasa bulutangkis China ternyata baru memperoleh satu gelar juara melalui Yi Tai pada KLRC Atwater International. Kengganan China mengikuti turnamen mengikuti ajang ini karena level pemain pelapis China sudah bisa berkiprah pada turnamen yang lebih tinggi.
Keberhasilan Indonesia merebut sepuluh gelar juara pada paruh tahun ini semuanya dipersembahkan oleh anak-anak klub Djarum. Pasangan Meliana Jauhari / Shendy Puspa meraih tiga dari sepuluh gelar tersebut pada Polish International, Spanish International dan Toulouse International. Shendy Puspa sendiri menambah dua gelarnya dinomor ganda campuran di Finish International dan Toulouse International berpasangan dengan Fran Kurniawan. Meliana Jauhari tidak mau ketinggalan dari rekannya itu dalam merebut juara ganda campuran. Meliana yang berpasangan dengan Rendra Wijaya manjadi juara Spanish International. Rendra Wijaya dan Fran Kurniawan juga melengkapi kemenangannya di ganda putra pada Finish dan Spanish Internasional. Dua gelar juara lagi berhasil dipersembahkan pada nomor tunggal putra dan putri melalui Andre Kurniawan (Toulouse Int) dan Maria Elfira (Spanish Int).
Terlihat semua gelar juara diperoleh pada turnamen yang diselenggarakan di benua Eropa. Prestasi klub Djarum tersebut berbeda dengan yang dicapai pemain pelatnas. Memang pemain pelatnas tidak diterjunkan pada seri-seri Eropa mengingat tingginya biaya yang harus dikeluarkan. Tetapi para pemain yunior Pelatnas diturunkan pada salah satu seri yang diselenggarakan di Asia. Pada seri Challenge di Vietnam, tim pelatnas yang menurunkan pemain-pemain muda seperti Debby Susanto, Richi Puspita, Afiat Yuris Wirawan, Wifqi Windarto dan beberapa rekan seangkatannya gagal meraih gelar juara. Prestasi terbaik dari anak muda pelatnas ini hanya semfinalis yang dicapai pasangan ganda putri Komala Dewi / Debby Susanto.
Menghadapi turnamen Challenge di Surabaya ini seharusnya menjadi kesempatan pemain muda pelatnas menunjukkan kemampuannya. Bercermin dari hasil tahun lalu, Pelatnas hanya berhasil meraih satu gelar juara melalui pasangan ganda campuran Ahmad Tantowi / Yulianti. Dua gelar juara diborong klub Djarum melalui Rian Sukmawan / Yonathan S (ganda putra) dan Meliana Jauhari / Shendy Puspa (ganda putri). Nomor tunggal baik putra maupun putri direbut pemain-pemain tamu. Pemain Korea Han Jin Hong menunjukkan keperkasaannya atas pemain-pemain tuan rumah dengan menjuarai tunggal putra. Hal yang sama ditunjukkan pemain China Taepei Yi Ju Chiu pada tunggal putri. Hasil kurang menggembirakan bagi pemain yunior Pelatnas tahun lalu sudah selayaknya ditebus dengan prestasi yang lebih baik tahun ini. Turnamen Challenge di Surabaya ini adalah kesempatan berprestasi bagi mereka ditengah minimnya pemain yunior pelatnas mengikuti turnamen Internasional.
Published :
Tabloid SMASH Edisi II (Agustus 2008)
Kota Pahlawan Surabaya kembali akan menjadi tuan rumah turnamen bulutangkis GGJP Indonesia Challenge yang berhadiah total 15.000 US dolar. Tahun ini merupakan penyelenggaraan kedua untuk turnamen berkelas Challenge di Surabaya. Sebelumnya menjadi bagian dari seri turnamen Challange, turnamen ini merupakan bagian dari seri Asia Satelitte. Dalam tingkatan seri turnamen Internasional, level Challenge berada ditingkatan keempat dibawah Superseries, Grand Prix Gold dan Grand Prix. Dibawah turnamen Challenge masih ada level International series dan future series. Istilah-istilah level turnamen seperti Superseries, Grand Prix Gold dan challenge mulai diperkenalkan sejak tahun lalu.
