Wednesday, October 8, 2008

Sebuah karya mempesona dalam sebuah novel yang berjudul Laskar Pelangi berhasil menjadi salah satu buku yang menjadi best seller nasional. Novel yang menceritakan perjuangan sebelas anak Melayu Belitong bisa jadi merupakan persfektif anak-anak negeri lainnya. Novel yang diangkat dari kisah nyata ini mendapat pujian dari berbagai pihak sebagai cerita yang inspiratif, motivator dan penuh perjuangan. Para tokoh nasional bahkan ikut memberikan apresiasi atas kisah ini, mulai dari Dirut Telkom, ketua Komnas perlindungan anak sampai pelaku seni sekelas Garin Nugroho dan Sapardi Djoko Darmono.

Bulutangkis menjadi salah satu bagian yang patut dicermati oleh pembaca karena bulutangkis di pilih sebagai cita-cita Si Ikal yang merupakan tokoh utama cerita ini. Ikal mempunyai plan A sebagai tujuan hidupnya untuk menjadi penulis yang berbobot atau pemain bulutangkis yang berprestasi. Jika Plan A gagal sebagai cadangan dipilih plan B berupa cita-cita menjadi penulis buku tentang bulutangkis. Tiga judul buku sudah dicanangkan yaitu Tata Cara Bermain Bulutangkis, Faedah Bulutangkis dan Bulutangkis Untuk Pergaulan. Ikal kecil sudah bercita-cita begitu tinggi buat bulutangkis.

Ketika kisah melompat ke beberapa belas tahun kemudian Andrea Hirata menuliskan pada buku nya sebagai berikut : " Buku itu sebenarnya telah selesai ku tulis, seluruhnya mencapai 34 bab dan hampir 100.000 kata. Untuk menulisnya aku telah melakukan riset yang intensif di federasi bulutangkis bulutangkis dan komite olahraga nasional serta mengamati kehidupan sosial beberapa mantan pemain bulutangkis terkenal. Aku juga mempelajari budaya pop dan trend terbaru pengembangan kepribadian. Tapi penerbit tak sudi menerbitkan bukuku berdasarkan pertimbangan komersial. Mereka lebih tertarik pada karya-karya sastra cabul, yaitu buku-buku penuh dengan tulisan jorok seperti kondom, masturbasi dan orgasme karena mereka penerbit itu telah melupakan prinsip-prinsip men sana in corpore sano"

Sebuah ironi pada negeri bulutangkis tetapi penerbit-penerbit buku tidak melirik tema tersebut. Beberapa bulan yang lalu, mantan atlet bulutangkis Lilik Sudarwati berhasil menerbitkan buku tidak semata-mata karena dukungan penerbit. Atas sokongan berbagai pihak terutama dari Matshusita Fundation yang akhirnya buku berjudul 'Mental Juara Modal Atlet Berprestasi' tersebut bisa diluncurkan. Dengan reputasi Andrea Hirata yang semakin mengkilap, mudah-mudahan buku-buku tentang bulutangkis bisa segera beredar.

Kembali membuka halaman buku laskar pelangi halaman 153, menceritakan kecerdikan salah satu anggota laskar itu. Seorang bocah SD bernama Mahar diceritakan sebagai berikut : " Mahar adalah Jules Verne kami. Ia penuh ide gila yang jarang terpikirkan oleh orang lain, walaupun tak jarang idenya itu absurd dan lucu. Salah satu contohnya adalah ketika ketua RT punya masalah dengan televisinya.TV hitam putih satu-satunya hanya ada di rumah beliau dan tidak bisa dikeluarkan karena kabel antena nya sangat pendek dan ia kesulitan mendapatkan kabel untuk memperpanjangnya. Kabel itu tersambung pada antena di puncak pohon randu. Keadaan mendesak sebab malam itu ada pertandingan final badminton All England antara Svend Pri melawan Lie Sumirat. Begitu banyak penonton akan hadir, tapi ruangan TV sangat sempit. Sejak sore Pak Ketua RT tak enak hati karena banyak handai taulan yang akan bertamu tapi tak kan semua mendapat kesempatan menonton pertandingan seru itu. Ketika beliau berkeluh kesah kepada kepala sekolah kami, maka Mahar yang sudah kondang akal dan taktiknya segera di panggil dan ia muncul dengan ide ajaib ini : "Gambar TV itu bisa dipantul-pantulkan melalui kaca, ayahanda guru," kata Mahar berbinar binar dengan eksperesi lugunya. Pak harfan melonjak Girang seperti akan meneriakkan "eurika!" Maka digotonglah dua buah lemari pakaian berkaca besar ke rumah ketua. Lemari pertama diletakkan di ruang tamu dengan posisi frontal terhadap layar TV dan diruangan itu paling tidak menampung 17 orang. Sedangkan lemari kedua diletakkan di beranda. Lemari kaca kedua diposisikan sedemikian rupa sehingga dapat menangkap gambar TV dari lemari kaca pertama. Ada sekitar 20 orang menonton TV melalui layar kaca kedua. Tak seorangpun penonton yang tak kebagian melihat aksi Lie Sumirat. Penonton merasa puas dan benar-benar menonton dari layar kaca dalam arti yang sesungguhnya. Meskipun Svend Pri yang kidal dilayar TV menjadi normal pada layar kaca yang pertama dan kembali menjadi kidal pada layar kaca yang kedua"

Dari kutipan buku tersebut paling tidak kita mendapatkan dua hal. Yang pertama, pada era 70-an antusiasme masyarakat Indonesia untuk menonton pertandingan bulutangkis sangat besar. Api gelora itu sekarang seakan-akan mulai padam karena tersaingi oleh berbagai jenis hiburan dan semakin melunturnya semangat nasionalisme negeri ini. Hal kedua yang perlu dicermati adalah pada era itu masyarakat sudah bisa menyaksikan pertandingan jagoannya secara luas. Sayangnya setelah dua puluhan tahun berlalu, masyarakat umum semakin kesulitan menonton pertandingan bulutangkis. Memang disetiap rumah bahkan rumah kardus sekalipun sudah mempunyai TV tetapi siaran event-event bulutangkis sekarang lebih banyak di kuasai oleh televisi berbayar. Kalau era 70-an masyarakat bisa menonton Lie Sumirat maka di era milenium ini masyarakat umum tidak bisa menyaksikan siaran langsung titisannya Lie Sumirat saat bertanding di event paling bergengsi. Tangisan Taufik Hidayat saat mempersembahkan emas Olimpiade hanya bisa kita saksikan lewat tayangan-tayangan ulang.

Semangat laskar pelangi dalam perjuangannya terselip semangat Ikal dan Mahar yang ingin berbuat sesuatu buat bulutangkis. Kalau ada lebih banyak yang berbuat seperti itu buat bulutangkis maka selayak mereka disebut sebagai Laskar Bulutangkis. Semangat laskar bulutangkis ini tidak hanya ada di pinggiran Belitong tetapi mungkin saja ada di pojok-pojok tanah air ini selama bertahun-tahun. Semangat laskar bulutangkis ini diharapkan mengangkat kembali kejayaan bulutangkis Indonesia.

Published :
www.bulutangkis.com (09 April 2008)
www.badminton-indonesia.com (18 April 2008)

No comments: