Bulutangkis.com - Negara-negara raksasa bulutangkis saat ini seperti Malaysia, Denmark, China, Korea dan tentunya Indonesia harus mulai waspada karena dominasinya sangat mungkin segera ditenggelamkan kekuatan lama yang bangkit kembali, Thailand.
Di masa lalu Thailand pernah menjadi runner-up ajang bergengsi Piala Thomas pada tahun 1961. Ketika itu negeri Gajah Putih dihentikan kekuatan Indonesia yang diantaranya bermaterikan Tan Joe Hok dan Ferry Sonneville dengan skor 3-6. Setelah itu hanya sesekali nama-nama pemain Thailand mengejutkan seperti Bonsak Polsana, Pramote T, Sudket. P, Songphon Anugritayawon dan beberapa pemain putri. Namun mereka belum sampai ke level tertinggi bulutangkis dunia.
Beberapa tahun mendatang, Thailand diprediksi akan mampu mengusai bulutangkis dunia kembali dengan diidintifikasikan oleh jayanya para yunior Thailand saat ini. Ajang olahraga yunior terbesar dunia, Youth Olympic telah membuktikan keperkasaan Thailand dimana dua emas bulutangkis disikat habis. Bahkan Pemain tunggal putri, Sapsiree Taerattanachai menekuk putri China, Deng Xuan 21-14, 21-17 di pertandingan final yang berlangsung di Singapura kemarin (19/8). Sedangkan pemain putranya, Pisit Poodchalat menggenggam emas setelah mengalahkan pemain India, H.S. Pranoy 21-15, 21-16. Sebuah prestasi yang luar biasa buat pemain-pemain Yunior.
Prestasi Thailand tersebut, sebelumnya didahului dengan prestasi-prestasi dunia lainnya. Thailand masih menyimpan Ratchanok Intanon yang tidak bisa berlaga di Youth Olympic karena usianya terlalu muda yakni 15 tahun sedangkan peserta cabang bulutangkis berumur 17-18 tahun. Di usianya yang sangat belia tersebut, Ratchanok telah menjadi yunior terbaik dunia setelah memenangkan kejuaraan dunia yunior 2010. Bahkan, pemain inilah yang menjadi pemain putri Thailand pertama yang berhasil menjuarai kejuaraan dunia junior dua kali berturut-turut. Ia mampu menundukkan pemain-pemain tunggal putri China pada kejuaraan dunia junior.
Jika di tahun 2009, Ratchanok menjadi juara dengan menundukkan rekan senegaranya Porntip Buranaprasertsuk, maka di tahun 2010 ia mampu menjadi juara dengan menundukkan juara Asia Junior 2010 Suo Di dari China. Di kejuaraan Vietnam International Challenge 2009, sebelum ia menggondol gelar juara, empat tunggal putri Indonesia di hajarnya. Linda Weni Fanetri dikalahkannya di babak kedua. Dibabak perempat final, ganti Aprilia Yuswandari. Di semifinal, Maria Febe Kusumastuti menyerah. Di partai puncak Maria Elfira Christina pun tidak dapat berbuat banyak. Maria Elfira kalah dua set dengan 18-21, 14-21. Sementara rekor pertemuannya dengan Febby Angguni masih imbang 1-1. Febby menang di turnamen Smiling Fish International series 2008, sementara Ratchanok menang pada kejuaraan Singapore Asian Satelite 2008 dengan 21-15, 16-21, 21-15. Saat ini Ratchanok berada pada peringkat 76 dunia, per 13 Agustus 2010.
Pemain yunior putri lainnya Porntip Buranaprasertsuk menjadi pemain peringkat kedua tertinggi di negaranya. Per 13 Agustus 2010, ia bercokol di peringkat 31 BWF. Porntip merupakan jebolan kejuaraan dunia junior tahun 2008, saat itu prestasi terbaiknya menjadi semifinalis dan hanya kalah dari Wang Shixian, pemain China yang telah mentas lebih dulu di dunia bulutangkis. Di kejuaraan yang sama, pemain harapan Indonesia Ana Rovita pernah menyerah di babak kedua dengan 13-21, 20-22. Di tahun 2009, prestasinya di kejuaraan dunia Junior meningkat. Ia berhasil menyodok di partai puncak sebelum di tundukkan rekan senegaranya Ratchanok Intanon.
Sementara di bagian putra, selain Pisit, Thailand masih mempunyai amunisi pemain Yunior, Prinyawat Thongnuam. Pemain inilah yang mengalahkan dua yunior terbaik Indonesia saat ini pada turnamen Internasional Tangkas Alfamart Open 2010. Di semifinal, Prinyawat mengalahkan Riyanto Subagja dengan 21-16, 21-11 dan kemudian di final mengalahkan Evert Sukamta 21-15 13-21 21-11.
Kehadiran lima pemain pemain yunior Thailand tersebut ke pentas dunia menjadi catatan penting bagi negara lain. Bukan tidak mungkin mereka akan berjaya di Olimpiade 2012 atau 2016. Indonesia sendiri sebagai tetangga dekat Thailand harus segera berbenah untuk tetap menancapkan kukunya sebagai yang terbaik di Asia Tenggara, Asia maupun dunia. (Hendri Kustian / Arief Rachman)
Sumber : http://www.bulutangkis.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=6488
Friday, August 20, 2010
Tuesday, March 23, 2010
Pemain Yunior Putri Berprestasi Tahun 2009
Bulutangkis.com - Indonesia kembali tertinggal dalam prestasi Internasional di bagian putri. Kita tidak perlu membandingkan dengan China yang pemain lapis ketiganya sudah bisa meraih gelar juara Super Series tetapi dengan negara tetangga seperti Thailand saja sudah kedodoran. Thailand malah berhasil menciptakan ''ALL Thailand Final'' di nomor tunggal putri Kejuaraan Dunia Yunior antara Ratchanok Intanon dan Portip Buranaprasertsuk.
Namun demikian kita tidak boleh berputus harapan karena beberapa pemain masih bisa mencatat prestasi yang baik.
1. Della Destiara Haris
Dengan prestasinya sebagai runner-up ganda campuran Kejuaraan Dunia Yunior maka Della layak didaulat sebagai pemain yunior paling berprestasi. Pemain yang tergabung dalam skuat Pelatnas Pratama ini juga meraih gelar juara turnamen Internasional Tangkas ALfamart Open nomor ganda putri berpasangan dengan Gebby Rityani Imawan. Sebelum bergabung di Pelatnas Pratama, Della menjuarai Pertamina Open II dan Sirnas Kalimantan berpasangan dengan Claudia Ayu pada awal tahun 2009.
2. Suci Rizky Andini
Posisi runner-up ganda putri kejuaraan dunia yunior bersama Tiara Rosalia membuat Suci ditempatkan dinomor dua. Disamping itu Suci berhasil masuk babak semifinal Tangkas Alfamart Open disektor ganda campuran berpasangan dengan Kevin Alexander.
3. Tiara Rosalia Nuraidah
Gelar juara dunia yunior belum dapat diraih Tiara dan Suci setelah dikalahkan andaalan China Tan Jinhua/Huang Xia 9-21 dan 18-21. Tetapi keberhasilan mereka menembus final layak mendapat apresiasi ditengah minimnya prestasi pemain putri Indonesia.
4. Jenna Gozalli
Pemain klub Djarum Kudus ini meraih gelar Internasional pada sektor ganda campuran Dutch Open Junior bersama Muhammad Ulinnuha. Pekan berikutnya pasangan ini hanya menempati runner-up German Open Yunior setelah dikalahkan pasangan Korea Kang Ji Wook/Hye In Choi 20-22, 17-21. Di ganda putri, Jenna bersama Rufika Olivta menempati posisi empat besar pada Dutch Open Junior
5. Dian Fitriani
Satu gelar juara Singapore Youth International U-19 dipersembahkan Dian Fitriani/Eri Octaviani dinomor ganda putri. Pasangan ini juga memborong tiga gelar juara Sinas mulai dari Sirnas Jateng, Bali dan Sumatera. Semenara di Tangkas Alfamart Open mereka menduduki posisi runner-up. Di Tangkas Alfamart Open ini, Dian Fitriani juga bermain ditunggal putri dengan hasil sebagai semifinalis setelah dikalahkan pemain Malaysia, Sonia Su Ya Cheah 21-15, 14-21, 3-21.
6. Eri Octaviani
Berpasangan Dian Fitriani menjuarai Singapore Youth International dan runner-up Tangkas Alfamart Open. Di level nasional, mereka meraih tiga gelar juara Sirnas.
7. Yayu Rahayu
Yayu merupakan pemain klub Djarum Kudus lainnya yang berhasil meraih gelar Internasional. Yayu bermain diganda campuran bersama Didit Juang Indrianto berhasil menjuarai ganda campuran Tangkas Alfamart Open. Didit/Yayu juga menjuarai Sirnas Kalimantan kemudian Yayu sendiri juara campuran Sirnas Jateng dan Jatim (+Jones Rafly Jansen) serta ganda putri Sirnas Jatim (+Lidya Pradipta)
8. Gebby Rityani Imawan
Merupakan anggota skuat Pelatnas Pratama yang menjadi pasangan Della saat menjuarai Tangkas Alfamart Open.
9. Anna Rovita
Kejutan dibuatnya dengan berhasil menembus semifinal kejuaraan Asia Yunior. Langkahnya ke final dihentikan sang juara Chen Xiaojia (China) 22-24, 17-21. Sementara dilevel nasional, Anna menjuarai Sirnas DKI dan turnamen Surabaya Open.
10. Febby Angguni
Pemain ini membuat prestasi yang sama dengan Anna Rovita sebagai semfinalis Kejuaraan Asia Yunior. Di kancah nasional sebenarnya Febby mencatat prestasi lebih baik dengan meraih tiga gelar juara tunggal putri sirnas kelompok dewasa. Tetapi karena catatan ini hanya melihat prestasi di kelompok taruna maka Febby ditempatkan diposisi kesepuluh.
Demikian sepuluh pemain yunior paling berprestasi di tahun 2009. Tantangan kelompok putri tahun-tahun mendatang akan lebih besar. Kemajuan negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Thailand harus diantisipasi dengan meningkatkan prestasi pemain putri Indonesia. Semoga tahun 2010 ini prestasi pebulutangkis Indonesia menjadi lebih baik.
Namun demikian kita tidak boleh berputus harapan karena beberapa pemain masih bisa mencatat prestasi yang baik.
1. Della Destiara Haris
Dengan prestasinya sebagai runner-up ganda campuran Kejuaraan Dunia Yunior maka Della layak didaulat sebagai pemain yunior paling berprestasi. Pemain yang tergabung dalam skuat Pelatnas Pratama ini juga meraih gelar juara turnamen Internasional Tangkas ALfamart Open nomor ganda putri berpasangan dengan Gebby Rityani Imawan. Sebelum bergabung di Pelatnas Pratama, Della menjuarai Pertamina Open II dan Sirnas Kalimantan berpasangan dengan Claudia Ayu pada awal tahun 2009.
2. Suci Rizky Andini
Posisi runner-up ganda putri kejuaraan dunia yunior bersama Tiara Rosalia membuat Suci ditempatkan dinomor dua. Disamping itu Suci berhasil masuk babak semifinal Tangkas Alfamart Open disektor ganda campuran berpasangan dengan Kevin Alexander.
3. Tiara Rosalia Nuraidah
Gelar juara dunia yunior belum dapat diraih Tiara dan Suci setelah dikalahkan andaalan China Tan Jinhua/Huang Xia 9-21 dan 18-21. Tetapi keberhasilan mereka menembus final layak mendapat apresiasi ditengah minimnya prestasi pemain putri Indonesia.
4. Jenna Gozalli
Pemain klub Djarum Kudus ini meraih gelar Internasional pada sektor ganda campuran Dutch Open Junior bersama Muhammad Ulinnuha. Pekan berikutnya pasangan ini hanya menempati runner-up German Open Yunior setelah dikalahkan pasangan Korea Kang Ji Wook/Hye In Choi 20-22, 17-21. Di ganda putri, Jenna bersama Rufika Olivta menempati posisi empat besar pada Dutch Open Junior
5. Dian Fitriani
Satu gelar juara Singapore Youth International U-19 dipersembahkan Dian Fitriani/Eri Octaviani dinomor ganda putri. Pasangan ini juga memborong tiga gelar juara Sinas mulai dari Sirnas Jateng, Bali dan Sumatera. Semenara di Tangkas Alfamart Open mereka menduduki posisi runner-up. Di Tangkas Alfamart Open ini, Dian Fitriani juga bermain ditunggal putri dengan hasil sebagai semifinalis setelah dikalahkan pemain Malaysia, Sonia Su Ya Cheah 21-15, 14-21, 3-21.
6. Eri Octaviani
Berpasangan Dian Fitriani menjuarai Singapore Youth International dan runner-up Tangkas Alfamart Open. Di level nasional, mereka meraih tiga gelar juara Sirnas.
7. Yayu Rahayu
Yayu merupakan pemain klub Djarum Kudus lainnya yang berhasil meraih gelar Internasional. Yayu bermain diganda campuran bersama Didit Juang Indrianto berhasil menjuarai ganda campuran Tangkas Alfamart Open. Didit/Yayu juga menjuarai Sirnas Kalimantan kemudian Yayu sendiri juara campuran Sirnas Jateng dan Jatim (+Jones Rafly Jansen) serta ganda putri Sirnas Jatim (+Lidya Pradipta)
8. Gebby Rityani Imawan
Merupakan anggota skuat Pelatnas Pratama yang menjadi pasangan Della saat menjuarai Tangkas Alfamart Open.
9. Anna Rovita
Kejutan dibuatnya dengan berhasil menembus semifinal kejuaraan Asia Yunior. Langkahnya ke final dihentikan sang juara Chen Xiaojia (China) 22-24, 17-21. Sementara dilevel nasional, Anna menjuarai Sirnas DKI dan turnamen Surabaya Open.
10. Febby Angguni
Pemain ini membuat prestasi yang sama dengan Anna Rovita sebagai semfinalis Kejuaraan Asia Yunior. Di kancah nasional sebenarnya Febby mencatat prestasi lebih baik dengan meraih tiga gelar juara tunggal putri sirnas kelompok dewasa. Tetapi karena catatan ini hanya melihat prestasi di kelompok taruna maka Febby ditempatkan diposisi kesepuluh.
Demikian sepuluh pemain yunior paling berprestasi di tahun 2009. Tantangan kelompok putri tahun-tahun mendatang akan lebih besar. Kemajuan negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Thailand harus diantisipasi dengan meningkatkan prestasi pemain putri Indonesia. Semoga tahun 2010 ini prestasi pebulutangkis Indonesia menjadi lebih baik.
Pemain Yunior Putra Berprestasi tahun 2009
Bulutangkis.com - Seiring dengan catatan pemain bulutangkis terbaik 2009, saya ingin melanjutkan catatan tersebut terhadap pemain-pemain yunior Indonesia yang berprestasi sepanjang tahun 2009. Sepuluh pemain berprestasi ini dirangkum dari pertandingan nasional dan internasional untuk kelompok usia 19 tahun atau yang juga dikenal dengan kelompok taruna. Meskipun beberapa pemain yunior sudah berhasil meraih gelar juara di kelompok senior tetapi tidak diikutkan dalam catatan ini.
1. Angga Pratama
Angga Pratama layak menempati urutan teratas atas prestasinya di dua turnamen yunior Internasional bergengsi yakni Kejuaraan Asia dan Kejuaraan Dunia. Di kejuaraan Asia, Angga yang berpasangan dengan Rendy Sugiarto berhasil meraih gelar juara setelah mengalahkan pasangan tuan rumah Malaysia, Yew Hong Kheng /Ow Yao Han difinal dengan 21-16, 21-15.
Kemudian pasangan ini menembus semifinal kejuaraan dunia yunior yang berlangsung di Alor Setar, Malaysia. Catatan prestasi Angga ditambah lagi dengan menjadi runner-up nomor ganda campuran kejuaraan dunia tersebut berpasangan dengan Della Destiara Harris.
2. Rendy Sugiarto
Pemain asal Djarum Kudus ini merupakan pasangan Angga Pratama di nomor ganda putra yang berprestasi sebagai juara Asia dan semifinalis kejuaraan dunia. Namun dilevel dewasa pemain Pelatnas pratama ini lebih sering dipasangkan dengan Muhammad Rizky Delinugraha.
3. Muhammad Ulinnuha
Pemain spesialis ganda ini sering kali diturunkan bermain rangkap ganda putra dan ganda campuran. Meskipun begitu beberapa gelar juara di kedua nomor berhasil diraihnya. Di sektor ganda putra, Ulinnuha berpasangan dengan Berry Angriawan berhasil menjuarai Dutch Open Junior dan German Open Junior. Pasangan ini juga meraih prestasi runner-up Kejuaraan dunia. Sementara di nomor ganda campuran, Ulinnuha bersama Jenna Gozali menjuarai Dutch Open Junior dan runner-up German Open Junior.
4. Berry Angriawan
Bersama Ulinnuha hampir saja berhasil menjadi juara dunia yunior. Sayang difinal mereka dikalahkan pasangan tuan rumah Malaysia, Kah Ming Chooi/Yao Han Ow difinal dalam pertarungan tiga set 21-19, 12-21 dan 21-23. Tetapi dua gelar juara di Belanda dan Jerman telah memberikan harapan bahwa Berry/Ulinnuha bisa menjadi ganda kuat di masa depan.
5. Ricky Karanda
Dua medali emas berhasil dipersembahkan Ricky Karanda dalam ASEAN School Games I di Suphanburi, Thailand. Dalam pesta Olahraga pelajar negara se-Asia Tenggara tersebut, Ricky memenangkan nomor ganda putra bersama Imam Hoerudin dan ganda campuran berpasangan dengan Ayu Pratiwi. Gelar internasional lainnya dipersembakan Ricky pada turnamen Tangkas Alfamart Open. Difinal ganda putra Ricky dan rekannya Budi Hartono berhasil mengalahkan pasangan Djarum Kudus, Dandi Prabudita/Jones Ralfy Jansen 21-15 dan 21-17. Ricky/ Budi juga menjuarai Sirnas Bali. Sebelumnya Ricky berpasangan dengan Ali Akbar memenangkan Sirnas Kalimantan. Sementara di ganda campuran, Ricky/Ayu Pratiwi mendapat tambahan gelar juara Sirnas DKI dan Sirnas Sumatera.
6. Didit Juang Indrianto
Pemain ini meraih gelar Internasional dari sektor ganda campuran Tangkas Alfamart Open. Berpasangan dengan rekan satu klubnya Yayu Rahayu, pasangan ini mengalahkan Jones Ralfy Jansen/ Nurbeta Kwanrico 21-16, 21-14. Dilevel nasional, Didit/ Yayu meraih gelar juara Sirnas Kalimantan. Sementara dinomor ganda putra Didit yang dipasangkan dengan Seiko Wahyu memborong tiga gelar juara sirnas pada Sirnas DKI, Jawa Barat dan Jawa Timur.
7. Subhan Hasan
Pemain asal klub Jaya Raya ini menjadi kampium ganda putra Youth Singapore International U-19 berpasangan dengan Agripinna Prima Putera. Difinal mereka mengalahkan pasangan tuang rumah Robin Gonansa/Huang Chao 21-19 dan 21-14. Subhan Hasan juga handal bermain di tunggal yang dibuktikan dengan menjuarai Sirnas Kalimantan dan Sumatera
8. Riyanto Subagja
Harapan tunggal putra Indonesia masa depan dapat ditumpukan pada nama ini. Meskipun baru masuk kelompok taruna, Riyanto berhasil mensejajarkan diri dengan angkatan diatasnya. Ini terbukti dengan persembahan gelar juara Tangkas Alfmart Open setelah difinal mengalahkan pemain unggulan asal India, Sai Praneet Bhamidipati 21-16, 21-16. Keperkasaan Riyanto dilengkapi dengan menjuarai Sirnas Bali.
9. Agripinna Prima Putra
Putera mantan pebulutangkis Sigit Pamungkas ini memiliki ciri permainan aktraktif. Selain gelar juara ganda putra bersama Subhan Hasan, Agripinna juga mampu menjadi Kampiun di tunggal putra Sirnas DKI.
10. Jones Ralfy Jansen
Jansen memang tidak meraih gelar internasional sepanjang tahun 2009. Tetapi runner-up di dua nomor sekaligus pada Tangkas Alfamart Open merupakan prestasi tersendiri. Hasil sebagai finalis didapatnya dengan pasangannya Dandi Pramudita di ganda putra dan Nurbeta Kwanrico di ganda campuran. Sementara gelar sirnas diperolehnya pada nomor ganda putra sirnas Jateng (+Darmiko) dan ganda campuran Sirnas Jateng serta Jatim (+Yayu Rahayu).
Kesepuluh pebulutangkis putra tersebut sebagian diantaranya sudah meniti karir dikelompok dewasa pada tahun ini. Dari pundak mereka mereka disandangkan harapan prestasi Indonesia yang sedang mengalami krisis regenerasi. Sementara bagi mereka yang masih bertarung dikelompok taruna maka terdapat tantangan untuk menunjukkan eksistensi Indonesia di level Internasional seperti Kejuaraan Asia Yunior, Kejuaraan Dunia Yunior dan puncaknya Youth Olympic I di Singapura.
1. Angga Pratama
Angga Pratama layak menempati urutan teratas atas prestasinya di dua turnamen yunior Internasional bergengsi yakni Kejuaraan Asia dan Kejuaraan Dunia. Di kejuaraan Asia, Angga yang berpasangan dengan Rendy Sugiarto berhasil meraih gelar juara setelah mengalahkan pasangan tuan rumah Malaysia, Yew Hong Kheng /Ow Yao Han difinal dengan 21-16, 21-15.
Kemudian pasangan ini menembus semifinal kejuaraan dunia yunior yang berlangsung di Alor Setar, Malaysia. Catatan prestasi Angga ditambah lagi dengan menjadi runner-up nomor ganda campuran kejuaraan dunia tersebut berpasangan dengan Della Destiara Harris.
2. Rendy Sugiarto
Pemain asal Djarum Kudus ini merupakan pasangan Angga Pratama di nomor ganda putra yang berprestasi sebagai juara Asia dan semifinalis kejuaraan dunia. Namun dilevel dewasa pemain Pelatnas pratama ini lebih sering dipasangkan dengan Muhammad Rizky Delinugraha.
3. Muhammad Ulinnuha
Pemain spesialis ganda ini sering kali diturunkan bermain rangkap ganda putra dan ganda campuran. Meskipun begitu beberapa gelar juara di kedua nomor berhasil diraihnya. Di sektor ganda putra, Ulinnuha berpasangan dengan Berry Angriawan berhasil menjuarai Dutch Open Junior dan German Open Junior. Pasangan ini juga meraih prestasi runner-up Kejuaraan dunia. Sementara di nomor ganda campuran, Ulinnuha bersama Jenna Gozali menjuarai Dutch Open Junior dan runner-up German Open Junior.