Turnamen kelas Challenge seperti yang akan berlangsung di Surabaya ini merupakan jembatan pemain-pemain pelapis untuk mencari pengalaman sekaligus mendongkrak peringkatnya. Kebanyakan pemain muda memanfaatkan kesempatan seperti ini walaupun beberapa pemain senior juga ikut berkompetisi. Tahun 2008 ini, organisasi bulutangkis dunia BWF menjadwalkan 23 turnamen kelas Challenge. Sampai akhir Juli ini seharusnya diselenggarakan 11 turnamen tetapi satu turnamen dibatalkan. Ini berarti 50 gelar juara dari sepuluh turnamen sudah didapatkan pemenangnya. Indonesia berada pada posisi peraih gelar juara terbanyak dengan 10 gelar juara disusul Jepang dengan delapan gelar juara. Negara-negara bulutangkis lainnya seperti Korea dan Malaysia sama-sama merebut empat gelar juara. Uniknya, negara raksasa bulutangkis China ternyata baru memperoleh satu gelar juara melalui Yi Tai pada KLRC Atwater International. Kengganan China mengikuti turnamen mengikuti ajang ini karena level pemain pelapis China sudah bisa berkiprah pada turnamen yang lebih tinggi.
Keberhasilan Indonesia merebut sepuluh gelar juara pada paruh tahun ini semuanya dipersembahkan oleh anak-anak klub Djarum. Pasangan Meliana Jauhari / Shendy Puspa meraih tiga dari sepuluh gelar tersebut pada Polish International, Spanish International dan Toulouse International. Shendy Puspa sendiri menambah dua gelarnya dinomor ganda campuran di Finish International dan Toulouse International berpasangan dengan Fran Kurniawan. Meliana Jauhari tidak mau ketinggalan dari rekannya itu dalam merebut juara ganda campuran. Meliana yang berpasangan dengan Rendra Wijaya manjadi juara Spanish International. Rendra Wijaya dan Fran Kurniawan juga melengkapi kemenangannya di ganda putra pada Finish dan Spanish Internasional. Dua gelar juara lagi berhasil dipersembahkan pada nomor tunggal putra dan putri melalui Andre Kurniawan (Toulouse Int) dan Maria Elfira (Spanish Int).
Terlihat semua gelar juara diperoleh pada turnamen yang diselenggarakan di benua Eropa. Prestasi klub Djarum tersebut berbeda dengan yang dicapai pemain pelatnas. Memang pemain pelatnas tidak diterjunkan pada seri-seri Eropa mengingat tingginya biaya yang harus dikeluarkan. Tetapi para pemain yunior Pelatnas diturunkan pada salah satu seri yang diselenggarakan di Asia. Pada seri Challenge di Vietnam, tim pelatnas yang menurunkan pemain-pemain muda seperti Debby Susanto, Richi Puspita, Afiat Yuris Wirawan, Wifqi Windarto dan beberapa rekan seangkatannya gagal meraih gelar juara. Prestasi terbaik dari anak muda pelatnas ini hanya semfinalis yang dicapai pasangan ganda putri Komala Dewi / Debby Susanto.
Menghadapi turnamen Challenge di Surabaya ini seharusnya menjadi kesempatan pemain muda pelatnas menunjukkan kemampuannya. Bercermin dari hasil tahun lalu, Pelatnas hanya berhasil meraih satu gelar juara melalui pasangan ganda campuran Ahmad Tantowi / Yulianti. Dua gelar juara diborong klub Djarum melalui Rian Sukmawan / Yonathan S (ganda putra) dan Meliana Jauhari / Shendy Puspa (ganda putri). Nomor tunggal baik putra maupun putri direbut pemain-pemain tamu. Pemain Korea Han Jin Hong menunjukkan keperkasaannya atas pemain-pemain tuan rumah dengan menjuarai tunggal putra. Hal yang sama ditunjukkan pemain China Taepei Yi Ju Chiu pada tunggal putri. Hasil kurang menggembirakan bagi pemain yunior Pelatnas tahun lalu sudah selayaknya ditebus dengan prestasi yang lebih baik tahun ini. Turnamen Challenge di Surabaya ini adalah kesempatan berprestasi bagi mereka ditengah minimnya pemain yunior pelatnas mengikuti turnamen Internasional.