4. Berry Angriawan
Bersama Ulinnuha hampir saja berhasil menjadi juara dunia yunior. Sayang difinal mereka dikalahkan pasangan tuan rumah Malaysia, Kah Ming Chooi/Yao Han Ow difinal dalam pertarungan tiga set 21-19, 12-21 dan 21-23. Tetapi dua gelar juara di Belanda dan Jerman telah memberikan harapan bahwa Berry/Ulinnuha bisa menjadi ganda kuat di masa depan.
5. Ricky Karanda
Dua medali emas berhasil dipersembahkan Ricky Karanda dalam ASEAN School Games I di Suphanburi, Thailand. Dalam pesta Olahraga pelajar negara se-Asia Tenggara tersebut, Ricky memenangkan nomor ganda putra bersama Imam Hoerudin dan ganda campuran berpasangan dengan Ayu Pratiwi. Gelar internasional lainnya dipersembakan Ricky pada turnamen Tangkas Alfamart Open. Difinal ganda putra Ricky dan rekannya Budi Hartono berhasil mengalahkan pasangan Djarum Kudus, Dandi Prabudita/Jones Ralfy Jansen 21-15 dan 21-17. Ricky/ Budi juga menjuarai Sirnas Bali. Sebelumnya Ricky berpasangan dengan Ali Akbar memenangkan Sirnas Kalimantan. Sementara di ganda campuran, Ricky/Ayu Pratiwi mendapat tambahan gelar juara Sirnas DKI dan Sirnas Sumatera.
6. Didit Juang Indrianto
Pemain ini meraih gelar Internasional dari sektor ganda campuran Tangkas Alfamart Open. Berpasangan dengan rekan satu klubnya Yayu Rahayu, pasangan ini mengalahkan Jones Ralfy Jansen/ Nurbeta Kwanrico 21-16, 21-14. Dilevel nasional, Didit/ Yayu meraih gelar juara Sirnas Kalimantan. Sementara dinomor ganda putra Didit yang dipasangkan dengan Seiko Wahyu memborong tiga gelar juara sirnas pada Sirnas DKI, Jawa Barat dan Jawa Timur.
7. Subhan Hasan
Pemain asal klub Jaya Raya ini menjadi kampium ganda putra Youth Singapore International U-19 berpasangan dengan Agripinna Prima Putera. Difinal mereka mengalahkan pasangan tuang rumah Robin Gonansa/Huang Chao 21-19 dan 21-14. Subhan Hasan juga handal bermain di tunggal yang dibuktikan dengan menjuarai Sirnas Kalimantan dan Sumatera
8. Riyanto Subagja
Harapan tunggal putra Indonesia masa depan dapat ditumpukan pada nama ini. Meskipun baru masuk kelompok taruna, Riyanto berhasil mensejajarkan diri dengan angkatan diatasnya. Ini terbukti dengan persembahan gelar juara Tangkas Alfmart Open setelah difinal mengalahkan pemain unggulan asal India, Sai Praneet Bhamidipati 21-16, 21-16. Keperkasaan Riyanto dilengkapi dengan menjuarai Sirnas Bali.
9. Agripinna Prima Putra
Putera mantan pebulutangkis Sigit Pamungkas ini memiliki ciri permainan aktraktif. Selain gelar juara ganda putra bersama Subhan Hasan, Agripinna juga mampu menjadi Kampiun di tunggal putra Sirnas DKI.
10. Jones Ralfy Jansen
Jansen memang tidak meraih gelar internasional sepanjang tahun 2009. Tetapi runner-up di dua nomor sekaligus pada Tangkas Alfamart Open merupakan prestasi tersendiri. Hasil sebagai finalis didapatnya dengan pasangannya Dandi Pramudita di ganda putra dan Nurbeta Kwanrico di ganda campuran. Sementara gelar sirnas diperolehnya pada nomor ganda putra sirnas Jateng (+Darmiko) dan ganda campuran Sirnas Jateng serta Jatim (+Yayu Rahayu).
Kesepuluh pebulutangkis putra tersebut sebagian diantaranya sudah meniti karir dikelompok dewasa pada tahun ini. Dari pundak mereka mereka disandangkan harapan prestasi Indonesia yang sedang mengalami krisis regenerasi. Sementara bagi mereka yang masih bertarung dikelompok taruna maka terdapat tantangan untuk menunjukkan eksistensi Indonesia di level Internasional seperti Kejuaraan Asia Yunior, Kejuaraan Dunia Yunior dan puncaknya Youth Olympic I di Singapura.
Pemain Terbaik 2009

Bulutangkis.com - Kolom Hendri Kustian di situs ini sudah memulai tradisi untuk menentukan pemain terbaik dunia sejak tahun 2007. Metode yang digunakan berdasarkan jumlah dan level gelar juara yang dikumpul oleh seorang pebulutangkis. Tahun 2007 ditentukan Gao Ling sebagai pemain tebaik dunia dan Lilyana Natsir untuk Indonesia. Tahun berikutnya menjadi milik Lee Yong Dae (terbaik dunia) dan pasangan Markis Kido/Hendra Setiawan (terbaik Indonesia). Siapakah yang terbaik di tahun 2009?
Terbaik Dunia
Persaingan pebulutangkis sepanjang tahun 2009 terlihat lebih merata. Beberapa negara yang belum pernah meraih juara di era Super Series, berhasil merebutnya pada tahun 2009 ini seperti Taipei, India, Inggris dan Polandia. Wakil Taipei, Cheng Wen Hsing/ Chin Yu Chin menjuarai ganda putri Korea Open, Saina Nehwal dari India memenangkan tunggal putri Indonesia Open, Nathan Robertson/ Anthony Clark (Inggris) berjaya di Singapore Open dan Robert Mateuziak/ Nadiedza menjadi kampiun ganda campuran Hongkong Open. Demikian juga dengan Thailand, meskipun pernah satu kali merebut juara Singapore Open Super Series 2007 melalui Bonsak Ponsana tetapi prestasi rekannya Songphon Anugritawayan/ Kuchala Voravitchitchaikul menjuarai ganda campuran Japan Open 2009 merupakan kejutan tersendiri.
Ditengah mulai meratanya kekuatan bulutangkis dunia, atlet Korea Lee Yong Dae menjadi pengumpul gelar juara terbanyak dibagian putra. Pemain andalan Korea tersebut meraih empat gelar juara ganda putra super series dan satu super series master bersama rekannya Jung Jae Sung. Gelar ganda putra tersebut masih ditambah satu gelar juara turnamen Grand Prix yakni German Open berpasangan dengan Shin Baek Cheol. Lee Yong dae melengkapi prestasinya dengan menjuarai ganda campuran Korea Open, China Open dan Kejuaraan Asia. Pemain Malaysia Lee Chong Wei tampil konsisten sepanjang tahun 2009 dengan merebut empat kali juara Superseries, satu super series master dan dua kali turnamen Grand Prix Gold. Berikutnya pemain China, Lin Dan membuat catatan sebagai juara dunia dan empat gelar super series lainnya termasuk All England.
Di bagian putri, pemain muda China Ma Jin begitu perkasa dengan enam gelar juara super series yang masing-masing tiga dinomor ganda putri bersama Wang Xiaoli dan tiga disektor ganda campuran berpasangan dengan seniornya, Zheng Bo. Ma Jin melengkapi gelarnya dengan tiga kali juara di turnamen kelas Grand Prix Gold. Mengikuti prestasi Ma Jin, pemain muda lainnya Wang Yihan merebut lima gelar juara tunggal putri Super series dan satu dari Grand Prix Gold. Pemain yang tergolong senior Zhang Yawen berada di posisi ketiga dengan empat gelar juara superseries dan juara dunia ganda putri. Kehebatan Zhang Yawen tidak sekedar catatan tersebut tetapi dia bisa juara baik berpasangan dengan pemain berpengalaman seperti Zhao Tingting maupun dengan yuniornya seperti Pan Pan dan Tian Qin.
Terbaik Indonesia
Indonesia masih bertumpu pada pasangan Nova Widianto/Lilyana Natsir dan Markis Kido/Hendra Setiawan pada pagelaran turnamen sekelas superseries di tahun 2009. Kedua pasangan ini masing-masing mengumpulkan dua gelar juara superseries dan medali emas Sea Games. Diluar keempat nama tersebut yang sedikit mencuat adalah Simon Santoso yang merebut gelar super series pertama-nya di Denmark serta meraih emas tunggal putra Sea Games. Beberapa pemain harus puas mencicipi gelar turnamen kelas Grand Prix Gold seperti Taufik Hidayat, Bona Septano/Muhammad Ahsan dan Flandy Limpele/Vita Marissa
Terbaik
Berdasarkan catatan prestasi yang dibuat para pemain maka dapat disimpulkan Lee Yong Dae merupakan pemain putra dan Wang Yihan pemain putri terbaik dunia 2009. Sementara untuk pemain putra terbaik Indonesia 2009 disematkan pada Nova Widianto dan Lilyana Natsir dibagian putri.
(Contributed by: Hendri Kustian, hendri_kustian@yahoo.com)
Rangkuman :
Pemain Putra Terbaik Dunia:
1. Lee Yong Dae :
1 gelar MD-SS Master, 6 gelar SS (MD-Mas Open, MD-INA Open, MD-HKG Open, MD-CHN Open, XD-KOR Open, XD-CHN Open), 1 gelar XD-Asia dan 1 gelar Grand Prix (MD-GER Open)
2. Lee Chong Wei :
1 gelar MS-SS Master, 4 gelas SS (MAS Open, SUI Open, INA Open, HKG Open) dan 2 gelar Grand Prix Gold (MAS OPen GPG, MAC Open)
3. Lin Dan :
Juara Dunia dan 4 gelar SS (All England, CHN Master, FRA Open, CHN Open)
Pemain Putri Terbaik Dunia :
1. Ma Jin :
6 gelar juara SS (WD-JPN Open, WD-Fra Open, WD-HKG Open, XD SUI Open, XD SIN Open & XD INA Open), 3 GPG (XD-IND Open, XD-MAS Open & WD MAS Open) dan Juara WD-Asia
2. Wang Yihan :
5 gelar SS (All England, SUI, JPN, FRA & HKG), 1 GPG (MAC Open) & 1 GP (German Open)
3. Zhang Yawen :
Juara Dunia ganda putri & 4 SS (All England, SIN, DEN & CHN)
Pemain Putra Terbaik Indonesia :
1. Nova Widianto : Juara Malaysia Open SS, France Open SS, Runner-Up Kejuaraan Dunia dan SEA Games)
2. Markis Kido/Hendra Setiawan : Juara Japan Open SS, French Open SS, juara Asia dan SEA Games)
3. Simon Santoso : Juara Denmark Open dan SEA Games
Pemain Putri Terbaik Indonesia :
1. Lilyana Natsir : Juara Malaysia Open SS, French Open SS, Runner-Up Kejuaraan Dunia dan SEA Games)
2. Vita Marissa : Juara India Open GPG dan Juara Indonesia Challenge
3. Greysia Polii/Nitya Krishinda : Runner-up Singapore Open, Semifinalis Japan Open & Semifinalis French Open).
Sumber : http://www.bulutangkis.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=6097
Tuesday, September 29, 2009
INDONESIA MASIH ADA DAN ADA DIMANA-MANA
CATATAN KECIL HENDRI KUSTIAN
Akhir minggu lalu (27/09) perhatian pecinta bulutangkis Indonesia tertuju pada penampilan pemain-pemain Indonesia yang tampil di Japan Open Superseries. Dahaga gelar juara superseries selepas Nova Widianto/Lilyana Natsir menjuarai Malaysia Open Superseries bulan Januari lalu akhirnya terobati pada Japan Open Superseries ini. Pasangan Markis Kido/Hendra Setiawan menyiram dahaga itu dengan gelar juara ganda putra. Apresiasi juga layak disematkan pada pasangan Rian Sukmawan/Yonathan Suryatama yang berhasil menembus final setelah menaklukkan juara dunia 2005, Tony Gunawan/Howard Bach (USA) di semifinal. Demikian halnya dengan Simon Santoso yang walaupun kalah dari Taufik Hidayat di semifinal tetapi sebelumnya mampu menundukkan pemain peringkat satu dunia Lee Chong Wei (MAS). Pencapaian ini menjadi sinyal bahwa Indonesia masih ada di tataran bulutangkis dunia walaupun tidak sehebat masa jaya-nya.
Berbicara eksistensi Indonesia maka marilah kita melirik ke sebuah turnamen kecil di daratan Eropa, Czech International 2009. Turnamen yang finalnya berlangsung pada hari yang sama dengan final Japan Open ini telah mengantarkan Indonesia merebut satu gelar juara melalui Indra Viki Okvana/Gustiani Megawati dinomor ganda campuran. Pasangan ini berhasil menundukkan seterunya Mads Conrad Petersen/Anne Skelbaek dari Denmark dengan skor 21-11, dan 21-13. Sekeping gelar juara turnamen kecil sekelas 'International Series' memang tidak menggaung beritanya tetapi yang patut dicatat bahwa mereka juara bukan dikirim oleh naungan pebulutangkis Indonesia, PBSI. Mereka bermain di Eropa dengan perjuangan sendiri dalam meniti karir sekaligus membawa nama Indonesia. Apalagi kedua pemain ini bukanlah pemain yang sudah terkenal yang menarik sponsor-sponsor besar untuk membiayai tur-nya.
Hal menarik juga dari turnamen ini adalah serbuan nama-nama Indonesia yang tetap berbendera Indonesia atau negara asal klub yang dibelanya. Dari nomor tunggal putra terdapat nama juara Asia Yunior 2001, Ardiansyah yang kandas dibabak kualifikasi. Dari babak utama ada nama Wisnu Haryo putro yang membela Italia yang bertahan sampai babak kedua. Terdapat pula nama Rizky Kurniawan yang meskipun tetap menggunakan bendera Indonesia tetapi berpasangan dengan pemain tuan rumah Ceko, Alzbeta Basova di ganda campuran dan pemain Denmark Tore Vilhemsen di sektor ganda putra.
Nama-nama pemain diatas menambah daftar pemain Indonesia yang lebih dulu berlaga baik untuk klub maupun negara Eropa. George Rimarcdi merupakan salah satu pemain Indonesia yang sukses menjadi juara nasional Swedia tahun 2006 dan Vidre Wibowo runner-up kejuaraan nasional Swedia tahun 2005. Dari negeri kincir angin, Belanda tercatat keturunan Indonesia, Dicky Palyama yang menjuarai kejurnas negeri setempat dari tahun 2005 sampai 2008. Ditambah lagi mantan bintang Indonesia, Mia Audina yang juara nasional Belanda 2006 ini telah menyumbangkan prestasi Internasional buat negara barunya termasuk medali perak Olimpiade 2004. Perancis memiliki Weny Rahmawati yang menjadi juara nasional Parancis dari sektor ganda putri tahun 2005 dan 2007 serta ganda campuran 2005. Pemain-pemain lainnya yang sempat membela negara Eropa antara lain pasangan Flandy Limpele/Eng Hian (Inggris), Darma Gunawi (Jerman), Ruben Gordown Khosadalina (Spanyol), Stenny Kusuma (Spanyol), Cynthia Tuwankota (Swiss) dan Yohannes Hogianto (Swiss). Bahkan nama terakhir menemukan tambatan hatinya dari gadis asli Swiss seperti yang termuat dalam profilnya di Majalah Jurnal Bulutangkis edisi ketiga.
Bukan hanya benua Eropa saja yang tertarik menggunakan jasa pemain Indonesia. Benua Amerika terutama Amerika Serikat bahkan meraih juara dunia melalui sabetan tangan seorang Tony Gunawan. Selain Tony, masih ada pemain lain yang membela negara paman Sam tersebut diantaranya Halim Haryanto, Chandra Kowi dan Mona Santoso. Singapura merupakan negara tetangga yang paling getol menarik pemain Indonesia. Singapura dibela pemain sekelas Ronald Susilo, Hendri Kurniawan, Hendra Saputra, Sari Shinta Mulia sampai pemain yunior, Ivannaldy Febrian. Sebenarnya pemain Indonesia yang telah memperkuat Singapura jauh lebih banyak tetapi sebagian memilih pulang kampung karena keharusan memilih kewarganegaraan yang ditetapkan pemerintah Singapura padahal sebelumnya cukup dengan status 'permanent resident'. Sementara itu mantan pemain nasional Minarti Timur memilih melanjutkan karirnya di Pilipina, sedangkan Yohan Hadikusuma masih aktif membela Hongkong.
Petualangan pemain-pemain Indonesia menunjukkan citra sebagai negara bulutangkis yang mempunyai dua sisi positif dan negatif. Sisi positifnya adalah menunjukkan eksistensi Indonesia sebagai negara bulutangkis semakin diakui. Tetapi dapat sisi negatifnya terdapat gejala pemain-pemain yunior potensial ikut dilirik negara lain yang tentunya mengurangi bibit-bibit bintang masa depan Indonesia. Disinilah perlu kejelian dari kompenen bulutangkis untuk mencermati baik buruknya eksodus pemain untuk perkembangn bulutangkis Indonesia di masa depan.
Sebagai kalimat penutup bahwa keberhasilan Markis Kido/Hendra Setiawan menunjukkan Indonesia masih ada, sementara banyaknya eksodus pemain keluar negeri menunjukkan Indonesia ada dimana-mana. Semoga kedua peristiwa akan membawa bulutangkis Indonesia selalu berjaya.
Hendri Kustian (hendri_kustian@yahoo.com)
Kolomnis 'Majalah Jurnal Bulutangkis'
Akhir minggu lalu (27/09) perhatian pecinta bulutangkis Indonesia tertuju pada penampilan pemain-pemain Indonesia yang tampil di Japan Open Superseries. Dahaga gelar juara superseries selepas Nova Widianto/Lilyana Natsir menjuarai Malaysia Open Superseries bulan Januari lalu akhirnya terobati pada Japan Open Superseries ini. Pasangan Markis Kido/Hendra Setiawan menyiram dahaga itu dengan gelar juara ganda putra. Apresiasi juga layak disematkan pada pasangan Rian Sukmawan/Yonathan Suryatama yang berhasil menembus final setelah menaklukkan juara dunia 2005, Tony Gunawan/Howard Bach (USA) di semifinal. Demikian halnya dengan Simon Santoso yang walaupun kalah dari Taufik Hidayat di semifinal tetapi sebelumnya mampu menundukkan pemain peringkat satu dunia Lee Chong Wei (MAS). Pencapaian ini menjadi sinyal bahwa Indonesia masih ada di tataran bulutangkis dunia walaupun tidak sehebat masa jaya-nya.
Berbicara eksistensi Indonesia maka marilah kita melirik ke sebuah turnamen kecil di daratan Eropa, Czech International 2009. Turnamen yang finalnya berlangsung pada hari yang sama dengan final Japan Open ini telah mengantarkan Indonesia merebut satu gelar juara melalui Indra Viki Okvana/Gustiani Megawati dinomor ganda campuran. Pasangan ini berhasil menundukkan seterunya Mads Conrad Petersen/Anne Skelbaek dari Denmark dengan skor 21-11, dan 21-13. Sekeping gelar juara turnamen kecil sekelas 'International Series' memang tidak menggaung beritanya tetapi yang patut dicatat bahwa mereka juara bukan dikirim oleh naungan pebulutangkis Indonesia, PBSI. Mereka bermain di Eropa dengan perjuangan sendiri dalam meniti karir sekaligus membawa nama Indonesia. Apalagi kedua pemain ini bukanlah pemain yang sudah terkenal yang menarik sponsor-sponsor besar untuk membiayai tur-nya.
Hal menarik juga dari turnamen ini adalah serbuan nama-nama Indonesia yang tetap berbendera Indonesia atau negara asal klub yang dibelanya. Dari nomor tunggal putra terdapat nama juara Asia Yunior 2001, Ardiansyah yang kandas dibabak kualifikasi. Dari babak utama ada nama Wisnu Haryo putro yang membela Italia yang bertahan sampai babak kedua. Terdapat pula nama Rizky Kurniawan yang meskipun tetap menggunakan bendera Indonesia tetapi berpasangan dengan pemain tuan rumah Ceko, Alzbeta Basova di ganda campuran dan pemain Denmark Tore Vilhemsen di sektor ganda putra.
Nama-nama pemain diatas menambah daftar pemain Indonesia yang lebih dulu berlaga baik untuk klub maupun negara Eropa. George Rimarcdi merupakan salah satu pemain Indonesia yang sukses menjadi juara nasional Swedia tahun 2006 dan Vidre Wibowo runner-up kejuaraan nasional Swedia tahun 2005. Dari negeri kincir angin, Belanda tercatat keturunan Indonesia, Dicky Palyama yang menjuarai kejurnas negeri setempat dari tahun 2005 sampai 2008. Ditambah lagi mantan bintang Indonesia, Mia Audina yang juara nasional Belanda 2006 ini telah menyumbangkan prestasi Internasional buat negara barunya termasuk medali perak Olimpiade 2004. Perancis memiliki Weny Rahmawati yang menjadi juara nasional Parancis dari sektor ganda putri tahun 2005 dan 2007 serta ganda campuran 2005. Pemain-pemain lainnya yang sempat membela negara Eropa antara lain pasangan Flandy Limpele/Eng Hian (Inggris), Darma Gunawi (Jerman), Ruben Gordown Khosadalina (Spanyol), Stenny Kusuma (Spanyol), Cynthia Tuwankota (Swiss) dan Yohannes Hogianto (Swiss). Bahkan nama terakhir menemukan tambatan hatinya dari gadis asli Swiss seperti yang termuat dalam profilnya di Majalah Jurnal Bulutangkis edisi ketiga.
Bukan hanya benua Eropa saja yang tertarik menggunakan jasa pemain Indonesia. Benua Amerika terutama Amerika Serikat bahkan meraih juara dunia melalui sabetan tangan seorang Tony Gunawan. Selain Tony, masih ada pemain lain yang membela negara paman Sam tersebut diantaranya Halim Haryanto, Chandra Kowi dan Mona Santoso. Singapura merupakan negara tetangga yang paling getol menarik pemain Indonesia. Singapura dibela pemain sekelas Ronald Susilo, Hendri Kurniawan, Hendra Saputra, Sari Shinta Mulia sampai pemain yunior, Ivannaldy Febrian. Sebenarnya pemain Indonesia yang telah memperkuat Singapura jauh lebih banyak tetapi sebagian memilih pulang kampung karena keharusan memilih kewarganegaraan yang ditetapkan pemerintah Singapura padahal sebelumnya cukup dengan status 'permanent resident'. Sementara itu mantan pemain nasional Minarti Timur memilih melanjutkan karirnya di Pilipina, sedangkan Yohan Hadikusuma masih aktif membela Hongkong.