Published :
Tabloid SMASH Edisi II (Agustus 2008)
ORANG TERKAYA INDONESIA UNTUK BULUTANGKIS
Written by Hendri Kustian
Majalah Globe Asia edisi Juni 2008 mengumumkan 10 orang terkaya Indonesia 2008. Mereka adalah Abu Rizal Bakrie ditempat pertama yang disusul Robert Budi Hartono, Eka Tjipta Wijaya, Sudono Salim, Putra Sampoerna, Rachman Halim, Sukanto Tanoto, Eddy William Katuari, Prayogo Pangestu dan Murdaya Poo. Kerajaan bisnis yang dibangun dengan kerja keras membuat kesepuluh pengusaha tersebut mencapai puncak kesuksesan. Terlepas dari berbagai kontroversi masalah yang mereka hadapi tetapi beberapa diantara orang terkaya ini ternyata memiliki perhatian yang besar terhadap cabang bulutangkis.
Aburizal Bakrie pemilik perusahaan holding PT. BAkrie & Brothers (group Bakrie) menjadi orang terkaya di Indonesia dengan total kekayaan 9,2 miliar dolar. Dengan kekayaan yang sangat besar, Aburizal Bakrie sempat mencurahkan perhatiannya pada cabang bulutangkis dan beberapa cabang lainnya seperti renang, sepak bola, tenis dan basket melalui yayasan POR Pelita Jaya. Klub bulutangkis Pelita Bakrie ini merupakan tempat bernaungnya pemain muda Tommy Sugiarto. Bahkan Aburizal pernah menjadi pengurus PBSI perode 1985-1993 dibawah kepemimpinan Try Sutrisno. Jabatan yang dipegang Aburizal saat itu adalah sebagai Ketua bidang Dana.
Berikutnya, orang terkaya kedua dinegeri ini adalah Robert Budi Hartono. Bos group Djarum ini memiliki kekayaan 6,8 miliar dolar. PT. Djarum yang merupakan aset terbesar group Djarum sudah sangat lekat dengan dunia bulutangkis. Berbagai turnamen besar seperti Indonesia Open superseries yang baru lalu tidak lepas dari dukungan Djarum sebagai sponsor utama. Belum lagi klub PB Djarum yang telah menghasilkan pemain-pemain kelas dunia bagi Indonesia.
Klub Djarum yang didirikan oleh Robert Budi Hartono tahun 1970 ini awalnya sebagai arena berlatih bagi karyawan PT. Djarum. Kemudian dalam perkembangannya klub Djarum membina atlet-atlet bulutangkis berbakat. Legenda bulutangkis Indonesia, Liem Swie King yang merupakan juara All England tiga kali merupakan produk asli klub Djarum. Bahkan tim Piala Thomas Indonesia tahun 1984 hampir semuanya diperkuat pemain Djarum seperti Liem Swie King, Kartono, Christian Hadinata, Hastomo Arbi, Hadiyanto, Hadi Bowo dan Rudy Heryanto. Satu-satunya pebulutangkis bukan anggota klub Djarum saat itu adalah Icuk Sugiarto. Beberapa pemain Djarum pernah mengecap juara dunia seperti Hariyanto Arbi, Rudy Gunawan, Sigit Budiarto dan Christian Hadinata. Demikian juga pada arena bergengsi seperti All England melalui Christian, Liem Swie King, Heryanto, Kartono, Ardi Wiranata, Eddy Hartono, Gunawan, Hariyanto Arbi dan Sigit Budiarto. Bahkan atlet Djarum mempersembahkan medali emas Olimpiade melalui Alan Budi Kusuma.
Komitmen Djarum pada bulutangkis juga ditunjukkan dengan membangun kompleks bulutangkis bertaraf Internasional diatas lahan 43.207 m2 . Kompleks modern ini dilengkapi dengan GOR, ruang penunjang, dinning hall, asrama atlet dan rumah tinggal bagi pelatih. Dari kompleks yang berlokasi di Kudus ini diharapkan generasi-generasi baru bulutangkis Indonesia akan lahir.
Salah satu klub bulutangkis tempat bernaungnya pemain-pemain top Indonesia adalah Tangkas Jakarta. Klub yang dimiliki oleh Justian Suhandinata ini dihuni atlet-atlet top seperti Simon Ssantoso, Nova Widianto, Lilyana Natsir dan Vita Marissa. Sejak 2 Mei 2008 klub Tangkas disponsori oleh Alfamart sehingga klub tersebut berganti nama PB-Tangkas Alfamart. Beberapa tahun sebelumnya, klub Tangkas sempat disponsori oleh Bogasari yang dikenal dengan nama Tangkas Bogasari. Nama Alfamart maupun Bogasari merupakan nama-nama perusahaan milik orang terkaya Indonesia tersebut. Bogasari merupakan unit usaha Salim Group milik Liem Sioe Liong. Naga tua dari asia yang juga dikenal dengan nama Indonesia-nya, Sudono Salim itu menduduki peringkat empat orang terkaya Indonesia dengan total kekayaan 3,04 miliar. Sedangkan jaringan Alfamart dimiliki oleh Putra Sampoerna. Dengan kekayaannya 4,42 miliar dolar Putra menempati posisi berikutnya dibawah Sudono Salim.
Peringkat keenam orang terkaya Indonesia adalah Rachman Halim. Pengusaha asal Surabaya yang beberapa hari yang lalu meninggal dunia ini, saat pengumuman peringkat kekayaannya mencapai 2 miliar dolar. Mendiang Rahman Halim ini sebelumnya merupakan presiden komisaris PT. Gudang Garam Tbk. Sebuah perusahaan yang rajin mensponsori klub dan turnamen bulutangkis di Surabaya. Klub Suryanaga Surabaya tempat bernaungnya pemain Sony Dwi Kuncoro, pernah mendapat sokongan dari gudang garam. Bahkan akhir Agustus mendatang Gudang Garam menjadi salah satu sponsor turnamen Internasional GGJP Indonesia Challenge yang berlangsung di Surabaya.
Ternyata lima dari sepuluh orang terkaya di Indonesia mempunyai andil dalam perkembangan bulutangkis Indonesia. Sekali lagi terlepas dari semua kontroversi baik politik maupun bisnis, insan bulutangkis selayaknya menghargai mereka. Diharapkan juga konsistensi pengusaha-pengusaha tersebut dalam memajukan bulutangkis serta menanti peran pengusaha-pengusaha kaya lainnya.
Referensi :
- Dari Kudus Menuju Prestasi Dunia
- 10 Orang Terkaya Indonesia
- Advertorial BOLA Edisi 23 Mei 2008
Published :
www.bulutangkis.com (05 Agustus 2008)
www.badminton-indonesia.com (04 Agustus 2008)
Majalah Globe Asia edisi Juni 2008 mengumumkan 10 orang terkaya Indonesia 2008. Mereka adalah Abu Rizal Bakrie ditempat pertama yang disusul Robert Budi Hartono, Eka Tjipta Wijaya, Sudono Salim, Putra Sampoerna, Rachman Halim, Sukanto Tanoto, Eddy William Katuari, Prayogo Pangestu dan Murdaya Poo. Kerajaan bisnis yang dibangun dengan kerja keras membuat kesepuluh pengusaha tersebut mencapai puncak kesuksesan. Terlepas dari berbagai kontroversi masalah yang mereka hadapi tetapi beberapa diantara orang terkaya ini ternyata memiliki perhatian yang besar terhadap cabang bulutangkis.