Petualangan pemain-pemain Indonesia menunjukkan citra sebagai negara bulutangkis yang mempunyai dua sisi positif dan negatif. Sisi positifnya adalah menunjukkan eksistensi Indonesia sebagai negara bulutangkis semakin diakui. Tetapi dapat sisi negatifnya terdapat gejala pemain-pemain yunior potensial ikut dilirik negara lain yang tentunya mengurangi bibit-bibit bintang masa depan Indonesia. Disinilah perlu kejelian dari kompenen bulutangkis untuk mencermati baik buruknya eksodus pemain untuk perkembangn bulutangkis Indonesia di masa depan.
Sebagai kalimat penutup bahwa keberhasilan Markis Kido/Hendra Setiawan menunjukkan Indonesia masih ada, sementara banyaknya eksodus pemain keluar negeri menunjukkan Indonesia ada dimana-mana. Semoga kedua peristiwa akan membawa bulutangkis Indonesia selalu berjaya.
Hendri Kustian (hendri_kustian@yahoo.com)
Kolomnis 'Majalah Jurnal Bulutangkis'
LITBANG, GALILAH ILMU CHINA
CATATAN KECIL HENDRI KUSTIAN
LITBANG, GALILAH ILMU CHINA
Turnamen China Master yang berakhir minggu lalu (20/09), mengukuhkan dominasi dan regenerasi pebulutangkis China. Tuan rumah menguasai empat nomor final sesama pemain China. Bahkan dua diantaranya dijuarai oleh muka-muka baru ditunggal putri melalui Wang Shixian dan pasangan ganda campuran, Tao Jiaming/Wang Xiaoli. Negeri tirai bambu ini seakan tidak terputus melahirkan pebulutangkis-pebulutangkis handal.
Khusus untuk tunggal putri, China seakan telah membuat berlapis-lapis generasi. Masih ingat di benak pecinta bulutangkis ketika ajang superseries tahun pertama di gelar tahun 2007, China merebut sembilan dari dua belas gelar tunggal putri yang terdistribusi pada Xie Xingfang (5 gelar), Zhang Ning (2), Zhu Lin (1) dan Lu Lan (1). Tahun 2008 lalu ketika prestasi pemain-pemain papan atas seperti Xie Xingfang, Lu Lan dan Zhu Lin masih diperhitungkan, Wang Yihan menggebrak dengan menjuarai Japan Open Superseries yang diikuti oleh rekannya Wang Lin yang menggenggam Denmark dan France Open SS serta Jiang Yanjiao berjaya di China Open SS. Tahun ini muncul lagi talenta-talenta baru yang langsung menyeruak keatas. Wang Shixian yang baru saja menjuarai China Master sebelumnya telah meraih gelar Malaysia Open GPG. Dua rekannya lainnya Wang Xin menjadi kampiun di Philippine Open GPG dan Liu Jian memenangkan Thailand Open GPG. Sekarang China setidaknya memiliki tiga lapis generasi tunggal putri yang berprestasi dalam waktu bersamaan yaitu lapis pertama Xie Xingfang, Zhu Lin dan Lu Lan. Kemudian Wang Yihan, Wang Lin dan Jiang Yanjiao lalu disusul Wang Shixian, Wang Xin dan Liu Jian. Lapis ini belum dihitung pemain-pemain yunior lainnya yang sudah siap merangkak keatas seperti juara Asia Yunior 2008 Li Xuaerui dan juara Asia Yunior 2009, Chen Xiaojia.
Walaupun tidak sehebat di tunggal putri, nomor-nomor lain China tetap terdepan dalam regenerasi. Pemain tunggal putra, Chen Long mulai menebar ancaman bagi pebulutangkis lainnya dengan menjuarai Philippine Open GPG dan menaklukkan maestro bulutangkis Indonesia, Taufik Hidayat. Sektor ganda putri diwakili oleh perkasanya Cheng Su / Zhao Yunlei sejak akhir tahun lalu disamping pasangan Du Jing/Yu Yang yang lebih dulu mapan. Demikian pula di ganda campuran ketika Ma Jin berhasil memerankan pengganti Gao Ling untuk menjadi pasangan Zheng Bo dan meraih juara dibeberapa turnamen. Disamping itu China mengandalkan pasangan lainnya He Hanbing/Yu Yang serta juara China Master 2009 Tao Jiaming/Wang Xiaoli. Wang Xiaoli sendiri juga berprestasi diganda putri bersama Ma Jin. Satu-satunya regenerasi China yang terbilang lemah adalah nomor ganda putra dimana belum terlihat pengganti sekuat pasangan Fu Haifeng/Cai Yun.
"Belajarlah sampai ke negeri China". Sebuah kalimat bijak pantas menjadi pembelajaran bagi insan bulutangkis Indonesia. Kita harus mengakui bahwa China lebih baik dari Indonesia dalam pembinaan bulutangkis. Jadi tidak ada salahnya mempelajari kunci-kunci sukses China. Tetapi itu sulit dilakukan karena China sendiri belum tentu mau berbagi resep kepada negara lain dalam sistem pembinaannya. Minimal Indonesia bisa melihat keseriusan China dengan menggelar dua turnamen sekelas superseries yaitu China Master dan China Open selain ajang Piala Sudirman. Dari turnamen seperti ini pemain-pemain muda akan memperoleh pengalaman bertemu dengan pemain level atas dunia yang sulit didapatkan kalau turnamen itu berlangsung diluar negeri. Ketika China Master kurang diminati pebulutangkis kelas atas dari Indonesia dan Korea, tuan rumah masih mempunyai keuntungan lain dengan naiknya peringkat pemainnya karena mendulang poin yang besar di superseries. Sebagai contoh sang juara, Wang Shixian naik dari peringkat ke-64 menjadi ke-39. Demikian pula rekannya Wang Xin yang menembus semifinal naik dari peringkat 72 pekan sebelumnya menjadi peringkat ke-48. Bukan tidak dengan bekal tersebut, keduanya bisa peringkat 20 besar dunia pada akhir tahun ini.
Berbicara mengenai turnamen Internasional, Indonesia tidak hanya tertinggal dari China tetapi juga dari negeri tetangga Malaysia. Tahun ini Malaysia menggelar turnamen Malaysia Open Superseries dan Malaysia Open Grand Prix Gold. Padahal Malaysia harus menggelar hajatan lainnya yakni Kejuaraan dunia Yunior dan Kejuaraan Asia Yunior serta sebuah turnamen kelas Challenge yang belum ditentukan kepastiannya November mendatang. Indonesia hanya sebanding dengan Korea yang menggelar satu turnamen superseries, satu turnamen Challenge dan satu turnamen International lainnya yakni kejuaraan Asia untuk Korea dan Tangkas Alfamart Open untuk Indonesia. Dalam sebuah acara Ka. Bid. Turnamen PBSI, Mimi Irawan mengatakan bahwa kemungkinan baru tahun 2011, Indonesia bisa menggelar turnamen Grand Prix Gold sebagai tambahan Indonesia Open Superseries.
Keseriusan dalam peningkatan prestasinya diperlihatkan pula oleh India dimana mereka menggelar kejuaraan dunia, India Open Grand Prix Gold dan India Open Grand Prix. Prestasi pemain-pemain India telah memperlihatkan peningkatan yang cukup baik. Pemain putri, Saina Nehwal berhasil menggengam juara Indonesia Open SS, kemudian pasangan ganda putra Rapesh Kummar/Thomas Sanave memenangkan New Zealand Open GP dan teranyar pasangan ganda campuran Diju V/Jwala Gutta menjuarai Taepei Open GPG setelah difinal mengalahkan pasangan Indonesia Hendra A Gunawan/Vita Marissa.
Ilmu China lainnya yang perlu diteliti oleh PBSI adalah masalah cedera pemain. Kita jarang sekali mendengar pemain Pelatnas-nya China absen turnamen karena cedera. Kalaupun ada yang cedera lebih banyak di pertandingan sesama China yang dengan kata lain bahwa cedera-nya pemain China patut dipertanyakan kebenarannya. Pemain Pelatnas Indonesia banyak sekali yang rentan cedera seperti yang pernah dialami Sonny Dwi Kuncoro, Maria Kristin, Firdasari Andrianti, Markis Kido, Muhammad Ahsan dan pemain-pemain papan atas lainnya. Disinilah peran Divisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) seharusnya berperan menemukan pola latihan yang tepat bagi atlet Indonesia untuk menghindari cedera. Pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi sudah menjadi keharusan bagi bulutangkis Indonesia.
Kalau banyak organisasi di Indonesia menganggap Litbang sebagai pelengkap atau pemanis organisasi. Seringkali Litbang dipelesetkan sebagai singkatan dari "sulit berkembang". Maka sudah saatnya paradigma itu berubah. Divisi Litbang PBSI diharapkan menjadi garda terdepan untuk menggali ilmu-ilmu China lainnya untuk ditelaah menjadi pola yang tepat bagi Indonesia. Dengan berperannya Litbang diharapkan pemain-pemain tidak hanya dituntut latihan yang keras tetapi juga latihan yang tepat.
Hendri Kustian, hendri_kustian@yahoo.com
Kolomnis Majalah Jurnal Bulutangkis
LITBANG, GALILAH ILMU CHINA
Turnamen China Master yang berakhir minggu lalu (20/09), mengukuhkan dominasi dan regenerasi pebulutangkis China. Tuan rumah menguasai empat nomor final sesama pemain China. Bahkan dua diantaranya dijuarai oleh muka-muka baru ditunggal putri melalui Wang Shixian dan pasangan ganda campuran, Tao Jiaming/Wang Xiaoli. Negeri tirai bambu ini seakan tidak terputus melahirkan pebulutangkis-pebulutangkis handal.
Khusus untuk tunggal putri, China seakan telah membuat berlapis-lapis generasi. Masih ingat di benak pecinta bulutangkis ketika ajang superseries tahun pertama di gelar tahun 2007, China merebut sembilan dari dua belas gelar tunggal putri yang terdistribusi pada Xie Xingfang (5 gelar), Zhang Ning (2), Zhu Lin (1) dan Lu Lan (1). Tahun 2008 lalu ketika prestasi pemain-pemain papan atas seperti Xie Xingfang, Lu Lan dan Zhu Lin masih diperhitungkan, Wang Yihan menggebrak dengan menjuarai Japan Open Superseries yang diikuti oleh rekannya Wang Lin yang menggenggam Denmark dan France Open SS serta Jiang Yanjiao berjaya di China Open SS. Tahun ini muncul lagi talenta-talenta baru yang langsung menyeruak keatas. Wang Shixian yang baru saja menjuarai China Master sebelumnya telah meraih gelar Malaysia Open GPG. Dua rekannya lainnya Wang Xin menjadi kampiun di Philippine Open GPG dan Liu Jian memenangkan Thailand Open GPG. Sekarang China setidaknya memiliki tiga lapis generasi tunggal putri yang berprestasi dalam waktu bersamaan yaitu lapis pertama Xie Xingfang, Zhu Lin dan Lu Lan. Kemudian Wang Yihan, Wang Lin dan Jiang Yanjiao lalu disusul Wang Shixian, Wang Xin dan Liu Jian. Lapis ini belum dihitung pemain-pemain yunior lainnya yang sudah siap merangkak keatas seperti juara Asia Yunior 2008 Li Xuaerui dan juara Asia Yunior 2009, Chen Xiaojia.
Walaupun tidak sehebat di tunggal putri, nomor-nomor lain China tetap terdepan dalam regenerasi. Pemain tunggal putra, Chen Long mulai menebar ancaman bagi pebulutangkis lainnya dengan menjuarai Philippine Open GPG dan menaklukkan maestro bulutangkis Indonesia, Taufik Hidayat. Sektor ganda putri diwakili oleh perkasanya Cheng Su / Zhao Yunlei sejak akhir tahun lalu disamping pasangan Du Jing/Yu Yang yang lebih dulu mapan. Demikian pula di ganda campuran ketika Ma Jin berhasil memerankan pengganti Gao Ling untuk menjadi pasangan Zheng Bo dan meraih juara dibeberapa turnamen. Disamping itu China mengandalkan pasangan lainnya He Hanbing/Yu Yang serta juara China Master 2009 Tao Jiaming/Wang Xiaoli. Wang Xiaoli sendiri juga berprestasi diganda putri bersama Ma Jin. Satu-satunya regenerasi China yang terbilang lemah adalah nomor ganda putra dimana belum terlihat pengganti sekuat pasangan Fu Haifeng/Cai Yun.
"Belajarlah sampai ke negeri China". Sebuah kalimat bijak pantas menjadi pembelajaran bagi insan bulutangkis Indonesia. Kita harus mengakui bahwa China lebih baik dari Indonesia dalam pembinaan bulutangkis. Jadi tidak ada salahnya mempelajari kunci-kunci sukses China. Tetapi itu sulit dilakukan karena China sendiri belum tentu mau berbagi resep kepada negara lain dalam sistem pembinaannya. Minimal Indonesia bisa melihat keseriusan China dengan menggelar dua turnamen sekelas superseries yaitu China Master dan China Open selain ajang Piala Sudirman. Dari turnamen seperti ini pemain-pemain muda akan memperoleh pengalaman bertemu dengan pemain level atas dunia yang sulit didapatkan kalau turnamen itu berlangsung diluar negeri. Ketika China Master kurang diminati pebulutangkis kelas atas dari Indonesia dan Korea, tuan rumah masih mempunyai keuntungan lain dengan naiknya peringkat pemainnya karena mendulang poin yang besar di superseries. Sebagai contoh sang juara, Wang Shixian naik dari peringkat ke-64 menjadi ke-39. Demikian pula rekannya Wang Xin yang menembus semifinal naik dari peringkat 72 pekan sebelumnya menjadi peringkat ke-48. Bukan tidak dengan bekal tersebut, keduanya bisa peringkat 20 besar dunia pada akhir tahun ini.
Berbicara mengenai turnamen Internasional, Indonesia tidak hanya tertinggal dari China tetapi juga dari negeri tetangga Malaysia. Tahun ini Malaysia menggelar turnamen Malaysia Open Superseries dan Malaysia Open Grand Prix Gold. Padahal Malaysia harus menggelar hajatan lainnya yakni Kejuaraan dunia Yunior dan Kejuaraan Asia Yunior serta sebuah turnamen kelas Challenge yang belum ditentukan kepastiannya November mendatang. Indonesia hanya sebanding dengan Korea yang menggelar satu turnamen superseries, satu turnamen Challenge dan satu turnamen International lainnya yakni kejuaraan Asia untuk Korea dan Tangkas Alfamart Open untuk Indonesia. Dalam sebuah acara Ka. Bid. Turnamen PBSI, Mimi Irawan mengatakan bahwa kemungkinan baru tahun 2011, Indonesia bisa menggelar turnamen Grand Prix Gold sebagai tambahan Indonesia Open Superseries.
Keseriusan dalam peningkatan prestasinya diperlihatkan pula oleh India dimana mereka menggelar kejuaraan dunia, India Open Grand Prix Gold dan India Open Grand Prix. Prestasi pemain-pemain India telah memperlihatkan peningkatan yang cukup baik. Pemain putri, Saina Nehwal berhasil menggengam juara Indonesia Open SS, kemudian pasangan ganda putra Rapesh Kummar/Thomas Sanave memenangkan New Zealand Open GP dan teranyar pasangan ganda campuran Diju V/Jwala Gutta menjuarai Taepei Open GPG setelah difinal mengalahkan pasangan Indonesia Hendra A Gunawan/Vita Marissa.
Ilmu China lainnya yang perlu diteliti oleh PBSI adalah masalah cedera pemain. Kita jarang sekali mendengar pemain Pelatnas-nya China absen turnamen karena cedera. Kalaupun ada yang cedera lebih banyak di pertandingan sesama China yang dengan kata lain bahwa cedera-nya pemain China patut dipertanyakan kebenarannya. Pemain Pelatnas Indonesia banyak sekali yang rentan cedera seperti yang pernah dialami Sonny Dwi Kuncoro, Maria Kristin, Firdasari Andrianti, Markis Kido, Muhammad Ahsan dan pemain-pemain papan atas lainnya. Disinilah peran Divisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) seharusnya berperan menemukan pola latihan yang tepat bagi atlet Indonesia untuk menghindari cedera. Pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi sudah menjadi keharusan bagi bulutangkis Indonesia.
Kalau banyak organisasi di Indonesia menganggap Litbang sebagai pelengkap atau pemanis organisasi. Seringkali Litbang dipelesetkan sebagai singkatan dari "sulit berkembang". Maka sudah saatnya paradigma itu berubah. Divisi Litbang PBSI diharapkan menjadi garda terdepan untuk menggali ilmu-ilmu China lainnya untuk ditelaah menjadi pola yang tepat bagi Indonesia. Dengan berperannya Litbang diharapkan pemain-pemain tidak hanya dituntut latihan yang keras tetapi juga latihan yang tepat.
Hendri Kustian, hendri_kustian@yahoo.com
Kolomnis Majalah Jurnal Bulutangkis
Thursday, September 24, 2009
Bulutangkis Bersama Sejarah Bangsa

KOLOM HENDRI KUSTIAN
Copy dari Majalah Jurnal Bulutangkis Edisi III
Bulan Agustus selalu meriah dengan berbagai macam kegiatan dalam menyemarakkan peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia (RI). Suka-cita masyarakat merayakan ulang tahun (ultah) hasil perjuangan para pahlawan juga disemarakkan dengan kegiatan olahraga.
Bulan Agustus bak sebuah turnamen olahraga berskala besar yang dilaksanakan secara swadaya dari masyarakat. Cabang favorit seperti sepakbola, bola voli, tenis meja dan bulutangkis dipertandingkan secara massal mulai dari tingkat RT, RW, desa / kelurahan, kecamatan sampai kabupaten. Pertandingan juga dimainkan dalam bentuk komunitas lainnya seperti karyawan kantor, antar sekolah maupun kelompok-kelompok masyarakat lainnya hampir di seluruh pelosok negeri.
Seharusnya rasa nasionalisme dan kecintaan pada olahraga dapat dikampanyekan dalam pesta rakyat ini karena perjuangan rakyat Indonesia bukan lagi dengan mengangkat senjata tetapi dengan menegakkan nama Indonesia di antara bangsa-bangsa lain melalui kelebihan sang Ibu Pertiwi; dan bulutangkis termasuk di dalamnya sebagai satu bentuk ‘senjata baru’ perjuangan bangsa Indonesia.
Sebuah kemenangan pebulutangkis merah-putih di turnamen bergengsi tentunya akan menjadi kado tersendiri bagi Sang Republik. Emas pertama Olimpiade oleh Susi Susanti dan Alan Budikusuma direbut pada bulan Agustus 1992.
Alangkah bangganya kalau momen kemenangan pada bulan Agustus selalu terjadi setiap tahunnya. Sayang, momen tersebut absen tahun ini. Nova Widianto/Lilyana Natsir yang menjadi tumpuan terakhir Indonesia di Kejuaraan Dunia tahun ini gagal mempersembahkan kado pada ultah RI ke-64. Sama halnya saat mereka tahun lalu gagal mempersembahkan medali emas di Olimpiade Beijing setelah sukses mencapai final pada tanggal 17 Agustus tahun 2008.
Beruntung saat itu di Beijing Indonesia masih mendapat kado ultah dari pasangan ganda putra, Markis Kido/Hendra Setiawan yang meraih emas ganda putra. Bahkan pasangan ini dengan bangga mengikuti upacara peringatan kemerdekaan RI ke-63 di Kedutaan Besar Indonesia di China dengan kalungan emas di leher.
₪ ₪ ₪
Proklamasi kemerdekaan telah membuat sejarah terbagi menjadi dua fase, yakni, sebelum dan sesudah hari kemerdekaan.
Pada fase sebelum kemerdekaan, Indonesia belum bisa berdiri tegak sebagai suatu bangsa karena terkungkung oleh kekuasaan asing. Tetapi pada masa tersebut, bulutangkis sebenarnya telah menjadi olahraga rakyat selain sepakbola. Bulutangkis dimainkan dimana saja asal terdapat tanah lapang, dan memakai alat-alat sederhana seperti raket kayu dan kok bulu angsa.
Dalam buku Sejarah Bulutangkis Indonesia disebutkan bahwa hanya rakyat biasa yang suka bermain bulutangkis, sedangkan penjajah Belanda maupun orang Eropa yang tinggal di Indonesia lebih senang membuat klub tenis dan sepakbola yang dinilai lebih elit.
Ketika pendudukan beralih dari Belanda ke bangsa ras kuning, Jepang pada tahun 1942, bulutangkis pun didandani ulang. Istilah badminton yang sebelumnya digunakan akhirnya diganti karena berbau kebarat-baratan. Ketua Ikatan Sport Indonesia (ISI) melontarkan gagasan nama “bulutangkis” yang kemudian digunakan pada kejuaraan tahun 1942 di Solo. Akhirnya istilah bulutangkis menjadi istilah bahasa Indonesia yang dipergunakan hingga sekarang.
Masa sesudah kemerdekaan tidak diragukan lagi telah mengantarkan Indonesia sebagai negara raksasa bulutangkis dunia. Secara umum, hanya China yang mampu melebihi prestasi Indonesia berdasarkan jejak Indonesia di turnamen besar seperti Piala Thomas, Piala Uber, Olimpiade dan Kejuaraan Dunia.
Tetapi catatan sejarah tidak datang dengan sendirinya. Tonggak itu bermula dari perjuangan para tokoh-tokoh bulutangkis yang mendirikan Persatuan Bulutangkis Indonesia (PBSI) pada tanggal 5 Mei 1951.
Bersamaan dengan pendirian PBSI, digelarlah pertandingan bulutangkis beregu yang mempertemukan tim Jakarta melawan tim Bandung di final. Tim Jakarta yang diperkuat Ferry Sonneville, Tjan Tjin Ho, The Giok Soey memenangkan pertandingkan atas tim Bandung yang diperkuat oleh Eddy Yusuf dan Rusdi.
Ferry Sonneville dan Eddy Yusuf kemudian menjadi tulang punggung bersama rekan-rekannya yang lain memperkuat regu Piala Thomas Indonesia yang merebut piala tersebut untuk pertama kalinya pada tahun 1958. Sejak itu, Indonesia dikenal dunia karena kehebatan pebulutangkisnya.
Dan inilah tugas mulia para generasi penerus bangsa: terus berjuang agar keperkasaan Indonesia di cabang bulutangkis dapat kekal dan abadi laiknya kemerdekaan bangsa ini.
PERSAINGAN KLASIK INDONESIA DAN CHINA

KOLOM HENDRI KUSTIAN
Copy dari Majalah Jurnal Bulutangkis Edisi II
Kejuaraan dunia selalu menjadi pertaruhan gengsi negara-negara besar bulutangkis. Hasil yang dicapai negara-negara kuat bulutangkis bisa dijadikan tolak ukur keberhasilan dalam pembinaan atlet-atletnya. Fakta menunjukkan bahwa China dan Indonesia telah menunjukkan konsistensi pada perburuan gelar juara dunia. Keberhasilan kedua negara ini dapat dikatakan merupakan keberhasilan dalam melakukan regenerasi pembinaan pemainnya.
Jika ditotal, jumlah gelar yang dikumpulkan China dan Indonesia sebanyak 57 gelar atau sekitar 71 persen dari total gelar juara. Ini berarti hanya 29 persen gelar juara yang terselip dari kedua negara tersebut. Bahkan pada penyelenggaraan terakhir dua tahun lalu di Kuala Lumpur, Indonesia dan China tidak menyisakan gelar juara bagi negara lain. China unggul dengan tiga gelar juara, sedangkan Indonesia merebut dua gelar juara.
Persaingan antara Indonesia dan China ditunjukkan dari jumlah gelar juara dunia yang dikumpulkan. China unggul dalam pengumpulan gelar juara sebanyak 39 gelar juara sedangkan Indonesia memperoleh 18 gelar juara. Perolehan tersebut jauh diatas negara lain seperti Korea (9), Denmark (8,5) dan Inggris (2,5).
Beberapa negara yang sempat mencuri satu kali juara adalah Jepang, Amerika Serikat dan Swedia. Uniknya, Swedia memperoleh gelar juara tersebut dua kali di partai ganda campuran dimana atilt Swedia berpasangan dengan atlit non-Swedia. Sementara negara adidaya bulutangkis lainnya, Malaysia masih memendam rasa penasarannya karena belum pernah sekalipun menjadi juara dunia.
Pada nomor paling bergengsi tunggal putra, Indonesia dan China sama-sama mencatatkan enam nama pemainnya dalam daftar juara dunia. China diwakili oleh Han Jian, Yang Yang, Zhao Jianhua, Sun Jun, Xia Xuanze dan Lin Dan. Sedangkan Indonesia melalui Rudy Hartono, Icuk Sugiarto, Joko Suprianto, Hariyanto Arbi, Hendrawan dan Taufik Hidayat. Hanya terselip dua nama pemain Denmark, Flemming Delfs dan Peter Rasmussen di antara persaingan Indonesia dan China.
Walaupun secara jumlah, pemain Indonesia dan China sama banyaknya tetapi China lebih unggul dalam jumlah gelar. Peta pertarungan tahun 2009 ini menjadi menarik karena China dan Indonesia sama-sama berpeluang menorehkan pemain terbanyak meraih juara dunia tunggal putra. Peluang ini bisa diperoleh pemain yang sudah pernah juara dunia seperti Taufik Hidayat dan Lin Dan atau bisa juga dari pemain angkatan di bawahnya seperti Sony Dwi Kuncoro (Indonesia) atau Chen Jin (China). Tentunya di antara kedua negara itu terselip Malaysia yang berharap meraih gelar juara tunggal putra untuk pertama kalinya dari pemain nomor satu dunia, Lee Chong Wei.
Ganda campuran menjadi satu-satunya nomor dengan kekuatan dan regenerasi yang merata. China, Indonesia, Korea, Denmark, Swedia dan Inggris secara bergantian menjadi juara. Pada nomor ini Indonesia dan China bernasib sama dengan masing-masing tiga kali juara. Indonesia meraihnya melalui Christian Hadinata/Imelda Kurniawan (1980) dan Nova Widianto/Lilyana Natsir (2005 dan 2007). Sementara kubu China menikmatinya dari Wang Fengreng/Si Fangjing (1987), Li Yong/Ge Fei (1997) dan Zhang Jun/Gao Ling (2001). Pada nomor ini, Korea menjadi pengumpul juara terbanyak dengan lima gelar juara.
Ganda Putra, Kekuatan Indonesia selama Bertahun-tahun
Indonesia mempunyai keunggulan dalam regenerasi nomor ganda putra. Tujuh pasang ganda Indonesia berhasil menjadi juara dunia setelah mengungguli China dan Korea . Keperkasaan Indonesia di nomor ini seperti sudah melegenda. Siapa yang tidak kenal kehebatan para juara dunia merah-putih ini? Sebutlah, Tjun Tjun/Johan Wahyudi (1977), Christian Hadinata/Ade Chandra (1980), Ricky Subagja/Rudy Gunawan (1993), Ricky Subagja/Rexy Mainaky (1994), Candra Wijaya/Sigit Budiarto (1995), Tony Gunawan/Halim Haryanto (2001) serta Markis Kido/Hendra Setiawan (2007). Kita pun tidak melupakan Tony Gunawan yang juga meraih gelarnya saat membela Amerika Serikat tahun 2005 berpasangan dengan Howard Bach.
Sementara China hanya meraih gelar melalui Li Yongbo/Tian Bingyi (1987 dan 1989) dan Fu Haifeng/Cai Yun (2006); Korea melalui Park Joo Bong/Kim Moon Soo (1985 dan 1991) dan Kim Dong Moon/Ha Tae Kwon (1999); serta Denmark dari Steen Faldberg/Jasper Helledie (1983) dan Lars Paaske/Jonas Rasmussen (2003).
Putri Masih Bercapkan China
Nomor-nomor putri telah menjadi trademark China. China meraih dua belas kali juara dunia tunggal putri melalui delapan pemainnya yaitu Li Lingwei, Han Aiping, Tan Jiuhong, Ye Zhaoying, Gong Ruina, Zhang Ning, Xie Xingfang dan Zhu Lin. Hanya Indonesia dan Denmark yang bisa menyelah pemain-pemain China tersebut. Indonesia menjadi juara dunia melalui Verawati Fajrin (1980) dan Susi Susanti (1993) sedangkan Denmark melalui Lenne Koppen (1977) dan Camilla Martin (1999).
Keperkasaan China juga ditunjukkan pada nomor ganda putri dengan lima belas kali juara dunia. Bahkan sejak China mulai ikut serta sejak tahun 1983 sampai dengan penyelenggaraan terakhir dua tahun lalu, hanya sekali saja gelar juara dunia dicuri negara lain. Itu terjadi pada tahun 1995 ketika gelar juara jatuh ke tangan pasangan Korea Selatan Gil Young Ah/Jang Hye Ock.
Tahun ini, India akan menjadi saksi apakah duel China dan Indonesia kembali terjadi dan sektor putri masih bernuansa China. Yang pasti, negara-negara lain juga bersiap diri untuk menghadapi keperkasaan Indonesia dan China.
Rekor

KOLOM HENDRI KUSTIAN
copy dari Majalah Jurnal Bulutangkis Edisi I
REKOR
Mengejar rekor sedang menggeliat di tanah air. Gejala ini semakin marak sejak dibentuknya Museum Rekor Indonesia (MURI). Berbagai rekor lebih banyak meliputi bidang sosial kemasyarakatan. Elemen masyarakat dan institusi berlomba-lomba membuat rekor seperti masak nasi goreng terbanyak, kue terbesar dan ter-ter lainnya. Pemecahan bermacam-macam rekor menjadi kebanggaan tersendiri bagi yang dapat mencapainya.
Bidang olahraga sudah sepatutnya menggagas Museum Rekor Olahraga Indonesia. Rekor prestasi olahraga Indonesia belum terdata dengan baik terutama untuk olahraga permainan seperti bulutangkis. Padahal dunia saja mencatat seorang pebulutangkis Indonesia, Rudy Hartono dalam buku Guiness Book of Record atas prestasi-nya sebagai pemain tunggal putra terbanyak menjuarai turnamen All England. Rekor lain yang sempat dikenal daalam dunia perbulutangkisan adalah rekor kecepatan smash. Pemegang rekor tersebut adalah pemain ganda putra China dengan kecepatan 332 km / jam yang dibuatnya pada Piala Sudirman tanggal 3 Juni 2005. Khusus untuk tunggal putra rekor kecepatan smash milik Taufik Hidayat dengan kecepatan 305 km / jam.
Menjelang digelarnya turnamen bulutangkis Indonesia Open membuat saya tertarik untuk menggali rekor turnamen ini. Rekor yang paling mudah dilihat amati adalah pemegang gelar juara terbanyak. Ada lima nama pemain yang perolehan gelarnya sama. Mulai dari singelar Ardi Wiranata meraih juara tahun 1990, 1991, 1992, 1994, 1995 dan 1997. Prestasi Ardi bersaing dengan yuniornya Taufik Hidayat yang menjadi juara tahun 1999, 2000, 2002, 2003, 2004 dan 2006. Nomor tunggal putri diwakili Susi Susanti yang memenangkan Indonesia terbuka tahun 1989, 1991, 1994, 1995, 1996 dan 1997. Dua nama lagi merupakan pasangan ganda campuran Trikus Haryanto / Minarti Timur yang juara lima kali berturut-turut tahun 1995-1999. Trikus melengkapi menjadi enam gelar setelah juara ganda campuran 2001 berpasangan dengan Emma Ermawati. Sedangkan Minarti Timur menambah gelarnya setahun kemudian bersama Bambang Suprianto. Dari lima pemain dengan perolehan gelar juara yang sama tersebut, hanya Taufik Hidayat yang berpeluang memecahkan rekor meraih gelar juara terbanyak dari pemain lainnya. Hal ini disebabkan pemain-pemainnya lainnya sudah gantung raket.
Ivana Lie membuat rekor tersendiri sebagai pemain pertama yang mampu juara di tiga nomor sekaligus. Walaupun tidak dalam tahun yang sama, Ivana Lie menjuarai tunggal putri, ganda putri dan ganda campuran. Juara tunggal putri diperolehnya pada tahun 1983 sekaligus Ivana Lie merebut juara ganda campuran berpasangan dengan Christian Hadinata. Sedangkan gelar ganda putri dicatatnya pada tahun 1996 bersama Verawati Pajrin. Prestasi Ivana tersebut hanya mampu diikuti oleh satu pemain saja selama 17 tahun penyelenggaraan Indonesia Open. Pemain tersebut adalah rekannya sendiri Verawati yang sebelum meraih juara ganda putri bersama Ivana, telah meraih juara tunggal putri tahun 1982. Verawati melengkapi koleksi juara pada nomor ganda campuran tahun 1989 berpasangan dengan Eddy Hartono.
Sebenarnya banyak rekor yang bisa digali dari sebuah turnamen seperti Indonesia Open. Sebagai contoh rekor pemain tampil paling sering, pertandingan terlama, pertandingan tercepat, pemakaian suttle cock terbanyak dalam satu pertandingan dan masih banyak lagi. Rekor-rekor tersebut sebagaimana rekor-rekor dalam bidang lain bukan sekedar pencatatan belaka. Terdapat nilai kebanggaan atas sebuah rekor prestasi bagi sang pemain. Sedangkan bagi penonton dan penggemar, rekor menimbulkan rasa penasaran tersendiri untuk pecahnya rekor berikutnya. Jadi minat penggemar bulutangkis bisa dipancing dari sisi ini. Semoga diwaktu yang akan datang terdapat sebuah lembaga yang melakukan pencatatan dan penilaian terhadap rekor-rekor dari arena bulutangkis.
Thursday, April 23, 2009
Dedikasi Sang Legenda Buat Ganda Putra Indonesia
Sang legenda hidup bulutangkis Indonesia, Chandra Wijaya memperkenalkan turnamen khusus ganda putra pada jumpa pers rabu 15 April 2009. Turnamen berlabel "Candra Wijaya Men's Double Championship" yang berhadiah total 200 juta ini merupakan turnamen Internasional pertama khusus ganda putra. Chandra Wijaya menggelar turnamen ini sebagai sumbangsih tiada henti bagi perbulutangkisan Indonesia agar tetap berprestasi. Tiga kelompok yang dipertandingkan yaitu kelompok dewasa, taruna (U-19) dan remaja (U-16). Pentas ini rencananya akan diramaikan oleh beberapa nama terkenal seperti pasangan Taufik Hidayat / Flandy Limpele dan Alven Yulianto / Hendra Gunawan serta diikuti pula pemain dari Singapura, Malaysia, Jepang, India dan Ceska.
Berbicara khusus ganda putra, Kolom HK pada situs ini pernah membahas khusus dimana nomor ini telah memberikan prestasi luar biasa bagi negeri ini. Tiga dari enam emas olimpiade Indonesia persembahan dari sabetan raket pasangan ganda putra melalui Ricky Subagya / Rexy Mainaky (1996), Candra Wijaya / Tony Gunawan (2000) dan Markis Kido / Hendra Setiawan (2008). Hal serupa terjadi diarena bergengsi lainnya Kejuaraan dunia dimana ganda putra telah meraup tujuh kali juara dunia yang lebih banyak dibandingkan tunggal putra dengan lima kali juara dunia. Demikian pula dari arena All England dimana ganda putra telah menyumbangkan 17 gelar juara untuk Indonesia yang berarti lebih banyak dari tunggal putra dengan 15 kali. Diantara para juara tersebut tercatat nama Tjun Tjun / Johan Wahyudi yang meraih enam kali juara All England plus juara dunia tahun 1977. Pasangan lainnya Christian Hadinata / Ade Chandra menjuarai dua kali All England dan menjadi juara dunia tahun 1980. Kedua pasang legendaris Indonesia akan mendapat penghargaan khusus dari panitia turnamen ini.
Candra Wijaya sendiri sebagai pemain andalan ganda putra Indonesia telah mempersembahkan prestasi luar biasa buat negeri ini. Hampir semua gelar bergengsi sudah digengamnya mulai dari Olimpiade, kejuaraan dunia, All England, Asian Games, Grand Prix Final, Indonesia terbuka, China terbuka dan turnamen terbuka lainnya. Gelar-gelar Internasional Candra diperoleh tidak hanya dari satu pasangan. Ini menjadi penegas bahwa Candra spesialis ganda yang bisa dipasangkan dengan siapa saja. Tercatat nama-nama seperti Ade Sutrisna, Sigit Budiarto, Tony Gunawan dan Halim Haryanto pernah menjadi mitra Candra dalam meraih gelar Internasional. Belum lagi pemain-pemain lainya yang dipasang even lainnya seperti bersama Markis Kido di Piala Sudirman dan Nova Widianto di Piala Thomas. Prestasi dan pengalaman Candra inilah yang merupakan modal dasar baginya untuk ikut memajukan kelanjutan prestasi ganda putra Indonesia yang dimulai dari "Candra Wijaya Men's Double Championship". Bahkan Candra berencana mendirikan pusat pelatihan dan pendidikan atlet bulutangkis Internasional atau Candra Wijaya Internasional Badminton Centre (CWIBC).
Kembali pada pembahasan "Candra Wijaya Men's Double Championship" yang menurut Candra salah satunya didedikasikan untuk mengangkat gengsi nomor ganda putra sejajar dengan nomor tunggal. Belajar dari berhasilnya kesetaraan hadiah antara nomor putra dengan putri, suatu saat diharapkan hadiah nomor ganda bisa setara dengan nomor tunggal. Sebenarnya untuk kasus di Indonesia, nomor ganda putra lebih banyak dimainkan masyarakat umum. Demikian juga dengan turnamen-turnamen skala lokal dan amatir yang lebih banyak memainkan nomor ganda. Terobosan Candra menggelar turnamen khusus ganda putra ini merupakan cerminan dari budaya bulutangkis di negara ini.
Pada penyelenggaraan tahun-tahun berikutnya Candra mencanangkan turnamen ini menjadi bagian dari kalender BWF. Disamping mengejar poin tersebut, kolom HK mengusulkan Candra membuat terobosan baru dengan menggelar nomor khusus dengan memasangkan pemain-pemain kelompok usia yang berbeda. Misalnya seorang pemain dewasa wajib berpasangan dengan pemain taruna selain mereka mengikuti nomor kelompok umurnya masing-masing dengan pasangan tetap-nya. Nomor khusus ini dimaksudkan untuk mengangkat level permainan para pemain yang lebih muda ke tingkat yang lebih tinggi. Ini terinspirasi dengan model yang sudah berhasil ketika Liem Swie King yang sempat berjaya bersama yuniornya Eddy Hartono. Demikian pula ketika Eddy Hartono sukses dengan pemain yang lebih muda lagi Rudy Gunawan dan dilanjutkan dengan Rudy Gunawan dengan Bambang Suprianto. Tidak sampai disitu Bambang sempat juara dengan pemain angkatan dibawahnya Trikus Hariyanto. Bahkan Cina sesekali memecah ganda terkuatnya saat ini Fu Haifeng / Cai Yun untuk mengangkat level permainan Cheng Xu dan Shen Ye.
Dari berbagai ulasan diatas yang paling menarik tentu-nya adalah menunggu penyelenggaraan turnamen ini sendiri. Gedung Asia Afrika Senayan Jakarta pada tanggal 29 April - 2 Mei 2009 akan menjadi saksi dedikasi seorang legenda bulutangkis Indonesia dalam bentuk lain. Semoga penyelenggaraan turnamen ini akan menjadi pemicu prestasi bulutangkis Indonesia secara umum maupun nomor ganda putra secara khusus.
Hendri Kustian
hendri_kustian@yahoo.com
Berbicara khusus ganda putra, Kolom HK pada situs ini pernah membahas khusus dimana nomor ini telah memberikan prestasi luar biasa bagi negeri ini. Tiga dari enam emas olimpiade Indonesia persembahan dari sabetan raket pasangan ganda putra melalui Ricky Subagya / Rexy Mainaky (1996), Candra Wijaya / Tony Gunawan (2000) dan Markis Kido / Hendra Setiawan (2008). Hal serupa terjadi diarena bergengsi lainnya Kejuaraan dunia dimana ganda putra telah meraup tujuh kali juara dunia yang lebih banyak dibandingkan tunggal putra dengan lima kali juara dunia. Demikian pula dari arena All England dimana ganda putra telah menyumbangkan 17 gelar juara untuk Indonesia yang berarti lebih banyak dari tunggal putra dengan 15 kali. Diantara para juara tersebut tercatat nama Tjun Tjun / Johan Wahyudi yang meraih enam kali juara All England plus juara dunia tahun 1977. Pasangan lainnya Christian Hadinata / Ade Chandra menjuarai dua kali All England dan menjadi juara dunia tahun 1980. Kedua pasang legendaris Indonesia akan mendapat penghargaan khusus dari panitia turnamen ini.
Candra Wijaya sendiri sebagai pemain andalan ganda putra Indonesia telah mempersembahkan prestasi luar biasa buat negeri ini. Hampir semua gelar bergengsi sudah digengamnya mulai dari Olimpiade, kejuaraan dunia, All England, Asian Games, Grand Prix Final, Indonesia terbuka, China terbuka dan turnamen terbuka lainnya. Gelar-gelar Internasional Candra diperoleh tidak hanya dari satu pasangan. Ini menjadi penegas bahwa Candra spesialis ganda yang bisa dipasangkan dengan siapa saja. Tercatat nama-nama seperti Ade Sutrisna, Sigit Budiarto, Tony Gunawan dan Halim Haryanto pernah menjadi mitra Candra dalam meraih gelar Internasional. Belum lagi pemain-pemain lainya yang dipasang even lainnya seperti bersama Markis Kido di Piala Sudirman dan Nova Widianto di Piala Thomas. Prestasi dan pengalaman Candra inilah yang merupakan modal dasar baginya untuk ikut memajukan kelanjutan prestasi ganda putra Indonesia yang dimulai dari "Candra Wijaya Men's Double Championship". Bahkan Candra berencana mendirikan pusat pelatihan dan pendidikan atlet bulutangkis Internasional atau Candra Wijaya Internasional Badminton Centre (CWIBC).
Kembali pada pembahasan "Candra Wijaya Men's Double Championship" yang menurut Candra salah satunya didedikasikan untuk mengangkat gengsi nomor ganda putra sejajar dengan nomor tunggal. Belajar dari berhasilnya kesetaraan hadiah antara nomor putra dengan putri, suatu saat diharapkan hadiah nomor ganda bisa setara dengan nomor tunggal. Sebenarnya untuk kasus di Indonesia, nomor ganda putra lebih banyak dimainkan masyarakat umum. Demikian juga dengan turnamen-turnamen skala lokal dan amatir yang lebih banyak memainkan nomor ganda. Terobosan Candra menggelar turnamen khusus ganda putra ini merupakan cerminan dari budaya bulutangkis di negara ini.
Pada penyelenggaraan tahun-tahun berikutnya Candra mencanangkan turnamen ini menjadi bagian dari kalender BWF. Disamping mengejar poin tersebut, kolom HK mengusulkan Candra membuat terobosan baru dengan menggelar nomor khusus dengan memasangkan pemain-pemain kelompok usia yang berbeda. Misalnya seorang pemain dewasa wajib berpasangan dengan pemain taruna selain mereka mengikuti nomor kelompok umurnya masing-masing dengan pasangan tetap-nya. Nomor khusus ini dimaksudkan untuk mengangkat level permainan para pemain yang lebih muda ke tingkat yang lebih tinggi. Ini terinspirasi dengan model yang sudah berhasil ketika Liem Swie King yang sempat berjaya bersama yuniornya Eddy Hartono. Demikian pula ketika Eddy Hartono sukses dengan pemain yang lebih muda lagi Rudy Gunawan dan dilanjutkan dengan Rudy Gunawan dengan Bambang Suprianto. Tidak sampai disitu Bambang sempat juara dengan pemain angkatan dibawahnya Trikus Hariyanto. Bahkan Cina sesekali memecah ganda terkuatnya saat ini Fu Haifeng / Cai Yun untuk mengangkat level permainan Cheng Xu dan Shen Ye.
Dari berbagai ulasan diatas yang paling menarik tentu-nya adalah menunggu penyelenggaraan turnamen ini sendiri. Gedung Asia Afrika Senayan Jakarta pada tanggal 29 April - 2 Mei 2009 akan menjadi saksi dedikasi seorang legenda bulutangkis Indonesia dalam bentuk lain. Semoga penyelenggaraan turnamen ini akan menjadi pemicu prestasi bulutangkis Indonesia secara umum maupun nomor ganda putra secara khusus.
Hendri Kustian
hendri_kustian@yahoo.com
Olimpiade Yunior dan Klub Djarum Kudus
Atlet-atlet yunior akan menghadapi tantangan baru. Sebuah pesta akbar antar atlet yunior terbaik dunia akan terjadi pada Youth Olympic Games 2010. Event multi cabang yang diterjemahkan sebagai Olimpiade Yunior akan menggelar edisi perdana di negeri tetangga Singapura. Diperkirakan lebih dari 3500 atlet dari 205 negara akan menjadi peserta.