Aburizal Bakrie pemilik perusahaan holding PT. BAkrie & Brothers (group Bakrie) menjadi orang terkaya di Indonesia dengan total kekayaan 9,2 miliar dolar. Dengan kekayaan yang sangat besar, Aburizal Bakrie sempat mencurahkan perhatiannya pada cabang bulutangkis dan beberapa cabang lainnya seperti renang, sepak bola, tenis dan basket melalui yayasan POR Pelita Jaya. Klub bulutangkis Pelita Bakrie ini merupakan tempat bernaungnya pemain muda Tommy Sugiarto. Bahkan Aburizal pernah menjadi pengurus PBSI perode 1985-1993 dibawah kepemimpinan Try Sutrisno. Jabatan yang dipegang Aburizal saat itu adalah sebagai Ketua bidang Dana.
Berikutnya, orang terkaya kedua dinegeri ini adalah Robert Budi Hartono. Bos group Djarum ini memiliki kekayaan 6,8 miliar dolar. PT. Djarum yang merupakan aset terbesar group Djarum sudah sangat lekat dengan dunia bulutangkis. Berbagai turnamen besar seperti Indonesia Open superseries yang baru lalu tidak lepas dari dukungan Djarum sebagai sponsor utama. Belum lagi klub PB Djarum yang telah menghasilkan pemain-pemain kelas dunia bagi Indonesia.
Klub Djarum yang didirikan oleh Robert Budi Hartono tahun 1970 ini awalnya sebagai arena berlatih bagi karyawan PT. Djarum. Kemudian dalam perkembangannya klub Djarum membina atlet-atlet bulutangkis berbakat. Legenda bulutangkis Indonesia, Liem Swie King yang merupakan juara All England tiga kali merupakan produk asli klub Djarum. Bahkan tim Piala Thomas Indonesia tahun 1984 hampir semuanya diperkuat pemain Djarum seperti Liem Swie King, Kartono, Christian Hadinata, Hastomo Arbi, Hadiyanto, Hadi Bowo dan Rudy Heryanto. Satu-satunya pebulutangkis bukan anggota klub Djarum saat itu adalah Icuk Sugiarto. Beberapa pemain Djarum pernah mengecap juara dunia seperti Hariyanto Arbi, Rudy Gunawan, Sigit Budiarto dan Christian Hadinata. Demikian juga pada arena bergengsi seperti All England melalui Christian, Liem Swie King, Heryanto, Kartono, Ardi Wiranata, Eddy Hartono, Gunawan, Hariyanto Arbi dan Sigit Budiarto. Bahkan atlet Djarum mempersembahkan medali emas Olimpiade melalui Alan Budi Kusuma.
Komitmen Djarum pada bulutangkis juga ditunjukkan dengan membangun kompleks bulutangkis bertaraf Internasional diatas lahan 43.207 m2 . Kompleks modern ini dilengkapi dengan GOR, ruang penunjang, dinning hall, asrama atlet dan rumah tinggal bagi pelatih. Dari kompleks yang berlokasi di Kudus ini diharapkan generasi-generasi baru bulutangkis Indonesia akan lahir.
Salah satu klub bulutangkis tempat bernaungnya pemain-pemain top Indonesia adalah Tangkas Jakarta. Klub yang dimiliki oleh Justian Suhandinata ini dihuni atlet-atlet top seperti Simon Ssantoso, Nova Widianto, Lilyana Natsir dan Vita Marissa. Sejak 2 Mei 2008 klub Tangkas disponsori oleh Alfamart sehingga klub tersebut berganti nama PB-Tangkas Alfamart. Beberapa tahun sebelumnya, klub Tangkas sempat disponsori oleh Bogasari yang dikenal dengan nama Tangkas Bogasari. Nama Alfamart maupun Bogasari merupakan nama-nama perusahaan milik orang terkaya Indonesia tersebut. Bogasari merupakan unit usaha Salim Group milik Liem Sioe Liong. Naga tua dari asia yang juga dikenal dengan nama Indonesia-nya, Sudono Salim itu menduduki peringkat empat orang terkaya Indonesia dengan total kekayaan 3,04 miliar. Sedangkan jaringan Alfamart dimiliki oleh Putra Sampoerna. Dengan kekayaannya 4,42 miliar dolar Putra menempati posisi berikutnya dibawah Sudono Salim.