Bulutangkis sebagai cabang yang dipertandingkan pada olimpiade 2012 di London berhak menjadi salah satu cabang peserta Olimpiade Yunior. Tetapi dalam olimpiade yunior hanya dua nomor yang memperebutkan medali yaitu tunggal putra dan tunggal putri. Peserta masing-masing nomor akan diisi oleh 32 atlet yang lolos kualifikasi. Pemain yang bisa berlaga pada cabang bulutangkis dibatasi atlet kelahiran 1 Januari 1992 sampai 31 Desember 1993. Kualifikasi sendiri dihasilkan dari hasil turnamen continental untuk masing-masing benua dan kejuaraan dunia yunior. Bagi Indonesia perebutan tempat mulai dari Kejuaraan Yunior Asia 2010. Pada turnamen ini peringkat terbaik masing-masing negara otomatis lolos dengan catatan untuk Asia dibatasi lima pemain terbaik. Peluang berikutnya untuk meloloskan pemain melalui kejuaraan dunia Yunior 2010. Pada kejuaraan dunia yunior ini, setiap negara berpeluang memperoleh jatah maksimal 2 pemain per nomor untuk setiap negara dengan catatan kedua pemain tersebut berhasil masuk peringkat 1 sampai 7.
Indonesia sebagai negara besar dalam bulutangkis tentu berharap meraih medali pada cabang ini. Apalagi Indonesia merupakan satu-satunya negara yang selalu meraih medali emas bulutangkis sejak cabang ini resmi dipertandingkan Olimpiade Barcelona 1992. Dengan kebesaran nama-nya itu sudah sepantasnya Indonesia menjejakkan tradisi emas pada Olimpiade Yunior. Namun untuk mencapainya bukanlah seperti membalikkan telapak tangan. Sudah 16 tahun lamanya, pemain Indonesia tidak pernah lagi meraih gelar juara dunia yunior. Terakhir Indonesia meraihnya pada tahun 1992 melalui Kristin Yunita (tunggal putri) dan Santoso / Kusno (ganda putra). Pada penyelenggaraan terakhir tahun lalu, hasil terbaik pemain Indonesia hanya sebagai semifinalis ganda putri melalui pasangan Aneke Feinya / Annisa Wahyuni. Sementara itu pada ajang kejuaraan yunior Asia sepanjang 10 tahun terakhir, hanya empat gelar yang diboyong ke bumi pertiwi. Empat gelar tersebut dipersembahkan Hendry Saputra / Enny Erlangga (ganda campuran, 1999), Ardiansyah (tunggal putra, 2001), Markis Kido / Lilyana Natsir (ganda campuran, 2002) dan Dilli Pusupita Richi / Debby Susanto (ganda putri 2007). Sedangkan pada gelaran terakhir 2008, Indonesia mencatat prestasi menyedihkan karena tidak satu-pun pemainnya mampu menembus babak perempat final.
Prestasi yang kurang mentereng dari pemain-pemain yunior Indonesia dalam beberapa tahun terakhir cukup menyedihkan. PBSI memang sudah mencanangkan pelatnas Pratama di Magelang untuk menggemleng pemain menghadapi Olimpiade Yunior, akan tetapi belum terdengar realisasinya. Pada sisi lain klub Djarum Kudus yang sangat memperhatikan prestasi pebulutangkis Indonesia, telah membawa pemainnya berlaga dalam turnamen yunior di Eropa. Dua ajang diikuti pada awal Maret ini yaitu Yunior Dutch Open dan Yunior German Open. Pada ajang yang pertama Djarum membawa pulang dua gelar juara melalui Muhammad Ulinuha / Gerry Angriawan (ganda putra) dan Muhammad Ulinuha / Jenna Gozali (ganda campuran). Kemudian Muhammad Ulinuha / Gerry Angriawan melengkapinya dengan gelar ganda putra Yunior German Open.
Keikutsertaan Djarum pada laga Eropa sangat bernilai positif bagi pemain-pemain muda menimbah pengalaman bertanding. Akan tetapi bila dihubungkan dengan Olimpiade Yunior maka Klub Djarum perlu mengikutkan pemain-pemain yang punya peluang pada event tersebut. Memang PB Djarum mengikut sertakan dua pemain tunggal putri dan tiga tunggal putra pada tur ini yaitu Risca Meisiani, Ayu Wanda Wulandari, Kho Hnedriko Wibowo, Arif Gifar Ramadhan dan Riyanto Subagja. Namun hanya Risca dan Riyanto yang memenuhi persyaratan tahun kelahiran yang dapat berlaga di Olimpiade yunior (tahun lahir 1992-1993). Kho dan Arif kelahiran tahun 1994, sedangkan Ayu kelahiran tahun 1991. Prestasi Riyanto sendiri pada dutch open sampai babak 1/4 final setelah kalah dari Iskandar Zulkarnain Zainuddin (MAS) 21-17 16-21 11-21 dan babak 1/8 final german open setelah takluk dari Ji Wook Kang (KOR) 18-21 13-21. Sedangkan Risca di tunggal putri dihentikan di babak ketiga Yunior Dutch Open oleh Lianne Tan (BEL) 18-21 20-22 dan babak pertama Yunior German Open oleh So Hee Lee (KOR) 16-21 21-12 17-21.
Berdasarkan catatan prestasi tersebut masih diperlukan kerja keras bagi klub Djarum khususnya maupun PBSI secara keseluruhan untuk meningkat kemampuan atletnya dalam menghadapi Olimpiade Yunior ini. Klub Djarum sebagai gudangnya pemain yunior diharapkan dapat menjadi pelopor. Meskipun kualifikasi sendiri baru digelar tahun depan tetapi pemain-pemain yunior Indonesia harus menempa pengalaman internasional agar kemudian bisa diandalkan untuk lolos ke Olimpiade Yunior sekaligus mempersembahkan medali dalam even tersebut.
Hendri Kustian
(hendri_kustian@yahoo.com)
Bulutangkis sebagai cabang yang dipertandingkan pada olimpiade 2012 di London berhak menjadi salah satu cabang peserta Olimpiade Yunior. Tetapi dalam olimpiade yunior hanya dua nomor yang memperebutkan medali yaitu tunggal putra dan tunggal putri. Peserta masing-masing nomor akan diisi oleh 32 atlet yang lolos kualifikasi. Pemain yang bisa berlaga pada cabang bulutangkis dibatasi atlet kelahiran 1 Januari 1992 sampai 31 Desember 1993. Kualifikasi sendiri dihasilkan dari hasil turnamen continental untuk masing-masing benua dan kejuaraan dunia yunior. Bagi Indonesia perebutan tempat mulai dari Kejuaraan Yunior Asia 2010. Pada turnamen ini peringkat terbaik masing-masing negara otomatis lolos dengan catatan untuk Asia dibatasi lima pemain terbaik. Peluang berikutnya untuk meloloskan pemain melalui kejuaraan dunia Yunior 2010. Pada kejuaraan dunia yunior ini, setiap negara berpeluang memperoleh jatah maksimal 2 pemain per nomor untuk setiap negara dengan catatan kedua pemain tersebut berhasil masuk peringkat 1 sampai 7.
Indonesia sebagai negara besar dalam bulutangkis tentu berharap meraih medali pada cabang ini. Apalagi Indonesia merupakan satu-satunya negara yang selalu meraih medali emas bulutangkis sejak cabang ini resmi dipertandingkan Olimpiade Barcelona 1992. Dengan kebesaran nama-nya itu sudah sepantasnya Indonesia menjejakkan tradisi emas pada Olimpiade Yunior. Namun untuk mencapainya bukanlah seperti membalikkan telapak tangan. Sudah 16 tahun lamanya, pemain Indonesia tidak pernah lagi meraih gelar juara dunia yunior. Terakhir Indonesia meraihnya pada tahun 1992 melalui Kristin Yunita (tunggal putri) dan Santoso / Kusno (ganda putra). Pada penyelenggaraan terakhir tahun lalu, hasil terbaik pemain Indonesia hanya sebagai semifinalis ganda putri melalui pasangan Aneke Feinya / Annisa Wahyuni. Sementara itu pada ajang kejuaraan yunior Asia sepanjang 10 tahun terakhir, hanya empat gelar yang diboyong ke bumi pertiwi. Empat gelar tersebut dipersembahkan Hendry Saputra / Enny Erlangga (ganda campuran, 1999), Ardiansyah (tunggal putra, 2001), Markis Kido / Lilyana Natsir (ganda campuran, 2002) dan Dilli Pusupita Richi / Debby Susanto (ganda putri 2007). Sedangkan pada gelaran terakhir 2008, Indonesia mencatat prestasi menyedihkan karena tidak satu-pun pemainnya mampu menembus babak perempat final.
Prestasi yang kurang mentereng dari pemain-pemain yunior Indonesia dalam beberapa tahun terakhir cukup menyedihkan. PBSI memang sudah mencanangkan pelatnas Pratama di Magelang untuk menggemleng pemain menghadapi Olimpiade Yunior, akan tetapi belum terdengar realisasinya. Pada sisi lain klub Djarum Kudus yang sangat memperhatikan prestasi pebulutangkis Indonesia, telah membawa pemainnya berlaga dalam turnamen yunior di Eropa. Dua ajang diikuti pada awal Maret ini yaitu Yunior Dutch Open dan Yunior German Open. Pada ajang yang pertama Djarum membawa pulang dua gelar juara melalui Muhammad Ulinuha / Gerry Angriawan (ganda putra) dan Muhammad Ulinuha / Jenna Gozali (ganda campuran). Kemudian Muhammad Ulinuha / Gerry Angriawan melengkapinya dengan gelar ganda putra Yunior German Open.
Keikutsertaan Djarum pada laga Eropa sangat bernilai positif bagi pemain-pemain muda menimbah pengalaman bertanding. Akan tetapi bila dihubungkan dengan Olimpiade Yunior maka Klub Djarum perlu mengikutkan pemain-pemain yang punya peluang pada event tersebut. Memang PB Djarum mengikut sertakan dua pemain tunggal putri dan tiga tunggal putra pada tur ini yaitu Risca Meisiani, Ayu Wanda Wulandari, Kho Hnedriko Wibowo, Arif Gifar Ramadhan dan Riyanto Subagja. Namun hanya Risca dan Riyanto yang memenuhi persyaratan tahun kelahiran yang dapat berlaga di Olimpiade yunior (tahun lahir 1992-1993). Kho dan Arif kelahiran tahun 1994, sedangkan Ayu kelahiran tahun 1991. Prestasi Riyanto sendiri pada dutch open sampai babak 1/4 final setelah kalah dari Iskandar Zulkarnain Zainuddin (MAS) 21-17 16-21 11-21 dan babak 1/8 final german open setelah takluk dari Ji Wook Kang (KOR) 18-21 13-21. Sedangkan Risca di tunggal putri dihentikan di babak ketiga Yunior Dutch Open oleh Lianne Tan (BEL) 18-21 20-22 dan babak pertama Yunior German Open oleh So Hee Lee (KOR) 16-21 21-12 17-21.
Berdasarkan catatan prestasi tersebut masih diperlukan kerja keras bagi klub Djarum khususnya maupun PBSI secara keseluruhan untuk meningkat kemampuan atletnya dalam menghadapi Olimpiade Yunior ini. Klub Djarum sebagai gudangnya pemain yunior diharapkan dapat menjadi pelopor. Meskipun kualifikasi sendiri baru digelar tahun depan tetapi pemain-pemain yunior Indonesia harus menempa pengalaman internasional agar kemudian bisa diandalkan untuk lolos ke Olimpiade Yunior sekaligus mempersembahkan medali dalam even tersebut.
Hendri Kustian
(hendri_kustian@yahoo.com)
Thursday, January 15, 2009
Pertamina dan Bulutangkis Menuju Kebanggaan Bangsa

Awal tahun 2009 ini, Pertamina memberikan sumbangsihnya kepada perbulutangkisan Indonesia dengan menggelar sebuah turnamen terbuka. Turnamen dengan label Pertamina Open ini diselenggarakan untuk kedua kalinya. Usia turnamen yang tergolong balita ini memperebutkan hadiah total 200 juta. Ketika menyaksikan partai final Pertamina Open, saya mencatat beberapa hal yang menarik.
Pertama, kesediaan Direktur Utama Pertamina dan direksi lainnya hadir menyaksikan partai final sekaligus penutupan turnamen. Hal ini menjadi menarik karena di tengah kesibukan yang cukup tinggi dan tuntutan masyarakat akan peningkatan kinerja Pertamina, Pejabat Pertamina tetap menyempatkan diri memperhatikan olahraga kebanggaan bangsa yaitu bulutangkis.
Yang kedua, pernyataan dari pihak Pertamina yang berkomitmen membantu kemajuan prestasi bulutangkis Indonesia. Sebuah kabar gembira disaat kesulitan dana PBSI dalam mengirimkan pemainnya keluar negeri. Seandainya saja logo Pertamina tertempel di kaos pemain sebagai salah satu sponsor pemain Pelatnas maka akan menjadi kebanggaan tersendiri. Sebagaimana tim nasional malaysia yang selalu yang selalu didukung perusahaan nasionalnya, Proton dalam setiap aksi di lapangan pertandingan. Kalau mau lebih jauh lagi Pertamina bisa mengejar aksi perusahaan sejenis di negeri Jiran, Petronas yang menjadi sponsor event-event besar olahraga dunia. Kalau Pertamina memang berniat ke arah itu berarti untuk mencapai-nya maka terdapat sebuah semangat agar Pertamina sebagai perusahaan bisa satu level dengan perusahaan seperti Petronas.
Yang ketiga, Pertamina bertekad konsisten menggelar turnamen ini setiap tahun dan meningkatkan kualitasnya. Suatu hal yang positif dimana pemain-pemain muda bisa menempah diri dalam berbagai turnamen dalam negeri. Terpuruknya prestasi pemain yunior Indonesia baik tingkat Asia maupun dunia dituding karena kurangnya pengalaman bertanding. Maka dengan semakin berkualitas dan meningkatnya kuantitas turnamen dalam negeri bisa menjadi solusinya. Bahkan diharapkan lebih banyak perusahaan-perusahaan yang menggelar turnamen sebagai wujud tanggung jawab sosial kepada bangsa. Perusahaan-perusahaan itu diharapkan menyisihkan sebagian program marketing dan CSR (Corporate Social Responsibility) pada bulutangkis. Sejauh ini baru beberapa perusahaan saja yang melakukan hal tersebut antara lain turnamen Gudang Garam Jawa Pos, Tangkas Alfamart, Astec Open atau Djarum yang tahun lalu menjadi sponsor utama Indonesia Open Super Series.
Dari arena pertandingan sendiri, pada kelompok dewasa terlihat pemain dan mantan pemain pelatnas masih terlalu tangguh buat pemain muda. Sebagai contoh, meskipun tampil sebagai pasangan dadakan Flandy Limpele / Sigit Budiarto berhasil menjadi juara ganda dewasa putra setelah mengalahkan Ade Lukas / Hadi Saputra 21-11 21-17. Kiprah pasangan muda yang sempat melaju babak 16 besar Indonesia Open tahun lalu, Albert Saputra / Rizky Yanu terhenti di semi final juga dari Flandy / Sigit dengan pertarungan ketat 16-21 21-13 21-12. Demikian pula di nomor tunggal, pemain muda Djarum, Dionysius Hayom Rumbaka yang mempunyai kelebihan smash yang keras ternyata belum mampu mengatasi pemain yang lebih senior, Ahmad Rivai. Pertarungan final tersebut dimenangkan Rivai dengan mudah 21-13 21-9. Jika dibandingkan dengan pemain seusia para yunior Indonesia seperti Saina Nehwal (India) atau Yao Lei (Singapura) yang sudah mencetak prestasi di arena senior maka hasil Pertamina Open bisa menjadi tolak ukur prestasi pemain muda Indonesia. Tetapi dengan kehadiran para senior untuk menghadang pemain muda merupakan tantangan tersendiri buat pemain muda dan semakin menambah pengalaman mereka. Inilah sisi positif lainnya dari turnamen seperti Pertamina Open ini.
Dalam turnamen yang dikomandani mantan bintang bulutangkis Rosiana Tendean ini juga menghadirkan pertandingan eksebisi antara ketua MPR Hidayat Nur Wahid dengan pasangan dari Pertamina melawan Wakil ketua umum PBSI Sabar Yudho yang juga dipasangkan dengan pemain dari pertamina. Dihadapan para penonton para pejabat tersebut melakukan pertandingan dengan serius. Kepedulian mereka bukan hanya dalam tataran kebijakan saja tetapi juga dalam masalisasi bulutangkis itu sendiri. Bahkan Bapak Hidayat Nur Wahid pernah menggelar turnamen sendiri, Hidayat Nur Wahid Open. Memang pak Hidayat tidak sendiri, tokoh nasional lainnya seperti Megawati dan Sutiyoso pernah menggelar acara serupa. Terlepas dari masalah politik, terjunnya tokoh-tokoh nasional ke bulutangkis menjadi poin tersendiri. Apalagi seperti kita ketahui banyak tokoh lebih memilih mengurus sepak bola yang lebih mendatangkan banyak massa.
Kembali pada Pertamina Open, seperti dibahas sebelumnya publik bulutangkis berharap Pertamina berperan lebih besar dalam memajukan bulutangkis Indonesia. Sama seperti harapan publik agar Pertamina lebih maju sebagai perusahaan milik negara. Kalau negara tetangga sangat bangga dengan bulutangkis dan Petronas-nya maka sudah saatnya Indonesia mempunyai kebanggaan terhadap bulutangkis dan Pertamina.
Hasil Lengkap Final Pertamina Open 2009
Tunggal Remaja Putra : Ari Jauhari (Tangkas Alfamart) - Putra Eka (Jaya Raya) 21-18 21-12
Tunggal Remaja Putri : Sella Devi Aulia (Jaya Raya) - Anggia Sitta (Jaya Raya) 21-17 21-18
Tunggal Taruna Putra : Evert Sukamta (Tangkas Alfamart) - Tunggul Mursito (Aufa) 23-21 21-10
Tunggal Taruna Putri : Renna Suwarno (Jaya Raya) - Novalia (Tangkas Alfamart) 21-9 21-7
Ganda Taruna Putra : M. Ulinuha / Berry Angriawan (Djarum) - Alvin Iqsandy / Didit (Djarum) 21-17 21-17
Ganda Taruna Putri : Claudia Ayu / Della Destiara (Jaya Raya) - Ganis / Gebby (Ratih/ Ragunan) 21-11 21-14
Tunggal Dewasa Putra : Achmad Rivai (Ratih) - Dionisius Hayom (Djarum) 21-13 21-9
Tunggal Dewasa Putri : Bellaetrix Mannuputy (Jaya Raya) - Yuli Marpuah (SGE) 21-12 21-16
Ganda Dewasa Putra : Flandy Limpele / Sigit Budiarto (SGE/Djarum) - Ade Lukas / Hadi Saputra (MFP) 21-11 21-17
Ganda Dewasa Putri : Devi Tika P / Kesha (SGE) - Anneke Feinya / Wenny S (Jaya Raya) 21-8 21-23 21-19
Ganda Veteran A : Reony Mainaky / Effendy (MFP) - Didin Rahmat / Tatang Mulyana (KTB) 21-14 21-16
Ganda Veteran B : Imam / Bambang Setiaji (Pertamina) - Yoyada / Bambang (Pertamina) 21-14 20-22 22-20
Sumber hasil pertandingan : Panita Turnamen Pertamina Open
PEMAIN TERBAIK 2008

Seperti tahun sebelumnya, Kolom HK yang dimuat beberapa web site memilih pebulutangkis terbaik. Metode yang digunakan adalah menghitung perolehan gelar juara dari sang pemain dengan mengurutkan level turnamen yang dijuarai tersebut. Sebenarnya menentukan pemain terbaik dilakukan banyak cara seperti pooling atau dari rangking dunia. Penentuan dari pooling memiliki kelemahan karena terkadang faktor popularitas lebih menentukan ketimbang prestasi. Sedang sistem rangking dalam bulutangkis memiliki kelemahan karena tidak di hitungnya nilai beberapa turnamen seperti super series master dalam sistem ranking dunia versi BWF.
Pada bagian putri, pemain China Yu Yang menempati urutan terbaik. Sepanjang tahun 2008 Yu Yang meraih medali emas Olimpiade di nomor ganda putri dan perunggu di ganda campuran. Pada ajang Super series, Yu Yang menjadi juara sebanyak 6 kali ditambah satu gelar juara Grand Prix Gold. Bersama dengan pasangannya Du Jing, Yu Yang menjuarai ganda putri Korea Open SS, Singapore Open SS dan France Open SS. Sedangkan gelar juara ganda campuran bersama He Hanbing disabet pada Malaysia Open SS, Swiss Open SS, France Open SS dan GPG India Open. Yu Yang menjadi salah satu andalan tim bulutangkis China ketika merebut Piala Uber di Jakarta.
Peringkat kedua putri ditempati pemain Korea Lee Hyo Jung yang meraih medali emas ganda campuran dan medali perak ganda putri Olimpiade. Selain itu Lee Hyo Jung juga meraih juara di turnamen super series sebanyak tiga kali dan grand prix dua kali. Gelar-gelar itu diperoleh di dua nomor yaitu ganda putri dengan Lee Kyung Won dan ganda campuran bersama Lee Yong Dae. Menyusul ditempat ketiga pemain China Du Jing. Pemain yang hanya tampil di nomor ganda putri ini merupakan pasangan Yu Yang. Du Jing meraih satu emas Olimpiade, tiga kali juara super series dan anggota tim juara Piala Uber. Pemain terbaik keempat disematkan pada Zhang Ning. Pemain yang diakhiri karir di tahun 2008 meraih prestasi yang mengagumkan dengan merebut medali emas Olimpiade dua kali berturut-turut tahun 2004 dan 2008. Konsistensi pemain yang sudah senior ini patut dicontoh pebulutangkis-pebulutangkis muda. Terakhir peringkat kelima menjadi milik Zhou Mi. Pemain yang mengaku sering dikorbankan untuk mengalah dari rekannya saat membela China ini, akhirnya hijrah ke Hongkong. Kepindahan ke Hongkong membuat prestasi-nya kembali mencuat hingga menempati peringkat satu BWF nomor tunggal putri. Gelar juara yang dikumpulkan Zhou Mi dengan menjuarai Super Series Master, Korea Open SS, China Master SS, GPG India Open, GPG Macau Open dan GP New Zealand Open
Pada bagian putra, posisi teratas milik pemain muda Korea Selatan Lee Yong Dae. Peraih emas ganda campuran olimpiade ini membawa Korea Selatan menembus final Piala Thomas Cup untuk pertama kali sepanjang sejarah. Selain Emas Olimpiade dan runner up Piala Thomas, Yong Dae berhasil mendapatkan lima gelar juara Super Series (MD All England, MD Swiss, MD Hongkong, MD China, XD China dan XD Korea), 1 GPG (MD Asian Championships), 1 GP (XD German Open) dan 1 Challenge (MD Korea Challenge). Yong Dae berprestasi di ganda campuran bersama Lee Hyo Jung dan ganda putra dengan Jung Jae Sung. Jung Jae Sung sendiri ditempatkan di posisi kelima terbaik dunia tahun ini dengan perolehan empat gelar juara super series, satu grand prix gold dan satu Challenge series yang semuanya bersama Yong Dae.
Terbaik kedua dan ketiga pada bagian putra ditempati bersama oleh pasangan Markis Kido / Hendra Setiawan. Selama tahun 2008 ini kedua selalu mencatat prestasi bersama. Kido / Hendra menjadi pahlawan Indonesia dengan mempertahankan tradisi emas olimpiade buat bangsa tercinta. Kido / Hendra juga meraih juara super series di tiga turnamen berturut-turut dari empat gelar yang dicapai tahun ini. Awal tahun Kido / Hendra menjuarai Malaysia Open dan kemudian tiga gelar berturut-turut tersebut diraih pada China Master, Denmark Open dan France Open. Peringkat keempat tahun ini disandangkan ke pemain China, Lin Dan. Pemain yang dijuluki super Dan ini akhirnya melengkapi semua gelar yang dimilikinya dengan medali emas Olimpiade tunggal putra. Meskipun jarang diturunkan bertanding, Lin Dan sempat mencicipi gelar juara lainnya yaitu Swiss Open SS, China Open SS dan GPG Thailand Open.
Untuk tingkat nasional, metode yang dipakai untuk menentukkan yang terbaik berdasarkan prestasi di ajang turnamen Internasional. Peringkat dua teratas bagian putra sudah tentu milik Markis Kido / Hendra Setiawan yang prestasi nya termasuk lima besar dunia. Menyusul diperingkat ketiga Sony Dwi Kuncoro yang menciptakan hatrik di ajang super series. Sony menjuarai Indonesia Open, Japan Open dan China Open. Peringkat keempat menjadi milik Nova Widianto yang meraih perak Olimpiade dan juara Singapore Open SS nomor ganda campuran. Tahun 2008 ini Nova yang berpasangan dengan Lilyana Natsir lebih banyak terjebak sebagai runner up. Selain runner up Olimpiade, mereka juga menjadi runner up All England SS, Japan Open SS, China Master SS dan GPG Asia Championships. Bahkan di GPG Asia Championships, Nova tidak hanya runner up di ganda campuran tetapi juga di ganda putra bersama Chandra Wijaya. Pencapaian Muhamad Rizal meraih juara Japan Open SS saat pertama kali berpasangan dengan Vita Marissa menempatkannya meraih posisi kelima.
Untuk pemain nasional bagian putri, pemain nomor satu menjadi milik Lilyana Natsir. Selain berprestasi bersama Nova Widianto, Lilyana juga mencatat prestasi dinomor ganda putri bersama Vita Marissa dengan menjuarai Indonesia Open. Vita Marissa sendiri ditempatkan di posisi kedua. Selain juara Indonesia Open, Vita menjadi juara Japan Open bersama. M. Rizal dan GPG Asian Championships bersama Flandy Limpele. Peraih perunggu Olimpiade, Maria Kristin menempati posisi ketiga. Maria telah menunjukkan prestasi mengesankan pada ajang Olimpiade dan Indonesia Open SS. Meskipun tidak diunggulkan, Maria berhasil mengalahkan pemain-pemain besar dunia dan kemudian merebut salah satu medali olimpiade dan menembus final Indonesia Open SS. Tempat keempat diberikan kepada Lita Nurlita. Meskipun secara kualitas individu masih dibawah pemain lainnya seperti Greysia Polii tetapi secara prestasi Lita mampu merebut gelar juara turnamen sekelas Grand Prix Gold di Taipei Open. Lita bersama pasangan Devin Lahardi melengkapi gelar juara GPG Taipei Open dengan medali emas PON. Terakhir di peringkat kelima menjadi milik Shendy Puspa. Pemain yang lebih banyak dikirim oleh klub Djarum ini, meraih dua gelar juara Grand Prix di turnamen yang sama, Vietnam Open. Nomor ganda putri di juarai-nya bersama Meliana Jauhari dan ganda campuran berpasangan dengan Ahmad Tantowi. Di ajang Grand Prix lainnya Shendy bersama Meliana berturut-turut menjadi runner up di GP Bittburger Open, GP Bulgaria Open dan GP Dutch Open. Bahkan di Bulgaria Open dan Dutch Open, Shendy juga meraih runner up di ganda campuran bersama Fran Kurniawan. Prestasi lain Shendy / Meliana di ganda putri adalah menembus semi final turnamen super series di Indonesia. Pada level yang lebih rendah Shendy / Meli juara di beberapa turnamen Challenge seperti Polish Open, Spanish Open, Touluse Open dan Indonesia Challenge. Untuk ganda campuran Shendy bersama Fran Kurniawan menjuarai turnamen Challenge di Finnish Open, Toulose Open dan Indonesia Challange.
Seperti tahun sebelumnya dipilih best of the best dunia dan Indonesia. Untuk tingkat dunia pemain terbaik putra Lee Yong Dae lebih mengungguli perolehan gelar juara dari pemain terbaik putri Yu Yang. Dengan alasan tersebut Kolom HK memilih Lee Yong Dae sebagai pemain terbaik dunia 2008 menggantikan yang terbaik 2007 Gao Ling (Baca Kolom HK : Pemain Tebaik 2007). Sedangkan untuk tingkat Indonesia peraih emas Olimpiade Markis Kido dan Hendra Setiawan tidak terbantahkan menjadi yang terbaik sepanjang 2008. Mereka menggeser pemain putri Indonesia nomor satu 2008 sekaligus pemain terbaik 2007, Lilyana Natsir. Akhirnya, seperti disampaikan tahun-tahun sebelumnya bahwa pemilihan ini bisa berbeda-beda tergantung cara penilaian dan analisa dalam menentukkannya.
Rangkuman :
Pemain Dunia Terbaik Putra :
1. Lee Yong Dae, KOR (1 emas Olimpiade, 6 juara SS, 1 juara GPG, 1 juara GP, 1 juara Challenge)
2-3. Markis Kido dan Hendra Setiawan, INA ( 1 emas olimpiade dan 4 juara SS)
4. Lin Dan, CHN (1 emas Olimpiade, 2 juara SS dan 1 juara GPG)
5. Jung Jae Sung, KOR (4 juara SS, 1 juara GPG dan 1 juara Challenge)
Pemain Dunia Terbaik Putri :
1. Yu Yang, CHN (1 emas + 1 perunggu Olimpiade, 6 juara SS dan 1 juara GPG)
2. Lee Hyo Jung, KOR (1 emas + 1 perak Olimpiade, 3 juara SS dan 2 juara GP)
3. Du Jing, CHN (1 emas Olimpiade dan 3 juara SS)
4. Zhang Ning, CHN ( 1 emas Olimpiade)
5. Zhou Mi, HKG (1 Super series Master, 2 juara SS dan 1 juara GP)
Best of Best tingkat dunia : Lee Yong Dae (KOR)
Pemain Indonesia Terbaik Putra :
1-2. Markis Kido dan Hendra Setiawan ( 1 emas olimpiade dan 4 juara SS)
3. Sony Dwi Kuncoro (3 juara SS)
4. Nova Widianto (1 juara SS, perak Olimpiade, 3 runner up SS, 1 runner up SS Master, 2 runner up GPG)
5. Muhamad Rizal (1 juara SS)
Pemain Indonesia Terbaik Putri :
1. Lilyana Natsir (2 juara SS, perak Olimpiade, 3 runner up SS, 2 runner up SS Master, 1 runner up GPG)
2. Vita Marissa (2 juara SS, 1 juara GPG, 1 runner up SS dan 1 runner up SS Master)
3. Maria Kristin (Perunggu Olimpiade dan 1 runner up SS)
4. Lita Nurlita (1 juara GPG dan emas PON)
5. Shendy Puspa (2 juara GP, 7 juara Challenge dan 5 runner up GP)
Wednesday, December 3, 2008
Tahun Kedua Rangkaian Turnamen Superseries
Rangkaian turnamen bulutangkis bergengsi Superseries tahun 2008 berakhir. Dimulai dengan turnamen Malaysia Open pertengahan Januari dan diakhiri dengan Hongkong Open akhir November ini. Para pemenang tidak saja menambah pundi-pundi dolar mereka tetapi mencatatkan diri dalam sejarah perbulutangkisan antar bangsa. Enam puluh gelar juara telah dibagikan dari dua belas turnamen yang diselenggarakan. China kembali menjadi pengumpul juara terbanyak sepanjang tahun ini. Bila tahun lalu China meraih 38 gelar juara maka tahun ini terjadi penurunan menjadi 27 gelar juara atau 45 % dari total juara yang diperebutkan. Indonesia tetap berada di tempat kedua dengan 10 gelar juara yang berarti meningkat dari tahun lalu yang hanya 7,5 gelar juara. Ini berarti Indonesia meraih 17 % tempat juara pada tahun ini. Peningkatan prestasi juga dibuat tim Korea yang tahun ini meraih 8 gelar juara, padahal tahun lalu hanya dua gelar saja. Demikian juga dengan Denmark dari 2 juara tahun lalu menjadi 7 juara tahun ini. Penurunan justru dialami Malaysia yang tahun lalu meraih 7 gelar juara sedangkan tahun ini hanya 5 juara saja.
Pemain putra Korea Selatan Lee Young Dae dan pemain putri China Yu Yang menjadi pemain paling berprestasi dalam rangkaian Superseries tahun ini. Kedua pemain muda tersebut sama-sama mengumpulkan enam gelar juara. Lee Young Dae meraih juara ganda putra empat kali bersama Jung Jae Sung di All England, Swiss, China Open dan Hongkong. Dua gelar lainnya diraih pada nomor ganda campuran yang berpasangan dengan Lee Hyo Jung pada Korea dan China Open. Sedangkan Yu Yang meraih 3 gelar diganda putri bersama Du Jing dan 3 gelar di ganda campuran bersama He Hanbing. Nomor ganda putri dijuarai-nya pada Korea, Singapura dan Perancis sedangkan untuk ganda campuran pada Malaysia, Swiss dan Perancis Superseries. Bila juara diibaratkan dengan medali emas, runner up dengan perak dan semifinalis dengan perunggu maka Lee Young Dae menjadi yang terbaik. Lee Young Dae mengumpulkan 6 emas, 2 perak dan 1 perunggu. Bandingkan dengan Yu Yang yang meraih 6 emas, 1 perak dan 4 perunggu.
Sony Dwi Kuncoro mencatatkan diri sebagai pemenang tunggal putra terbanyak dengan tiga kali juara. Hebatnya Sony meraihnya pada tiga turnamen superseries berturut-turut pada Indonesia, Jepang, dan China Master superseries. Dibawah Sony terdapat 5 pemain yang masing-masing merebut dua gelar juara yaitu Lee Chong Wei (MAS), Lin Dan (CHN), Chen Jin (CHN) dan Peter Gade Christiansen (DEN). Satu gelar juara lagi diraih pemain Korea Lee Hyun Ill ketika turnamen digelar dinegaranya. Prestasi cukup baik ditunjukkan pemain Indonesia lainnya, Simon Santoso. Meskipun gagal meraih juara tetapi Simon berhasil menembus final pada dua seri saat bertanding di Singapura dan Indonesia SS. Pemain senior Indonesia Taufik Hidayat meraih final pertama-nya sepanjang seri superseries pada Perancis SS. Hal ini berarti Taufik baru mencapai final setelah 21 kali turnamen SS atau final satu-satunya selama dua tahun turnamen SS diselenggarakan.
Maria Kristin mencatat sensasi tersendiri bagi perbulutangkisan putri Indonesia. Maria meraih runner up Indonesia Open SS setelah ditaklukkan Zhu Lin (CHN). Sebelumnya Maria maju ke final setelah mengkandaskan dua pemain bintang Zhang Ning (CHN) di semifinal dan Zhou Mi (HKG) di perempatfinal. Prestasi Maria menjadi satu-satu bagi Indonesia untuk menembus empat besar sepanjang 24 kali turnamen SS yang sudah dilaksanakan dalam dua tahun ini. Pada nomor ini pemain Denmark, Tine Rasmussen menjadi peraih juara terbanyak dengan 3 kali juara (Malaysia, All England & Singapura). Menyusul pemain Hongkong Zhou Mi dengan dua gelar juara (Korea & China Master SS) dan Wang Lin dari China juga dengan dua kali juara (Denmark & Perancis SS). Sisa gelar juara dibagi rata masing-masing satu gelar buat empat pemain China (Xie Xingfang, Zhu Lin, Wang Yihan, Jiang Yanjiao) satu pemain Hongkong (Wang Chen).
Pasangan Indonesia Markis Kido / Hendra Setiawan dan pasangan Korea Lee Young Dae / Jung Jae Sung bersaing ketat menjadi yang paling berprestasi. Kedua pasangan sama-sama meraih empat kali juara. Kido / Hendra meraihnya pada Malaysia SS dan tiga kali berturut-turut pada China Master, Denmark dan Perancis SS. Pasangan lain yang berhasil juara adalah M. Zakry / M. Fairuzizuan dari Malaysia (Singapura & Indonesia SS), Lars Paske / Jonas Rasmussen dari Denmark (Jepang SS) dan andalan China Fu Haifeng / Cai Yun (Korea SS). Adik kandung Markis Kido, Bona Septano yang berpasangan dengan M. Aksan berhasil membuat kejutan ketika mencapai final Jepang SS. Sayangnya pasangan non-unggulan ini takluk dari Paske/ Rassmussen di final.
Nomor ganda putri masih didominasi China. Raihan terbanyak diraih Du Jing / Yu Yang dengan tiga kali juara. Disusul rekan-rekannya yang meraih dua gelar yakni Su Cheng / Zhao Yunlei, Yang Wei / Zhang Jiwen dan Zhao Tingting / Zhang Yawen. Indonesia, Malaysia dan Korea masing-masing mencuri satu gelar melalui Vita Marissa / Lilyana Natsir, Wong Pei Tty / Chin Eun Hui dan Lee Kyung Won / Lee Hyo Jung. Pasangan hasil rombakan pasca Olimpiade dari Indonesia Jo Novita / Rani Mundiasti berhasil menunjukkan taji-nya dengan menembus final Denmark Open SS.
Meskipun bertengger pada nomor satu dunia dalam beberapa bulan, pasangan Nova Widianto / Lilyana Natsir hanya meraih satu juara SS tahun ini. Nova / Lilyana menjuarai singapura SS serta menjadi runner up di All England, Jepang daan China Master SS. Pemain Indonesia lainnya M. Rizal yang pertama kali dipasangkan dengan Vita Marissa langsung menjadi juara pada turnamen pertamanya. Rizal / Vita menjuarai Jepang SS. Sayangnya setelah itu prestasi pasangan ini menurun. Pasangan China He Hanbing / Yu Yang menjadi peraih juara ganda campuran terbanyak dengan 3 gelar dan disusul pasangan Korea Lee Young Dae / Lee Hyo Jung yang meraih 2 gelar. Dua pasangan China lainnya juga meraih dua gelar juara yaitu Xie Xongbo / Zhang Yawen dan Zheng Bo / Gao Ling. Satu gelar lagi jatuh ke tangan pasangan Denmark Jaochim Fisher Nielsen / Christina Pedersen.
Pesta belum usai. Memang rangkaian superseries sudah diakhiri pada Hongkong Open. Tetapi sebuah turnamen bergengsi dengan hadiah terbesar dalam bulutangkis dunia disediakan dalam Final Superseries. Delapan peringkat teratas dan memenuhi kreteria lainnya berhak bertarung pada turnamen di Kinabalu, Malaysia tersebut. Bagi pemain yang gagal ke Final Superseries maka rangkaian tahun ketiga Superseries telah menunggu untuk mencari yang terbaik. Malaysia Open yang dilaksanakan bulan Januari 2009 akan menjadi awal arena pertarungan superseries tahun depan. Selamat mengejar prestasi buat pemain dunia di arena Superseries yang bergelimang hadiah.
Pemain putra Korea Selatan Lee Young Dae dan pemain putri China Yu Yang menjadi pemain paling berprestasi dalam rangkaian Superseries tahun ini. Kedua pemain muda tersebut sama-sama mengumpulkan enam gelar juara. Lee Young Dae meraih juara ganda putra empat kali bersama Jung Jae Sung di All England, Swiss, China Open dan Hongkong. Dua gelar lainnya diraih pada nomor ganda campuran yang berpasangan dengan Lee Hyo Jung pada Korea dan China Open. Sedangkan Yu Yang meraih 3 gelar diganda putri bersama Du Jing dan 3 gelar di ganda campuran bersama He Hanbing. Nomor ganda putri dijuarai-nya pada Korea, Singapura dan Perancis sedangkan untuk ganda campuran pada Malaysia, Swiss dan Perancis Superseries. Bila juara diibaratkan dengan medali emas, runner up dengan perak dan semifinalis dengan perunggu maka Lee Young Dae menjadi yang terbaik. Lee Young Dae mengumpulkan 6 emas, 2 perak dan 1 perunggu. Bandingkan dengan Yu Yang yang meraih 6 emas, 1 perak dan 4 perunggu.
Sony Dwi Kuncoro mencatatkan diri sebagai pemenang tunggal putra terbanyak dengan tiga kali juara. Hebatnya Sony meraihnya pada tiga turnamen superseries berturut-turut pada Indonesia, Jepang, dan China Master superseries. Dibawah Sony terdapat 5 pemain yang masing-masing merebut dua gelar juara yaitu Lee Chong Wei (MAS), Lin Dan (CHN), Chen Jin (CHN) dan Peter Gade Christiansen (DEN). Satu gelar juara lagi diraih pemain Korea Lee Hyun Ill ketika turnamen digelar dinegaranya. Prestasi cukup baik ditunjukkan pemain Indonesia lainnya, Simon Santoso. Meskipun gagal meraih juara tetapi Simon berhasil menembus final pada dua seri saat bertanding di Singapura dan Indonesia SS. Pemain senior Indonesia Taufik Hidayat meraih final pertama-nya sepanjang seri superseries pada Perancis SS. Hal ini berarti Taufik baru mencapai final setelah 21 kali turnamen SS atau final satu-satunya selama dua tahun turnamen SS diselenggarakan.
Maria Kristin mencatat sensasi tersendiri bagi perbulutangkisan putri Indonesia. Maria meraih runner up Indonesia Open SS setelah ditaklukkan Zhu Lin (CHN). Sebelumnya Maria maju ke final setelah mengkandaskan dua pemain bintang Zhang Ning (CHN) di semifinal dan Zhou Mi (HKG) di perempatfinal. Prestasi Maria menjadi satu-satu bagi Indonesia untuk menembus empat besar sepanjang 24 kali turnamen SS yang sudah dilaksanakan dalam dua tahun ini. Pada nomor ini pemain Denmark, Tine Rasmussen menjadi peraih juara terbanyak dengan 3 kali juara (Malaysia, All England & Singapura). Menyusul pemain Hongkong Zhou Mi dengan dua gelar juara (Korea & China Master SS) dan Wang Lin dari China juga dengan dua kali juara (Denmark & Perancis SS). Sisa gelar juara dibagi rata masing-masing satu gelar buat empat pemain China (Xie Xingfang, Zhu Lin, Wang Yihan, Jiang Yanjiao) satu pemain Hongkong (Wang Chen).
Pasangan Indonesia Markis Kido / Hendra Setiawan dan pasangan Korea Lee Young Dae / Jung Jae Sung bersaing ketat menjadi yang paling berprestasi. Kedua pasangan sama-sama meraih empat kali juara. Kido / Hendra meraihnya pada Malaysia SS dan tiga kali berturut-turut pada China Master, Denmark dan Perancis SS. Pasangan lain yang berhasil juara adalah M. Zakry / M. Fairuzizuan dari Malaysia (Singapura & Indonesia SS), Lars Paske / Jonas Rasmussen dari Denmark (Jepang SS) dan andalan China Fu Haifeng / Cai Yun (Korea SS). Adik kandung Markis Kido, Bona Septano yang berpasangan dengan M. Aksan berhasil membuat kejutan ketika mencapai final Jepang SS. Sayangnya pasangan non-unggulan ini takluk dari Paske/ Rassmussen di final.
Nomor ganda putri masih didominasi China. Raihan terbanyak diraih Du Jing / Yu Yang dengan tiga kali juara. Disusul rekan-rekannya yang meraih dua gelar yakni Su Cheng / Zhao Yunlei, Yang Wei / Zhang Jiwen dan Zhao Tingting / Zhang Yawen. Indonesia, Malaysia dan Korea masing-masing mencuri satu gelar melalui Vita Marissa / Lilyana Natsir, Wong Pei Tty / Chin Eun Hui dan Lee Kyung Won / Lee Hyo Jung. Pasangan hasil rombakan pasca Olimpiade dari Indonesia Jo Novita / Rani Mundiasti berhasil menunjukkan taji-nya dengan menembus final Denmark Open SS.
Meskipun bertengger pada nomor satu dunia dalam beberapa bulan, pasangan Nova Widianto / Lilyana Natsir hanya meraih satu juara SS tahun ini. Nova / Lilyana menjuarai singapura SS serta menjadi runner up di All England, Jepang daan China Master SS. Pemain Indonesia lainnya M. Rizal yang pertama kali dipasangkan dengan Vita Marissa langsung menjadi juara pada turnamen pertamanya. Rizal / Vita menjuarai Jepang SS. Sayangnya setelah itu prestasi pasangan ini menurun. Pasangan China He Hanbing / Yu Yang menjadi peraih juara ganda campuran terbanyak dengan 3 gelar dan disusul pasangan Korea Lee Young Dae / Lee Hyo Jung yang meraih 2 gelar. Dua pasangan China lainnya juga meraih dua gelar juara yaitu Xie Xongbo / Zhang Yawen dan Zheng Bo / Gao Ling. Satu gelar lagi jatuh ke tangan pasangan Denmark Jaochim Fisher Nielsen / Christina Pedersen.