Peringkat keenam orang terkaya Indonesia adalah Rachman Halim. Pengusaha asal Surabaya yang beberapa hari yang lalu meninggal dunia ini, saat pengumuman peringkat kekayaannya mencapai 2 miliar dolar. Mendiang Rahman Halim ini sebelumnya merupakan presiden komisaris PT. Gudang Garam Tbk. Sebuah perusahaan yang rajin mensponsori klub dan turnamen bulutangkis di Surabaya. Klub Suryanaga Surabaya tempat bernaungnya pemain Sony Dwi Kuncoro, pernah mendapat sokongan dari gudang garam. Bahkan akhir Agustus mendatang Gudang Garam menjadi salah satu sponsor turnamen Internasional GGJP Indonesia Challenge yang berlangsung di Surabaya.
Ternyata lima dari sepuluh orang terkaya di Indonesia mempunyai andil dalam perkembangan bulutangkis Indonesia. Sekali lagi terlepas dari semua kontroversi baik politik maupun bisnis, insan bulutangkis selayaknya menghargai mereka. Diharapkan juga konsistensi pengusaha-pengusaha tersebut dalam memajukan bulutangkis serta menanti peran pengusaha-pengusaha kaya lainnya.
Referensi :
- Dari Kudus Menuju Prestasi Dunia
- 10 Orang Terkaya Indonesia
- Advertorial BOLA Edisi 23 Mei 2008
Published :
www.bulutangkis.com (05 Agustus 2008)
www.badminton-indonesia.com (04 Agustus 2008)
EKSISTENSI DAERAH LUAR JAWA PADA CABANG BULUTANGKIS PON
Written by : Hendri Kustian
Pulau Jawa diakui basis pembinaan bulutangkis Indonesia. Ini dapat terlihat dengan kasat mata dari prestasi yang dibuat pemain-pemain dari pulau ini. Apalagi klub-klub besar yang melahirkan atlet kelas dunia bercokol di pulau Jawa. Jaya Raya dan Tangkas Jakarta, SGS Bandung, Djarum Kudus dan Suryanaga Surabaya membidani lahirnya talenta-talenta kelas dunia. Dengan reputasi tersebut maka bisa dimaklumi medali-medali cabang olahraga bulutangkis PON jatuh pada pemain-pemain dari pulau dengan penduduk terpadat di Indonesia ini.
Bagaimana dengan prestasi provinsi diluar pulau Jawa? Prestasi atlet luar Jawa masih jauh tertinggal dari atlet dari provinsi di Jawa. Selama enam belas kali penyelenggaraan PON, baru tiga emas yang lolos dari gengaman atlet-atlet Pulau Jawa. Tiga emas tersebut tersebar pada tiga provinsi yang berbeda. Sumatera Utara merupakan provinsi luar Jawa pertama yang meraih emas setelah pasangan ganda putrinya Oei Lin Nio / Rosnida Nasution menundukkan Corry Kawilarang / Thio Kim Ing (Sulsel) di final PON IV tahun 1957 di Makasar. Pada PON sebelumnya pasangan Oei Lin Nio / Rosnida Nasution ini hanya meraih perak. Medali perak juga disumbangkan Oei Lin Nio dua kali berturut-turut dinomor tunggal putri tahun 1953 dan 1957. Setelah itu prestasi Sumut menurun setelah hanya sempat sekali menambah medali perunggu pada PON 1961 melalui pasangan ganda campuran B. Siregar / Rosnida Nasution. Tetapi catatan prestasi Sumatera Utara masih kalah pamor dengan nama tokoh bulutangkis asal daerah tersebut. Dia adalah bapak bulutangkis Indonesia, Sudirman yang namanya diabadikan pada piala dunia beregu campuran. Beliau dilahirkan disebuah kota di Sumatera Utara yaitu Pematang Siantar.
Prestasi Sulawesi Selatan bisa dikatakan salah satu provinsi yang terbaik diluar pulau Jawa. Pemainnya Corry Kawilarang tidak hanya merebut perak ganda putri tetapi juga meraih medali perunggu tunggal putri PON IV Makasar. Gagal menyumbangkan emas didepan publiknya sendiri berhasil ditebus Corry Kawilarang empat tahun berikutnya. Pada PON V di Bandung tahun 1961, Corry merebut medali emas tunggal putri setelah di final menang dari wakil Jawa Timur, Minarni. Berikutnya, pada PON VII tahun 1969, Sulsel merebut dua medali perak melalui Nur Haenah ditunggal putri dan Nur Haenah / Corry. K pada nomor ganda putri. Generasi tahun 80-an ikut menyumbang perbendaharaan medali Sulsel. Medali perunggu beregu putri PON XI 1985 dan medali perunggu ganda putri melalui Rosiana Tendian / Ratih K berhasil diraih. Setelah itu prestasi bulutangkis Sulsel seperti hilang di telan bumi.
Sulawesi Utara berhasil memecah kebuntuannya pada medali emas bulutangkis setelah pasangan ganda putri Lilyana Natsir / Nathalia Poluakan secara mengejutkan menang dari seniornya Jo Novita / Vita Marissa (DKI) pada PON XVI tahun 2004 di Palembang. Sebenarnya Sulawesi Utara merupakan penghasil pemain nasional. Selain Lilyana dan Nathalia masih ada Greysia Polii yang juga diperebutkan oleh Jawa Barat. Sebelumnya Sulut juga mempunyai Deyana Lomban yang mempunyai prestasi cukup baik ditingkat Internasional. Untuk level PON Sulut sudah pernah meraih medali pada tahun 1954 walaupun hanya medali perunggu melalui pasangan ganda campuran A. Gosin / J Dengah.
Selain ketiga provinsi tersebut prestasi tim luar Jawa masih belum terlihat. Ketimpangan kemajuan bulutangkis di Jawa dan Non Jawa bisa dimaklumi karena pulau Jawa mempunyai fasilitas lebih baik dan dukungan klub-klub besar. Akibatnya atlet daerah luar Jawa mengalami kendala minimnya mitra latih yang berkualitas. Untuk mengatasi hal ini PBSI pernah merancang program Desentralisasi Pelatnas. Sayangnya sampai saat ini, program tersebut masih berbentuk wacana. Pemerataan prestasi ke seluruh daerah akan bernilai positif bagi pembinaan bulutangkis itu sendiri. Selain itu cabang bulutangkis PON menjadi lebih kompetitif karena perimbangan kekuatan antar daerah peserta cabang ini.
Published :
Tabloid Smash edisi 1 (Juli 2008)
Written by : Hendri Kustian
Pulau Jawa diakui basis pembinaan bulutangkis Indonesia. Ini dapat terlihat dengan kasat mata dari prestasi yang dibuat pemain-pemain dari pulau ini. Apalagi klub-klub besar yang melahirkan atlet kelas dunia bercokol di pulau Jawa. Jaya Raya dan Tangkas Jakarta, SGS Bandung, Djarum Kudus dan Suryanaga Surabaya membidani lahirnya talenta-talenta kelas dunia. Dengan reputasi tersebut maka bisa dimaklumi medali-medali cabang olahraga bulutangkis PON jatuh pada pemain-pemain dari pulau dengan penduduk terpadat di Indonesia ini.