Pesta belum usai. Memang rangkaian superseries sudah diakhiri pada Hongkong Open. Tetapi sebuah turnamen bergengsi dengan hadiah terbesar dalam bulutangkis dunia disediakan dalam Final Superseries. Delapan peringkat teratas dan memenuhi kreteria lainnya berhak bertarung pada turnamen di Kinabalu, Malaysia tersebut. Bagi pemain yang gagal ke Final Superseries maka rangkaian tahun ketiga Superseries telah menunggu untuk mencari yang terbaik. Malaysia Open yang dilaksanakan bulan Januari 2009 akan menjadi awal arena pertarungan superseries tahun depan. Selamat mengejar prestasi buat pemain dunia di arena Superseries yang bergelimang hadiah.
Wednesday, November 19, 2008
MERETAS JALAN MENUJU TRADISI BARU
Kebanggaan atas keberhasilan Indonesia mempertahankan tradisi emas Olimpiade masih tersimpan erat disanubari masyarakat Indonesia. Hal ini terbukti dalam survey sebuah program Metro TV yang menempatkan kemenangan di Olimpiade sebagai sesuatu yang paling membanggakan. Berikut kutipan hasil survey acara Metro 10 terhadap peristiwa yang paling membanggakan tersebut :
1. Kemenangan Bulutangkis Indonesia di Olimpiade : 110 responden
2. Proklamasi Kemerdekaan : 107
3. Kemenangan di Olimpiade Sain Internasional : 39
4. Wisata yang beragam : 26
5. Sumber daya alam yang kaya : 24
6. Chris Jhon yang berjaya di Tinju : 20
7. Swasembada pangan masa orde baru : 13
8. Reformasi 1998 : 12
9. Penyelesaian konflik di daerah : 11
10. Sumpah Pemuda :11
Kebanggaan yang besar dari masyarakat Indonesia ini sudah seharusnya terus dipertahankan. Insan olahraga Indonesia sudah mencanangkan agar tradisi emas ini tetap berlanjut pada Olimpiade berikutnya yang akan berlangsung di London 2012. Pemerintah telah mencanangkan Program Atlet Unggulan (PAL) untuk mendukung tujuan tersebut. Khusus untuk bulutangkis, PBSI membuat program sendiri yang tergabung dalam Pelatnas Pratama untuk pemain yunior disamping pemain-pemain utama Pelatnas. Walaupun ada kemungkinan terjadi perombakan sistem setelah pergantian pengurus di bawah komandan yang baru Bp. Djoko Santoso.
Disamping target utama Olimpiade 2012, terdapat sasaran antara yang cukup bergengsi yaitu Olimpiade Yunior 2010. Olimpiade Yunior merupakan agenda baru IOC (International Olympic Committee) selain Olimpiade dan Olimpaide musim dingin. Singapura akan menjadi tuan rumah pada Olimpiade Yunior yang akan digelar untuk perdana tersebut. Keberhasilan Singapura menjadi tuan rumah setelah mengalahkan Moskow dalam pemilihan yang berlangsung awal tahun ini. Olimpiade Yunior diperuntukkan buat atlet yang berusia 14-18 tahun dan mempertandingkan semua cabang yang diperlombakan pada Olimpiade 2012. Hal ini berarti bulutangkis merupakan salah satu cabang akan digelar pertandingannya.
Indonesia sebagai negara besar dicabang bulutangkis sudah seharusnya mencetak tradisi baru sebagai peraih emas Olimpiade Yunior. Untuk mewujudkan keinginan itu maka perlu disiapkan pemain-pemain yang pada tahun 2010 maksimal berumur 18 tahun. Berarti pemain yang bakal berlaga diajang tersebut saat ini maksimal berusia 16 tahun. PBSI harus bekerja keras sejak sekarang untuk meningkat kemampuan atlet Yuniornya.
Berbicara prestasi pemain-pemain terbaik U-16 Indonesia saat ini maka indikatornya bisa dilihat dari hasil kejuaraan asia U-16 di Kuala lumpur awal Agustus lalu. Indonesia yang diperkuat Riyanto Subagya, Kenas Adi Haryanto, Arief Gifar Ramadhan, Ichwan Noor Rizky Susanto, Hafiz Faisal dibagian putra dan Tiara Rosalia, Elizabeth Matindas, Aris Budiarti, Farah Amelia, Dian Fitri memang berhasil membawa satu gelar juara. Namun mengingat ketidakhadiran negara kuat China, maka satu juara dari tujuh nomor merupakan hasil yang kurang menggembirakan. Indonesia yang menjuarai nomor beregu putra tertinggal dari Thailand dan Malaysia yang masing-masing merebut juara pada tiga nomor.
Masih tersedia waktu yang cukup selama dua tahun untuk berbenah. Ajang Olimpiade Yunior 2010 mempunyai posisi yang sangat strategis menuju Olimpiade 2012. Dimana peraih medali emas Olimpiade Yunior 2010 yang dua tahun setelahnya berusia sekitar 20 tahun layak diperhitungkan bisa sukses pada Olimpiade 2012. Jadi pembinaan pemain Indonesia buat olimpiade yunior 2010 merupakan rangcangan sebuah tradisi baru emas Olimpiade Yunior. Lebih dari itu dapat juga merupakan bagian dari usaha mempertahankan tradisi lama pada emas Olimpiade 2012.
Referensi : www.metrotvnews.com/metro10
Ditulis Oleh : Hendri Kustian
Email : hendri_kustian@yahoo.com
Artikel Bulutangkis : http://kolombulutangkis.blogspot.com/
Catatan bulutangkis : http://catatanbulutangkis.blogspot.com/
1. Kemenangan Bulutangkis Indonesia di Olimpiade : 110 responden
2. Proklamasi Kemerdekaan : 107
3. Kemenangan di Olimpiade Sain Internasional : 39
4. Wisata yang beragam : 26
5. Sumber daya alam yang kaya : 24
6. Chris Jhon yang berjaya di Tinju : 20
7. Swasembada pangan masa orde baru : 13
8. Reformasi 1998 : 12
9. Penyelesaian konflik di daerah : 11
10. Sumpah Pemuda :11
Kebanggaan yang besar dari masyarakat Indonesia ini sudah seharusnya terus dipertahankan. Insan olahraga Indonesia sudah mencanangkan agar tradisi emas ini tetap berlanjut pada Olimpiade berikutnya yang akan berlangsung di London 2012. Pemerintah telah mencanangkan Program Atlet Unggulan (PAL) untuk mendukung tujuan tersebut. Khusus untuk bulutangkis, PBSI membuat program sendiri yang tergabung dalam Pelatnas Pratama untuk pemain yunior disamping pemain-pemain utama Pelatnas. Walaupun ada kemungkinan terjadi perombakan sistem setelah pergantian pengurus di bawah komandan yang baru Bp. Djoko Santoso.
Disamping target utama Olimpiade 2012, terdapat sasaran antara yang cukup bergengsi yaitu Olimpiade Yunior 2010. Olimpiade Yunior merupakan agenda baru IOC (International Olympic Committee) selain Olimpiade dan Olimpaide musim dingin. Singapura akan menjadi tuan rumah pada Olimpiade Yunior yang akan digelar untuk perdana tersebut. Keberhasilan Singapura menjadi tuan rumah setelah mengalahkan Moskow dalam pemilihan yang berlangsung awal tahun ini. Olimpiade Yunior diperuntukkan buat atlet yang berusia 14-18 tahun dan mempertandingkan semua cabang yang diperlombakan pada Olimpiade 2012. Hal ini berarti bulutangkis merupakan salah satu cabang akan digelar pertandingannya.
Indonesia sebagai negara besar dicabang bulutangkis sudah seharusnya mencetak tradisi baru sebagai peraih emas Olimpiade Yunior. Untuk mewujudkan keinginan itu maka perlu disiapkan pemain-pemain yang pada tahun 2010 maksimal berumur 18 tahun. Berarti pemain yang bakal berlaga diajang tersebut saat ini maksimal berusia 16 tahun. PBSI harus bekerja keras sejak sekarang untuk meningkat kemampuan atlet Yuniornya.
Berbicara prestasi pemain-pemain terbaik U-16 Indonesia saat ini maka indikatornya bisa dilihat dari hasil kejuaraan asia U-16 di Kuala lumpur awal Agustus lalu. Indonesia yang diperkuat Riyanto Subagya, Kenas Adi Haryanto, Arief Gifar Ramadhan, Ichwan Noor Rizky Susanto, Hafiz Faisal dibagian putra dan Tiara Rosalia, Elizabeth Matindas, Aris Budiarti, Farah Amelia, Dian Fitri memang berhasil membawa satu gelar juara. Namun mengingat ketidakhadiran negara kuat China, maka satu juara dari tujuh nomor merupakan hasil yang kurang menggembirakan. Indonesia yang menjuarai nomor beregu putra tertinggal dari Thailand dan Malaysia yang masing-masing merebut juara pada tiga nomor.
Masih tersedia waktu yang cukup selama dua tahun untuk berbenah. Ajang Olimpiade Yunior 2010 mempunyai posisi yang sangat strategis menuju Olimpiade 2012. Dimana peraih medali emas Olimpiade Yunior 2010 yang dua tahun setelahnya berusia sekitar 20 tahun layak diperhitungkan bisa sukses pada Olimpiade 2012. Jadi pembinaan pemain Indonesia buat olimpiade yunior 2010 merupakan rangcangan sebuah tradisi baru emas Olimpiade Yunior. Lebih dari itu dapat juga merupakan bagian dari usaha mempertahankan tradisi lama pada emas Olimpiade 2012.
Referensi : www.metrotvnews.com/metro10
Ditulis Oleh : Hendri Kustian
Email : hendri_kustian@yahoo.com
Artikel Bulutangkis : http://kolombulutangkis.blogspot.com/
Catatan bulutangkis : http://catatanbulutangkis.blogspot.com/
Sepuluh Pemain Terhebat Indonesia
Salah satu fenomena yang terjadi saat ini adalah munculnya berbagai lembaga Survey. Aktivitas survey di tengah masyarakat lebih banyak mengusung tema politik seperti Pilkada dan pemilu serta survey yang berhubungan dengan rating acara televisi. Salah satu acara televisi swasta nasional, Metro TV melalui programnya Metro 10 mengambil tema berbeda pada salah satu episodenya. Pada edisi 17 November 2008, Metro 10 menayangkan survey pendapat masyarakat tentang 10 atlet bulutangkis terhebat. Tema ini memiliki nuansa tersendiri disaat hiruk pikuk politik di penjuru tanah air tetapi masih ada lembaga yang mau menyelenggarakan survey mengenai olahraga bulutangkis.
Menentukan pebulutangkis Indonesia terhebat sepanjang sejarah tentulah tidak mudah. Apalagi kalau ukuran penentuannya dihitung dari prestasi yang pernah dibuat sang pemain. Jika ditinjau dari sisi masa jaya pemain maka kita akan sepakat bahwa Rudy Hartono yang paling hebat. Dasarnya adalah prestasi Rudy yang menjuarai All England sebanyak delapan kali dimana hal ini tercatat dalam Guinnes Book of Record. Rudy mulai dikenal dunia ketika menjuarai All England tahun 1968 dan menutup prestasi besarnya dengan menjadi Juara Dunia tahun 1980. Berarti Rudy menempatkan dirinya dijajaran atas bulutangkis dunia selama 12 tahun. Mengikuti prestasi Rudy dicatat pasangan ganda putra Tjun Tjun / Johan Wahyudi sebagai pemegang All England enam kali plus juara dunia satu kali. Namun prestasi Rudy, Tjun Tjun dan Johan Wahyudi terasa sedikit kurang karena saat itu tidak mendapat tantangan dari negara raksasa bulutangkis lainnya, China. Kondisi politik Internasional membuat China tidak tergabung dalam organisasi bulutangkis dunia, IBF (Sekarang BWF). Kekurangan lainnya adalah belum dipertandingkannya bulutangkis pada pesta akbar olahraga dunia Olimpiade yang membuat pemain hebat saat itu tidak dapat menunjukkan prestasi di ajang tersebut.
Juara Olimpiade dan juara dunia layak menjadi nominasi pemain terhebat. Dari ajang Olimpiade tercatat nama-nama seperti Alan Budi Kusuma, Susi Susanti, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Chandra Wijaya, Tony Gunawan, Taufik Hidayat, Markis Kido dan Hendra Setiawan. Dari nama-nama tersebut Susi Susanti dan Ricky / Rexy merupakan pemain yang meraih gelar paling banyak dan paling lengkap. Hampir semua turnamen bergengsi selain merekah rengkuh, mulai dari Olimpiade, All England, Jepang Open, Indonesia Open dan Grand Prix Final. Khusus buat Susi, gelarnya terasa kurang lengkap karena gagal meraih medali emas Asian Games. Di ajang kejuaraan dunia, selain nama-nama tersebut diatas layak dikedepankan nama Icuk Sugiarto. Icuk meraih juara dunia tahun 1983 pada saat prestasi bulutangkis Indonesia sedang terpuruk dan kalah pamor dari pendatang baru, China. Diluar nama tersebut masih ada Liem Swie King yang meraih tiga kali juara All England dan Hariyanto Arbi yang dua kali juara All England plus juara dunia.
Pertimbangan-pertimbangan prestasi tentu menjadi ukuran utama dalam memilih pemain terhebat. Tetapi ketika pertanyaan tersebut dilontarkan ke masyarakat umum maka jawabannya akan sangat bervariasi. Minimnya ulasan-ulasan mengenai bulutangkis di media-media besar baik cetak maupun televisi membuat jawaban dari masyarakat pun tertuju kepada sosok yang lebih dikenal. Pada survey yang dilakukan Litbang Media Group yang mengambil sampel di enam kota besar (Jakarta, Medan, Bandung, Yogyakarta, Makasar dan Surabaya) ternyata tertuju pada nama Taufik Hidayat. Pemain yang disebut-sebut sebagai pemain yang memiliki teknik bermain terbaik di dunia ini dipilih oleh 55 % responden. Berikut hasil survey yang dikutip dari program metro 10 mengenai 10 pemain terhebat :
1. Taufik Hidayat : dipilih 264 responden
2. Susi Susanti : 214
3. Rudy Hartono : 156
4. Alan Budi Kusuma : 78
5. Liem Swie King : 70
6. Icuk Sugiarto : 40
7. Ricky Subagya : 25
8. Christian Hadinata : 14
9. Sony Dwi Kuncoro : 14
10. Ivana Lie : 11
Dari survey tersebut tidak terlihat nama-nama pembuat sejarah seperti Tan Joe Hoek (Pemain pertama Juara All England), Ferry Sonneville bahkan Tjun Tjun / Johan Wahyudi tidak termasuk didalamnya. Seharusnya survey yang berhubungan dengan prestasi pebulutangkis sebaiknya memilih responden pada kalangan bulutangkis sendiri sehingga jajak pendapatnya lebih akurat. Tetapi bagaimanapun juga survey seperti ini bisa menjadi masukan buat banyak pihak akan minimnya publikasi pemain-pemain hebat negeri ini. Padahal dalam survey episode lainnya mengenai 10 peristiwa yang paling membanggakan bagi masyarakat Indonesia, ternyata yang menempati urutan pertama adalah kemenangan bulutangkis Indonesia di Olimpiade. Peristiwa tersebut mengalahkan peristiwa Proklamasi Kemerdekaan (urutan kedua), reformasi 1998 (urutan delapan) bahkan sumpah pemuda (urutan sepuluh).
Masyarakat melalui sampel yang dipilih ternyata memberikan apresiasi yang tinggi terhadap bulutangkis Indonesia. Sayangnya secara umum masyarakat kita kurang mengenal jagoan-jagoan bulutangkis masa lalu.
Referensi : www.metroTVnew.com/metro10
Published : www.badminton-indonesia.com (17 November 2008)
Ditulis Oleh : Hendri Kustian
Email : hendri_kustian@yahoo.com
Artikel Bulutangkis : http://kolombulutangkis.blogspot.com/
Catatan bulutangkis : http://catatanbulutangkis.blogspot.com/
Menentukan pebulutangkis Indonesia terhebat sepanjang sejarah tentulah tidak mudah. Apalagi kalau ukuran penentuannya dihitung dari prestasi yang pernah dibuat sang pemain. Jika ditinjau dari sisi masa jaya pemain maka kita akan sepakat bahwa Rudy Hartono yang paling hebat. Dasarnya adalah prestasi Rudy yang menjuarai All England sebanyak delapan kali dimana hal ini tercatat dalam Guinnes Book of Record. Rudy mulai dikenal dunia ketika menjuarai All England tahun 1968 dan menutup prestasi besarnya dengan menjadi Juara Dunia tahun 1980. Berarti Rudy menempatkan dirinya dijajaran atas bulutangkis dunia selama 12 tahun. Mengikuti prestasi Rudy dicatat pasangan ganda putra Tjun Tjun / Johan Wahyudi sebagai pemegang All England enam kali plus juara dunia satu kali. Namun prestasi Rudy, Tjun Tjun dan Johan Wahyudi terasa sedikit kurang karena saat itu tidak mendapat tantangan dari negara raksasa bulutangkis lainnya, China. Kondisi politik Internasional membuat China tidak tergabung dalam organisasi bulutangkis dunia, IBF (Sekarang BWF). Kekurangan lainnya adalah belum dipertandingkannya bulutangkis pada pesta akbar olahraga dunia Olimpiade yang membuat pemain hebat saat itu tidak dapat menunjukkan prestasi di ajang tersebut.
Juara Olimpiade dan juara dunia layak menjadi nominasi pemain terhebat. Dari ajang Olimpiade tercatat nama-nama seperti Alan Budi Kusuma, Susi Susanti, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Chandra Wijaya, Tony Gunawan, Taufik Hidayat, Markis Kido dan Hendra Setiawan. Dari nama-nama tersebut Susi Susanti dan Ricky / Rexy merupakan pemain yang meraih gelar paling banyak dan paling lengkap. Hampir semua turnamen bergengsi selain merekah rengkuh, mulai dari Olimpiade, All England, Jepang Open, Indonesia Open dan Grand Prix Final. Khusus buat Susi, gelarnya terasa kurang lengkap karena gagal meraih medali emas Asian Games. Di ajang kejuaraan dunia, selain nama-nama tersebut diatas layak dikedepankan nama Icuk Sugiarto. Icuk meraih juara dunia tahun 1983 pada saat prestasi bulutangkis Indonesia sedang terpuruk dan kalah pamor dari pendatang baru, China. Diluar nama tersebut masih ada Liem Swie King yang meraih tiga kali juara All England dan Hariyanto Arbi yang dua kali juara All England plus juara dunia.
Pertimbangan-pertimbangan prestasi tentu menjadi ukuran utama dalam memilih pemain terhebat. Tetapi ketika pertanyaan tersebut dilontarkan ke masyarakat umum maka jawabannya akan sangat bervariasi. Minimnya ulasan-ulasan mengenai bulutangkis di media-media besar baik cetak maupun televisi membuat jawaban dari masyarakat pun tertuju kepada sosok yang lebih dikenal. Pada survey yang dilakukan Litbang Media Group yang mengambil sampel di enam kota besar (Jakarta, Medan, Bandung, Yogyakarta, Makasar dan Surabaya) ternyata tertuju pada nama Taufik Hidayat. Pemain yang disebut-sebut sebagai pemain yang memiliki teknik bermain terbaik di dunia ini dipilih oleh 55 % responden. Berikut hasil survey yang dikutip dari program metro 10 mengenai 10 pemain terhebat :
1. Taufik Hidayat : dipilih 264 responden
2. Susi Susanti : 214
3. Rudy Hartono : 156
4. Alan Budi Kusuma : 78
5. Liem Swie King : 70
6. Icuk Sugiarto : 40
7. Ricky Subagya : 25
8. Christian Hadinata : 14
9. Sony Dwi Kuncoro : 14
10. Ivana Lie : 11
Dari survey tersebut tidak terlihat nama-nama pembuat sejarah seperti Tan Joe Hoek (Pemain pertama Juara All England), Ferry Sonneville bahkan Tjun Tjun / Johan Wahyudi tidak termasuk didalamnya. Seharusnya survey yang berhubungan dengan prestasi pebulutangkis sebaiknya memilih responden pada kalangan bulutangkis sendiri sehingga jajak pendapatnya lebih akurat. Tetapi bagaimanapun juga survey seperti ini bisa menjadi masukan buat banyak pihak akan minimnya publikasi pemain-pemain hebat negeri ini. Padahal dalam survey episode lainnya mengenai 10 peristiwa yang paling membanggakan bagi masyarakat Indonesia, ternyata yang menempati urutan pertama adalah kemenangan bulutangkis Indonesia di Olimpiade. Peristiwa tersebut mengalahkan peristiwa Proklamasi Kemerdekaan (urutan kedua), reformasi 1998 (urutan delapan) bahkan sumpah pemuda (urutan sepuluh).
Masyarakat melalui sampel yang dipilih ternyata memberikan apresiasi yang tinggi terhadap bulutangkis Indonesia. Sayangnya secara umum masyarakat kita kurang mengenal jagoan-jagoan bulutangkis masa lalu.
Referensi : www.metroTVnew.com/metro10
Published : www.badminton-indonesia.com (17 November 2008)
Ditulis Oleh : Hendri Kustian
Email : hendri_kustian@yahoo.com
Artikel Bulutangkis : http://kolombulutangkis.blogspot.com/
Catatan bulutangkis : http://catatanbulutangkis.blogspot.com/
Tuesday, October 21, 2008
Belanda Terbuka Sebagai Turnamen Klasik
Minggu ini perhatian pecandu bulutangkis tertuju kepada negeri kincir angin Belanda. Turnamen bulutangkis Belanda Terbuka yang digelar merupakan salah satu turnamen bulutangkis klasik. Turnamen ini sudah berlangsung sejak tahun 1932. Ini berarti salah satu turnamen bulutangkis tertua di dunia yang hanya kalah tua dari turnamen All England dan Perancis Terbuka.
Bagi Indonesia, turnamen Belanda Terbuka merupakan sejarah tersendiri. Dimana salah satu gelar Internasional Pertama Indonesia dicatat pada turnamen ini. Pemain legendaris Indonesia, Ferry Sonneville menjadi juara tunggal putra Belanda Terbuka tahun 1956. Sebelumnya Ferry merupakan juara Malaya Open 1955. Bandingkan dengan gelar pertama kali di Perancis Terbuka tahun 1957 dan Jerman Terbuka tahun 1958 oleh pemain yang sama atau gelar All England pertama oleh legendaris lainnya, Tan Joe Hoek 1959. Turnamen klasik lainnya, baru mencatatkan Indonesia sebagai juara di era 70-an. Rudy Hartono merupakan pemain Indonesia pertama juara Denmark Terbuka tahun 1970. Sedangkan di Swedia Terbuka, Indonesia meraih juara pertama kali tahun 1977 melalui Liem Swie King dan pasangan Christian Hadinata / Ade Chandra.