Bagaimana dengan prestasi provinsi diluar pulau Jawa? Prestasi atlet luar Jawa masih jauh tertinggal dari atlet dari provinsi di Jawa. Selama enam belas kali penyelenggaraan PON, baru tiga emas yang lolos dari gengaman atlet-atlet Pulau Jawa. Tiga emas tersebut tersebar pada tiga provinsi yang berbeda. Sumatera Utara merupakan provinsi luar Jawa pertama yang meraih emas setelah pasangan ganda putrinya Oei Lin Nio / Rosnida Nasution menundukkan Corry Kawilarang / Thio Kim Ing (Sulsel) di final PON IV tahun 1957 di Makasar. Pada PON sebelumnya pasangan Oei Lin Nio / Rosnida Nasution ini hanya meraih perak. Medali perak juga disumbangkan Oei Lin Nio dua kali berturut-turut dinomor tunggal putri tahun 1953 dan 1957. Setelah itu prestasi Sumut menurun setelah hanya sempat sekali menambah medali perunggu pada PON 1961 melalui pasangan ganda campuran B. Siregar / Rosnida Nasution. Tetapi catatan prestasi Sumatera Utara masih kalah pamor dengan nama tokoh bulutangkis asal daerah tersebut. Dia adalah bapak bulutangkis Indonesia, Sudirman yang namanya diabadikan pada piala dunia beregu campuran. Beliau dilahirkan disebuah kota di Sumatera Utara yaitu Pematang Siantar.
Prestasi Sulawesi Selatan bisa dikatakan salah satu provinsi yang terbaik diluar pulau Jawa. Pemainnya Corry Kawilarang tidak hanya merebut perak ganda putri tetapi juga meraih medali perunggu tunggal putri PON IV Makasar. Gagal menyumbangkan emas didepan publiknya sendiri berhasil ditebus Corry Kawilarang empat tahun berikutnya. Pada PON V di Bandung tahun 1961, Corry merebut medali emas tunggal putri setelah di final menang dari wakil Jawa Timur, Minarni. Berikutnya, pada PON VII tahun 1969, Sulsel merebut dua medali perak melalui Nur Haenah ditunggal putri dan Nur Haenah / Corry. K pada nomor ganda putri. Generasi tahun 80-an ikut menyumbang perbendaharaan medali Sulsel. Medali perunggu beregu putri PON XI 1985 dan medali perunggu ganda putri melalui Rosiana Tendian / Ratih K berhasil diraih. Setelah itu prestasi bulutangkis Sulsel seperti hilang di telan bumi.
Sulawesi Utara berhasil memecah kebuntuannya pada medali emas bulutangkis setelah pasangan ganda putri Lilyana Natsir / Nathalia Poluakan secara mengejutkan menang dari seniornya Jo Novita / Vita Marissa (DKI) pada PON XVI tahun 2004 di Palembang. Sebenarnya Sulawesi Utara merupakan penghasil pemain nasional. Selain Lilyana dan Nathalia masih ada Greysia Polii yang juga diperebutkan oleh Jawa Barat. Sebelumnya Sulut juga mempunyai Deyana Lomban yang mempunyai prestasi cukup baik ditingkat Internasional. Untuk level PON Sulut sudah pernah meraih medali pada tahun 1954 walaupun hanya medali perunggu melalui pasangan ganda campuran A. Gosin / J Dengah.
Selain ketiga provinsi tersebut prestasi tim luar Jawa masih belum terlihat. Ketimpangan kemajuan bulutangkis di Jawa dan Non Jawa bisa dimaklumi karena pulau Jawa mempunyai fasilitas lebih baik dan dukungan klub-klub besar. Akibatnya atlet daerah luar Jawa mengalami kendala minimnya mitra latih yang berkualitas. Untuk mengatasi hal ini PBSI pernah merancang program Desentralisasi Pelatnas. Sayangnya sampai saat ini, program tersebut masih berbentuk wacana. Pemerataan prestasi ke seluruh daerah akan bernilai positif bagi pembinaan bulutangkis itu sendiri. Selain itu cabang bulutangkis PON menjadi lebih kompetitif karena perimbangan kekuatan antar daerah peserta cabang ini.
Published :
Tabloid Smash edisi 1 (Juli 2008)
Subscribe to:
Posts (Atom)