Indonesia yang pernah mengalami masa kelam sebagai kolonial Belanda berhasil menunjukkan prestasi lebih baik di negeri kincir angin tersebut. Ferry Sonneville bukan hanya mencatatkan diri sebagai pemain pertama Indonesia di Belanda Terbuka tetapi juga penyumbang gelar terbanyak buat Indonesia. Ferry meraup juara tahun 1956, 1958, 1960, 1961 dan 1962. Setelah itu, Indonesia meraih juara lagi pada era 80-an melalui pemain tunggal putri Sarwendah Kusuma Wardhani 1987. Sarwendah mengulangi prestasinya sebanyak dua kali tahun 1991-1992. Pemain tunggal putri Indonesia lainnya yang pernah juara Belanda Terbuka adalah Minarti Timur (1990), Susi Susanti (1993) dan Firdasari Andrianti (2006). Sedangkan untuk tunggal putra, keperkasaan Indonesia ditunjukkan oleh Alan Budi Kusuma (1989) dan Hermawan Susanto (1990, 1992). Nomor ganda menyumbang juara melalui Eddy Hartono / Gunawan (1989, 1991), Eddy Hartono / Verawati (1989), Finarsih / Lili Tampi (1992), Denny Kantono / Antonius (1994), Halim Haryanto / Sigit Budiato (2000), Rian Sukmawan / Eng Hian (2006), Endang N / Rani Mundiasti (2006) dan Rian Sukmawan / Yonathan S (2007). Jadi secara total sejak 1932, Indonesia telah meraih 22 gelar juara.
Tuan rumah Belanda justru jarang berpesta di negeri sendiri. Dengan hanya memperoleh sepuluh gelar sejak 1932 merupakan prestasi yang tidak terlalu bagus bagi mereka. Bahkan tiga dari sepuluh gelar tersebut disumbangkan pemain asal Indonesia, Mia Audina. Mia menjuarai nomor tunggal putri tahun 2001-2002 dan ganda putri 2005 bersama Lotte Bruil. Satu gelar juga dipersembahkan pemain imigrannya setelah pemain asal China Yao Jie juara tahun 2003. Enam gelar lainnya diperoleh dari EH Den Hoed Jr (1936), Joke Van Beusekom / Marjan Ridder (1977), Gillian Gilks, ENG / Marjan Ridden (1979), Eline Coone (1989) dan Eline Coone / Erica Van Heuvel (1996).
Perbandingan Indonesia dan Belanda dalam turnamen klasik ini menunjukkan Indonesia mampu lebih maju dari negara yang pernah menjajahnya. Alangkah bangga-nya bangsa ini bila terus menunjukkan prestasi seperti ini. Bahkan prestasi ini seharusnya menginspirasi anak bangsa untuk lebih maju pada bidang-bidang lainnya selain olahraga bulutangkis.
Published :
www.bulutangkis.com (14 Oktober 2008)
www.badminton-indonesia.com (14 Oktober 2008)
Ditulis Oleh : Hendri Kustian
Email : hendri_kustian@yahoo.com
Artikel Bulutangkis : http://kolombulutangkis.blogspot.com/
Catatan bulutangkis : http://catatanbulutangkis.blogspot.com/
Bagi Indonesia, turnamen Belanda Terbuka merupakan sejarah tersendiri. Dimana salah satu gelar Internasional Pertama Indonesia dicatat pada turnamen ini. Pemain legendaris Indonesia, Ferry Sonneville menjadi juara tunggal putra Belanda Terbuka tahun 1956. Sebelumnya Ferry merupakan juara Malaya Open 1955. Bandingkan dengan gelar pertama kali di Perancis Terbuka tahun 1957 dan Jerman Terbuka tahun 1958 oleh pemain yang sama atau gelar All England pertama oleh legendaris lainnya, Tan Joe Hoek 1959. Turnamen klasik lainnya, baru mencatatkan Indonesia sebagai juara di era 70-an. Rudy Hartono merupakan pemain Indonesia pertama juara Denmark Terbuka tahun 1970. Sedangkan di Swedia Terbuka, Indonesia meraih juara pertama kali tahun 1977 melalui Liem Swie King dan pasangan Christian Hadinata / Ade Chandra.
Indonesia yang pernah mengalami masa kelam sebagai kolonial Belanda berhasil menunjukkan prestasi lebih baik di negeri kincir angin tersebut. Ferry Sonneville bukan hanya mencatatkan diri sebagai pemain pertama Indonesia di Belanda Terbuka tetapi juga penyumbang gelar terbanyak buat Indonesia. Ferry meraup juara tahun 1956, 1958, 1960, 1961 dan 1962. Setelah itu, Indonesia meraih juara lagi pada era 80-an melalui pemain tunggal putri Sarwendah Kusuma Wardhani 1987. Sarwendah mengulangi prestasinya sebanyak dua kali tahun 1991-1992. Pemain tunggal putri Indonesia lainnya yang pernah juara Belanda Terbuka adalah Minarti Timur (1990), Susi Susanti (1993) dan Firdasari Andrianti (2006). Sedangkan untuk tunggal putra, keperkasaan Indonesia ditunjukkan oleh Alan Budi Kusuma (1989) dan Hermawan Susanto (1990, 1992). Nomor ganda menyumbang juara melalui Eddy Hartono / Gunawan (1989, 1991), Eddy Hartono / Verawati (1989), Finarsih / Lili Tampi (1992), Denny Kantono / Antonius (1994), Halim Haryanto / Sigit Budiato (2000), Rian Sukmawan / Eng Hian (2006), Endang N / Rani Mundiasti (2006) dan Rian Sukmawan / Yonathan S (2007). Jadi secara total sejak 1932, Indonesia telah meraih 22 gelar juara.
Tuan rumah Belanda justru jarang berpesta di negeri sendiri. Dengan hanya memperoleh sepuluh gelar sejak 1932 merupakan prestasi yang tidak terlalu bagus bagi mereka. Bahkan tiga dari sepuluh gelar tersebut disumbangkan pemain asal Indonesia, Mia Audina. Mia menjuarai nomor tunggal putri tahun 2001-2002 dan ganda putri 2005 bersama Lotte Bruil. Satu gelar juga dipersembahkan pemain imigrannya setelah pemain asal China Yao Jie juara tahun 2003. Enam gelar lainnya diperoleh dari EH Den Hoed Jr (1936), Joke Van Beusekom / Marjan Ridder (1977), Gillian Gilks, ENG / Marjan Ridden (1979), Eline Coone (1989) dan Eline Coone / Erica Van Heuvel (1996).
Perbandingan Indonesia dan Belanda dalam turnamen klasik ini menunjukkan Indonesia mampu lebih maju dari negara yang pernah menjajahnya. Alangkah bangga-nya bangsa ini bila terus menunjukkan prestasi seperti ini. Bahkan prestasi ini seharusnya menginspirasi anak bangsa untuk lebih maju pada bidang-bidang lainnya selain olahraga bulutangkis.
Published :
www.bulutangkis.com (14 Oktober 2008)
www.badminton-indonesia.com (14 Oktober 2008)
Ditulis Oleh : Hendri Kustian
Email : hendri_kustian@yahoo.com
Artikel Bulutangkis : http://kolombulutangkis.blogspot.com/
Catatan bulutangkis : http://catatanbulutangkis.blogspot.com/
Wednesday, October 8, 2008
Kiprah Generasi Baru Pasca Olimpiade
Written by Hendri Kustian (Email : hendri_kustian@yahoo.com)
Olimpiade sering kali dianggap sebagai puncak prestasi pebulutangkis dunia. Kebanggaan akan perolehan emas olimpiade merupakan medali yang paling diidamkan. Ketika olimpiade baru saja berakhir, negara-negara bulutangkis sudah mulai berpikir ajang berikutnya yang masih empat tahun lagi. Wujud dari persiapan itu terlihat dengan didorongnya regenerasi pada setiap negara. Pasca Olimpide diselenggarakan lima turnamen besar secara berturutan mulai dari GPG Thaiwan Open, Jepang SS, China Master SS dan dua turnamen secara bersamaan GPG Macau Open dan GP Bitburger Open. Dalam lima turnamen ini terlihat berbagai perubahan dan strategi dari berbagai negara. Generasi baru tampak mulai terbangun dari hasil kelima turnamen tersebut
Para juara dunia yunior dan Asia Yunior 2005 - 2007 mulai muncul ke permukaan. China merupakan negara terdepan dalam memunculkan generasi baru tersebut. Prestasi yang paling fenomenal ditunjukkan oleh pasangan ganda putri Cheng Su / Zhao Yunlei dengan menciptakan hatrik pada tiga turnamen yaitu Jepang Terbuka, China Master dan Macau Terbuka. Padahal pasangan ini sudah lama tidak membukukan prestasi maksimal. Terakhir mereka mencatat poin turnamen BWF pada November tahun lalu saat masuk babak pertama China Terbuka. Cheng Su merupakan juara ganda putri yunior Asia 2005 yang berpasangan dengan rekannnya Liao Jingmei. Sedangkan Zhao Yunlei adalah juara ganda putri yunior Asia 2004 bersama Ding Jiao. Jejak Cheng Su / Zhao Yunlei diikuti oleh yunior mereka Ma Jin / Wang Xiaoli. Juara Asia Yunior dan dunia Yunior 2006 tersebut mencatat prestasi yang baik dengan melaju ke babak final Macau Open
Kekuatan generasi baru China juga ditunjukkan pemain tunggal putri-nya. Andalan mereka adalah juara Asia dan dunia yunior 2006, Wang Yihan dan juara Asia Yunior 2005, Wang Lin. Wang Yihan berhasil meraih juara turnamen Superseries pertama nya di Jepang. Perjalanan Wang Yihan menuju tangga juara ditandai dengan menaklukkan pemain yang sering menjadi momok para pemain China, Tine Rasmussen (Denmark) serta pemain berpengalaman, Zhou Mi (Hongkong). Pemain lainnya Wang Lin, meskipun tidak tampil sebagai juara tetapi berhasil meraih finalis pertama-nya pada turnamen superseries di China Master.
Pada bagian putra, China berhasil mengangkat prestasi pasangan Xu Chen / Sun Jungjie menjadi finalis China Master. Meskipun mereka belum bisa menembus pasangan terbaik dunia Markis Kido / Hendra Setiawan tetapi mereka menaklukkan tiga besar dunia lainnya, Fu Haifeng / Cai Yun dan Koo Kean Kiat / Tan Boon Heong. Bahkan Xu Cheng juga bermain baik di nomor ganda campuran berpasangan dengan Zhao Yunlei menjadi juara Macau Terbuka.
Negara produsen raket Yonex, Jepang mengandalkan generasi baru-nya juara Asia Yunior 2006 Kenichi Tago. Pemain ulet ini terus dimatangkan dalam berbagai turnamen. Tago berhasil menembus semifinal turnamen Superseries untuk kedua kalinya di Jepang Terbuka. Sebelumnya bulan Juni lalu, Tago juga menembus semifinal Indonesia Terbuka. Prestasi yang dibuat juara Asia Yunior 2006 ini lebih baik ketimbang juara dunia yunior 2006, Hong Ji Hoon (Korea). Hoon langsung kandas dibabak pertama baik di GPG Taepei Terbuka maupun Jepang Terbuka.
Korea sendiri sebenarnya sudah cukup berhasil dengan generasi baru nya Lee Young Dae. Young Dae yang dipasangkan dengan senior-seniornya sudah lebih dulu menembus level atas dunia baik diganda putra maupun campuran. Bahkan di usia yang sangat muda, emas Olimpiade sudah digengamnya. Young Dae merupakan juara Asia Yunior 2005-2006 dan dunia yunior 2006 yang berpasangan dengan Gun Woo Choo pada ganda putra. Pada Campuran Yong Dae merebut juara Asia 2005 bersama Ha Jeung Eun dan berpasangan dengan Yoo Hyun Young memegang juara Asia dan dunia yunior 2006 . Prestasi Young Dae di level senior belum mampu diikuti oleh rekan-rekan seangkatannya. Pada turnamen pasca Olimpiade ini, mantan pasangan Young Dae, Choo Gun Woo hanya bertahan dibabak kedua Jepang Terbuka bersama Yeon Seong Yoo (ganda putra) dan perempat final besama Ha Jung Eun (ganda campuran). Prestasi lebih baik dicatat Yeon Seong Yo / Kim Min Jung yang menembus semifinal ganda campuran Jepang Terbuka.
Negeri jiran Malaysia belum terlihat memuncul prestasi generasi barunya. Padahal Malaysia memiliki juara dunia yunior ganda campuran 2007, Kim Wah Lim / Hui Ling Ng dan juara Asia yunior ganda campuran 2007 Tan Wee Kiong / Woon Khe Wei. Tan / Woon hanya bertahan dibabak kedua Taepei Terbuka. Demikian juga ketika pertukaran pasangan saat Kim Wah Lim bersama Woon Khe Wei maupun Hui Ling Ng bersama seniornya Koo Kean Keat yang tampil di Macau Terbuka. Satu-satunya kebanggaan Malaysia diperoleh Woon Khe Wei / Hui Ling Ng yang berhasil menembus semifinal ganda putri Macau Terbuka.
Bagaimana dengan generasi baru Indonesia?
Pada empat turnamen pasca Olimpiade ini dimanfaatkan untuk mencoba pasangan-pasangan baru dinomor ganda putri dan campuran serta memaksimalkan kemampuan stok yang ada. Kebangkitan stok lama seperti Simon Santoso, Sony Dwi Kuncoro, Devin Lahardi, Lita Nurlita dan M. Rizal menjadi harapan tersendiri bagi Indonesia. Pemain-pemain tersebut mampu meraih gelar-gelar juara yang mereka dambakan. Keberhasilan pemain senior ini juga mulai diikuti oleh generasi baru lainnya. Juara ganda putra Indonesia Open Yunior 2005 Bona Septano / M. Ahsan menunjukkan prestasi mengesankan dengan menjadi finalis Jepang Terbuka. Apalagi mereka mampu menundukkan pemegang juara Superseries Singapura dan Indonesia terbuka, M Zakri / M Tazari. Generasi dibawahnya, Fernando Kurniawan yang merupakan juara Indonesia Open Yunior 2007 bersama Subakti mulai unjuk gigi. Dengan pasangan baru-nya Lingga Lie, Fernando berhasil menembus Semifinal Macau Open. Prestasi yang bagus juga diperoleh pemain tunggal putri, Pia Zebadiah yang tampil sebagai semifinalis taepei terbuka. Kabar paling anyar ketika pemain muda klub Djarum Kudus, Maria Febe Kususmastuti menjuarai GP pertama-nya di Bitburger Terbuka. Secara umum, generasi baru China memang lebih unggul dari negara lainnya sejauh ini. Namun keberhasilan skuat senior Indonesia yang didukung mulai berprestasinya para yunior merupakan sinyal positif perbulutangkisan Indonesia.
Published :
www.bulutangkis.com (06 Oktober 2008)
www.badminton-indonesia.com (06 Oktober 2008)
Olimpiade sering kali dianggap sebagai puncak prestasi pebulutangkis dunia. Kebanggaan akan perolehan emas olimpiade merupakan medali yang paling diidamkan. Ketika olimpiade baru saja berakhir, negara-negara bulutangkis sudah mulai berpikir ajang berikutnya yang masih empat tahun lagi. Wujud dari persiapan itu terlihat dengan didorongnya regenerasi pada setiap negara. Pasca Olimpide diselenggarakan lima turnamen besar secara berturutan mulai dari GPG Thaiwan Open, Jepang SS, China Master SS dan dua turnamen secara bersamaan GPG Macau Open dan GP Bitburger Open. Dalam lima turnamen ini terlihat berbagai perubahan dan strategi dari berbagai negara. Generasi baru tampak mulai terbangun dari hasil kelima turnamen tersebut
Para juara dunia yunior dan Asia Yunior 2005 - 2007 mulai muncul ke permukaan. China merupakan negara terdepan dalam memunculkan generasi baru tersebut. Prestasi yang paling fenomenal ditunjukkan oleh pasangan ganda putri Cheng Su / Zhao Yunlei dengan menciptakan hatrik pada tiga turnamen yaitu Jepang Terbuka, China Master dan Macau Terbuka. Padahal pasangan ini sudah lama tidak membukukan prestasi maksimal. Terakhir mereka mencatat poin turnamen BWF pada November tahun lalu saat masuk babak pertama China Terbuka. Cheng Su merupakan juara ganda putri yunior Asia 2005 yang berpasangan dengan rekannnya Liao Jingmei. Sedangkan Zhao Yunlei adalah juara ganda putri yunior Asia 2004 bersama Ding Jiao. Jejak Cheng Su / Zhao Yunlei diikuti oleh yunior mereka Ma Jin / Wang Xiaoli. Juara Asia Yunior dan dunia Yunior 2006 tersebut mencatat prestasi yang baik dengan melaju ke babak final Macau Open
Kekuatan generasi baru China juga ditunjukkan pemain tunggal putri-nya. Andalan mereka adalah juara Asia dan dunia yunior 2006, Wang Yihan dan juara Asia Yunior 2005, Wang Lin. Wang Yihan berhasil meraih juara turnamen Superseries pertama nya di Jepang. Perjalanan Wang Yihan menuju tangga juara ditandai dengan menaklukkan pemain yang sering menjadi momok para pemain China, Tine Rasmussen (Denmark) serta pemain berpengalaman, Zhou Mi (Hongkong). Pemain lainnya Wang Lin, meskipun tidak tampil sebagai juara tetapi berhasil meraih finalis pertama-nya pada turnamen superseries di China Master.
Pada bagian putra, China berhasil mengangkat prestasi pasangan Xu Chen / Sun Jungjie menjadi finalis China Master. Meskipun mereka belum bisa menembus pasangan terbaik dunia Markis Kido / Hendra Setiawan tetapi mereka menaklukkan tiga besar dunia lainnya, Fu Haifeng / Cai Yun dan Koo Kean Kiat / Tan Boon Heong. Bahkan Xu Cheng juga bermain baik di nomor ganda campuran berpasangan dengan Zhao Yunlei menjadi juara Macau Terbuka.
Negara produsen raket Yonex, Jepang mengandalkan generasi baru-nya juara Asia Yunior 2006 Kenichi Tago. Pemain ulet ini terus dimatangkan dalam berbagai turnamen. Tago berhasil menembus semifinal turnamen Superseries untuk kedua kalinya di Jepang Terbuka. Sebelumnya bulan Juni lalu, Tago juga menembus semifinal Indonesia Terbuka. Prestasi yang dibuat juara Asia Yunior 2006 ini lebih baik ketimbang juara dunia yunior 2006, Hong Ji Hoon (Korea). Hoon langsung kandas dibabak pertama baik di GPG Taepei Terbuka maupun Jepang Terbuka.
Korea sendiri sebenarnya sudah cukup berhasil dengan generasi baru nya Lee Young Dae. Young Dae yang dipasangkan dengan senior-seniornya sudah lebih dulu menembus level atas dunia baik diganda putra maupun campuran. Bahkan di usia yang sangat muda, emas Olimpiade sudah digengamnya. Young Dae merupakan juara Asia Yunior 2005-2006 dan dunia yunior 2006 yang berpasangan dengan Gun Woo Choo pada ganda putra. Pada Campuran Yong Dae merebut juara Asia 2005 bersama Ha Jeung Eun dan berpasangan dengan Yoo Hyun Young memegang juara Asia dan dunia yunior 2006 . Prestasi Young Dae di level senior belum mampu diikuti oleh rekan-rekan seangkatannya. Pada turnamen pasca Olimpiade ini, mantan pasangan Young Dae, Choo Gun Woo hanya bertahan dibabak kedua Jepang Terbuka bersama Yeon Seong Yoo (ganda putra) dan perempat final besama Ha Jung Eun (ganda campuran). Prestasi lebih baik dicatat Yeon Seong Yo / Kim Min Jung yang menembus semifinal ganda campuran Jepang Terbuka.
Negeri jiran Malaysia belum terlihat memuncul prestasi generasi barunya. Padahal Malaysia memiliki juara dunia yunior ganda campuran 2007, Kim Wah Lim / Hui Ling Ng dan juara Asia yunior ganda campuran 2007 Tan Wee Kiong / Woon Khe Wei. Tan / Woon hanya bertahan dibabak kedua Taepei Terbuka. Demikian juga ketika pertukaran pasangan saat Kim Wah Lim bersama Woon Khe Wei maupun Hui Ling Ng bersama seniornya Koo Kean Keat yang tampil di Macau Terbuka. Satu-satunya kebanggaan Malaysia diperoleh Woon Khe Wei / Hui Ling Ng yang berhasil menembus semifinal ganda putri Macau Terbuka.
Bagaimana dengan generasi baru Indonesia?
Pada empat turnamen pasca Olimpiade ini dimanfaatkan untuk mencoba pasangan-pasangan baru dinomor ganda putri dan campuran serta memaksimalkan kemampuan stok yang ada. Kebangkitan stok lama seperti Simon Santoso, Sony Dwi Kuncoro, Devin Lahardi, Lita Nurlita dan M. Rizal menjadi harapan tersendiri bagi Indonesia. Pemain-pemain tersebut mampu meraih gelar-gelar juara yang mereka dambakan. Keberhasilan pemain senior ini juga mulai diikuti oleh generasi baru lainnya. Juara ganda putra Indonesia Open Yunior 2005 Bona Septano / M. Ahsan menunjukkan prestasi mengesankan dengan menjadi finalis Jepang Terbuka. Apalagi mereka mampu menundukkan pemegang juara Superseries Singapura dan Indonesia terbuka, M Zakri / M Tazari. Generasi dibawahnya, Fernando Kurniawan yang merupakan juara Indonesia Open Yunior 2007 bersama Subakti mulai unjuk gigi. Dengan pasangan baru-nya Lingga Lie, Fernando berhasil menembus Semifinal Macau Open. Prestasi yang bagus juga diperoleh pemain tunggal putri, Pia Zebadiah yang tampil sebagai semifinalis taepei terbuka. Kabar paling anyar ketika pemain muda klub Djarum Kudus, Maria Febe Kususmastuti menjuarai GP pertama-nya di Bitburger Terbuka. Secara umum, generasi baru China memang lebih unggul dari negara lainnya sejauh ini. Namun keberhasilan skuat senior Indonesia yang didukung mulai berprestasinya para yunior merupakan sinyal positif perbulutangkisan Indonesia.
Published :
www.bulutangkis.com (06 Oktober 2008)
www.badminton-indonesia.com (06 Oktober 2008)
Subscribe to:
Posts (Atom)
